Gendhis Ayu – #Part_12/18

Gendhis mencoba mendekati tuk, lalu berlahan dilihatnya dua batok yang mengambang disitu. Ada bathok berisi air dan bunga putih satunya lagi bathok berisi bunga merah. Hanya itu yang dilihatnya...

Gendhis mencoba mendekati tuk, lalu berlahan dilihatnya dua batok yang mengambang disitu.
Ada bathok berisi air dan bunga putih satunya lagi bathok berisi bunga merah. Hanya itu yang dilihatnya.

“Mboten kethingal suryanipun sinten-sinten (tidak terlihat muka siapapun) mbah?” tanya Gendhis bingung.

Lagi- lagi mbah Sruni tersenyum.

“Gatekke (perhatikan) bathok isi kembang putih cah ayu.” sarannya.

Mata Gendhis tertuju ke arah yang ditunjuk mbah Sruni. Pemandangannya masih sama, air dan beberapa helai bunga mawar putih disana.

Namun semakin diperhatikan perlahan ada wajah Nawang disana, Nawang yang sedang tersenyum. Itu senyum Nawang saat pertama kalinya Gendhis bisa menulis. Ya… Nawanglah yang mengajarinya menulis kala itu.

Air mata Gendhis menetes.
Mbah Sruni mengelus lembut pundak Gendhis. Ditunjuknya bathok dengan bunga berwarna merah.

Masih sama isinya walaupun berlahan tergambar wajah Panji disana, senyumnya yang manis dan pandangan teduhnya yang melenakan. Perasaan hangat menjalari relung hatinya, betapa dia merindukan tatapan dan senyum itu.

“Jikuk sidji (ambil satu) cah ayu,tanya hatimu siapa yang pantas kamu selamatkan.” bisiknya lembut.

Hati Gendhis bergetar, tangannya bahkan sangat berat terangkat. Namun dengan mantap dia mengambil salah satu bathok.
Bathok itu digenggamnya erat seolah itu satu-satunya harta yang dia miliki.

Pandangan matanya lekat memandang bathok bunga merah dengan senyum Panji disana, berlahan air tuk memenuhi batok itu hingga akhirnya tenggelam bersama setengah dari jiwanya.

Pandangannya beralih ke mbah Sruni mencoba mencari tahu sudahkah benar pilihannya.
Mbah Sruni hanya manggut-manggut dengan sorot mata yang menghujam sukma Gendhis.

Gendhis menghampiri bapaknya yang tampak tertunduk, pundaknya bergetar menahan tangis. Tak sampai hatinya melihat muka putri cantiknya itu.
Diserahkannya batok itu kepada mbah Jiwo yang juga berdiri mematung memandangnya.

Ajeng tampak melongo tak percaya memandangi bathok yang kini berada di tangan mbah Jiwo.

….

Keheningan tampak menguasai hutan sepi itu sampai ketika seekor bebek mencoba “nyosor” Ajeng.

“Aduh… Iki bebek opo to, hush… hush.” teriak Ajeng mencoba mengusir bebek yang hendak mematuk kakinya.

Semua tampak kaget oleh jeritan Ajeng, segera mbah Jiwo berkomat-kamit dan ajaibnya tiga ekor bebek itu langsung lari ke balik rerimbunan hutan.

“Kamu lagi ndak suci ya Jeng?” tanya Mbah Jiwo.

Ajeng mengangguk malu. Mbah Jiwo sakti banget sih sampai aku lagi haid aja tahu, batin Ajeng.

“Bukan saya yang tahu Jeng, tapi bebek itu yang ngasih tahu.” kata mbah Jiwo membuat Ajeng terperanjat.

Wiiiih.. Sakti tenan mbah Jiwo iki aku ngomong dalam hati bisa tahu, batin Ajeng sambil manggut-manggut.
Galih mengaruk kepalanya yang tidak gatal, apa hubungannya bebek itu sama Ajeng yang lagi haid.

Akhirnya mbah Jiwo menemui Mbah Sruni entah mereka berbicara apa setelah itu beliau berpamitan, disusul oleh semuanya.
Mata Mbah Sruni mengantar kepergian mereka, dipandanginya Gendhis dengan mata haru.

“Gendhis cah ayu.” panggilnya.

