Gendhis Ayu – #Part_07/18

Beberapa warga yang diutus untuk menjemput pak mantri kembali dengan tangan hampa. Satu-satunya mantri kesehatan di daerah itu sedang pergi ke kota dan baru akan kembali esok hari.

Beberapa warga yang diutus untuk menjemput pak mantri kembali dengan tangan hampa.

Satu-satunya mantri kesehatan di daerah itu sedang pergi ke kota dan baru akan kembali esok hari.

Keadaan Panji yang tak juga sadar membuat warga desa panik. Beberapa orang yang dipercaya sebagai “orang pintar” didatangkan.

Entah berapa kali kepala Panji disembur oleh orang pintar tersebut namun mata itu tetap terpejam.

Gendhis hanya bisa pasrah melihat kekasihnya tergolek. Dipandanginya wajah tampan pemuda yang berhasil memiliki segenap hatinya tersebut.

Bibir yang biasanya begitu mudah melengkungkan senyum kepadanya itu hanya terkatup rapat. Dan mata teduh itu seperti terkunci.

Betapa dia ingin melihat mata itu terbuka dan menatapnya lagi. Namun jauh di hatinya terselip ketakutan jika mata itu akhirnya terbuka bukan lagi sorot teduh yang ditemuinya.

Dia sangat takut.

Keadaan yang tidak jauh berbeda juga terjadi pada Nawang. Setelah melihat Panji di tandu masuk pendopo dan melihat betapa pemuda tampan itu tak berdaya. Nawang menjadi sangat ketakutan.

Entah rasa takut seperti apa yang mencengkeramnya. Dia bahkan sampai menggigil seperti layaknya orang melihat hantu.

Malam itu suasana pendopo mencekam, semua panik dan tampak ketakutan. Tak satupun warga yang meningalkan pendopo, mereka bergantian menjaga Panji yang bahkan tak bergerak sedikitpun.

Suara kokok si jalu, ayam jago Pak lurah membangunkan warga yang tertidur kelelahan menjaga Panji semalam suntuk.

Namun mereka terperanjat kala dipan tempat panji berbaring telah kosong.

Ramai-ramai mereka berkeliling rumah pak lurah dan sekitarnya namun sosok Panji tak juga mereka jumpai.

Beberapa warga yang mencari ke arah balai desa terkejut melihat Panji sedang berjalan berselempangkan handuk, seperti baru selesai mandi di sungai.

“Nak Panji dari mana saja?” tanya Pak Karto heran.
“Kita semua panik nyari mas Panji.” Wasis putra Pak Karto menimpali.
“Saya baru saja mandi pak Karto, saya merasa seluruh badan saya lengket.”
“Saya semalam capek banget ya sepertinya kok di pendopo rame saya ndak tahu.”

Jawaban Panji membuat Pak Karto dan Wasis saling berpandangan.

Dari jauh terlihat rombongan warga berdatangan ke arah mereka. Warga heran melihat Panji sudah segar seperti tak terjadi apa -apa padanya.

Sebaliknya Panji pun merasa heran kenapa warga berbondong -bondong mencarinya dan menanyakan keadaannya.

Dia merasa baik-baik saja hanya sedikit pusing itupun hilang setelah dirinya mandi.

Sampai di pendopo sorot keheranan kembali mengarah kepadanya bahkan tampak seorang bapak berpakaian putih sedang menunggunya.

Pak Mantri, begitu warga desa memanggilnya. Satu-satunya tenaga kesehatan di daerah itu.

Setelah berbasa basi seperlunya, pak mantri mulai memeriksa Panji. Wajahnya tampak berkerut beberapa kali lalu akhirnya menatap semua warga yang hadir.

“Panji ini ndak papa lo ya, semua sehat ndak ada yg konslet?”
“Satu- satunya masalah cuma satu.”
“Nopo pak mantri?” tanya pak Lurah dengan muka kawatir.

Tampak warga yang hadir pun seakan menahan nafas menunggu jawaban pak mantri.

“Masalahnya ya kuwi, Panji ki kebangetan gantenge makanya warga sampai panik nguber-uber aku neng kota pas dia ngelu.”
“Panasnya itu karna dia kecapean saja wis to jangan pada kawatir.”

Semua menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan pak mantri. Kekhawatiran sirna dimuka warga dan teman-teman Panji.

Betapa keberadaan Panji dan teman- temanya menambah warna didesa ini. Mereka seperti sudah mempunyai ikatan batin dengan warga.

Kedekatan mereka seperti sebuah keluarga. Kearifan warga desa dan ramahnya mahasiswa membuat mereka seperti tak berjarak.

Gendhis yang dari tadi hanya mendengar pembicaraan mereka di pendopo ikut merasakan kelegaan. Panji telah segar seperti sedia kala.

Saat sarapan tiba, semua berkumpul di pendopo, karena banyak warga yang sarapan disana, ibu- ibu sekitar rumah ramai mengantarkan makanan.

Jadilah sarapan besar di pendopo, sungguh suasana yang sangat hangat. Namun suasana hangat itu tak dirasakan Gendhis.

Dari awal dirinya mencoba mencuri pandang ke arah Panji. Biasanya dalam sekali pandang sorot mata teduh itu telah lebih dulu ditemuinya.

Namun pagi itu sampai entah beberapa kali dia mencoba mencari, pandangan Panji bahkan tak pernah sekalipun terlihat mengarah kepadanya.

Aah… mungkin Panji masih belum pulih benar, bisik hatinya menghibur diri. Walaupun begitu tak sebutir nasi pun yang berhasil di telannya.

Sampai sarapan selesai dan para warga membubarkan diri tak dijumpainya senyum manis dan pandangan sarat cinta dari Panji untuknya.

Padahal saat itu beberapa kali Gendhis berpapasan dengab Panji waktu merapikan bekas makan.

Hati Gendhis mulai gelisah namun berusaha tetap tersenyum dan tampak biasa.

***

Sore hari saat pulang mandi dan mencuci kembali Gendhis dan Ajeng berpapasan dengan Panji dan Galih.

“Waaah…. ketemu lagi sama gadis Somawangi yang manis.” goda Galih genit.

Ajeng dan Gendhis cuma tersenyum mendengarnya.

Biasanya Panji juga akan menyapa ramah sambil sedikit menggoda Gendhis, namun sore itu cuma sekilas memandang mereka lalu tersenyum seperlunya.

Hati Gendhis makin bergemuruh, bahkan matanya mulai panas menahan bendungan air mata yang tiba-tiba memaksa keluar.

Cepat-cepat Gendhis berlalu dari hadapan Galih dan Panji. Tak ingin mereka melihat dirinya menangis.

Ajeng yang juga heran melihat sikap Panji yang “biasa saja” hendak bertanya kepada Gendhis.

Namun melihat bulir air di pipi sahabatnya membuat Ajeng urung menanyakannya. Mereka terdiam sampai berpisah dirumah masing-masing.

Sesampainya dirumah terlihat ibunya keluar dari kamar Nawang dengan mimik sedih, ditangannya ada sepiring nasi utuh dengan lauk pauknya.

Nampaknya Nawang menolak makan lagi setelah sebelumnya sarapan dan makan siang tak disentuhnya.

“Mbak Nawang tetap ndak mau makan bune?”
“Iyo cah ayu, cuma mau mínum saja itupun sedikit.”
“Coba kamu temani nduk, siapa tahu mau ngobrol kalo sama bune diam saja.”

Gendhis mengangguk lalu berjalan menuji kamar kakaknya.

Dilihatnya muka Nawang kusut masai, rambutnya terurai dan tampak lesu. Mungkin karena tak sebutir nasi pun yang masuk ke tubuhnya.

Gendhis duduk di pinggir ranjang, memegang tangan Nawang, namun tak sediktpun Nawang bergeming.

“Mbak Nawang, mau Gendhis pijitin atau ambilin apa ndak?”

Nawang menengok sekilas lalu kembali terpekur entah memikirkan apa.

Gendhis heran melihat perangai kakak perempuannya. Biasanya kalau sedang sakit Nawang akan sangat manja melebihi anak kecil.

Namun sekarang malah seperti tidak ingin diganggu dan asik termenung.

Dipandanginya wajah cantik Nawang. Wajahnya tampak menerawang entah memikirkan apa.

Belum habis sesak didadanya diacuhkan Panji, ditambah lagi sekarang kakaknya seperti punya dunia sendiri.

Tanpa sadar dia berjalan ke arah pendopo. Hampir saja dia bertabrakan dengan Panji yang hendak masuk keruangan samping pendopo.

“Aduh maaf Gendhis ndak sengaja.” kata Panji sambil tersenyum kecil dan kemudian berlalu.

Gendhis hanya mampu terdiam namun hatinya sakit bagai tersayat sembilu. Ada apa dengan Panji?

Lama Gendhis terdiam terpaku disitu, Galih yang melihat pemandangan barusan juga merasa heran.

Hari ini tak sepatah katapun Panji membahas Gendhis. Biasanya saat bersamanya Panji akan selalu membicarakan gadis itu.

Panji masih seperti biasanya tetap ramah dan cekatan. Namun jika diperhatikan seperti ada yang berbeda, dia seperti melupakan Gendhis.

Galih ingin menghampiri Gendhis namun gadis itu sudah berlalu masuk ke kamarnya.

“Ajeng.. Yaah aku harus tanya Ajeng siapa tahu dia paham sesuatu.”

Galih bergegas menuju rumah Ajeng kebetulan gadis itu juga sedang berjalan ke arah pendopo.

“Mau kemana Jeng?”
“Eh mas Galih, ini mau nganterin asem ireng buat Bu Lurah, katanya mbak Nawang sakit mau diblonyo.”

Oiya, hari ini tumben Galih tidak melihat Nawang, biasanya gadis itu selalu mengejarnya untuk menanyakan Panji,sakit rupanya ,bisik Galih dalam hati.

“Nawang sakit apa Jeng?”
“Ndak tau mas, kata mamakku mbak Nawang sakitnya barengan sama mas Panji.”
“Sudah ya Ajeng masuk dulu takut ditungguin Bu Lurah mas.”
“Monggo-monggo Jeng”

Galih sedikit berkenyit jidatnya mencoba mencerna omongan Ajeng. Kemudian dia duduk di pinggir pendopo menunggu Ajeng keluar.

Banyak pertanyaan di kepala Galih seputar Panji, Nawang dan Gendhis.
Namun Ajeng sepertinya tidak keluar juga hingga larut malam.

Akhirnya dia memutuskan untuk menanyakannya esok hari.

***

Malam ini terasa sangat panjang dirasakan Gendhis. Dia ingin segera pagi, didekatkannya kepala ke dinding kayu biasa Gendhis dan Panji ngobrol. Berharap ada ketukan lembut memanggil namanya malam ini.

Sampai hampir pagi matanya tak sedikitpun terpejam, telinganya tetap awas mendengarkan jika dinding itu terketuk. Namun harapannya sia-sia,Panji tak datang menyapanya.

Kokokan si Jalu memberi isyarat bahwa pagi telah menjelang. Pelan-pelan dibukanya jendela, segera pandangannya ke arah sudut jendela.

Tak ada mawar disana, ini pagi pertama tanpa mawar sejak mahasiswa KKN datang .

Panji telah berubah, dalam semalam. Malam sebelum dia sakit bahkan dia berjanji akan selalu membuatnya tersenyum, lupakah dia akan janjinya?

Gendhis merasa dejavu dengan kejadian ini. Pikirannya melayang kembali ke beberapa bulan lalu. Hampir setahun tepatnya.

Mencoba menghentikan lamunan itu namun semua seperti kembali tergambar jelas. Gendhis terisak tak kuasa menahan sakit hatinya.

***

“Haaaaaaaah……?!” Galih hanya bisa melongo mendengarkan cerita Ajeng.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…