Gendhis Ayu – #Part_14/18

Tanpa menunggu jawaban Gendhis, Panji kembali mengatur penataan barang di mobil truk. Seolah sapaannya memang hanya basi basi yang tak butuh jawaban. Gendhis tertegun dan tercekat, dia salah. Panji benar-benar telah melupakannya.

“Gendhis, selamat pagi, kamu habis menangis yah… Semoga bunga yang aku selipkan dijendela bisa membuatmu tersenyum yah.” sapanya manis sambil tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban Gendhis, Panji kembali mengatur penataan barang di mobil truk. Seolah sapaannya memang hanya basi basi yang tak butuh jawaban.
Gendhis tertegun dan tercekat, dia salah. Panji benar-benar telah melupakannya.
Harapan yang tadi sempat meletup padam seketika.Panji meletakkan bunga itu untuk menghiburnya bukan karena perasaannya yang kembali bersemi.

Terdiam Gendhis kembali memasuki pendopo. Pak Harjo yang sedang membantu para pemuda KKN berbenah menoleh melihat putrinya.
Raut wajah Gendhis sangat sedih bahkan nyaris menangis. Namun Gendhis langsung berlari ke kamarnya.
Pak Harjo segera mengejar putrinya, sejak kejadian kala itu baru kali ini dirinya melihat Gendhis menangis.

Melihat betapa sedih hati putrinya membuat batin Pak Harjo sangat hancur. Sebagai bapaknya dia bahkan tak bisa berbuat banyak untuk sekedar menengkan hati Gendhis.

Perlahan dielusnya rambut hitam Gendhis yang sedang terisak.

….

2 tahun kemudian.

“Nduk cah Ayu, sudah 3 kali ini kamu menolak ketika ada pemuda yang hendak melamarmu, apakah kamu benar-benar tidak ingin berumah tangga?” tanya Bu Harjo.

“Ngapunten (maaf) nggeh bune.” jawab Gendhis tersenyum.

Baru siang tadi rumahnya menerima tamu dari kota yang berniat ingin melamar Gendhis.
Namun lagi- lagi hanya gelengan kepala yang Gendhis berikan. Bu Harjo dan Pak Harjo pun tidak bisa berbuat banyak apalagi memaksa kehendak putrinya.
Mereka hanya bisa mengucapakan seribu maaf kepada siapa saja yang pernah datang untuk melamar Gendhis.

“Ora ilok (tidak baik) lo nduk, seorang anak perawan menolak pemuda yang melamarnya, apalagi sampai berkali-kali.” ujar Bu Harjo.

Lagi-lagi hanya dibalas senyum pahit Gendhis.
Entahlah, hatinya terasa hampa semenjak kepergian Panji. Separuh dirinya seperti dibawa serta pemuda itu. Tak ada lagi keinginan untuk membuka hati kepada siapapun.

Bahkan saat melihat kakaknya Nawang menikah dengan Abimana, tak membuat hatinya bergeming untuk mulai sebuah rajutan cinta agar dirinya bisa segera menyusul Nawang.

Hatinya begitu kosong tak bernyawa, Panji benar-benar seperti membawa serta jiwanya kala itu.
Namun hatinya sedikit tergerak ketika melihat bapak dan ibunya. Apalagi didesanya gadis seusia Gendhis hanya ada beberapa yang belum menikah.

Ketika berkumpul dengan kerabat, pertanyaan kapan Gendhis akan menikah selalu menjadi bahasan, apalagi kakaknya yang berusia tak jauh dari Gendhis sudah mempunyai seorang putra.

Itu membuat ganjalan tersendiri untuk Gendhis, dia ingin membahagiakan bapak ibunya di usia tua mereka. Namun saat ada pemuda yang berniat meminangnya hatinya seperti berontak tak terima.

Padahal sebagai anak kepala desa, para pemuda yang datang melamarnya juga bukan pemuda sembarangan.

Nama baik Pak Lurah Harjo dan kecantikan Gendhis sudah tersohor sampai kota sana, namun mereka harus menelan kecewa kala Gendhis hanya menggelengkan kepala.

….

“Ndis… Ajeng boleh nanya ndak?” tanya Ajeng sambil tangannya asik mencuci.

“Opo Jeng” jawab Gendhis tanpa menoleh ke arah Ajeng, tangannya juga tengah sibuk mengucek kain.

“Kamu masih inget ya sama mas Panji?” tanya Ajeng hati- hati.

Gendhis menghentikan aktifitasnya, memandang sahabatnya kemudian menghela nafas panjang.

“Kenapa jeng, kok tiba-tiba nanya itu?” tanya Gendhis lirih,ada nyeri di hatinya.

“Ndak papa sih Ndis.” jawab Ajeng.

“Tenane (beneran)” kata Gendhis memastikan.

“E… nganu Ndis, tapi ojo nesu (jangan marah) ya.”

“Halah… Emangnya kamu pernah lihat aku marah apa hehehehe.”

“Iyo sih Ndis, gini kemarin kata mamakku kamu habis dilamar sama insinyur dari kota sana ya, tapi kamu nolak?”

“Ooh… Kuwi.” kata Gendhis datar.

“Bener to ndis?”

“Iyo Jeng.” jawab Gendhis lirih.

Ajeng manggut-manggut lalu ditatapnya wajah ayu Gendhis. Gadis manis itu seperti menyimpan sesuatu dihatinya.

“Brarti udah 3 kali ini kamu nolak pas ada pemuda yang nglamar ya Ndis?”

Gendhis cuma terdiam. Pernah didengarnya jika seorang gadis menolak lamaran pria dia akan susah lagi dapat jodohnya.
Tapi bagi Gendhis, apalah arti omongan orang karena yang dia yakini jodoh, maut dan rejeki itu sudah ada yang mengatur.
Mereka akan datang diwaktu dan saat yang tepat. Bahkan ketika orang mulai punya patokan “seharusnya sudah” apadaya jika yang kuasa belum mengizinkannya.

“Aku juga ndak tahu Jeng, hatiku merasa belum siap saja.”

“Oiya mamakmu kata siapa to?”

“Ibukmu yang cerita Ndis, kata mamak Bu Lurah Nangis… eeh.” Ajeng buru-buru menutup mulutnya.

Gendhis sempat menangkap apa yang Ajeng katakan. Namun gadis yang merasa keceplosan itu membuang mukanya.

“Sudah yuk Ndis” kata Ajeng segera.

….

Gendhis termenung dikamarnya. Rumahnya sepi sekarang, mbak Nawang dan anaknya ikut mas Abimana ke kota.
Semenjak menikah mas Abimana langsung membawa serta Nawangbke kota.
Bapaknya di balai desa dan ibunya tampak sedang menyulam di pendopo bersama ibu-ibu yang lain.

Gendhis sedang memikirkan kata-kata Ajeng tadi pagi. Benarkah ibunya menangis saat bercerita jika dirinya menolak lagi lamaran pemuda yang datang kerumahnya?

Kecewakah ibunya dengan sikapnya itu?
Sudahkan ibunya ingin menimang cucu darinya?
Aaah… Kan sudah ada Dimas, anak mbak Nawang, bisik hati Gendhis.

Atau apakah orang tuanya malu karena harus menolak lamaran yang datang?
Bukankah memang tidak sopan kalau menolak lamaran?
Bukankah usianya sudah cukup untuk menikah?

Sebenarnya apa yang aku tunggu, bisik hati Gendhis.
Tapi aku tidak kenal dengan pemuda yang melamarku?
Bukankah Cinta bisa datang karena terbiasa?

Aah…. Banyak sekali pertanyaan yang berkelebat di pikiran Gendhis. Lalu berlahan wajah Panji kembali menari dibenaknya.
Rindu sekali rasanya ingin berjumpa dengan pemuda tampan itu. Dimanakah gerangan Panji. Semenjak pamit pagi itu tak lagi dijumpainya sosok pemilik hatinya.
Bahkan ketika beberapa dari pemuda KKN berkunjung ke desa lagi, tak ada Panji disana.

Benarkah Panji sudah tidak mengingat apapun tentang dirinya?
Tahukah dia bahwa Gendhis sampai saat ini masih sangat memujanya. Namanyapun selalu serta saat dirinya berdoa.
Bukankah karena dirinya pula semua lamaran itu ditolaknya? Panji jugalah alasan kenapa dirinya tak juga membuka hati kepada siapapun.

Namun sesungguhnya apakah Panji juga mengingatnya, dua tahun ini bahkan tak sekalipun Gendhis dengar tentangnya.Tapi kenapa rasa Cinta dihati ini tak juga sirna?

Pening kepala Gendhis memikirkan perdebatan dibatinnnya.

….

“Nji….. Bner kan Panji!” teriak Galih mengagetkan sosok yang sedang asik menyesap secangkir kopi disebuah kedai kopi.

“Galih….. astaga Galih.” kata Panji seraya memeluk erat tubuh sahabatnya itu.

“Nji kamu makin ganteng aja dan ini wiiih… Ir. Panji Bramantyo josss tenan!” kata Galih riang saat mengeja name tag di baju Panji.

“Bisa aja kamu, kerja dimana kamu sekarang Lih?”

“Aku sekarang di kantor kecamatan Nji biasa bantu ini itu.” katanya sambil terkekeh.

Pembicaraan menjadi semakin hangat setelah itu. Mereka bernostalgia masa kuliah dulu. Saling mentertawakan kekonyolan masa muda mereka.
Akhirnya mereka berpisah setelah sebelumnya saling bertukar alamat dan berjanji akan saling mengunjungi.
Setelah pertemuan dengan Galih siang itu,Panji mendadak ingin membongkar lagi barang-barang masa kuliah dulu.

Sebuah album foto dengan judul “KKN Somawangi” menarik perhatiannya. Dibukanya album foto itu perlahan. Terlihat senyum ceria dirinya dan kawan-kawannya kala itu.

Beberapa panorama desa Somawangi dan pendopo tempat mereka biasa bercanda. Senyum ramah warga desa serta gambaran kegiatan mereka yang membumi.
Lalu matanya tertumbuk pada sosok gadis berkebaya motif bunga kecil-kecil yang tampak tertunduk malu.
Rupanya itu foto saat penyambutan dirinya dan kawan-kawannya dulu pertama kali datang ke desa.

Terlihat dua gadis berparas cantik dengan dandanan serupa disana. Disampingnya berdiri seorang ibu yang diingatnya sebagai ibu lurah.
Disebelah kanan tampak seorang laki-laki berkumis dengan senyum hangat. Pak Lurah, bisiknya sambil mengusap lembut foto itu.

Dihalaman selanjutnya didominasi oleh gambar seorang gadis desa yang sangat manis. Tampak ekspresi alami beberapa pose disitu, gambar itu memang diambil tanpa sepengetahuan modelnya.

Gadis dengan paras teduh lagi anggun itu mengusik hatinya. Jelas teringat olehnya gadis itu bernama Gendhis namun alasan kenapa ada banyak gambar dirinya di album itu masih menjadi tanda tanyanya.

Segera kepalanya merencanakan untuk mengunjungi Galih. Siapa tahu dia mempunyai jawaban atas tanda tanya di kepalanya.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.