Mereka terhenti dan menoleh ke arah mbah Sruni.

“Sini nduk.” ajaknya kepada Gendhis.

Gendhis menghampiri Mbah Sruni yang sedang tersenyum menyambutnya. Ditariknya tangan Gendhis, satu tangannya mengelus pipi mulus Gendhis.

“Legowo ya cah ayu, pangeran mboten sare (Tuhan tidak tidur).” pesannya lembut.

Gendhis tersenyum memandang wajah tua mbah Sruni, dilepaskannya satu-satunya cincin dijarinya, kemudian diserahkan ke mbah Sruni.
Mbah Sruni tertegun dan terharu melihat kebaikan hati Gendhis, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun air matanya menitik lagi.

Dia selalu berpikir jika semua manusia serakah, sombong dan keji namun hari ini hatinya dihangatkan oleh gadis manis berhati mulia.
Bahkan gadis ini memeluk tubuh bongkoknya yang telah renta. Sungguh perasaan yang bahkan sudah dia lupakan bagaimana rasanya.

“Mbah Sruni sehat ya.” kata Gendhis sambil pergi meninggalkannya.

Jika saja dari awal mbah Sruni tahu gadis ini yang bernama Gendhis tak akan pernah kubiarkan mantra apapun terucap dari mulutku.

“Nyuwun agunging pangapunten (maaf sebesar-besarnya) cah ayu.” bisiknya lirih sambil melihat cincin bermata satu yang sekarang menjadi miliknya itu.

…..

Mbah Jiwo langsung membasuhkan air yang dibawanya dari siwerak ke ubun-ubun Nawang.
Ajaib, Nawang yang sedang bergumam entah ngomong apa tiba-tiba terdiam. Perlahan matanya mulai terpejam lalu tertidur dengan sangat nyenyak.

Semua yang menyaksikan terkesima, betapa tidak, Nawang beberapa hari ini nyaris tidak tertidur terus saja mengoceh dan mengamuk.
Mbah Jiwo segera menyuruh Pak Lurah melepaskan pasungan Nawang. Mantri Sugeng awalnya keberatan karena takut Nawang akan mengamuk lagi saat terjaga nanti.

Tapi mbah Jiwo meyakinkan kalo Nawang besok akan terbangun dengan normal. Akhirnya beliau mengalah dan membiarkan Nawang tertidur tanpa pasung.

Gendhis berdiri memandang semburat senja dari jendela kamarnya. Disudut kamarnya ada sebuah kotak kecil tempat dirinya menyimpan semua bunga yang pernah terselip di ujung jendelanya tiap pagi.

Hampir penuh kotaknya namun dia sangat yakin kotak itu tak akan pernah penuh.
Sudah hampir dua minggu tak lagi ditemui bunga disudut kamarnya. Mungkin selamanya tak akan ada lagi bunga disitu.

Di kejauhan terlihat rombongan pemuda KKN pulang dari balai desa. Mereka terlihat berjalan sambil bercanda. Diantaranya tampak Panji disana.

Panji bahkan sudah tak pernah melihat ke arahnya. Kemarin-kemarin Gendhis sempat berpikiran jika pemuda tampan itu tak lebih dari pemuda kota yang brengsek karena mempermainkan perasaannya.

Tapi sekarang dia tahu Panji bersikap demikian bukan karna kemauannya. Hati Gendhis sakit mengingatnya. Bagaimana caranya dia mulai menata perasaannya kembali kali ini.

Cintanya telah begitu mendalam kepada sosok ketua KKN itu. Kepalanya berdenyut merasakan sakit yang terasa menusuk hati.
Minggu ini akan menjadi minggu terakhir para pemuda KKN berada di desa Somawangi. Mungkin setelah ini Gendhis tidak akan pernah lagi melihat Panji.

Walaupun Gendhis tidak yakin semoga dengan tidak melihatnya bisa membantu Gendhis melupakan pemuda tampan itu.
Gendhis merasakan ada mata yang mengawasinya, dia berbalik benar saja tampak ibunya tengah memperhatikan dirinya.

Mata bu Harjo tampak basah. Direngkuhnya tubuh Gendhis ke dalam pelukannya. Bibirnya kelu tak menyangka kedua putrinya harus berada di situasi seperti ini.
Sementara itu Pak Harjo tak berhenti menangis di kamarnya. Hatinya begitu sakit membayangkan perasaan Gendhis putrinya.

….

“Pak Lek!” teriak Nawang kegirangan mengetahui mantri Sugeng berada dirumahnya.
“Kapan Paklek kesini, kok Nawang ndak tahu?”
“Kemarin nduk, kamu sudah tidur pas Pak Lek datang.” katanya.
“Pak Lek beliin Nawang apa?” tanya Nawang manja. Paklek Sugeng memang sangat sayang kepada kedua ponakan cantiknya ini.

Saat mereka berkunjung ke kota atau saat dirinya ke desa pasti dia membawa buah tangan yang sangat banyak untuk keponakannya tersebut.

“Ndak bawa Wang, kebetulan pak Lek ndak sengaja kesini, jadi ndak bawa apa-apa.”
“Nawang pengen opo to, nanti kalau ke kota aja Pak Lek beliin ya.”
“Siap!” kata Nawang semangat.

Semua yang ada dipendopo merasa sangat lega. Mbah Jiwo dan Mbah Wongso bernapas lega mengetahui Nawang telah kembali seperti sedia kala.
Mereka tampak pamit meninggalkan pendopo tampak Pak Lurah mengantar kepergian mereka yang selama beberapa waktu menemaninya.

Galih terlihat mengejar Mbah Jiwo, agaknya ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

“Mbah Jiwo nyuwun sewu (permisi) badhe tanglet (mau tanya).”
“Eh cah bagus, opo nang?” katanya ramah.
“Itu mbah, bebek di siwerak? hehehe”

Mbah Jiwo tampak manggut-manggut mendengar pertanyaan Galih.

“Yang kamu lihat itu memang bukan bebek biasa cah bagus, bebek itu jelmaan dari sosok mahluk wanita berambut panjang.”

Galih merinding seketika.

“Itulah mengapa dia mendekati Ajeng yang sedang tidak suci, kuntilanak sangat suka dengan wanita yang sedang haid.”
“Semua bebek begitu mbah?”

“Oh ndak… Ndak, hanya bebek yang berada di tempat tidak wajar saja yang biasanya jelmaan ngger (panggilan untuk anak laki-laki).”
“Sudah ya ngger.” kata mbah Jiwo sambil berlalu.Meninggalkan Galih yang tiba-tiba memutuskan untuk tak lagi menjadikan bebek sebagai hewan kesayangannya gara-gara ucapan mbah Jiwo.

Warga pun banyak yang telah meninggalkan pendopo. Selama Nawang sakit pendopo nyaris penuh setiap hari.
Suasana pendopo lengang kembali mengiringi kembalinya ingatan Nawang, namun tidak dengan cinta Panji kepada Gendhis.

Sejujurnya mantri Sugeng merasa sangat heran dengan perubahan drastis perilaku Nawang.
Walaupun sudah dijelaskan oleh pak Lurah tetap saja dirinya yang seorang tenaga medis merasa ini tidak masuk akal.

Namun walaupun dia awalnya tidak bisa menerima akhirnya dia harus paham memang hal itu nyata adanya dan benar-benar terjadi di keluarganya sendiri.

Dia menjadi sangat prihatin dengan nasib satu lagi ponakan cantiknya. Gadis ayu itu bahkan tidak terlihat sedih, itu setidaknya yang terlihat dari apa yang Gendhis tampilkan.

Namun dia yakin hatinya pasti sangat terluka. Digenggamnya erat-erat tangan gendhis, dia berterima kasih Gendhis telah memilih Nawang dan mengorbankan hatinya.

“Tidak ada yang namanya mantan saudara, namun mantan kekasih sangat banyak pak Lek, darah lebih kental daripada air, tidak mungkin rasanya aku tidak memilih Nawang, Nawang itu kakak Gendhis satu-satunya pak Lek, darah yang mengalir di tubuh Gendhis sama dengan Nawang, itu tak bisa diputus dengan apapun.”

Sungguh jawaban yang tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya. Andai Nawang tidak seserakah itu, andai Nawang juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Gendhis.

Sungguh malang dan baik hatimu cah ayu, semoga Allah membalasmu dengan setimpal, batin mantri Sugeng.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …