Gendhis Ayu – #Part_08/18

ampak raut tak percaya di wajah Galih. Dipandanginya wajah bulat Ajeng seakan mencari keseriusan dimatanya. Namun baik muka maupun mata Ajeng tak ditemukannya tanda dia main-main ataupun bercanda dengan kata-katanya. Ajeng mengangguk pasti. Kembali dilihatnya kepala Galih mengeleng cepat...

Tampak raut tak percaya di wajah Galih. Dipandanginya wajah bulat Ajeng seakan mencari keseriusan dimatanya.

Namun baik muka maupun mata Ajeng tak ditemukannya tanda dia main-main ataupun bercanda dengan kata- katanya.

“Jadi dulu Abimana itu pacar Gendhis?”

Ajeng mengangguk pasti. Kembali dilihatnya kepala Galih mengeleng cepat.

“Dulu juga mas Abimana sempat sakit mas. Tapi Ajeng lupa sakit apa soale udah lama, trus dia kerumah pak lurah tapi sek dicari mbak Nawang dudu Gendhis.” jelas Ajeng.

“Tapi Nawang tahu ndak kalo Abimana itu pacar Gendhis?”
“Ya jelas ngerti lah mas Galih, wong tiap hari juga main ke rumah pak lurah og ngapelin Gendhis trus tiba-tiba nanyain Nawang langsung lupa sama Gendhis.”
“Pura- pura ngedeketin Gendhis padahal pengennya sama Nawang kali.” tanya Galih masih mencari adanya logika di cerita Ajeng.
“Kalo dari awal sukanya sama Mbak Nawang kenapa ndak langsung aja deketin mbak Nawang hayo?”
“Wong mbak Nawang yo lenjeh og, pacarnya banyak, la kalo Gendhis, dideketin cowok aja takut.”

Galih nampak manggut-manggut mendengar cerita Ajeng, sambil otaknya mencoba mencerna ada apa sebenarnya.

“Trus ya mas Galih, itu mas Abimana lama banget lo pendekatane sama Gendhis, aku sampai wareg ditumbaske serabi yu Jurni (aku sampai kenyang dibeliin serabinya yu Jurni).”

“La Jeng, opo hubungane Abimana sama kamu kenyang serabi?”
“Yo iku, tiap mas Abimana tanya-tanya soal Gendhis sama aku, mas Abimana pasti bawain serabi yu Jurni buat aku hehehe…”
“Walaaah Ajeng pantesan kamu lemu (gemuk) pakananmu (makanannya) serabi tah.” Galih berdecak heran dengan gadis satu ini.

Ajeng hanya nyengir.

“Pas Gendhis sudah mau sama mas Abimana itu mas Abimana mau langsung nglamar loh tapi wuuuuus tiba-tiba ndak lama nempel pel mbi (nempel banget sama) mbak Nawang, aneh to?”

“Kalo emang bener ada apa-apanya sama Nawang brarti abis ini Panji bakalan ngejar-ngejar Nawang donk Jeng?” tanya Galih.
“Ya mbuh mas, ayu-ayu og jahate yuh mbak Nawang.” geram Ajeng.
“Yaudah Jeng, matur suwun infone ya, nanti kalo ada info apa lagi kasih tahu aku ya.” kata Galih sambil berjalan pulang.

Kepalanya penuh sama teka teki antara Gendhis, Panji dan Nawang.

Di perjalanan pulang dia berpapasan dengan Panji. Sepertinya dia dari balai desa.

“Woi… Darimana aja kamu Lih? Pak lurah sampai bantuin ngecat loh kurang siji sek ngecat.”
“Waduh, sepurone (maaf) Nji, aku abis ngobrol sama Ajeng.”
“Ngomongin Nawang?” bisik Galih memancing.
“Nawang kenapa emang Lih, oiya lagi ngelu ya dia tadi pak Lurah cerita sama aku.” jawab Panji datar.
“Bukan itu, eh Nji… menurutmu Nawang Ayu ndak?” Galih bertanya sambil mengedipkan mata.
“Ayu, putih lan rajin.”
“Kalo Gendhis Nji?”
“Ayu, manis trus jowo.”
“Menurutmu mending siapa Nawang opo Gendhis Nji?”
“Piye to, kok malah tanya aku, la yang kamu taksir siapa?”
“Kalo kamu jadi aku kira-kira siapa ya yang pantes dijadikan istri?”
“Waah.. sopo yo Lih? sama cantiknya sama menariknya sih..” jawab Panji masih tetap datar.
“Kalau Nawang aja piye (gimna) Nji?”
“Laah terserah karepmu karo sopo, aneh-aneh wae.” Kata Panji sambil berlalu.
“Kalo Gendhis aja gimana Nji?” Galih berteriak agar Panji mendengar.
“Terserah kamu Galih!!!” jawab Panji juga berteriak.

Tinggal Galih semakin bingung sendiri dibuatnya. Panji jelas tak tertarik dengan Nawang, kalo cerita Ajeng benar harusnya sekarang dia cinta mati sama Nawang.

Sama Gendhis juga dia seperti tidak kenal, padahal kemarin-kemarin sampai panas kupingnya mendengar betapa Panji memuja Gendhis.

“Apa Panji kejedot batu kali pas mandi ya?” bisik Galih ndak mau menyerah.

***

“Aduh bune, ini Nawang kenopo?”

Muka pak Lurah tampak kawatir. Anak gadisnya nampak pucat dengan rambut awut awutan.

Pandangan matanya kosong dan jika ditanya tampak menjawab dengan kata-kata tidak jelas.

Bu harjo hanya menangis memandangi Nawang. Sudah 3 hari ini Nawang tidak mau makan dan keluar kamar. Penampilan Nawang tampak menyeramkan.

Kata orang pintar yang mengobati Nawang, dia kesambet memedi siwerak sehingga perlu diruwat. Siwerak itu nama hutan yang berada diujung desa.

Sedangkan Pak mantri hanya menyerahkan beberapa obat puyer tanpa bisa menjelaskan dengan pasti apa yang sesungguhnya Nawang alami.

Keadaan Nawang mengingatkan dirinya kepada adik perempuannya yang telah meninggal. Wening.

Wening meninggal tiba-tiba, dirinya ditemukan di dasar jurang hutan siwerak.

Beberapa cerita menyebutnya bunuh diri namun ada juga yang mengira Wening meninggal karena jiwanya diambil penunggu siwerak.

Sebagai kakaknya Pak lurah tahu betul cerita Wening itu sebabnya keadaan Nawang saat ini jelas membuat pak lurah kawatir dan sedikit mengingat cerita tentang Wening.

Namun segera ditepisnya karena kisah Wening berhubungan dengan hal supranatural. Nawang tak mungkin bersentuhan dengan hal seperti itu.

***

“Jeng, kalo menurutmu ki aku cantik ndak si?” celetuk Gendhis tiba-tiba saat mereka sedang mencuci di sungai.
“Pertanyaan opo kuwi ndis, ndak usah ditanya lagi to, mbah Gayem yang udah pikun kalo kamu tanya gitu juga pasti jawab cantik.” cerocos Ajeng.
“Loh,,, mbah Gayem kan emang baik Jeng, siapa aja di panggil Ayu.”
“Hais…. Rasah macem-macem to Ndis, aku yang jelek gini yo ngakune Ayu kok apalagi kamu jan.”
“Serius ini lo Jeng, maksudku pantes ndak si nek aku tresno sama mas Panji?”

Ajeng berhenti mengucek, dipandangnya Gendhis lekat-lekat. Mata Gendhis terihat sembab, pasti semalaman dia menangis.

“Kamu lebih dari pantes Ndis, rupamu elok, sifatmu alus lan atimu becik, itu lebih dari cukup.”

Sejenak Gendhis takjub dengan jawaban sahabatnya.

“Tapi kok aku selalu diginiin ya Jeng?”
“Maksudmu?” Ajeng pura-pura polos.
“Ya diginiin, dulu aku pacaran sama mas Abimana tiba-tiba mas Abimana jadian sama mbak Nawang, aku seperti dibuang gitu aja.”
“Sekarang, setelah bisa melupakan Abimana, yah walaupun belum sepenuhnya lupa akan sakitnya, aku mencoba mencintai mas Panji dan aku begitu mencintanya sekarang tapi..”

Gendhis tercekat, tak mampu menyelesaikan kata-katanya, dia hanya bisa terisak menahan sakit hatinya.

“Setelah seluruh hatiku kuserahkan, sekarang bahkan dia seperti tak mengenaliku Jeng.” katanya terbata.

Ajeng trenyuh melihat sahabatnya sehancur itu

“Apa gadis kampung sepertiku tidak layak buat pemuda kota seperti mas Panji? Kok seenaknya saja mempermainkan hati dan perasaanku Jeng?” isaknya sekarang berubah menjadi tangisan.

“Sakit sekali rasanya jeng sakit!” Gendhis tergugu.

Ajeng hanya bisa memeluk sahabatnya. Hatinya ikut terasa sakit mendengar tangis sahabatnya yang dia tahu sangat mulia hatinya.

Gendhis bahkan tak sedikitpun menyinggung Nawang, tak terbesit sedikit pun pikiran jahat mengarah ke kakaknya itu.

Ajeng bertekad dalam hati, kali ini dia tidak akan tinggal diam, akan ku cari segala informasi tentang Nawang.

Sepenuhnya dia mencurigai Nawang, baik itu soal Abimana maupun Panji. Pasti Nawang ada dibalik semua petaka yang menimpa sahabatnya.

***

Pandangan Nawang kosong, dirinya sekarang seperti mayat hidup. Rambutnya awut -awutan, matanya cekung karena tak mau makan sama sekali dan bibirnya selalu berkomat kamit entah apa yang diucapkannya.

Bu Harjo tak henti-hentinya menangis. Anak gadisnya tiba-tiba linglung.

Abimana pun sengaja pulang untuk menengok kekasihnya yang sedang sakit tersebut.

Dia bahkan sengaja membawakan seorang dokter yang hebat dari kota. Namun Nawang tak juga kembali seperti sedia kala.

Rencanya untuk melamar Nawang pun terpaksa ditundanya.

***

“Mbak Arum aku disuruh mamak nganterin telo (singkong) buat mbah Gayem ni, anterin yuk?” pinta Ajeng kepada kakaknya yang sedang menyapu halaman.
“Aduh emoh (tidak mau) Jeng, rumah mbah gayem kan deket hutan siwerak.. hii..” jawabnya.
“Lah, kita kan cuma sampai rumah mbah Gayem, ndak sampai masuk siwerak mbak?”
“Ngeri aku Jeng mbok kaya Nawang hiiii..”

Jawaban kakaknya membuat jidat Ajeng berkerut. Kakaknya kan dekat sama mbak Nawang siapa tahu mbak Arum tahu sesuatu.

“Emang mbak Nawang pernah ke siwerak opo kok mbak Arum takut kaya mbak Nawang to?” selidik Ajeng dengan nada polos.
“La iku sebelum Nawang sakit kan aku abis nganterin Nawang ke siwerak ke eh ndak ndak” buru-buru Arum menutup pembicaraannya.Lalu masuk ke rumah.

Ajeng semakin yakin kakaknya tahu sesuatu.

“Aduh kok aku keceplosan to” sesal Arum sambil dirinya mengintip dari jendela dan dilihatnya Ajeng masih berdiri di halaman rumah terlihat berpikir.
“Mati aku!!” bisik Arum ketakutan.

Ajeng masuk kembali ke rumah lalu menemui ibunya ke dapur.

Ibunya yang sedang masak heran melihat Ajeng yang dimintai tolong olehnya mengantar ketela ke rumah mbah Gayem masih saja dirumah.

“Lo nduk, kok masih dirumah to?”
“Eem… Mamak, Ajeng takut mau nganterin sendiri.”
“Aneh, biosone kamu langsung berangkat kok saiki nganggo acara takut to?”
“Jare mbak Arum kalo cedak-cedak (deket-deket) siwerak kesambet.”
“Halah, mbakyu mu iku kok didengerin, kalo niatnya apik ndak bakal.”
“Berarti mbak Nawang niatnya jelek yo mak, kok kesambet.”

Mamak Ajeng menoleh cepat lalu mendekati anak gadisnya yang mendadak super ceriwis itu.

“Kamu kata siapa Nawang kesambet di siwerak?” selidik mamak Ajeng dengan seksama.
“Hiih.. Mamak kok serem banget sih nanyanya ke Ajeng, jadi takut.”
“Kalau hubungannya udah sama siwerak itu udah pasti serem nduk, makane mamak nanya kamu kata siapa Nawang kesambet disiwerak?”
“Ndak boleh sembarangan loh nduk ojo pisan-pisan koe (jangan sekali-kali kamu) masuk siwerak!”

Kata-kata ibunya membuat Ajeng gentar sepertinya hutan yang berada diujung desanya itu sudah sangat kesohor keangkerannya.

Segera dia berlari membawa tela buat mbah Gayem, namun sebelumnya dia mampir ke pendopo berniat mengajak Galih menemaninya sekalian memberi sedikit informasi.

Galih yang memang sedang duduk di pendopo langsung berlari menyambangi Ajeng yang melambaikan tangan ke arahnya.

“Mau kemana Jeng?” tanya Galih sambil berjalan di sisi Ajeng.
“Sini tak bawain.” katanya sambil merebut ketela ditangan Ajeng.

Diperlakukan Galih demikian membuat Ajeng tersipu malu, mukanya memerah. Namun cepat- cepat disingkirkannya perasaan itu, masalah Gendhis lebih penting.

“Aku disuruh nganterin ini buat mbah Gayem mas, rumahnya jauh diujung desa, pinggiran hutan siwerak.”
“Oh iya Jeng dari kemarin aku beberapa kali mendengar hutan siwerak disebut emang itu hutan apa sih?”
“Hmmm…. aku juga ndak tahu pasti sih mas Galih cuma setahu aku itu hutan angker banyak memedinya, jarang yang berani masuk hutan itu.”
“Emang kalo masuk ke hutan kenapa Jeng,kamu pernah ndak?”
“Yo iku,karena banyak memedinya jadi ndak ada yang berani masuk, dulu pas aku kecil pernah ada yang meninggal di jurang yang ada didalam hutan, setelah itu hutan siwerak makin angker dan makin ndak ada orang yang berani masuk.”

“Orang itu ngapain masuk hutan Jeng,mau berburu apa gimana?”
“Jare mamakku sih orang itu nyari pesugihan po gimana gitu ndak paham Ajeng.”

Galih nampak manggut -manggut mendengarkan penjelasan Ajeng. Jiwa petualangannya timbul penasaran dia dengan misteri hutan yang begitu ditakuti di desa itu.

“Oiya mas, tadi ndak sengaja mbak Arum bilang kalo katanya sehari sebelum mbak Nawang sakit dia nganterin mbak Nawang ke siwerak.”
“Tapi kayaknya mbak Arum nyembunyiin sesuatu deh, kok Ajeng jadi berpikir kalau ini ada hubungannya dengan sakitnya mbak Nawang dan berubahnya mas Panji yah?”

“Maksudmu Mereka berubah gini setelah pulang dari siwerak Jeng?”
“Bisa jadi, tapi mbak Arum langsung ndak mau ngomong lagi.”

Makin menarik, bisik hati Galih. Perjalanan mereka lumayan jauh karena melewati kebun kelapa dan harus nyeberang sungai segala.

Mbah Gayem ini bisa dibilang salah satu sesepuh desa. Karena sudah sangat tua dan tidak mampu bekerja berat lagi.Warga desa bergantian mengantar makanan dan bahan makanan untuknya setiap hari.

Dia pernah dibuatkan rumah di dekat pak lurah namun entah kenapa selalu kembali ke rumah lamanya dipinggir hutan.

Semua warga menganggap mbah Gayem ini seperti orang tua sendiri karena dia hidup sebatang kara di desa ini.

Namun para sesepuh desa dan beberapa warga paham jika sesungguhnya dia tidak sebatang kara.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…