Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu...

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini.
Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu.

Terlihat Galih sedang meringis ketika salah satu kakinya sedang dipijit Pak Karto, sepertinya Galih terkilir.
Kalau Galih terkilir, lain lagi Ajeng, gadis tambun itu belum pernah berlari secepat itu sebelumnya sekarang nafasnya mendadak sesak.

Salah satu warga yang habis merumput melihat mereka berdua tergeletak lemas di depan rumah mbah Gayem.
Memang masih bisa meringis tapi mereka benar-benar lemas, perpaduan capek dan takut kayaknya.

Sesampainya di pendopo, Galih langsung meminta Pak Lurah mengusapkan air yang ada di bathok kelapa itu ke rambut Nawang.
Dengan wajah bingung Pak lurah menuang sisa air yang isinya nyaris habis itu kemudian diusapkan ke rambut Nawang yang kebetulan tertidur sejak dikasih obat yang dibawa oleh Gendhis dari kota.

Tak lama Nawang bangun, mengenali ibunya kemudian minta makan. Berita sadarnya Nawang cepat tersebar ke penjuru desa.
Warga berduyun-duyun menuju pendopo. Selain ingin melihat Nawang mereka juga penasaran siapa gerangan yang mampu menyembuhkan Nawang.

Namun keadaan Galih sepertinya belum bisa ditanya banyak. Ajeng apalagi namun mereka berdua mendadak menjadi pahlawan desa Somawangi.
Gendhis nampak bahagia melihat kakaknya telah pulih. Dirinya dan Panji baru sampai desa pas waktu mahrib.

Seharian bersama Panji membuat hatinya tak menentu. Dielusnya jaket setengah basah milik Panji yang masih dikenakannya.
Masih tersisa aroma khas tubuh Panji disana membuat Gendhis merasakan nyaman sekaligus nyeri. Seandainya cinta bisa terhenti secepat saat dia jatuh hati, mungkin sekarang dia tak perlu sesakit ini.

…..

Lewat tengah malam tiba-tiba Nawang yang sudah pulih seperti sedia kala kembali menggigil. Kali ini malah wajahnya semakin pucat dan matanya tampak melotot marah.

Bu Harjo yang tidur menemani Nawang kaget saat melihat tubuh putrinya pucat dan mengejang, baru beberapa jam yang lalu Nawang minta selalu dipeluknya karena dia bilang merasa takut.

Kehebohan kembali terjadi di rumah Pak Lurah. Pendopo yang awalnya mulai lengang dan sepi kembali ramai oleh warga.
Ada apa lagi dengan Nawang?

Pagi buta ,pak Lurah mengajak serta pak Wongso, mbah Jiwo, beberapa sesepuh desa, Ajeng dan Galih untuk berdiskusi serius di ruangan khusus samping pendopo.
Sengaja mereka “ngumpet” agar lebih bisa berkonsentrasi dalam membahas Nawang.

Mula-mula Ajeng bercerita soal kedatangannya ke rumah mbah Gayem sampai pada saat Galih mengajaknya ke siwerak.

Pak Lurah dan yang lainnya tampak serius mendengarkan cerita Ajeng dan Galih. Tak bisa di sembunyikan jika terpancar dengan jelas raut muka ketakutan di wajah mereka.

Lama terdiam, mbah Jiwo selaku pinisepuh dan orang pintar didesa angkat bicara.

“Agaknya Nawang mencoba meniru Wening Harjo.” katanya kepada Pak Lurah.

Pak lurah hanya tertunduk kehabisan kata-kata dia sungguh tak menyangka aib keluarganya akan terbuka lagi.
Wening adiknya pernah jatuh cinta kepada pemuda tampan bernama Winoto. Namun status Winoto yang telah menikah membuat mereka tidak bisa bersama.

Wening yang telah dibutakan oleh Cinta mencari segala cara untuk mendapatkan cinta Winoto. Dia mendatangi seorang dukun yang ada dihutan siwerak.
Bukannya cinta Winoto yang didapatnya justru kematian karena Wening terjatuh dalam perjalanan sepulangnya dari hutan siwerak.

Dan Winoto, tak lama ditemukan meninggal juga dalam keadaan tergantung lehernya. Dia yang telah kena “mantra” membuatnya nekat mengakhiri hidupnya kala mendengar wening telah meninggal.

Cerita kelam berselimutkan mistik itu tersimpan rapi bertahun-tahun lamanya.
Dukun yang dimaksud adalah satu-satunya manusia penghuni hutan siwerak yang terlarang lagi angker.

Galih inget saat itu dia memang dikejar oleh bayangan hitam yang diyakini olehnya bahwa itu memang manusia. Matanya sempat beradu pandang dengannya. Namun sosok yang yang tidak jelas dan tampak misterius membuatnya takut.

Lalu apa hubungan dukun yang ada di siwerak dengan mbah Gayem?
Karena dari kata- kata mbah Gayem lah Galih terdorong mengambil air di hutan Siwerak.

Pada jaman dulunya mbah Gayem mempunyai seorang suami yang bisa dibilang sakti. Beliau menguasai kanuragan kejawen yang mistis. Hanya dengan sedikit mantra yang terucap dari bibirnya terjadilah apa yang dia inginkan.

Namun sayangnya ilmu tersebut digunakan untuk berbuat jahat dan mencelakai orang. Sampai pada kejadian seorang warga desa yang berseteru dengannya meninggal secara tidak wajar.

Warga yang tidak terima beramai-ramai membakar rumahnya. Suami mbah Gayem menyuruh istrinya dan satu-satunya anak perempuan mereka berlari ke hutan siwerak.

Sedangkan dirinya menghadapi amukan warga yang murka. Namun sayangnya nyawa beliau hilang ditangan warga yang begitu marah karena ulahnya.

Mbah Gayem dan anaknya yang lari ke hutan hidup dalam ketakutan dan kesengsaraan. Anak mbah Gayem yang bernama Sruni tumbuh menjadi anak pendiam dan penuh dendam.

Dia mulai mempelajari apa yang ayahnya pelajari, dia ingin menjadi orang sakti.
Mbah Gayem tidak bisa berbuat banyak melihat putrinya dibutakan dendam dengan kematian bapaknya yang mengerikan.

Setelah beberapa tahun di hutan, akhirnya dia kembali ke desa dan di sidang di balai desa pada masa itu. Dia mengatakan kepada warga bahwa Sruni meninggal dimakan binatang buas di hutan sehingga dia tidak berani tinggal di hutan lagi.

Dia tidak ingin warga tahu bahwa putrinya masih hidup dan belajar ilmu kejawen seperti bapaknya. Karena jika warga tahu bukan tak mungkin Sruni juga bernasib sama dengan bapaknya.

Karena kasihan warga membangunkan rumah di pinggir hutan siwerak karena mbah Gayem bilang ingin selalu dekat dengan arwah anaknya.

Namun mbah Gayem sempat berbicara pada sesepuh desa jika sebenarnya putrinya Sruni masih hidup namun dia minta untuk membiarkan Sruni hidup karena dia sendiri yang akan menjaminkan hidupnya jika Sruni berbuat jahat ke pada warga desa.

Alhasil tak banyak yang tahu bahwa hutan angker itu berpenghuni. Sruni yang misterius juga menghabiskan waktunya bersemedi di gua dekat tuk sigaru berpuluh puluh tahun lamanya.

Pak Lurah tak habis pikir darimana Nawang dapat keberanian sebesar itu untuk masuk hutan siwerak.
Apakah dia tahu dari Wening buliknya? Memang selama hidup sifat Nawang sangat mirip dengan Wening, atos (keras) kalo sudah punya keinginan.

Tapi saat kejadian Wening, Nawang masih kecil mungkin baru berusia 7 – 8 tahun kala itu. Bagaimana gadis sekecil itu mengerti hal klenik macam ini?
Rasanya tidak penting memikirkan itu sekarang karena yang terpenting sekarang Nawang sadar dulu, dari dialah semua bisa terbuka karena dia yang memulai.

“Jadi gimana Mbah?” pak Lurah menyudahi flashback-nya.
“Mungkin benar obat Nawang memang harus diberi air tuk sigaru.” kata Mbah Jiwo.
“Tapi sekarang Nawang kesambet lagi, padahal sudah dikasih air tuk.” kata mbah Wongso.

Diikuti anggukan setuju sesepuh yang lain.

“Apa karena airnya kurang banyak Pak Lurah?” tanya Galih.
“Kami mengambil air tuk penuh tadinya tapi tumpah karena kami ketakutan ada yang mengintai dan mengejar.” urai Ajeng.
“Sruni pasti marah kalian ndak ijin kepadanya.” gumam mbah Jiwo.
“Kita harus minta izin mbah Gayem agar Sruni tidak marah daerahnya kita masuki dan airnya kita minta.” usul mbah Wongso.
“Tapi ndak mungkin cukup kalo cuma dengan air sigaru, kalau sampai Nawang begini, sudah ada mantra yang keucap, hanya Sruni yang tahu.” lanjut Mbah Jiwo.
“Lebih baik kita temui mbah Gayem, lalu setelahnya menemui Sruni itu lebih masuk akal.”

Para sesepuh yang dari tadi hanya menyimak mengangguk setuju.

“Tapi siapa yang tahu keberadaan Sruni di Siwerak sana? hutan itu sangat luas loh.” celetuk pak Lurah.

Mereka semua terdiam sementara diluar sana terdengar teriakan dan tangisan Nawang.

“Mungkin mbak Arum tahu.” kata Ajeng.

Semua menengok ke arahnya. Pandangan mereka seperti mencari alasan kenapa Arum?

“Karena mbak Arum pernah keceplosan sama Ajeng katanya sehari sebelum mbak Nawang kesambet mbak Arumlah yang mengantar mbak Nawang ke siwerak.”
“Nduk… Tolong panggil Arum sekarang.” perintah Pak Lurah lirih kepada Ajeng.

Pikirannya judeg, benar- benar shock mengetahui putrinya berbuat senekat itu.
Tak lama Ajeng kembali dengan Arum yang tampak ketakutan. Badannya gemetar bahkan nyaris menangis seolah dia adalah dalang dari semuanya.

“Duduk cah Ayu, sini.. “ ajak Pak Lurah berusaha menenangkan Arum yang ketakutan.
“Sudah jangan nangis nduk, bapak cuma mau tanya sama kamu, ndak usah takut.” lanjut Mbah Wongso.
“Coba tolong ceritakan sama kami apa saja yang Arum ketahui tentang Nawang dan siwerak.” tanya Pak Lurah lembut.

Arum hanya tertunduk susah payah menahan butiran hangat itu menetes.

“Ndak papa mbak Arum, Pak Lurah ndak akan menghukum kita.” tangan Ajeng mengusap tangan Arum dan meremasnya lembut.
“Arum cuma disuruh ngancani (nemenin) Nawang pak Lurah.” kata Arum terbata.
“Arum ngancani Nawang sampai masuk ke siwerak?”

Arum mengangguk lemah, sepertinya dia sangat ketakutan.

“Di siwerak Nawang ngapain rum?”
“Nawang…” Arum tersendat.
“Nawang kenapa cah Ayu?” balas Pak Lurah lembut.
“Hiks… hiks…”

Akhirnya tangis Arum pecah.

Pak Lurah dan semua yang ada diruangan itu menarik nafas panjang sambil menunggu tangis Arum reda.

“Nawang ketemu sama mbah-mbah pak Lurah, mbah itu sama Nawang masuk ke gua kecil di samping tuk sigaru, Arum ndak tau mereka ngomong apa.” akhirnya beban itu lepas dari hati Arum.

“Mbah putri mirip mbah Gayem ndak mukanya?” tanya mbah Jiwo.
“Nggeh mbah Jiwo tapi luwih enem niki (lebih muda ini).” kata Arum.
“Bener Sruni.” gumam Mbah Jiwo.
“Sebelum kejadian ini kamu pernah ndak ke hutan siwerak sebelumnya?” tanya Pak Kendar salah satu sesepuh desa.

Kembali Arum mengangguk

“Udah lama dulu mbah, sekali kira-kira setahun yang lalu.”

Mereka semua terdiam. Galih baru kali ini mendengar dan bahkan terlibat langsung dengan sesuatu yang berbau klenik. Ternyata semua nyata adanya bukan hanya sekedar cerita mitos.

“Yowes mumpung masih pagi dan sebelum Nawang tambah ngamuk, Saya, Pak Lurah, Mbah Wongso dan kamu cah bagus, mari kita ke siwerak.” kata Mbah Jiwo mantap.

“Kamu nduk Ayu, tolong jangan cerita macam-macam ke yang lain yah, ndak baik ini masalah aib keluarga pak Lurah.” pesan mbah Jiwo kepada Ajeng dan Arum.

Berempat mereka menyusuri jalan setapak yang masih tampak basah oleh embun. Matahari tampaknya masih malas menyinari semesta.
Sesekali terdengar pak Lurah menghela nafas, beliau tampak terpukul dengan kejadian ini.

Dulu adik perempuan satu-satunya harus meninggalkan dia dengan cara yang tidak wajar, sekarang anak gadis nya nyaris menjadi korban.
Sampai di rumah mbah Gayem, tampak nenek renta itu sedang berdiri didepan pintu.

Kehadiran mereka seperti telah dia ketahui. Segera bergantian mereka menyalami wanita penuh keriput itu.
Sebuah bungkusan yang masih hangat diletakkan di samping kursi mbah Gayem.

Tampak beliau terkekeh memperlihatkan giginya yang tak lagi lengkap dan juga berwarna hitam.

“Ciri wanci lelai ginawa mati.” katanya sambil menyesap rokok lintingannya.
(watak orang yang buruk tidak akan berubah sampai mati)

Sesaat kemudian wajahnya tertutup dengan asap putih, tampak menyeramkan.

“Anakmu ki menawa cecak nguntal cagak.” lanjut nya sambil menatap pak Lurah.
(anakmu itu seperti orang yang punya keinginan namun tidak sadar akan kemampuan)

“Mulat salira ,hangrasa wani” mbah Gayem melanjutkan.
(sebelum bertindak hendaknya dipikir lebih dulu agar tidak sembrono dan merugikan orang lain)

“Wes ndang nyang siwerak selak Sruni murka.” kata mbah Gayem sambil menyuapkan ketan anget ke bibir hitamnya.
(sudah cepat ke siwerak sebelum Sruni murka)

Rombongan segera berpamitan kepada mbah Gayem menuju belantara siwerak.
Galih kali ini tetap masih takut namun kehadiran Pak Lurah dan sesepuh yang sudah paham medan hutan membuatnya sedikit tenang.

Tampak gerombolan bebek putih terdiam menatap mereka. Mbah Jiwo yang berjalan paling depan entah berkomat kamit apa lalu dengan menunduk lewat didepan bebek tersebut.

Semua mengikuti gerakan mbah Jiwo. Tak lama kemudian Galih yang penasaran menoleh ke belakang dan rombongan bebek tadi bahkan sudah lenyap.

Tanpa komando segenap bulu kuduknya berdiri, dicekalkan lengan pak Lurah tanpa sadar.
Bebek macam apa pula itu baru ditinggal kedip sudah menghilang. Bebeknya saja seram apalagi yang lainnya, bisik Galih ciut.

Semakin ke tengah suasana hutan semakin rimbun dan lembab, rasanya tak percaya ada manusia yang bisa hidup di lingkungan seperti ini.

Rasanya panjang sekali hutan itu hingga akhirnya sampailah mereka di depan sebuah pohon beringin yang sangat besar. Akarnya bahkan menjulur hingga menyerupai sebuah tenda alami.

Galih ingat ditempat itulah dia menciduk air. Rupanya rimbunan itu bukan daun melainkan akar yang menjulur.
Kemarin boro-boro dia sempat memperhatikan keadaan hutan wong mau nafas aja susah rasanya saking takutnya.

“Nuwun sewu Sruni.” teriak mbah Jiwo.
“Jiwo kalian rencang sowan badhe tangkled.” ucap mbah Jiwo.
(jiwo dan juga teman datang ingin bertanya)

“Medhal rumiyen Srun!” tambahnya lagi.
(keluar dulu Srun)

Tak lama rimbunan akar itu bergerak dengan pelan, tampaklah sosok berpakaian hitam berbadan bongkok muncul.
Galih ketakutan sampai memeluk Pak Lurah. Pak Lurah dan Mbah Jiwo sekalipun tampak tegang dan memundurkan langkahnya.

Nenek bongkok itu memandang dengan raut tidak bersahabat. Mulutnya asik mengunyah entah daun apa.

“Nuwun sewu Sruni bilih ganggu, namung sekedap.” ucap mbah Jiwo lembut.
(permisi Sruni bila mengganggu tapi cuma sebentar)

“Hmm.. “ dengus nenek Sruni kasar.

Lalu dirinya berbalik masuk kembali ke gua di balik rimbunan akar beringin itu, tangannya tampak menyuruh mbah Jiwo mengikutinya.
Mbah jiwo dengan mantap mengikuti mbah Sruni ke dalam “rumahnya”.

Pak Lurah, Mbah Wongso dan Galih tampak tercekat melihat penampakan dan perangai nenek misterius tersebut.
Agak Lama mbah jiwo di dalam sana, terdengar hentakan kaki dan entah suara hewan apa di dalam sana.

Kemudian rimbunan akar itu bergerak lagi, tampak mbah Jiwo muncul dengan muka tegang .

“Harjo, Nawang telah berbuat sembrono, takabur dia.” desahnya.
“Pripun mbah?” tanya pak Lurah.
(gimana mbah)

“Nawang sudah 2 kali melakukan ini pertama dengan pemuda bernama Abimana dan kali ini dia mencoba mengambil hati pemuda bernama Panji.”
“Dia ingin memiliki hati pemuda itu namun sayangnya kedua pemuda itu telah jatuh hati kepada Gendhis adiknya.”

Pak Harjo kaget bukan kepalang mendengar penjelasan Mbah Jiwo.

“Lajeng, pripun mbah?” kata pak Lurah cemas.
(Lalu bagaimana mbah)

“Perasaan Abimana wis macet mergo kegerus wedhal”
(perasaan Abimana sudah tidak bisa dirubah karena sudah terlalu lama)

“Dia akan selamanya mencintai Nawang, untuk Abimana ini berhasil tapi tidak untuk Panji”
“Rajah yang sudah terlanjur ke terpatri ke Abimana tidak bisa dicabut dan dialihkan ke pemuda lain, namun Nawang memaksa sehingga Nawang kena wadhalnya (akibatnya).”

Pak Lurah semakin lemas mendengar penjelasan Mbah Jiwo.

“Hanya satu hati yang bisa diselamatkan Harjo.”
“Maksud mbah Jiwo?” Kata pak lurah bergetar.

“Mengembalikan ingatan Nawang namun menghapus semua ingatan Panji akan Gendhis atau mengembalikan ingatan Panji tentang Gendhis namun selamanya Nawang linglung.”

Nanar mata pak Harjo membayangkan dua wajah Putri tersayangnya, posisi mereka sama di hatinya.
Membiarkan Nawang hilang ingatan sungguh berat namun membuat hati Gendhis patah untuk kedua kalinya terasa sangat kejam.

Tak terasa air mata Pak Harjo mengalir membuat mata Mbah Sruni menyipit lalu menarik Mbah Jiwo masuk kembali ke guanya.
Tak lama dia keluar kembali, menyuruh Galih kembali ke desa menjemput Gendhis, ternyata bukan pak Harjo yang menentukan pilihan namun Gendhis.

Terlihat Mbah Sruni mengambil 2 buah bathok kelapa dari dalam guanya. Sama-sama diisi air dan bunga. Satu bunga berwarna merah dan dan satu lagi berwarna putih.

Diletakkannya dua bathok tersebut di atas cerukan tuk sigaru, terapung dan sedikit terombang ambing menanti Gendhis.
Lalu sosoknya menghilang dibalik rimbunan semak hutan siwerak.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.