Gendhis Ayu – #Part_11/18

Galih tertatih meninggalkan hutan wingit siwerak. Kakinya memang masih belum pulih benar namun dia sangat semangat kali ini. Tanpa menoleh kebelakang lagi, dia berlari secepat mungkin menuju pintu masuk hutan...

Galih tertatih meninggalkan hutan wingit siwerak. Kakinya memang masih belum pulih benar namun dia sangat semangat kali ini.
Belum lagi dirinya keluar dari hutan, ketemu lagi dengan rombongan bebek putih yang seperti terdiam menatapnya.

Bulu kuduk Galih meremang tanpa komando. Perlahan dia berjalan menunduk seperti saat pertama kali melihat bebek itu.
Tanpa menoleh kebelakang lagi, dia berlari secepat mungkin menuju pintu masuk hutan.

Nafasnya agak tersengal dan kakinya mulai terasa berdenyut nyeri. Terseok Galih berjalan di jalan setapak depan rumah mbah Gayem.
Terlihat wajah wanita renta itu dibalik jendela yang kacanya mulai menghitam, pandangannya beradu dengan mata Galih membuat galih bergidik ngeri.

Galih semakin mempercepat langkahnya, sampai akhirnya dia merasa tidak kuat lagi melangkah.
Galih terduduk di rumput jalan setapak sambil meringis memijat kakinya yang sekarang terasa sangat nyeri.

“Duuh… jangan sakit dulu donk, penting ini” keluhnya masih tetap sambil memijit.

Keheningan membuat telinganya menangkap sebuah suara langkah kaki.
Siapa itu? Ditajamkannya indra pendengaran mencari sumber suara itu.

Antara ngeri dan senang, ngeri seandainya yang datang bukan sosok manusia tapi senang jika itu benar manusia berarti dia bisa minta tolong kembali ke desa.
Jantungnya berdegup kencang menanti siapakah yang datang.

Sebuah bayangan agak besar dengan langkah kaki berat muncul, Ajeng!!
Galih melepas nafas lega melihat wajah bulat itu yang muncul. Ajeng yang melihat Galih lesehan dirumput segera berlari menghampiri.

“Mas galih kok disini, ndak ikut masuk siwerak to?” tanyanya.
“Ikut Jeng, ini aku bar dari siwerak disuruh mbah Jiwo jemput Gendhis”
“Gendhis?” tanya Ajeng dengan dahi berkerut.

Lalu Galih menceritakan apa yang dia dengar di hutan siwerak.

“Tuh kan bener dugaan Ajeng, dasar emang mbak Nawang sontoloyo.” geram Ajeng berapi-api tangannya bahkan mengepal gemas.
“Hush…. jangan keras-keras Jeng.” Galih mengingatkan.

Ajeng segera menutup mulutnya seraya menengok kekiri dan kekanan.

“Inget ya Jeng ini rahasia loh.”

Ajeng mengangguk cepat.

“Kamu sendiri ngapain keluyuran kesini Jeng?”
“Aku penasaran makanya mau nunggu kalian di rumah mbah Gayem”
“Trus mas Galih ngapain nglemprak (lesehan) disini, katanya suruh jemput Gendhis?” bisiknya.
“Iya, aku juga lagi jalan mau ke desa Jeng tapi kakiku nyeri banget makanya istirahat sebentar disini.” jawab Galih meringis sambil memijit kakinya.
“Owalah iyo, kaki mas Galih kan kesleo yo, Pak Lurah lali (lupa) opo ya kok nyuruh mas Galih yang jemput Gendhis sih?” sesal Ajeng.
“Gini aja mas, biar Ajeng yang jemput Gendhis ke desa, mas Galih tunggu sini aja piye?” tawar Ajeng.
“Aku tunggu disini sendirian ngono ?” Galih terlihat ragu.
“La iyo.. Kan Ajeng nyusulin Gendhis ke desa, piye to? “
“Aduh Jeng, aku takut kalau sendirian di tengah alas (kebun) gini, tadi kamu datang aja tak kira memedi.” jawab Galih dengan muka memelas.

Ajeng merengut mendengar Galih mengira dirinya medi.

“Yowes, mas Galih nunggu di rumah mbah Gayem aja piye?”
“Walaaah opo maneh (apalagi) disana bisa mati berdiri aku diliatin mbah Gayem.” Galih berkata sambil bergidik ngeri.
“‘Trus piye karepe (trus gimana maunya) disini ndak mau, di rumah mbah Gayem juga ndak mau, ikut ke desa kakine sakit.” keluh Ajeng mecucu.
“Yowes.. aku tunggu disini ndak papa, kamu ke desa jemput Gendhis tapi jangan lama- lama ya.” pinta Galih.
“Tenan (bener) yo, yaudah Mas Galih duduk aja disini Ajeng ke desa dulu yah.” kata Ajeng sambil berlalu.
“Jeng!” panggil Galih.

Belum dapat 5 langkah Ajeng beranjak Galih sudah memanggilnya.

“Opo maneh to (apa lagi sih) mas Galih?” kata Ajeng sambil berbalik kembali ke arahnya.
“Aku takut Jeng, kalo aku diangkut wewe piye?” keluh Galih lirih.
“Iiiish…Yowes” kata Ajeng sambil melepas kancing kebayanya.
“Eeeeh…. Mau apa kamu buka baju segala Jeng?” kata Galih panik melihat kelakuan Ajeng.

Sambil mendengus Ajeng membalikkan badan, tak lama dia memberikan sebuah peniti berbandul benda hitam.

“Nih… Pake!” katanya sambil menyerahkan peniti aneh itu ke Galih yang terbengong bingung.
“Apa ini Jeng?” katanya sambil memerhatikan benda aneh itu.
“Itu jimat dari mamakku, katanya kalau pake itu ndak bakal ada memedi yang berani sama kita.” kata Ajeng
“Jimat apaan kya gini bentuknya?”
“Itu yang item dringo bangle (daun dan sejenis umbi- umbian) yang diiris, trus dom (jarum) itu ditancepin ke baju kita, ngene ki (gini ni).” kata Ajeng sambil memakaikan peniti itu di baju Galih.

Dengan muka tidak yakin Galih membiarkan benda itu dipasang oleh Ajeng.

“Kamu yakin Jeng wewe takut sama beginian?”
“Wes to percaya sama Ajeng, buktinya sampai sekarang Ajeng ndak pernah digondol wewe kan?” kata Ajeng dengan nada sombong.
“Kayaknya wewe juga pikir-pikir mau gondol kamu Jeng, abot (berat) ndak bakal bisa kebawa mabur (terbang).” gumam Galih.
“Apa mas Galih Ajeng ndak denger?” kata Ajeng menoleh mendengar Galih bergumam.
“Ndak… Ndak. Josss pokoknya jimatmu, ayo ndang (cepat) jemput Gendhis.”
“Yowes” kata Ajeng sambil melesat menuruni bukit menuju desa somawangi.

…..

Mantri Sugeng tertegun melihat ponakan cantiknya dipasung dikamarnya. Mukanya kuyu dan pucat dengan rambut acak-acakan membuat penampilannya kacau, dia sendiri merinding melihat Nawang.

Apalagi mulutnya senantiasa bergumam dan mata nyalang memancarkan amarah.
Nawang terpaksa di pasung karena ingin melukai siapa saja yang berada di dekatnya dan selalu ingin pergi keluar rumah.

“Piye iki ponakanmu Geng?” Bu Harjo tergugu di pelukan adiknya itu.

Mantri Sugeng hanya bisa berusaha menenangkan kakak perempuan satu-satunya itu.

“Ndak papa mbakyu, besok kalau belum ada perkembangan Nawang kita bawa ke kota saja, ada rumah sakit yang bisa menyembuhkan Nawang.” Mantri Sugeng tampak membesarkan hati Bu Harjo.

Ajeng tampak tergopoh-gopoh menuju pendopo. Nafasnya tersengal dan tampak kelelahan, sepertinya dia sengaja berlari agar cepat sampai.
Gendhis yang melihat sahabatnya tampak kepayahan segera mengambilkan segelas air kendi dingin yang menyegarkan.

“Waaah,,, urip neh aku (hidup lagi aku).” kala segelas air kendi habis diteguknya.
“Makasih ya Ndis.”
“Iyo, kamu darimana to, ngos-ngosan gitu, tadi mau tak ajak nyuci ke sungai, kata mbak Arum sejak pagi kamu udah pergi.”
“Aku abis dari siwerak, sekarang mau kesana lagi ngajak kamu.”
“Kok aku? Ndak ah takut aku Jeng.” tolak Gendhis.
“Ini demi masa depanmu dan mas Panji ganteng Ndis.” teriak Ajeng semangat.
“Huss apa sih kamu, ngawur lo!” larang Gendhis tampak pucat.

Di ujung pendopo tampak pemuda tampan bernama Panji menoleh kala mendengar namanya disebut.

“Aduh Ajeng, isin aku.” kata Gendhis sambil menarik tubuh gempal Ajeng masuk ke kamarnya.
“Eh ini Ajeng ya?” sapa mantri Sugeng ramah.
“Walah ada pak mantri, pripun kabaripun (gimana kabarnya) pak Mantri?” kata Ajeng sambil menyalami mantri Sugeng.
“Alhamdulillah sehat Jeng, kamu makmur yo saiki (sekarang)?”
“Sanjang mawon (bilang saja) Ajeng lemu (gemuk) pak Mantri hahahaha.”
“Sek penting sehat Jeng, udah sana ada perlu sama Gendhis to.”
“Njeh pak.. pareng.” pamit Ajeng.

Disusulnya Gendhis dikamarnya.

“Ndis ayok ke siwerak, ini disuruh pak Lurah sama mbah Jiwo, aku ndak ngapusi (bohong).”
“Aduh Jeng, ada apa sih, kok kudu (harus) ke siwerak Jeng, tenanan (beneran) aku takut kalo ke siwerak, kamu aja yah.” kata Gendhis sambil meremas-remas tangannya.

“Kalo aja diwakilin aku bisa, tak lakoni (ku lakukan) ndis.” bujuk Ajeng. Ben Mbak Nawang edan sisan (biarin Nawang gila sekalian), batin Ajeng.

“Tenan kan ada bapak sama mbah Jiwo Jeng, trus ono sopo neh (trus ada siapa lagi)?” tanya Gendhis
“E.. e… iku, Sopo neh yo…kuwi eeeh.. sopo yo?” kata Ajeng panik.

Gendhis memandang lekat-lekat sahabat baiknya itu.

“Galih… Yo mas Galih Ndis ada mas Galih disana.” kata Ajeng yakin.
“Yowes.. pamitan bune sama Pak lik sek yo.”

…..

Harap-harap cemas Galih menunggu kedatangan Ajeng dan Gendhis. Mereka serasa sangat lama.

” Edan… Dari tadi disini ndak ada satupun orang lewat.” bisik Galih heran.

Untunglah tak lama kemudian Ajeng dan Gendhis muncul di ujung jalan.

“Mas Galih, kok disini?” tanya Gendhis.
“Iya Ndis, nunggu kamu sama Ajeng.” kata Galih sambil berdiri.
“Eeh….. Bisa ndak?” Ajeng segera membantu Galih berdiri.
“Aduuuh.. kalian mesra banget loh.” puji Gendhis begitu melihat kelakuan Ajeng dan Galih.
“Hih… Opo to Ndis.” kata Ajeng sambil mendorong Galih.
“Aduuuh.. Sakit Ajeng.” kata Galih yang terduduk kembali.
“Aduh mas Galih, sepurone, Gendhis sih.. Sini tak bantu mas.” kembali Ajeng menawarkan tangannya.

Gendhis cuma mesem melihat tingkah kikuk mereka.
Beriringan mereka berjalan menuju hutan siwerak. Tangan Gendhis tak pernah terlepas dari lengan Ajeng. Dia benar-benar ketakutan.

Semakin memasuki hutan, bahkan genggaman Gendhis berubah jadi cekalan erat di lengan Ajeng.

“Aduh pelan-pelan Ndis, sakit.” keluh Ajeng.
“Aku takut Jeng, kalo ada medhi piye?” bisik Gendhis panik.
“Ndak… Ndak. Ada mas Galih tenang aja, paling dia dulu yang dimakan.” kata Ajeng bercanda.

Galih melotot ke arahnya, raut takut tak bisa disembunyikannya.

“Aduuuh bebek ini lagi.” bisik Galih pucat.

Segera dia membungkuk saat melewati rombongan bebek berjumlah 3 ekor itu.
Ajeng dan Gendhis melakukan hal yang sama dengan Galih. Namun kali ini bebek tidak menghilang malah mengikuti mereka dari belakang.

Ajeng dan Gendhis nampak ketakutan diikuti mahluk yang sebenarnya lucu itu. Namun sepertinya kelucuan tidak berlaku lagi manakala mereka berada di hutan yang keangkerannya telah tersohor seantero kampung.

Tampak Pak Lurah tersenyum menyambut kedatangan Ajeng, Galih dan Gendhis.
Mbah Jiwo tampak mengelus lembut rambut Gendhis. Kemudian mereka duduk di pokok pohon mahoni yang mengering disekitar situ.

Mbah Jiwo tampak berbicara serius dengan Gendhis. Wajahnya terlihat tegang sementara Gendhis tampak terkejut dan memucat.
Pak Lurah menghampiri mereka dan menggenggam erat tangan putrinya. Gendhis terlihat tegang menahan tangis.

Tak lama kemudian Mbah Sruni muncul dari balik rimbunan semak, membuat Gendhis dan Ajeng terkejut bukan kepalang.
Nenek bungkuk itu menuju tuk sigaru dan menyuruh Gendhis mendekatinya.

Gendhis tampak ragu-ragu, dilihatnya Mbah Jiwo mengangguk lalu perlahan Gendhis mendekati mbah Sruni yang tampak menunggunya mendekat.

Wajahnya yang penuh dengan keriput memandangnya lekat-lekat. Sebuah senyum lembut tersungging di bibirnya, mungkin baru kali ini senyumnya hadir kembali setelah puluhan tahun lamanya.

“Cah ayu, apakah kamu melihat wajah di batok ini?” tanya mbah Sruni sambil menunjuk dua bathok kelapa yang mengambang dipermukaan air tuk sigaru.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.