Gendhis Ayu – #Part_15/18

Panji terlihat resah dan tidak tenang, berkali kali matanya melirik jam yang melingkar ditangannya. Sore ini Panji memang sedang menunggu Galih. Ada perasaan aneh yang menggelayuti hatinya sejak pertama mengingat gadis manis Somawangi itu. Seperti sesuatu yang besar dan membuncah namun terhalang.

Panji terlihat resah dan tidak tenang, berkali kali matanya melirik jam yang melingkar ditangannya. Sore ini Panji memang sedang menunggu Galih.
Ada perasaan aneh yang menggelayuti hatinya sejak pertama mengingat gadis manis Somawangi itu. Seperti sesuatu yang besar dan membuncah namun terhalang. Agak tergesa Galih menghampiri Panji yang terlihat mondar mandir di parkiran.

“Aduh sepurone lo Nji, lagi tanggung tadi.” kata Galih agak terengah.

“Ndak papa Lih.. yuk duduk dimana gitu biar enak ngobrolnya.” kata Panji.

Akhirnya mereka berjalan menuju sebuah kantin tempat Galih bekerja.

“Kopi kaleh (dua) Bu Tini” kata Galih ramah.

“Siap mas Galih” jawab pemilik kantin yang biasa dipanggil Bu Tini itu sigap.

“Jadi gimna Nji ada apa kok kayaknya agak serius ini” ujar Galih memulai.

“Gini Lih, kemarin abis ketemu kamu itu aku mendadak pengen nostalgia masa kuliah ceritane lo, pas lagi bongkaran nemu ini” kata Panji sambil menyerahkan album foto jadul.

“Waah…. Masih ada punyamu Nji, duwekku (punyaku) ilang e..” ujar Galih girang sambil jarinya sibuk membuka lembar demi lembar album itu.

“Waah iki Bagas ireng (hitam) banget hahaha” katanya kegirangan.

“Iki gaweanmu (kerjaanmu) Nji moto aku pas lagi tidur.” katanya lagi sambil meninju pelan lengan Panji.

Panji hanya tersenyum melihat tingkah sahabat lamanya itu. Jantungnya berdegup tak beraturan mengikuti jari Galih yang sedang membolak balik album foto itu.

“Waah.. Gendhis sama Ajeng” katanya sambil menunjuk foto dua orang gadis berkebaya yang sedang mencuci disungai.

Agak lama Galih memandang foto itu, senyum Ajeng memang tampak manis disana. Teringat kembali berbagai tingkah konyol yang gadis gempal itu lakukan.

“Eh… Tadi kamu mau nanya apa Nji, kok malah aku asik sendiri sih” kata Galih.

“Eem… Gimana ya Lih, aku juga bingung sebenernya, dari kemarin nemu album ini dan lihat foto Gendhis kok perasaanku aneh ya tapi aku juga bingung apa”
kata Panji sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Wajah tampannya tampak bingung.
Galih agak terkejut mendengar pengakuan Panji. Pasalnya sampai sekarang dirinya pun tak bisa melupakan kejadian klenik yang terjadi kala mereka KKN itu.

“Kamu inget apa aja soal Gendhis Nji?” katanya bersemangat.

“Ya… apa ya, cuma inget gitu doank Gendhis anak pak Lurah tempat kita menginap waktu KKN”

“Moso itu doank sih, apa lagi?” tanya Galih memaksa.

“Lah piye, itu doank sek tak inget Lih, tapi aku bingung, coba deh buka halaman selanjutnya album itu”

Buru-buru Galih membuka album itu dan beberapa halaman terakhir tampak dipenuhi oleh foto Gendhis dalam berbagai ekspresi dan tempat.

“Waaah, ayu banget emang Gendhis yo, ndak gaya aja apik lo fotone, pantes kowe (kamu) klepek-klepek Nji” gumam Galih tanpa sadar.

“Naaah…. Itu yang pengen aku tahu Lih” kata Panji terlonjak.

“Opo.. aku nembe ngomong opo emang?” Galih tampak bingung dan balik bertanya.

“Ada hubungan apa antara aku sama Gendhis, secara ndak mungkin lah… aku moto ndekne (dia) banyak banget gitu trus aku ndak ada apa-apa sama dia?”

Galih agak bingung memandang sahabatnya. Jelas dulu mbah Jiwo bilang ingatan Panji soal Gendhis tidak akan kembali kecuali keajaiban.
Kayaknya keajaiban akan segera dimulai, batin Galih.

“Kok nglamun (melamun) loh.. Piye Lih?”

“Oiyo… Sorry Nji, gimana ya mulai darimana yah?” Galih tampak bingung memulainya.

“Eeem… Jadi gini Nji, kamu sama Gendhis itu gimana ya bisa dibilang pacaran gitu lah Nji, pokoe kupingku nganti (sampai) panas dengerin kamu ngomongin Gendhis seharian hehehe” kata Galih sambil terkekeh.

“Trus.. “

“Ya terus kamu lupa gitu aja sama Gendhis” kata Galih sambil memandang wajah sahabatnya lekat-lekat.

“Aku lupain Gendhis gitu aja maksudnya piye to?” tanya Panji tampak bingung. Kepalanya mendadak pening.

“Gini aja deh Nji, sekarang lebih baik kamu inget-inget dulu soal Gendhis sebanyak banyaknya yang kamu bisa nanti baru tak jelasin, intinya sih kalian pacaran.”
saran Galih.

Panji manggut-manggut pikirannya tampak kalut. Antara ingin mengingat lebih jauh tentang Gendhis namun tiba-tiba pening tak tertahankan.

Akhirnya mereka berpisah dan Galih berjanji menemui Panji dirumahnya minggu depan.

Sepanjang jalan menuju rumahnya Panji memandangi foto Gendhis, pikirannya mencoba mengaduk-aduk isi hatinya berharap ada yang tertinggal disana.
Seperti ada sesuatu yang salah dan tidak semestinya namun Panji tak tahu apa itu. Jika memang gadis ayu ini kekasihnya mana mungkin dia melupakan bahkan meninggalkannya begitu saja.

Sejak kapan aku punya sifat pengecut macam itu, batin Panji gemas tanpa sadar dia meremas dan menarik rambutnya.
Namun Panji yakin sahabatnya itu tidak bercanda soal Gendhis, tapi kok dia tidak ingat kalau pernah mempunyai perasaan kepada gadis itu.

Apalagi bisa dibilang Panji belum pernah jatuh cinta dan pacaran, berarti Gendhis cinta pertamanya, mana mungkin semudah itu cinta pertama dilupakan.
Cinta macam apa yang yang ada dihatinya jika mengingatnya saja tak bisa?

Semua tanya dikepalanya seolah tak berkesudahan membuat kepalanya kian pening.
Akhirnya sampai dirumah Panji segera berwudhu, membasuh ubun-ubunnya yang terasa panas dipaksa berpikir, lalu segera bersujud kepada pemilik semesta. Berharap beban hatinya ikut luruh bersama lantunan doa kepada-NYA.

….

Sore ini gerimis menyapa Somawangi, sudah lama hujan tidak turun membuat gerimis ini banyak dinanti.
Anak- anak kecil tampak girang menyambut tetesan demi tetesan yang turun. Mereka bertelanjang dada dan berlari ditengah hujan yang mulai deras.

Lapangan berdebu dekat rumah Gendhis tampak basah disiram hujan. Tercium aroma tanah yang menenangkan. Sementara anak-anak mulai belepotan terkena lumpur lapangan.

Gendhis tersenyum melihat tingkah polos mereka. Menari dan tertawa lepas seakan tidak mempunyai beban.
Yaa, memang apa yang anak kecil pikirkan, paling berantem rebutan siapa yang jadi jagoan siapa jadi penjahat, pikir Gendhis.
Gendhis selalu bahagia saat hujan turun. Karena hujan selalu menawarkan kenangan manisnya kembali.

Hujan pernah menahan Panji tetap bersamanya kala Gendhis tak punya alasan untuk sekedar memandang wajahnya padahal ada segunung rindu menghimpitnya.
Hujan juga yang tahu betapa gemetarnya tangan Gendhis saat pertama kali Panji menggenggamnya.
Karena hujan pula Gendhis tahu bahwa wajah Panji akan semakin tampan jika rambutnya basah.

Kata orang rindu itu indah, tapi kenapa Gendhis merasa sakit saat merindunya. Bahkan setelah rasa ini tak terbalas dan terlupakan tetap saja rindu memenuhi hatinya.

Gendhis berjalan menyusuri pendopo ditembok sebelah pintu utama, ada sebuah pigura besar. Disana ada foto seluruh pemuda KKN.
Dan tepat disamping gambar pak Lurah adalah Panji. Samudra dari segala rindunya. Hanya itu pengobat kala hatinya mulai sesak menahan sakitnya rindu.
Dan memang hanya itu satu-satunya gambar panji yang bisa dia lihat.

Tentu saja setiap jengkal wajah Panji diingatnya dengan akurat namun tetap saja terasa kurang tanpa memandang senyum di foto itu.
Nanar mata Gendhis memandang senyum Panji kali ini. Agaknya penantian panjangnya sudah mencapai batas.

Bukankah dua tahun sudah cukup baginya untuk sebuah ketidakpastian.
Penantiannya bahkan tak berdasar pada setitik harapan pun.

Sungguh bukan lelah yang membuatnya berhenti berharap namun kebahagian orang-orang tercintanyalah yang membuatnya berani melompati lingkaran itu.
Bukankah sehelai daun yang jatuh berguguran pun sudah ada yang mengatur,apalagi kehidupan manusia. Sudah pasti sudah diatur dengan sempurna oleh pemilik semesta.

Dirinya pun sudah cukup berikhtiar selama ini, bahkan sampai rela menggoreskan kecewa di hati kedua orang tuanya.
Akhirnya hanya pasrah yang kini harus coba legowo diterimanya, bukankah takdir dari yang kuasa selalu menjadi yang terbaik dari yang baik.

Mas Panji… maafkan aku kalau harus menyerah, bisik Gendhis.

….

Siang tadi Pak Harjo dan Bu Harjo pulang dari kota. Sesampainya di rumah mereka mendadak mengajak Gendhis ngobrol. Agak serius rupanya.

“Nduk cah ayu, sini bune sama bapak pengen ngobrol sama kamu” ajak Bu Lurah.

Gendhis segera duduk disamping ibunya. Tampak Pak Lurah tengah asik menghisap rokok kretek kegemarannya.

“Pripun (gimana) bune?” tanya Gendhis.

“Sinten pak, bapak apa bune?” tanya Bu Lurah meminta persetujuan.

Pak Lurah hanya mengangguk seraya mempersilahkan istrinya berbicara.

“Begini cah ayu, tadi bune sama bapakmu ke rumah pak lek Sugeng trus kita sempat ngomongin kamu nduk, kebetulan pak lek mu punya teman baik seorang dokter juga.” kata Bu Lurah menjelaskan.

Gendhis hanya tertunduk dan terdiam, perasaannya mulai tidak enak.

“Nah dokter teman pak lek Sugeng punya seorang anak yang ingin dijodohkan dengan kamu cah ayu, piye menurutmu nduk?” kata Bu Harjo melanjutkan.

“Pak lek mu pasti ndak sembarangan merekomendasikan seorang pemuda untuk menikahimu nduk” pak Lurah menambahkan.

Hampir menangis rasanya Gendhis mendengar ucapan kedua orang yang dicintainya itu.
Tak tahukah mereka jika hatinya masih berpenghuni?
Sepenting itukah menikah sampai harus mengorbankan perasaannya?

“Piye menurutmu nduk, perlukah bapak menolak saran Pak Lek mu?” tanya pak Lurah.

Sungguh pertanyaan yang tidak memperlukan jawaban, batin Gendhis.
Tentu saja aku menolak, batinnya lagi.

“Kalau kamu keberatan ndak papa kita batalkan saja nduk?” tanya bu Harjo mulai kawatir jika putrinya marah.

“Kalo ndak piye nek kalian ketemu dulu saling mengenal gitu nduk?” Pak Lurah pun mulai menyadari jika Gendhis tak bereaksi apapun.

Suasana hening sesaat menguasai ruang keluarga.
Perlahan Gendhis mengangkat mukanya, memandang wajah tua bapak dan ibunya, tampak ketulusan yang tak pernah pudar disana.

“Nggeh Bune, Bapak, Gendhis mau” kata Gendhis mantap. Sebuah senyum tersungging di bibir sebagai penyempurna keputusannya.

Pak Harjo dan Bu harjo tidak bisa menyembunyikan kelegaan dan kebahagiaan di wajah mereka.

“Tenan nduk, kamu ndak keberatan tenan to?” tampak Bu harjo memastikan.

Gendhis mengangguk pelan, sesungguhnya dia ingin menggeleng keras namun rasanya tak sampai hati membuat kedua orang tuanya kecewa lagi.

“Kapan Gendhis bertemu dengan calon suami Gendhis bune?” tanya Gendhis agak tercekat.

“Nanti bapak tanya pak lek mu nduk, beliau yang atur semuanya” kata pak Harjo tampak lega.

“Kamu, tenan ndak keberatan to” kembali bu Harjo meyakinkan.

“Kamu ndak usah kawatir cah ayu, pak lek mu pasti sudah mengenal baik sahabatnya itu termasuk anaknya, pasti beliau tidak asal pilih, bebet bobot dan bibitnya pasti sudah sangat dipertimbangkan.” lanjut Pak Harjo.

“Bapak pernah ketemu dengan.. Eee calon Gendhis ndak?” tanya Gendhis ragu.

“Belum nduk, tapi pak Lek mu pernah, bapak yakin pak lek mu ndak bakal salah pilih.” pak Harjo tampak meyakinkan.

“Nggeh pak.” jawab Gendhis pelan.

“Yasudah nduk, sana kalau kamu mau ke kamar, matur nuwun ya cah ayu” ujar Bu Harjo tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Gendhis segera berlalu meninggalkan kedua orang tuanya,air matanya tak bisa menunggu terlalu lama lagi kini.

“Apakah keputusan kita sudah tepat pak?” tanya Bu Harjo tampak kawatir.

“Insya Allah bune, semoga dengan Gendhis menikah dia tidak sedih dan ingat nak Panji lagi” kata Pak harjo dengan mata menerawang.

Sementara itu di kamar Gendhis sekuat tenaga menahan tangisnya agar tak pecah, dia tidak ingin bapak ibunya mendengar isaknya.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …