Gendhis Ayu – #Part_17/18

Galih cuma berdua Panji di dalam mobil. Di kursi belakang tampak beberapa seserahan yang apik dibentuk sedemikian rupa. Panji senyum-senyum sendiri melihat sahabatnya. Baru kali ini sahabatnya tampil rapi..

Galih cuma berdua Panji di dalam mobil. Di kursi belakang tampak beberapa “seserahan” yang apik dibentuk sedemikian rupa.
Panji senyum-senyum sendiri melihat sahabatnya. Baru kali ini sahabatnya tampil rapi, biasanya slengean banget penampilannya.

“Digatekke (diperhatikan) kamu ganteng juga Lih.” goda Panji sambil terkekeh.

“Laah….selama ini aku tuh cuma pura-pura jelek Nji.” jawab Galih santai.

“Halaaah… ini sih cuma efek baju batikmu aja Lih, kamu jadi agak mangklingi.”

“Ngawur… wong ibuku bilang aku itu cowok paling ganteng sedunia kok”

“Kenyataannya boro-boro sedunia, cuma berdua kamu aja aku udah kalah telak hahahah” kata Galih terkekeh.

“Lih… Makasih ya, kamu itu teman terbaik yang aku punya.” kata Panji sungguh-sungguh.

Galih hanya tertawa. Liat aja nanti apa kamu masih bisa nyebut aku teman terbaik, batin galih.

Perjalanan mereka terasa sangat melelahkan. Bahkan waktu telah masuk waktu asyar.

“Lih… ndak salah kamu, calon istrimu jauh banget rumahnya, kenal dimana sih? edaaaan” Panji berkomentar.

“Wes to.. Rasah protes, jodoh itu Allah yang ngatur dimana aja sesulit apapun keadaannya kalo Allah sudah menggariskan, pasti ketemu ndak ada yang bisa menghalangi ndak ada yang bisa nuker.” kata Galih.

Termasuk mantra mbah Sruni sekalipun, batin Galih.
Panji tampak manggut-manggut.

“Tak kira kamu itu ndak suka cewek Lih, soalnya dari dulu kan ndak pernah aku lihat kamu pacaran opo dekat sama cewek ngono.”

“Halah kaya kamu pacaran aja Nji paling banter juga sama Gendhis.” ucap Galih.

Panji tampak termangu, memang baru Gendhis perempuan yang mampu menggetarkan hatinya. Tapi nasib cinta pertamanya sudah pupus kini.

Galih melirik sekilas sahabatnya yang tiba-tiba terdiam. Ada raut sedih disana.

“Nji… tolong kamu gantiin nyetir ya, ngeri aku belum pengalaman medan gini.” kata Galih.

Panji mengangguk, sejurus kemudian tampak Panji yang berada dibalik kemudi.

Medan yang dilalui memang terjal dan banyak tikungan tajam. Jika pengemudi tidak jeli bukan tidak mungkin mobil terperosok ke kebun atau malah jurang.
Panji mengusap keringatnya ketika akhirnya menemui jalanan yang rata.

“Wuuuh… jalannya ngajak gelut (berkelahi) iki Lih” teriak Panji.

“Makanya aku mundur.” Galih terkekeh

“Udah lama aku juga ndak nemuin medan gini Lih, kagok ne hehehee”

“Kapan terahir Nji?” pancing Galih.

“Jaman KKN lih, naik motor sih dulu pas nganterin Gendhis ke rumah pakleknya” jawab Panji lancar.

Kemudian dia terdiam sendiri menyadari kata-katanya. Lalu Panji mulai memperhatikan jalan didepannya. Sepertinya jalan ini tidak asing baginya.

“Kanapa Nji?” tanya Galih pura-pura bodoh. Padahal dia yakin Panji mulai menyadari ini jalan menuju kampung dulu mereka KKN.

“Ini bukanya jalan ke Somawangi ya? Tuh… Bner itu jembatan kan dulu kita yang ngecat, bener ga sih ?” kata Panji keheranan.

“Waah… Pak Insinyur selain ganteng ternyata daya ingat seperti gajah ya” Galih terkekeh.

“Sebentar… Sebentar” ucap Panji tiba-tiba lalu mesin mobil dimatikan olehnya.

Dipandangnya wajah sahabat baiknya itu dalam-dalam. Seolah mencari sesuatu disana.

“Nawang bilang Gendhis mau dilamar minggu ini, hari ini tepat seminggu aku ketemu Nawang, trus sekarang aku nganterin kamu kesini buat ngelamar, kamu bukan mau melamar Gendhis kan?” tanya Panji tajam.

“Menurutmu?” Galih balik bertanya.

“Heh…. Ndak mungkin, kamu itu sahabat aku Lih” kata Panji mendesis, jelas ada percikan amarah disana.

“Jadi maksudmu aku disuruh nemenin kamu lih buat ngelamar Gendhis?” tandas Panji.

“Sayang sekali tapi memang iya.” kata Galih tajam.

Nafas Panji seketika memburu, tangannya menggenggam erat setir mobil dan pandangannya jauh melihat ke bawah jembatan.
Entah apa saja yang berkecamuk didadanya kali ini, kecewa, sakit hati, marah dan patah hati berpadu di dadanya.
Rahangnya yang kokoh tampak mengeras namun sudut matanya berair.

Seketika Galih merasa bersalah telah mempermainkan perasan Panji.

“Nji…. sepurone Nji.” kata Galih bergetar dia mulai takut Panji akan berbuat nekat.

Panji tidak bergeming, pundaknya kini tampak melemah dan bersandar di sandaran kursi mobil.

“Sepurone Nji… aduuuh aku cuma bercanda, sepurone Nji” kata Galih melemah.

Panji sekilas melirik Galih, terlihat menyeramkan lirikan itu bagi Galih.

“Maksudmu?” desis Panji.

“Aduuuh…. jangan nesu to, Aaaku memang mau melamar Gendhis…”

Belum selesai Galih ngomong panji menoleh tajam ke arahnya, seakan ingin menelan Galih bulat-bulat.

“Melamar Gendhis buat kamu nji…. aduuuh sabar Nji…. ngeri aku liat kamu marah.” tambah Galih menyelesaikan omongannya, mukanya sedikit pucat.

“Sudah sini kamu pindah sini duduknya biar mobil aku yang bawa,ngeri digowo njegur (dibawa terjun) aku” kata Galih menyuruh Panji pindah.

Kemudian mobil kembali berjalan kali ini mulai memasuki desa Somawangi. Tak banyak perubahan di desa asri ini,malah nyaris tidak ada yang berbeda sejak ditinggal 2 tahun silam, tetap tenang dan sejuk.

“Lih… tolong jelaskan sama aku Lih, hampir saja aku mati mendadak denger kmu mau nglamar Gendhis?” desak Panji lemah.

“Aku memang mau melamar Gendhis Nji serius,tapi bukan buat aku buat kamu.” jelas Galih

“Boleh ndak jangan muter-muter gitu jelasinnya, kepalaku pening sumpah.” kata Panji sambil mengacak- acak rambutnya.

“Tuh… kamu lihat.. itu mobil siapa Nji?” kata Galih menunjuk ke depan.

Dengan lemah Panji menengok ke depan, tampak olehnya mobil berwarna hitam dengan nomer plat yang nyaris dihafalnya.

“Kok mobil bapak disini?” keningnya berkerut dan kepalanya terasa semakin berdenyut.

“Nah iya…percaya kan sama aku.” kata Galih santai.

Dia mulai memasukkan mobilnya ke halaman pendopo. Tampak serbuan anak kecil yang tadinya mengerubungi 2 mobil yang telah terlebih dulu datang kini gantian merubungi mobil yang ditumpangi Panji.

“Percaya opo sih Lih, tenan aku ndak mudeng arrrhh” geram Panji mulai tak sabar.

“Cerita selengkapnya nanti pasti tak ceritain, sekarang ayo cepat kita masuk ke pendopo, semua sudah nunggu kamu, tuh lihat ibukmu luntur bedaknya hahahha” kelakar Galih.

“Aku mau ngapain, mereka ngapain nunggu aku lih he..” teriak Panji kesal.Dia merasa dipermainkan oleh bocah koplak itu.

“Ya mau ngelamar Gendhis lah pak insinyur, po mau nglamar bu Harjo kowe hah, ayo ndang mudun (cepat turun)” kata Galih gregetan.

Panji segera merapikan rambut dan penampilannya, berulang kali memastikan semua tampak bagus di kaca spion.
Galih yang tidak sabar segera menghampirinya.

“Halaah… ngasi kocone (sampai kacanya) pecah juga kamu itu tetep ganteng Nji, kesuwen ngoco Gendhis tak pek (kelamaan ngaca Gendhis tak ambil) yo” ancamnya.

“Eeeh…. ngati-ati kowe Lih, wani nowel Gendhis tak antemi kowe (berani nowel Gendhis tak pukulin kamu)” balas Panji tergesa.

Segera mereka memasuki pendopo yang memang benar para tetamu tengah menunggu kehadiran mereka. Tampak seluruh keluarga Panji hadir disitu membuat Panji bingung. Bukanya mereka pamit mau ke Yogya, pikirnya semakin tak mengerti.

Diliriknya sekilas ada mantri Sugeng dan ada seorang bapak-bapak yang mukanya mirip sama Galih, mungkin itu bapaknya Galih, pikir Panji.

Dia menatap Galih, tampak temannya itu tersenyum jahil ke arahnya, lalu pandangannya mengarah ke depan, tampak Pak Lurah tersenyum namun menatapnya tak percaya pun dengan tatapan heran Bu Lurah.

“Gusti pangeran… iki ono opo sih?” bisiknya pelan.

“Naah…. ini pengantennya datang juga, mas Panji sini duduk dekat bapak.” tiba-tiba bapak dengan wajah mirip Galih mengajaknya duduk berdampingan.

Dengan ragu Panji menatap ibunya, wajah ayu ibunya terlihat mengangguk lalu segera Panji menempatkan diri disamping dr.Wira.
Segera terjadi pembicaraan khas orang melamar anak gadis. Mereka tampak takzim dan hikmat mendengar sambutan dari beberapa orang tersebut.

Tinggallah Panji terbengong belum sepenuhnya mengerti malah beberapa kali mencubit lengannya sendiri, khawatir ini hanya mimpi.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.