Gendhis Ayu – #Part_18/18 (TAMAT)

Di dalam kamar Gendhis tampak ditemani oleh sahabat terbaiknya Ajeng.Gendhis tak henti-hentinya menangis,dia tampak sangat putus asa kali ini. Ajeng bingung, dirinya kini ikut menangis, tak tega rasanya melihat Gendhis...

Sementara itu di dalam kamar Gendhis tampak ditemani oleh sahabat terbaiknya Ajeng. Gendhis tak henti-hentinya menangis, dia tampak sangat putus asa kali ini. Ajeng bingung menenangkan sahabatnya itu, malah dirinya kini ikut menangis tak tega rasanya melihat Gendhis.

“Jeng… aku tak lari aja ya Jeng, aku ndak mau dilamar siapa itu aduh siapa sih aku ndak tau namanya huhuhuhu” kata Gendhis terisak.

“Ojo no Ndis… mesakke bu Lurah (jangan donk Ndis kasihan bu Lurah)” kata Ajeng ikut terisak.

Mereka tidak tahu jika yang datang melamar Gendhis kali ini adalah lelaki yang namanya selalu Gendhis dengungkan dalam lantunan doanya.

“Gunting… ndi gunting aku tak mati wae saiki yo (gunting,mana gunting aku tak mati aja sekarang ya)” kata Gendhis sambil matanya nanar mencari keberadaan benda itu.

“Aduuuh… ojo Ndis, walah bu Lurah mana ini, takut Ajeng” kata Ajeng bingung sambil memeluk erat sahabatnya.

Untunglah tak lama bu Lurah tergopoh masuk kamar Gendhis, terlihat Ajeng dan Gendhis sedang berpelukan sambil menangis.

“Aduh ini pada kenapa to?” katanya kawatir.

“Niki lo bu Lurah, Gendhis ndak mau dilamar” jelas Ajeng.

“Bune, Gendhis minta maaf bune, tolong Gendhis ndak mau bune.” Gendhis memohon seraya bersimpuh di kaki ibunya.

Diikuti Ajeng yang juga bersimpuh mengharap bu Lurah membatalkan saja lamaran untuk Gendhis kali ini.
Keduanya kini berada di kaki bu lurah dan terisak bersama.

“Aduh… aduh… Piye nek ngene iki (gimana kalau kaya gini)” kata Bu Lurah kebingungan sambil berusaha membangunkan keduanya berdiri.

“Coba Jeng, cah ayu, kamu cuci muka trus intip ke pendopo kamu lihat ada siapa” perintah Bu Lurah.

Ajeng segera beranjak ke dapur, menyiuk air di gentong air lalu membasuh mukanya. Lalu buru-buru berjalan ke arah pendopo.
Melalui celah kecil di penyekat ruangan dia melihat seluruh tamu yang ada dipendopo.
Matanya membulat ketika menangkap sosok yang menonjol disana. Segera dia berlari ke kamar Gendhis.

“Ndis…. Ndis kali ini kamu harus mau dilamar Ndis, tenan” teriak Ajeng kegirangan.

Gendhis tampak protes ke arah Ajeng, tidak percaya dirinya jika Ajeng berbalik tak mendukungnya kini.

Bu Lurah mengusap kepala Gendhis perlahan, terasa benar jika beliau amat menyayangi putrinya itu.

“Ndak papa kalau nanti kamu nolak lamaran ini nduk, cuma setidaknya kamu lihat dulu siapa yang melamar kamu kali ini” kata beliau.

“Setelah kamu lihat dan kamu merasa tidak cocok bune ndak bakal maksa kamu buat terima cah Ayu” bujuknya lembut.

Gendhis memandang teduh muka ibunya berharap menemukan keseriusan kata-kata ibunya.

“Bune ndak marah kan kalo Gendhis nolak lagi?” kata Gendhis meyakinkan.

Bu Lurah tersenyum dan mengangguk pelan.

“Sudah cuci mukamu dan sini ibu rapiin sanggulnya” perintahnya kemudian.

Gendhis tampak menuruti perintah ibunya, walaupun berat setidaknya ibunya mengizinkan seandainya dirinya menolak lagi lamaran yang datang.

“Bune ndak bohong kan?” Gendhis kembali meyakinkan ibunya.

“Iyo nduk Ayu, tenan” kata Bu Harjo pasti. Kemudian Gendhis berlalu menuju dapur.

Ajeng segera menempel bu Lurah.

“Bu Lurah itu mas Panji yang datang?” bisik Ajeng tak percaya.

“Iya nduk, ibu juga baru tahu pas nak panji datang, sungguh Allah sebaik-baiknya pengatur ya nduk yang penting kuncinya jangan putus berdoa dan meminta, ya Allah matur nuwun” kata Bu Lurah berlinang air mata.

Ajeng berkaca-kaca mendengar ucapan bu Lurah. Semoga saja doa yang Ajeng lantunkan selama ini didengar gusti Allah, batin Ajeng.
Setelah cuci muka, Bu Lurah segera merapikan rambut Gendhis, sedikit menyapukan bedak namun Gendhis tampak menolak ketika ingin dipakaikan gincu.

“Ndak bune, sudah begini saja” tolaknya lembut.

Bu Lurah mengangguk, wajah Gendhis sudah sempurna walau tanpa benda itu.

“Pakai ini saja Ndis” tawar Ajeng sambil memperlihatkan satu set baju dan kain serta tusuk konde pemberian Panji dulu.

“Jangan Jeng, ndak boleh” tolak Gendhis lemah. Itu dari mas Panji, mana mungkin aku pakai saat orang lain melamarku, bisik hatinya.

“Pakai ini saja Ndis” kata Nawang yang tiba-tiba sudah berada di depan kamar gendhis dengan kebaya maroon yang dulu pernah sekali dipakainya.

“Ndak papa mbak?” tanya Gendhis ragu.

“Ndak to Ndis, ini buat kamu saja, pasti kamu semakin ayu pakai ini” jawab Nawang.

Kebaya ini memang dibeli Panji untukmu dulu Ndis, batin Nawang sambil menyerahkan batik maroon ke tangan adiknya.

Semua tampak terpana kala Gendhis keluar kamar setelah memakai kebaya itu.

“Gendhis…. aduh Ayu banget” desis Ajeng takjub.

Bu Harjo dan Nawang tersenyum melihat ekspresi malu di wajah Gendhis walaupun masih tergambar keresahan disana.

“Ayo nduk” ajak bu Lurah sambil merangkul Gendhis.

Gendhis terlihat ragu, namun akhirnya bergeming juga mengikuti ajakan ibunya.

Berjalan ke arah pendopo kali ini bagi Gendhis seperti menuju tempat eksekusi dimana dia akan kehilangan nyawanya.
Gendhis tidak berani melihat siapapun tamu yang hadir. Lehernya kelu dan terasa berat untuk diangkat menatap siapapun disana.

Panji yang melihat Gendhis lagi untuk pertama kalinya sejak 2 tahun lalu seperti tersihir. Gadis itu telah menjelma menjadi seorang wanita yang sangat anggun dan semakin cantik.

Walaupun masih tertunduk Panji bisa dengan jelas melihat kecantikan Gendhis yang paripurna. Terlebih baginya kecantikan Gendhis terpancar bukan dari wajahnya semata.

Rindu didadanya membuncah tak tertahankan, ingin rasanya dia berlari memeluknya jika saja dipendopo tak ada keluarga besarnya.

Namun tak hanya Panji yang terkesima, hampir semua tamu memandang takjub kepada Gendhis.
Walaupun dengan dandanan seadanya malah nyaris polos tak menutupi pesona kecantikan jawanya.

Ibu Panji tampak tersenyum senang, merasa putranya tidak salah memilih calon istri.

Sementara bapak Panji yang berprofesi sebagai dokter senior sekaligus seorang dosen tampak manggut-manggut. Tampaknya puas dengan pilihan putranya.

Gendhis yang telah duduk berhadapan dengan keluarga besar Panji belum menyadari sosok didepannya itu, masih menunduk.

“Nduk cah ayu, angkat wajahmu nak” bisik bu Harjo.

Gendhis masih tak bergeming. Sedangkan Panji yang duduk bersimpuh tepat di hadapan Gendhis sedang memandangnya lekat-lekat. Tak rela rasanya berkedip, seolah dirinya takut jika berkedip semua akan hilang.

Dunia Panji serasa berhenti melihatnya lagi, jantungnya berdegup tak berirama. Jiwanya seperti hidup kembali. Gendhis terlihat semakin menawan, batin Panji.
Merasa semua mata tertuju padanya, perlahan Gendhis mengangkat kepalanya. Pandangan pertamanya langsung beradu dengan mata panji.

Pemuda tampan yang namanya selalu menjadi bagian dari do’a Gendhis selama ini duduk dihadapannya. Sedang tersenyum menatapnya.
Jiwa yang telah gersang selama ini terisi kembali, pandangan teduh dan senyum itu kembali.

Gendhis seperti mematung beberapa saat, otaknya mengolah dan memastikan jika ini nyata. Tangannya bahkan mulai gemetar, dan nafasnya terasa tercekat. Tidak mempercayai pemandangan didepannya kini.

“Jadi nduk, Panji anak bapak ini ingin mengambilmu sebagai istri, apakah nduk Gendhis bersedia?” tanya bapak Panji lembut.

Gendhis terdiam dan hanya mampu menelan ludahnya sendiri, mulutnya seperti terkunci dan namun hatinya tengah sibuk bersorak.
Ekor matanya mencuri pandang ke arah Panji, ya ampun pemuda itu masih saja menatapnya.

Gendhis tertunduk malu mendapat pandangan sedalam itu dari Panji. Betapa dia merindukan pandangan itu selama ini.

“Piye nduk?” kali ini Pak Harjo yang bertanya melihat putrinya masih terdiam.

Tiba-tiba Panji tampak berbisik ke bapaknya, tampak wajah terkejut disana.

Kemudian bapak Panji berbisik pula ke dr. Wira bapak Galih, ekspresi terkejut juga terpancar di mukanya. Namun sejurus kemudian dia tampak manggut-manggut.

“Nyuwun sewu (permisi) pak Lurah kalian Ibu, sepertinya dengan amat terpaksa kami dari keluarga Panji membatalkan acara lamaran ini.” kata dr.Wiro.

Hampir semua yang ada di pendopo tampak terkejut mendengar ucapan dr. Wira. Terlebih Gendhis. Hatinya yang masih belum sepenuhnya sadar kembali terguncang. Matanya memerah nyaris menangis.

Belum habis kekerkejutan mereka dr. Wira melanjutkan lagi.

“Nak Panji tidak ingin melamar nduk Gendhis namun ingin hari ini juga menikahi putri Pak Lurah Harjo” sambungnya.

“Bagaimana nduk, purun (mau)?” tanya dr. Wira dengan ekspresi kocak.

Semua hadirin melepas nafas lega. Berganti dengan senyum sumringah. Gendhis yang sempat menahan nafasnya bisa bernafas lega kini.

Matanya memandang Panji yang masih saja memandangnya, terlihat mata teduh Panji berkaca-kaca kini.
Gendhis menganggukkan kepala kali ini. Membuat seluruh hadirin kembali bernafas lega. Bu lurah terlihat menyeka ujung matanya yang basah.

Ajeng malah terlihat sesenggukan sehingga Nawang perlu memeluknya agar tak menjadi jadi tangisnya.

“Kebetulan sudah masuk waktu asyar, alangkah lebih baiknya kita sholat dulu, nanti minta tolong kepada mantri Sugeng untuk mengutus siapa menjemput penghulu di kecamatan sana” kata Pak Lurah Harjo, wajahnya tampak sumringah.

“Acaranya kita laksanakan setelah sholat isya ya pak Doktor?” kata Pak Lurah kemudian.

Bapak Panji tampak tersenyum hangat kepada calon besannya itu. Sikap hangat dan suasana desa Somawangi benar-benar membiusnya.
Setelah itu semua tampak sibuk sendiri. Para lelaki berjalan menuju surau untuk sholat berjamaah dan para ibu terlihat memasuki ruangan disamping pendopo untuk beristirahat.

Ibu Panji tampak sedang berbincang akrab dengan bu Lurah. Sesekali mereka terlihat tertawa.
Panji tampak tak bisa menahan ingin tahunya lagi dicecarnya Galih dengan sejuta pertanyaan yang berputar di kepalanya.

“Lih… aku benar-benar ndak tahu harus ngomong apa, ini diluar mimpi dan harapanku, coba tolong ceritakan gimana kok bisa begini.” tanya Panji dengan tampang bingung namun sangat bahagia.

“Hahahaha, semua terjadi gitu aja sebenarnya Nji.” kata Galih.

Lalu dia menceritakan tentang rencana bapak dan mantri Sugeng yang awalnya ingin menjodohkan dirinya dengan Gendhis. Dan tentang pertemuan Galih dengan Mantri Sugeng meluncur begitu saja dari mulut Galih.

“Kok bisa gini Lih akhirnya?” tanya Panji.

“Hari rabu kemarin mantri sugeng datang kerumah lalu aku menjelaskan semua sama bapakku dan mantri Sugeng, setelah itu aku memperlihatkan fotomu sama mereka, ternyata wajahmu familiar buat mereka terutama untuk bapak.” jelas Galih.

“Bapakku itu temen lama bapakmu Nji naah mantri Sugeng adalah mantan mahasiswa bapakmu, kecil ya dunia hahaha”

“Trus gimana mereka bisa rencanain ini Lih?” tanya Panji.

“Mantri Sugeng sama bapakku datang ke universitas bapakmu Nji trus ndak tahu aku, pokoknya kemarin malam aku di briefing rencana tadi tapi aku ndak tau kalo kamu pengen langsung nikah aja”

Panji mengingat-ingat kejadian beberapa hari lalu, keluarganya memang mendadak sibuk dan bilang mau ke Yogya.

Mereka beralasan ada acara keluarga dadakan sehingga Panji yang sedang bekerja tidak diajak serta.

Padahal biasanya tidak pernah sekalipun Panji tidak diikutsertakan saat ada acara keluarga. Dirinya yang jomblo selalu menjadi sasaran bude-budenya untuk dijodohkan.

“Makasih ya Lih” kata Panji tulus.

Galih hanya nyengir. Dia ikut bahagia melihat kedua temannya akhirnya bersatu.

“Nji Gendhis tuh” kata Galih seraya memberi kode dengan kepalanya agar Panji melihat ke depan.

Rumah Bu Harjo sore ini tampak ramai. Berita Gendhis dilamar dan langsung menikah malam ini juga membuat warga penasaran.

Apalagi calon suami Gendhis adalah Panji, sang mahasiswa ganteng yang menjadi idola didesa mereka kala KKN 2 tahun lalu.
Terlihat beberapa warga mondar mandir disekitar pendopo dan dapur Bu Lurah. Mereka tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Gendhis.

Terlihat Ajeng dan Gendhis muncul dari samping pendopo menuju ke arah balai desa.
Panji dan Galih segera menyusul mereka.

“Ajeng… Gendhis” panggil Galih.

Serempak Ajeng dan Gendhis menoleh, Ajeng terlonjak melihat Galih sedangkan Gendhis tertunduk malu dengan muka memerah.

“Mas Galih….. Ajeng kangen” sambut Ajeng antusias.

Galih dan Panji tertawa melihat tingkah gadis tambun yang sekarang sudah langsing itu.

“Jeng… kamu cantik kalo langsing gini, terlihat berbeda” puji Galih tulus.

Yang dipuji “clengosan” malu, sambil mlintir-mlintir rambut kepangnya.

“Bener Jeng, aku yo pangkling liat kamu, beda… tambah Ayu” puji Panji.

“Mas Panji jangan gitu ndak Gendhis nesu sama aku lo hihihi” Ajeng makin salah tingkah.

Gendhis hanya mesam mesem aja mendengar Ajeng berceloteh. Tanpa sadar Ajeng dan Galih menghindar agar Panji bisa berjalan berdua dengan Gendhis.

Gendhis yang merasa kaget ternyata hanya jalan berdua Panji menjadi panas dingin. Wajahnya tampak tegang.

“Ndak usah takut Ndis.. Ajeng sama Galih lagi pengen ngobrol sebentar, kamu aman kok sama Panji, mau ke sungai kan? yuuk ditemenin” kata Panji lembut.

Gendhis tersenyum lalu mengangguk, betapa semua bunga dihatinya bermekaran tanpa izin kini.
Do’a dan tangisnya selama ini didengar oleh yang kuasa, pemuda tampan ini mengingatnya lagi, bahkan sebentar lagi menjadi bagian dari hidupnya.

“Aku minta maaf ya Ndis terlambat menemuimu”

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu waktu aku pergi begitu saja dan melupakanmu Ndis” ucap Panji lirih.

“Aku bahkan membiarkanmu menungguku dalam ketidakpastian yang begitu lama, maafkan aku Ndis” Panji tercekat dengan kata-katanya sendiri.

“Terima kasih..”

Bruuuuk!

Tiba-tiba Gendhis memeluk tubuh Panji dari belakang. Semua terasa begitu tiba-tiba ,semua terasa begitu indah dan sempurna dirasakan Gendhis. Dia tak tahu harus ngomong apa untuk mengungkapkan perasaannya kini. Bisa memeluknya dan menghirup lagi wangi tubuhnya kini mampu menghapus luka dan tangisnya selama ini.

Panji terkejut mendapat pelukan tiba-tiba itu. Gendhis menjadi wanita kedua yang berani memeluknya setelah ibunya. Dadanya berdesir entah perasaan apa. Rasanya sangat nyaman mendapat pelukan dari orang tercinta. Lama keduanya terhanyut dalam pikiran masing-masing, meresapi rasa nyaman dan rindu yang menggebu.

“Eh… eh…eh…ndak boleh itu belum sah.” kata Ajeng mengagetkan lamunan indah Panji dan Gendhis.

Gendhis segera melepaskan pelukannya dan mukanya tampak sangat malu. Segera ditariknya Ajeng berjalan menuju sungai.

“Aduh Ajeng, isin banget aku, kok iso sih… aduuh” kata Gendhis merutuki tindakannya tadi.

Ajeng cuma cekikikan mendengarnya.
Panji tampak belum bisa menguasai perasaannya, dia masih tidak percaya tadi Gendhis memeluknya.
Dipandanginya tubuh Gendhis dan Ajeng yang menghilang berbelok ke arah sungai.

Galih terkekeh melihat ulah sahabatnya, Panji meninju pelan lengan Galih.

“Kangen banget ya Nji, ditinggal sebentar udah wuuuuuu…. wuuuu bahaya ini kalo pak pengulu ndak datang ini” goda Galih.

“Sialan kamu, ndak lah Lih… Aduh Lih aku masih gemetar ini dipeluk Gendhis, Gendhis meluk aku Lih” kata Panji girang.

“Iyo… iyo aku weruh mau (aku lihat tadi)” kata Galih.

“Dah ayo mandi, mau jadi nganten harus bersih dan wangi” ajak Galih sambil menyeret Panji yang masih terbengong.

….

Sholat isya telah usai, itu pertanda prosesi ijab qobul Panji dan Gendhis segera dimulai. Panji tampak gagah dengan batik tua milik Pak Lurah Harjo, batik yang dulu dipakai Pak Harjo saat menikahi istrinya. Beliau sengaja menyuruh Panji memakai batik bersejarah itu.

Gendhis terlihat Ayu dengan kebaya dan kain yang dulu dibelikan Panji untuknya. Rambutnya tersanggul rapi dengan tusuk konde bermata intan.
Warga desa berbondong-bondong memenuhi pendopo. Mereka ingin melihat prosesi ijab qobul Panji dan Gendhis.

Apalagi setelah acara ijab selesai akan ada “gendhingan” yaitu memainkan lagu Jawa dengan alat musik gamelan. Acara berlangsung sakral dan hening tanpa adanya hingar bingar yang berlebihan. Akhirnya Panji dan Gendhis resmi menjadi suami istri.

Semua terbayar lunas, Allah mempertemukan kedua sejoli itu diwaktu dan saat yang tepat. Nyata adanya, gusti Allah mboten sare.
Ketika malam semakin larut, warga masih setia dengan alunan gendhingnya. Diam-diam Panji menemui pengantin cantiknya dikamar.

Sinar lampu templok yang temaram dan alunan gendhing membuat suasana kian syahdu. Muka Gendhis terlihat mempesona dibawah cahaya temaram.
Rambutnya yang hitam tampak tergerai dibahunya, membuat Panji tak karuan. Apalagi sekarang mereka telah menjadi sepasang suami istri.

Gendhis tersenyum menyambut kedatangan separuh jiwanya itu. Dadanya berdesir dan bergejolak. Perlahan tangan Panji meraih tangan Gendhis, keduanya sama gemetar.

Pandangan mereka saling bertaut, semakin dekat sampai terdengar deru nafas keduanya yang memburu. Gendhis memejamkan mata ketika bibir Panji mendekat lalu..

Tok… tok.. tok…

Ambyar!! Suasana romantis nan syahdu yang tercipta hancur seketika. Gendhis tampak malu karena telah memejamkan mata. Sejurus kemudian keadaan kembali sunyi, hanya sayup terdengar musik gamelan.

Panji merengkuh lembut tubuh Gendhis kedalam pelukannya. Terasa nyaman dan damai, namun berlahan geloranya meletup kembali. Diraihnya dagu Gendhis, ketika bibirnya dan Gendhis nyaris bertemu…

“Dis… dis…” terdengar suara bisikan dari luar kamarnya.

Karena penasaran Gendhis segera melepaskan pelukan Panji lalu mendekatkan telinganya ke dinding.

“Dis… dis..” kembali bisikan itu terdengar.

Gendhis dan Panji berpandangan. Ajeng!!

“Kenapa Jeng” Gendhis menjawab sambil berbisik.

“Ndis… bulan depan aku mau dilamar mas Galih masa” bisiknya.

Ya Tuhan Ajeng ndak bisa apa cerita itu besok saja, ini malam pertamaku sama Gendhis, astaga, batin Panji sambil meremas rambutnya sendiri.

TAMAT

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …