Gendhis Ayu – #Part_16/18

Galih tampak duduk disalah satu kursi tunggu sebuah rumah sakit. Kebetulan siang itu suasana agak sepi cuma ada beberapa saja orang yang berlalu lalang didepannya. Saat sedang asik memperhatikan orang yang lewat matanya tertumbuk kepada sosok berbaju putih yang baru memasuki ruangan. Wajahnya seperti familiar..

Galih tampak duduk disalah satu kursi tunggu sebuah rumah sakit. Kebetulan siang itu suasana agak sepi cuma ada beberapa saja orang yang berlalu lalang didepannya.

Saat sedang asik memperhatikan orang yang lewat matanya tertumbuk kepada sosok berbaju putih yang baru memasuki ruangan. Wajahnya seperti familiar, pikir Galih. Sosok berbaju putih yang sepertinya seorang dokter itu juga nampak memandang ke arahnya. Saling bertatap kemudian tersenyum.

“Pak Mantri ya?” teriak Galih girang.

“Kamu mahasiswa KKN itu kan ya, siapa namanya aduuh…. lupa saya, temennya Ajeng kan?” kata pak mantri tak kalah girangnya.

“Galih pak, saya mahasiswa yang di desa Somawangi itu.” kata Galih sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Walah… Lama ndak ketemu ya, kamu siapa yang sakit, kok ada disini?” tanya Mantri Sugeng.

“Oh ini… Ndak ada yang sakit alhamdulillah pak, saya sedang menunggu bapak saya kebetulan tugas di sini” kata Galih.

“Bapakmu kerja disini lih? Siapa namanya siapa tahu saya kenal to?” tanya mantri Sugeng.

“Pak Wiratama namanya pak Mantri” jawab Galih.

“Looh.. dokter Wiratama maksudmu ngger? Kamu ini yang namanya Galih Wiratama to?” tanya pak mantri dengan nada tak percaya.

Galih mengangguk pelan, dia juga merasa heran pak mantri mengetahui profesi ayahnya dan bahkan nama lengkapnya kini.

“Kalo kamu mah aku kenal ndak perlu dikenalin lagi” lanjut mantri sugeng terkekeh. Membuat Galih semakin bingung.

Tak lama muncul seorang pria paruh baya yang mengenakan mantel putih serupa yang dipakai mantri Sugeng. Raut mukanya terlihat bijaksana dan ramah, dia adalah dr. Wiratama, bapak Galih.

Melihat anaknya tampak akrab dengan teman sejawatnya dr. Wiratama mengerutkan keningnya.

“Kalian sudah kenal rupanya?” sapa dr. Wira sambil berjabat tangan dengan mantri Sugeng.

“Walah pak, Galih ini mahasiswa yang mondok dirumah mbakyuku di Somawangi ya pasti kenal tapi ndak tahu kalo dia putra pak Wira” jelas mantri Sugeng terkekeh.

“Ndak yo Lih?” tanya Dr. Wira kepada Galih putranya.

Yang ditanya cuma nyengir.

“Tumbu ketemu tutup iki jenenge (sesuatu yang sangat cocok ini namanya)” kata Dr. Wiratama sambil terkekeh.

Kemudian mereka menuju ke parkiran tak lama mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah rumah makan yang saat itu tampak lengang.
Setelah memesan makanan yang diinginkan mereka tampak akrab mengobrol. Rupanya diantara dr. Wira maupun mantri Sugeng telah menyusun sebuah rencana. Rencana perjodohan Galih dengan Gendhis.

Galih tampak kaget sekaligus tidak setuju mendengar rencana mereka. Apalagi saat ini Panji tengah berusaha keras mengingat Gendhis.
Bagaimana jika Panji tahu hal ini, bisa-bisa dibunuh aku sama insinyur muda nan ganteng itu, batin Galih. Dan Galih, aah… sudah ada sebuah nama yang menghuni hatinya.

Tapi ditahannya dulu keinginannya. Lagipula ini baru sebuah rencana dan Galih tahu pasti ayahnya bukan tipe orang yang suka memaksakan kehendak. Sejurus kemudian Galih tersedak kala mendengar “rencana” mereka akan direalisasikan bulan ini juga.

Galih tampak menunjukkan raut tidak setuju namun mereka tak menanggapi protesnya. Malah sepertinya mereka semakin asik merancang acara itu tanpa meminta pendapat dan persetujuannya.

Baaah…. ini siapa yang mau melamar dan menikah sih kok mereka yang sibuk, batin Galih.

Selesai makan ternyata dr. Wira harus segera kembali ke rumah sakit. Sementara mantri Sugeng hendak pulang. Karena searah Galih menawarkan untuk mengantarnya pulang.

Ingin rasanya dia mengutarakan pendapatnya tentang rencana mantri Sugeng dan Ayahnya namun ditahannya keinginan itu, menunggu saat yang sangat tepat.
Setelah pertemuan mereka Galih ingin segera menemui Panji. Ingin rasanya Galih menggetok kepala Panji berharap dia segera mengingat tentang Gendhis.

“Nji…. Nji ndang elingo kalo ndak Gendhismu meh dipek mantu mbi bapakku (Nji… Nji ayo cepat ingat kalau tidak nanti Gendhismu mau dijadikan menantu sama bapakku)” keluh Galih lirih.

….

Setelah menyadari tak bisa lagi mengelak untuk dijodohkan Gendhis menjadi agak pendiam. Muka Panji bahkan semakin intens merajai benaknya.
Kembali terbayang wajah rupawan yang entah dimana dia berada.

Lupakah dia jika hatiku telah digenggamnya, lalu apa yang harus kulakukan saat nanti hadir lelaki baru meminta hatiku? Katakan padaku apa yang harus ku lakukan Panji, batin Gendhis perih.

Di sisi lain terbayang wajah kedua orang tuanya. Tak tega rasanya kembali mengecewakan kedua orang tuanya, namun bagaimana nasib cintanya ini.
Semenyedihkan itukah dirinya sampai kedua orang tua bahkan pakleknya turun tangan untuk urusan hatiku, bisik hati Gendhis.

Berusaha ikhlas dan pasrah ternyata tak semudah yang dibayangkan. Jika bukan karena mengingat kedua orang tuanya mungkin Gendhis ingin pergi saja dari desa. Lebih parah terlintas ingin mengakhiri saja hidupnya.

Namun jika dia berbuat demikian entah bagaimana malu dan sakit hati yang harus diterima kedua orang tuanya. Sungguh lagi-lagi Gendhis harus melapangkan dadanya menerima takdir hidupnya.

Dia hanya mampu menguatkan hatinya jika ini adalah yang terbaik dari yang paling baik untuknya.

….

Entah darimana awalnya tiba-tiba malam itu Panji merasa ingat semuanya. Semua seperti sebuah bendungan yang meluap begitu saja. Senyum Gendhis, raut ayunya dan semua yang membuat Panji terlena terbayang dengan jelas.

Tanpa menunggu pagi tiba, dia segera menstater sepeda motornya untuk menemui Galih. Jarak beberapa kota darinya tak menyurutkan semangat Panji yang tengah menggebu.

Matahari telah tinggi kala akhirnya mesin motor terhenti untuk meminta jatah bahan bakarnya. Panji menghentikan motornya di tempat pengisian bensin, rupanya dia telah sampai di kota Salatiga, kota Galih.

Tiba-tiba Panji teringat sesuatu. Segera dirogoh semua kantong celana dan mengaduk seluruh isi ransel dipundaknya. Alamat rumah Galih yang ada disecarik kertas tidak ada. Panji belum pernah sekalipun mengunjungi rumah Galih.

Dengan gotai Panji mengarahkan laju motornya menuju kantor kecamatan tempat Galih bekerja. Padahal itu hari minggu dimana semua pegawainya libur. Mau kemana lagi, ini satu-satunya tempat yang mungkin saja dikunjungi Galih cuma ini, batin Panji lesu.

Di sebuah pertigaan tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang sepertinya dia kenal. Sebuah keluarga kecil yang rasanya familiar. Segera Panji menepikan motornya. Lalu mamastikan padangannya dia takut salah.

Sosok yang merasa diperhatikan sepertinya juga mengenali Panji.

“Panji ya?” sapa Abimana ragu.
“Waah…. Nawang sama Abimana ya, beruntung banget ketemu kalian disini?” sambut Panji sambil menjabat tangan Abimana.

“Waah, kalian serasi banget sih dan ini.. ganteng banget jagoannya” seru Panji sambil mencubit gemas pipi Dimas, anak Nawang.

“Mas Panji tinggal di Salatiga?” tanya Nawang.

“Oh ndak Wang, aku mau kerumah Galih tapi lupa alamatnya hehehe kamu inget Galih ndak Wang?” tanya Panji sambil terkekeh.

“Mas Galih ya.. inget mas” jawab Nawang lembut.

Panji agak pangling melihat Nawang sekarang, nampak keibuan tapi semakin cantik. Tutur katanya juga lebih lembut.

“Mampir dulu ke rumah kami yuk Nji?” kata Abimana membuyarkan lamunan Panji.

“Waah…. Kapan-kapan saja Bi, kudu nyari Galih dulu ini penting.” kata Panji sambil tersenyum.

“Loh… Katanya alamatnya hilang, trus piye?” tanya Nawang.

“Ndak tahu ya paling coba cari dulu Wang” kata Panji sambil menstater motornya.

“Mas Panji!” panggil Nawang.

Panji menoleh

“Iya, kenapa wang?”

“Gendhis…. “

“Kenapa Gendhis Wang?” kata Panji jantungnya mendadak bergemuruh mendengar nama itu disebut.

“Gendhis minggu depan mau dilamar mas” kata Nawang tercekat.

Jelas terlihat raut terkejut di muka Panji. Lututnya bahkan terasa lemas sekarang namun sekuat tenaga ditahannya.

“Oh iya, sama siapa Wang?” tanyanya datar. Padahal rasanya mata panji udah sangat panas menahan tangis.

Nawang hanya menggeleng lemah, Nawang menangkap perubahan wajah Panji.

“Anak temennya Paklek sugeng Nji, ingat kan itu lo mantri Sugeng” jawab Abimana.

“Oh… Iya, sampaikan saja salam buat Gendhis ya Bim,, duluan ya Bim, Wang” kata Panji buru-buru.

Dia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya. Apa yang telah aku lakukan kenapa jadi begini, batinnya.

Punya hak apa aku tidak terima Gendhis akan dilamar orang, bahkan setelah selama ini dia baru akan dilamar? Mungkinkah Gendhis menungguku selama ini, laki-laki macam apa aku, runtuk Panji dalam hati.

Jika benar selama ini Gendhis menungguku alangkah tidak tahu diri aku ini, tak menyadari dan bahkan melupakan dia, astaga, batin Panji getir.

Pandangan matanya nanar menatap jalan, rasanya ingin Panji berteriak sekeras mungkin. Hatinya mendadak sangat sakit, terlintas kembali wajah manis Gendhis.
Akhirnya dia menepikan motornya memasuki kantor kecamatan tempat Galih bekerja. Entahlah apa yang akan dilakukankanya.

Dia memasuki kantin yang kala itu dikunjungi bersama Galih. Tampak sepi namun penjual kopi yang sama tampak membuka kedainya.

“Kopi setunggal (satu) bu” pintanya sopan.

“Njeh mas sekedap (iya mas sebentar)” balasnya ramah.

Wajah Panji tampak sangat kusut, selain dia kurang tidur tadi malam kabar Gendhis tadi benar-benar membuatnya kacau.
Secangkir kopi terhidang dihadapannya, Panji mencoba tersenyum sekilas kepada ibu warung lalu kembali tertunduk.

“Mas ini kalo ndak salah temannya mas Galih kan?” tanyanya sopan.

Panji mengangkat mukanya.

“Iya betul bu, saya ini mau kerumahnya tapi ndak tahu alamatnya bu, apakah ibu tahu rumah Galih?” tanya Panji penuh harap.

“Eem…. Gitu, kalo ndak salah rumah mas Galih ada di perumahan apa ya namanya” ibu warung tampak berpikir.

“Eh biasanya hari minggu Mas Galih suka piket kesini lo mas, coba sebentar” kata ibu warung tergesa meninggalkan Panji yang masih terbengong.

Tak lama perempuan paruh baya itu kembali diikuti Galih dibelakangnya.
Panji tersenyum sumringah, ternyata tak sia-sia dia membelokkan motornya ke kecamatan.

“Wiiiih… baru sore ini aku berencana maen ke rumahmu Nji, kamu lebih gesit rupanya” sapa Galih riang.

Panji hanya tertawa mendengarnya.

“Gimana ada perkembangan?” tanya Galih sambil menyesap kopi Panji.

Dipandangnya muka Panji, masih tetap ganteng sih walaupun sedikit kacau penampilannya tapi malah menciptakan kesan cowok ugal-ugalan yang suka bikin cewek klepek-klepek.

“Oke…. Kayaknya lebih baik ngobrol dirumahku aja yuk” ajak Galih seraya menarik tangan Panji setelah sebelumnya meletakkan uang dibawah gelas kopi.

…..

Mata Panji membulat saking tidak percayanya dengan cerita Galih. Berulang kali ditepuknya pipinya sendiri memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.
Dia tidak menyangka ada hal seperti itu didunia, dan tidak menyangka lagi Nawang tega berbuat sedemikian rupa kepada adiknya sendiri.

Memang sikap buruk Nawang beberapa telah diketahuinya namun dia tidak menyangka Nawang akan berbuat sejauh ini.
Lalu pikirannya segera melayang membayangkan bagaimana hati Gendhis. Betapa teganya dirinya membuat gadis itu terlupakan begitu saja. Gendhis pasti sangat terluka.

Bagaimana rasanya ketika Gendhis harus memilih Nawang dan membiarkan hatinya sendiri terluka dan dia hanya melenggang santai meninggalkan Gendhis begitu saja. Dan hal itu tidak sekali Gendhis mengalaminya.

Panji menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Rasanya otak Panji tak berfungsi kini.

“Temenin aku ke Somawangi yuk Lih” kata Panji tiba-tiba.

“Gendhis mau dilamar orang, aku… aku masih pantas ndak yah menemuinya lagi?” kata Panji terbata, sudut matanya berair.

“Aku pgen banget ketemu dia Lih, aku mau minta maaf tapi aku takut merusak hari bahagia dia sama cowoknya sekarang.” lanjutnya pilu.

Galih terdiam memandang sahabatnya, andai Panji tahu dia yang akan melamar Gendhis.

“Yowes… nanti tak cari informasi dan cara biar kamu bisa ketemu Gendhis lagi ya” hibur Galih sambil menepuk bahu Panji.

Panji hanya mengangguk lemah.

….

“Waaah….. Calon manten datang bune.” teriak mantri Sugeng yang sedang bersantai diteras rumah bersama istrinya malam itu.

Galih tampak salah tingkah mendengarnya. Tak lama mereka terlihat asik mengobrol kemudian istri mantri Sugeng ijin masuk ke dalam.

“Pak mantri, kedatangan saya kesini mau ngomongin acara lamaran saya itu” kata Galih memulai.

“Oh iyo… Piye-piye lih, gugup yo kowe (kamu)?” tanya mantri Sugeng sambil terkekeh.

Dirinya teringat saat dulu akan melamar istrinya, rasanya gugup dan takut ditolak walaupun dulu mereka telah berpacaran namun statusnya kala itu yang masih seorang mahasiswa membuatnya takut keluarga istrinya menolak lamarannya.

“Bukan Pak mantri, tapi karena Panji” kata Galih membuat mantri Sugeng terdiam dan terlihat serius.

“Panji?” tanyanya serius.

Galih lalu menceritakan perjumpaannya kembali dengan Panji dan bagaimana perasaan Panji saat ini kepada Gendhis. Bahkan keputusasaan Panji mendengar Gendhis akan dilamar pun diceritakannya.

Mantri Sugeng tampak menyimak dengan seksama semua cerita Galih. Keningnya berkerut menandakan dia sedang memikirkan sesuatu.

“Sebenarnya rencana saya dan bapak mu menjodohkan kalian juga merupakan ide dari saya Lih,kenapa? Karena orang tua Gendhis tidak tega membiarkan Gendhis terus menerus bersedih memikirkan Panji” terang mantri Sugeng.

“Jadi sebenarnya kita juga tahu pasti Gendhis ini masih sangat mencintai Panji, la wong kalo dihitung dia sudah menolak 3 lelaki yang melamarnya je” lanjutnya.

“Cuma kemarin-kemarin kan ndak ada itu terdengar kabar Panji to, mungkin saja dia sudah menikah sementara Gendhis terus saja menunggu, siapa yang tau to” kata mantri Sugeng.

“Bapakmu cerita, punya bujangan lapuk dirumah, berhubung sudah kenal baik sama beliau saya menyarankan Gendhis ponakan saya dan bapakmu langsung setuju.”

Galih cuma manggut-manggut mengerti…

“Ya… Tapi acara ini rasanya ndak bisa dibatalkan begitu saja wong saya sudah ngabari ibuknya Gendhis dan di Somawangi sana sudah siap-siap.”

“Tapi masa pak mantri tega sih sama Gendhis, Panji dan saya. Panji dan Gendhis saling mencintai lo pak, saya sahabat mereka masa saya yang ngancurin to, lagian saya udah punya pacar pak” Galih mencoba memberi alasan.

“Tapi sudah terlalu mepet buat batalin Lih, trus gimana bapakmu ibukmu hayo?”

“Lagian kemarin ndak minta pendapat saya dulu sih.” sungut Galih.

“Kamu juga ndak bilang kan?” balas mantri Sugeng.

“Pas itu Panji belum sadar, aku takutnya dikira alesan doank Pak Mantri”

Mantri Sugeng tampak bingung juga sebenarnya.

“Tak pikirin dulu, masih dino senin to ini, lamarane kan sabtu… Masih ada waktu kan, besok rabu tak sowan ke rumahmu yo” tutup mantri Sugeng.

….

“Edaaaan… kamu mau lamaran Lih? Waah kalah aku” kata Panji sambil memeluk Galih yang tampak rapi dengan baju batiknya.

“Wuuuuh… kolo-kolo (sekali- kali) aku ngalahin kamu lah Nji” kata Galih riang.

“Aku bantu apa ni, siap graaak pokoknya.” balas Panji sambil menegapkan badannya.

“Kamu ganti baju aja yang rapi trus temenin aku melamar doi.” kata Galih genit.

“La…. kamu sendirian kesini, rombongan keluargamu mana?” tanya Panji.

“Mereka sudah jalan duluan, tinggal aku ngampirin kamu lo buat nemenin”

“Oke siap, tunggu ya… tak dandan dulu biar ndak kalah ganteng sama calon manten.” jawab Panji sambil berjalan ke kamarnya.

Rumahnya sepi karena seluruh keluarganya dari semalam pergi ke acara salah seorang budenya di Yogya.

“Maafin aku ya Nji” bisik Galih lirih.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …