Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil, gubug lebih tepatnya.
Bibirnya mengepulkan asap, sebuah rokok lintingan klaras (kulit jagung) terselip di jari keriputnya.

Sesungguhnya usia mbah Gayem sudah mencapai 113 tahun. Sebuah usia uzur yang jarang ditemukan adanya di masa sekarang.
Namun pembawaannya yang ayem dan hidup apa adanya membuat tampilan fisik mbah Gayem tak terlihat sesepuh umurnya.

Ajeng segera menyalami mbah Gayem, diikuti Galih dibelakangnya. Ketela rebus yang dibawakan mamaknya segera di letakkan di dingklik tua samping mbah Gayem duduk.

Mbah gayem terkekeh melihat ketela rebus itu, lalu mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian.

“Iki sek jenenge Panji to Jeng?” tanya mbah Gayem.
(ini yang namanya Panji ya Jeng)

“Gagah!” katanya kemudian sambil matanya menerawang.

Ajeng dan Galih saling berpandangan, darimana pula nenek renta ini tahu akan Panji?

Setenar itukah pesona Panji sampai penghuni pinggir hutan macem mbah Gayem saja tahu?

“Panji sinten mbah?” tanya Ajeng.
(Panji siapa mbah?)

Mbah Gayem berhenti mengisap rokok lintingannya. Terdiam beberapa saat lalu memandang Ajeng lekat-lekat.

“Sakjane jodo ki wes Ono sek ngatur, campur tangan manungso mung nggawe ngawur! gumam mbah Gayem kepada Ajeng.
(sebenarnya jodoh itu udah Ada yang ngatur, campur tangan manusia cuma bikin kacau)

“Dadi manungso ojo ketungkul karo kadonyan opo maning nganti nyilakani dulur nduk, ora ilok!” katanya sambil terkekeh.
(jadi manusia jangan terobsesi dengan duniawi apa lagi sampai mencelakai sodara, tidak baik)

Mbah Gayem memang terkenal agak aneh namun bagi yang paham, selalu ada maksud dibalik celotehannya sayangnya orang lebih sering mengabaikan. Malah menganggapnya tidak waras.

Dipandanginya Galih..

“Ngundhuh wohing pakarthi.”
(setiap orang akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya)

Ajeng dan Galih hanya bisa terdiam dan tercekat dengan kata- kata manusia yang keberadaannya telah lebih dari seabad itu didunia.

“Ciduk banyu tuk sigaru mbi bathok, usapke rikma mbakyune, matur nuwun telone nduk.” katanya sambil tertatih masuk ke dalam gubugnya.
(ambil air di mata Air sigaru pakai bathok kelapa lalu usapkan ke rambut kakaknya, terima kasih singkongnya nduk)

Ajeng tertegun beberapa saat namun karena dia sudah sering berjumpa dan ngobrol dengan mbah Gayem sebelumnya tak membuatnya terlampau heran dengan kelakuan nenek renta itu.

Sebaliknya, Galih pemuda kota yang baru bertemu nenek Gayem tersebut bergidik ngeri.

Mungkin aura mbah Gayem terlalu misterius baginya. Aroma tubuhnya pekat dengan bau kemenyan bakar yang berasal dari rokok lintingnya.

Rambut putihnya digelung khas wanita jawa, terselip bunga melati yang telah mengering diantara rambutnya.

Bibirnya menghitam petanda dia perokok berat dan kata-kata yang keluar dari mulutnya kebanyakan kiasan jawi kuno yang membingungkan siapa saja yang mendengar menambah wingit penampilannya.

“Gimana Jeng, mau langsung pulang opo piye?”
“Pulang aja yuk mas Galih udah sore gini, kalo sampai sandingkolo disini bisa-bisa kita diangkat anak sama wewe gombel hiii”
“Aduh Jeng ojo nakut nakutin to.” terlihat wajah Galih sedikit memucat.
“Serius ini.. makanya ayo kita buruan.” kata Ajeng tak kalah takut.

Mereka berjalan dengan sangat terburu-buru karena hari memang mulai meremang senja.

….

“Ha.. Ha… Ha…. Ha!”
terdengar Nawang tertawa terbahak- bahak. Dia berdiri ditengah ranjang, rambutnya tampak kusut tak bertemu sisir entah sudah berapa hari.

Pandangan matanya kosong namun tangannya mengepal, terlihat sangat menakutkan. Hilang sudah wajah ayu nan mempesona itu.

Seluruh penguni rumah tak ada satupun yang berani mendekati Nawang. Bu Harjo menangis sesenggukan memeluk Gendhis yang sama bingungnya.

Bau segala macam sesajen yang sengaja diletakkan di kamar Nawang semakin membuat aura mistis kian terasa.

Pak Wongso dan Mbah Jiwo yang dianggap “orang Pinter” juga ciut nyalinya melihat kelakuan Nawang.

Mereka berada di rumah pak Lurah sejak Nawang dikabarkan kesambet.

Gadis ayu itu seperti kerasukan, sebentar tampak tertawa terbahak bahak tak lama kemudian menangis tersedu sedu begitu terus sepanjang hari.
Warga tak banyak yang bisa membantu, bahkan mbah Wongso yang sudah terkenal kesaktiannya pun angkat tangan melihat kondisi Nawang.

Galih dan Ajeng yang baru datang ke desa merasa heran dengan keadaan pendopo yang makin ramai.
Segera mereka menyeruak masuk melihat keadaan Nawang. Ajeng yang tidak menyukai Nawang tetap saja sedih melihat gadis cantik itu seperti orang tidak waras.

Walaupum Nawang menyebalkan rasanya dia lebih baik melihat Nawang yang biasanya daripada keadaan Nawang yang seperti ini.
Rambutnya acak acakan, tubuhnya tampak kurus, tatapan matanya kosong dan bibir mungilnya tampak selalu bergumam.

Keheningan desa Somawangi seolah sirna oleh jeritan memilukan Nawang dan tangisan sedihnya.
Banyak warga yang menginap di pendopo, mereka mencoba memberi kekuatan batin kepada keluarga Pak lurah yang sedang tertimpa musibah itu.

…..

Pagi ini pak Lurah menyuruh Panji dan Gendhis pergi ke kota. Mereka akan menjemput adik Bu Lurah di kota sana yang berprofesi sebagai dokter untuk membantu kesembuhan Nawang.

Mengapa Panji dan Gendhis yang pergi?

Diantara pemuda KKN hanya Panji yang mahir mengendarai motor tua pak Lurah di medan desa yang terhitung sangat terjal itu. Makanya pilihan jatuh kepada Panji.
Dan Gendhis adalah satu-satunya orang yang tahu rumah pak liknya selain pak Lurah, Bu Lurah dan Nawang.
Pak lurah tak mungkin meninggalkan desa dengan kondisi Nawang yang demikian.

Bu lurah yang tak bisa berhenti menangis lebih tidak mungkin lagi untuk pergi menjemput adiknya.
Jadilah Gendhis yang awalnya keberatan tak bisa lagi menolak perintah bapaknya.

Dia berbesar hati, dikesampingkan perasan hatinya demi kesembuhan Nawang.
Berdua mereka berboncengan motor tua pak Lurah menuju kota.

Dengan medan terjal nan berliku itu tidak mungkin rasanya untuk Gendhis tidak cekelan (baca: memeluk pinggang) Panji.
Karena selain laju motor akan mudah oleng Gendhis juga pasti sangat tidak nyaman.

Namun alih-alih cekelan Gendhis yang kikuk malah berpegangan di besi belakang jok.
Melihat ketidaknyaman itu membuat Panji memelankan laju motornya.

“Ndak papa kamu cekelan aku ndis, daripada kamu jatuh”
“Ndak kok mas Panji, bisa kok”
“Bisa, tapi motornya juga agak ndak seimbang ndis”

Gendhis terdiam sesaat, perasaannya bimbang. Dipegangnya ujung jaket Panji.

Namun saat ada tikungan yang agak tajam tubuh panji seperti oleng karena tertarik tangan Gendhis di ujung jaketnya sementara tangannya mencoba menyeimbangkan motor.

Akhirnya Panji menghentikan motornya dipinggir jalan.

“Kamu lebih milih cekelan aku apa kita jatuh ndis”
“A.. Aku isin mas” jawab Gendhis tertunduk.
“Ndak usah malu, anggap aja aku bapakmu ya, jadi kamu bisa nyaman cekelan sama aku, jangan ada pikiran macem-macem, ben selamet” kata Panji menenangkan.
“Nggeh mas”

Panji menghidupkan motornya lagi, Gendhis segera naik, tangannya masih memegang ujung jaket panji, dengan gemas Panji menarik tangan Gendhis memeluk pinggangnya.

“Inget, anggap aja aku pak lurah” katanya.

Bagaimna mungkin bisa aku anggap kau bapakku sedang beberapa malam yang lalu bahkan kau menawarkan cinta dan mimpi yang begitu melenakan, batin Gendhis syahdu .

Memeluk dan bersandar pada punggung bidang itu membuat perasan Gendhis berkecamuk.

Setengah hatinya begitu nyaman bisa bersandar di punggung pemilik segenap hatinya itu. Rasanya ingin membenamkan wajahnya dalam-dalam menikmati hangatnya punggung itu.

Samar tercium harum khas tubuh lelaki membuat darahnya berdesir entah apa artinya. Yang jelas Gendhis sangat suka mencium aroma itu. Membuatnya semakin nyaman bersandar dan memeluk Panji.

Namun separuhnya lagi hatinya perih bagai teriris sembilu. Bagaimana bisa lelaki ini melambungkan hatinya setinggi awan lalu membiarkannya jatuh begitu saja seakan tak pernah terjadi apapun diantara mereka.

Lelaki macam apa sesungguhnya Panji ini, tak terasa bulir hangat menemani perjalanan Gendhis ke kota.
Sesampainya di kota motor panji memasuki halaman luas sebuah rumah besar disana. Itu adalah rumah adik kandung dari bu Lurah yang berprofesi sebagai dokter.

Mantri Sugeng begitu namanya sering disebut menyambut hangat ponakan cantiknya itu.
Dia tampak serius mendengarkan cerita tentang Nawang,raut kawatir tak dapat disembunyikan demi mendengar kabar salah satu ponakan tersayangnya itu.

Namun malam ini dia sudah terlanjur ada janji dengan salah satu pasiennya sehingga tidak bisa langsung ikut serta ke desa.
Dia berjanji besok pagi setelah urusannya selesai akan segera bertolak ke desa.

Panji dan Gendhis berpamitan setelah sebelumnya istirahat dan makan di rumah mantri Sugeng. Mereka pulang membawa beberapa obat yang katanya bisa sedikit menenangkan Nawang sementara waktu.

…..

“Kamu berani ndak Jeng?”

Galih sesungguhnya sedang meyakinkan dirinya sendiri juga kala menanyakan kesanggupan gadis gempal itu menemaninya masuk hutan siwerak.

Semalaman Galih memikirkan kata-kata mbah Gayem kemarin. Teriakan dan tangisan Nawang terasa menyayat hati membuat dirinya nyaris tak bisa memejamkan mata.

“Aku yakin Jeng, mbah Gayem nyuruh kita ambil air tuk sigaru buat nyembuhin Nawang”.
“Ndak ada yang menyebut nama Nawang og mas kemarin”
“Iyo tapi kamu denger kan mbah Gayem nyuruh ambil air, trus tau-tau juga dia nyebut Panji, ini pasti bukan kebetulan Jeng”.
“Tapi tuk ( mata Air) sigaru itu ada di dalam hutan siwerak mas Galih, Ajeng takut”

Sebenarnya Galih juga takut tapi ntah mengapa dia merasa harus kesana.

“Yowes nek kamu ndak mau aku tak kesana sendiri ya Jeng, ntar nek sampai mahrib aku belum keliatan brarti aku dipek anak (diangkat anak) sama wewe”

Galih berkata sambil berlalu dari hadapan Ajeng yang terbengong bingung.
Galih sengaja melambatkan langkahnya berharap Ajeng segera menyusulnya.

Mana mungkin aku berani masuk hutan terlarang itu sendiran, pikir Galih kecut.
Galih semakin manjauhi Ajeng namun tak juga terdengar langkah kaki menyusulnya. Galih menoleh kebelakang, Ajeng bahkan sudah pergi meninggalkannya.

Langkahnya gotai membayangkan dia dimakan mahluk penunggu hutan wingit itu sendirian.
Eh, tunggu! Tapi itu suara apa gedebukan dibelakangnya pikir Galih sambil menoleh.

Dilihatnya Ajeng tengah berlari menyusulnya sambil membawa batok kelapa!
Rasanya baru kali ini dia sangat bahagia melihat gadis itu.

“Mbah Gayem bilang ambilnya harus pakai bathok kan mas” kata Ajeng ngos-ngosan sambil memperlihatkan bathok kelapa di tangannya.
“Kamu benar-benar gadis yang baik Jeng, nanti tak beliin serabi yu Jurni ya Jeng” kata Galih bahagia.

Ajeng mengangguk senang.

Mereka berjalan menyusuri jalan yang semakin menyempit ke arah hutan. Tampak jelas jalan itu jarang dilewati karena memang hampir tak pernah ada orang yang berani ke sana.

“Kamu tau ndak Jeng letak tuk sigaru?”
“Aduh, ndak tau juga sih mas, tapi Ajeng pernah dengar kalau tepat di tengah hutan siwerak Ada mata Air yang dilindungi pohon besar.”

Membayangkan keberadaan mata Air itu saja sudah membuat bulu kuduk Galih meremang.

Jadi kita masuk ke dalam hutan ne?” kata- kata Galih mulai bergetar.

Ajeng mengangguk, demi dilihatnya wajah semangat Ajeng membuat keberanian Galih timbul.
Mereka melewati rumah mbah Gayem, tampak wanita renta itu tersenyum ke arah mereka. Galih bergidik melihat senyum itu.

Sedangkan Ajeng melambaikan tangan ke arah mbah Gayem. Wajahnya tampak tenang.

Perjalanan mereka sampai di pintu sebuah hutan yang gelap. Saking besar dan rimbunnya pohon yang Ada di hutan itu membuat cahaya matahari yang sedang bersinar terik tak mampu menembusnya.

Suasana hutan tampak gelap dan lembab, pantas saja tidak Ada yang berani kesini, pikir Galih.

Mereka semakin masuk ke arah hutan, bebagai macam hewan dijumpainya. Segerombolan monyet tampak asing melihat kehadiran mereka.
Beberapa burung beterbangan dari ranting satu ke ranting yang lain.

Tak lama samar-samar terdengar gemericik air. Ajeng dan Galih bepandangan dan tersenyum. Mereka tampak bahagia menemukan mata Air sigaru.
Segera Ajeng mengambil air di tuk yang tak seberapa besar itu. Tuk itu berada di pokok sebuah pohon raksasa yang bahkan daunnya hampir menutupi mata air tersebut.

Setelah bathok terisi penuh mereka segera beranjak dari mata air itu.
Belum sempat mereka pergi sebuah bayangan hitam tampak berkelebat disamping mereka.

Membuat lutut mereka berdua terasa lemas dan jantung nyaris copot.
Galih segera menarik tangan Ajeng untuk berlari meninggalkan hutan. Tampak bayangan hitam itu berlari mengikuti mereka.

Melihat itu Ajeng dan Galih berlari seperti orang kesetanan, Ajeng bahkan beberapa kali nampak terjatuh.
Air yang dibawanya mungkin sudah habis seandainya bathok itu tidak mempunyai tutup.

Segera mereka berlari dan berlari. Jalan masuk hutan itu terasa sangat panjang tak juga menemukan ujung. Nafas mereka tersengal tak karuan.
Untunglah didepan sana terlihat cahaya terang, sepertinya itu pintu masuk hutan, mereka berlari menuju kesana.

Benar saja tak lama mereka keluar dari kegelapan, seperti baru keluar dari dunia lain.
Galih tampak menoleh kebelakang, bayangan hitam itu berhenti mengikuti mereka. Namun Galih tahu pasti sepasang mata hitam mengintainya.

Segera mereka melanjutkan berlari. Dan baru berhenti didepan rumah nenek Gayem.
Nenek renta itu terlihat tertidur di kursinya. Ajeng dan Galih berbaring di jalan depan rumah mbah Gayem saking capeknya berlari.

Dipandanginya bathok kelapa yang dipegang Ajeng, isinya bahkan hanya tinggal beberapa tetes .

…..

Menjelang sore, hujan turun. Panji dan Gendhis masih harus menempuh setengah perjalanan lagi. Mereka terpaksa berteduh di gardu pembatas desa satu dengan yang lainnya.

Gendhis yang kedinginan tampak mengigil. Dibukanya jaket Panji dan dipakaikan ke badan Gendhis tanpa ekspresi.
Dada Gendhis bergemuruh mendapat perlakuan itu, dirinya teringat kala dipinggir kali Panji dulu memakaikan jaket itu padanya.

Namun kala itu masih disertai senyum lembut dan tatapan teduh Panji.
Mereka hanya terdiam terpekur dengan pikiran masing-masing sampai hujan reda dan kembali melanjutkan perjalanan.

….

“Bune aku kenapa?” tanya Nawang tampak bingung.

Dilihatnya disekeliling banyak orang mengerumuninya. Wajah mereka tampak senang dan lega menatapnya.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …