Gendhis Ayu – #Part_06/18

Pertunjukan wayang kulit makin malam semakin ramai. Namun itu tak membuat hati Nawang terhibur sedikitpun. Hatinya semakin dingin bahkan mulai membeku saat melihat adiknya. Entah setan apa yang merasuki sukma Nawang, saudara yang bahkan mengalirkan darah yang sama ditubuhnya itu menjadi manusia yang paling dibencinya.

Pertunjukan wayang kulit makin malam semakin ramai. Namun itu tak membuat hati Nawang terhibur sedikitpun. Hatinya semakin dingin bahkan mulai membeku saat melihat adiknya.

Entah setan apa yang merasuki sukma Nawang, saudara yang bahkan mengalirkan darah yang sama ditubuhnya itu menjadi manusia yang paling dibencinya.

Sedari Gendhis lahir, Nawang sudah langsung membencinya. Dia selalu merasa Gendhis merebut segala kebahagian yang Nawang punya.

Apalagi setelah tumbuh dewasa, Gendhis mempunyai paras rupawan dan hati yang lembut.Semakin mengakar kebencian tak beralasan itu.

Padahal Nawang juga mempunyai wajah yang cantik. Nawang dan Gendhis mempunyai pesona kecantikan yang berbeda.

Namun aura dari hatinya yang selalu memancarkan kebencian membuat kecantikan fisiknya tak terlihat.

Penyakit hatinya telah mengakar dan bercokok begitu kuat di dadanya. Hingga apapun yang Gendhis punya serasa wajib dimilikinya, dirampas sekalipun dia tidak peduli.

Melihat Gendhis bahagia sangat menyakitkan bagi Nawang.

Nawang selalu merasa Gendhis ingin mengunggulinya dalam segala hal tanpa dia sadari dirinyalah yang selalu ingin mengalahkan Gendhis bagaimanapun caranya.

***

“Mau ke sungai Wang?”

Nawang yang bersiap ke sungai menoleh kaget melihat Panji memanggilnya.

“Ke sungai kan, yuk bareng aku juga mau mandi, Bagas sama Danu udah duluan soalnya.” kata Panji seraya berjalan disamping Nawang.

Bukan main senangnya Nawang mendengar ajakan Panji. Sampai menjawab pun tak mampu.

“Oh iya Wang, kamu suka warna maroon ya?” tanya Panji hati-hati.

Saat itu matanya tak sengaja menangkap ada kebaya warna maroon di keranjang baju Nawang.

“Oh iya suka banget mas Panji” kata Nawang agak sedikit kaget.

“Matur nuwun loh mas, sudah beliin Nawang baju, Nawang suka.” kata Nawang segera.

Mengetahui arah pembicaraan akan kemana Nawang tampak cekatan menata alur pembicaraan agar tak menimbulkan kecurigaan.

“Oh iya sama-sama Wang hehehe” panji menjawab sambil garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Harusnya langsung dikasih ke Nawang saja mas, ndak usah lewat Gendhis”
“Hehehe iya” Panji makin bingung.

Sejak kapan dia memberikan kebaya maroon itu untuk Nawang. Tak ada sepatah katapun yang menyebut nama Nawang saat memberikan bungkusan itu.

Apa jangan-jangan Gendhis ndak suka trus dikasih ke Nawang? pikir Panji bingung.

Aaah masa Gendhis gitu sih ndak mungkin,batin Panji berdebat sendiri.

Melihat Panji seolah bingung Nawang segera mencari topik pembicaraan lain.

“Eh… Mas Panji itu asalnya darimana to?” tanya Nawang manja.
“Dari Semarang Wang, sudah pernah ke Semarang belum kamu?”
“Belum mas, mbok nanti kalo mas Panji pulang Nawang diajak” kata Nawang lenjeh.
“Boleh Wang ayok” kata Panji. Nanti ya pas nganterin Gendhis boyongan ke rumah aku, lanjut Panji dalam hati.

Mendapat respon hangat dari Panji membuat Nawang melayang. Dia sangat yakin Panji menyukainya.

Dia semakin yakin karna ternyata dugaannya benar kebaya itu untuknya.

Ndak sia-sia kan aku ambil dari kamar Gendhis, toh gendhise juga diam aja ndak nyariin,batin Nawang merasa benar.

Sesampainya di sungai Panji tidak langsung bergabung dengan teman-temannya namun menyusuri pinggir sungai agak jauh dari tempat orang2 mandi.

Membuka sebuah bungkusan terpal lusuh. Dilihatnya beberapa kebaya basah yang berhasil dia ambil saat kebaya itu hanyut di dekat tempat dia mandi.

Awalnya dia pikir baju itu tak sengaja hanyut, namun waktu mau mengembalikan ke hulu tempat orang-orang biasanya mencuci dia melihat ada lagi baju hanyut.

Sampai ada 6 baju yang dia temukan, penasaran dia mencari tahu ke hulu siapakah yang kehilangan baju sebanyak itu?

Panji kaget kala melihat Nawang dengan sengaja membuat baju itu hanyut. Namun saat itu dia masih berpikir mungkin itu bajunya yang sudah rusak.

Dia urungkan niatnya mengembalikan baju basah itu namun dia simpan di bawah terpal di pinggir sungai. Agar tidak menjadi sampah di sungai.

Namun perkataaan Ajeng kala itu soal baju Gendhis dan penampilan Gendhis belakangan ini tergambar lagi.

Sekarang Panji baru sadar jika baju yang selama ini ditemukan hanyut itu baju Gendhis. Dan sengaja dihanyutkan oleh Nawang!!

Jika diperhatikan dengan seksama itu memang baju yang sering dikenakan oleh Gendhis.

Perasaan iba langsung menyergap dada Panji. Bagaimana mungkin Gendhis bisa diam saja diperlakukan seperti itu oleh kakak kandungnya sendiri.

Setega itu Nawang. Dia melakukan hal licik dan kotor itu untuk menarik perhatiannya? Bukankah dia sudah punya pacar?

Dia pikir dengan mmbuang baju Gendhis akan membuat penampilan Gendhis buruk dan merubah perasaannya?

Cintanya tidak serendah itu, ada hal yang panji temukan dalam diri Gendhis yang tak bisa dilihat dari pandangan mata. Itu luput dari perhatian Nawang.

***

“Bungkusan dari mas Panji hilang,kemarin Ajeng bantuin Gendhis nyariin ndak ada”
“Gendhis nangis” lanjut Ajeng.

Jawaban Ajeng sebenarnya sudah diprediksi Panji dari awal tapi dia hanya berusaha meyakinkan.Makanya sengaja sore itu dia menemui Ajeng.

Semakin bulat tekadnya untuk membawa pergi Gendhis dari cengkraman Nawang.

Di kejauhan terlihat sosok Gendhis sedang menampi beras. Rambutnya digelung asal sehingga banyak rambut yang lepas dan tergerai.

Kali ini panji susah payah mengendalikan rasa dihatinya. Gadis manis berhati mulia itu harus menjadi istrinya.

***

Siang ini Panji dan bagas berangkat ke kota. Mereka harus menyerahkan beberapa laporan ke universitas tempat mereka menimba ilmu.

Pada masa itu, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bersekolah. Selain biaya yang cenderung besar sebagian besar masyarakat belum paham betul arti pendidikan.

Seperti di desa tempat Panji KKN, satu-satunya orang yang bersekolah hingga tingkat SMA hanya Abimana.

Anak- anak lain bahkan banyak yang tidak mengenyam pendidikan dasar. Hanya beberapa anak termasuk anak pak lurah saja yang bersekolah, itupun hanya sampai lulus SD.

Pada masa itu anak perempuan belum lepas dari diskriminasi budaya dimana urusan wanita hanya dapur sumur dan kasur.

Jika ada yang bersekolah sampai tingkat SMA atau bahkan lebih pasti itu laki-laki. Itupun dapat dipastikan adalah anak seorang priyayi atau minimal anak orang yang sangat kaya.

Selesai keperluan mereka di kota, Panji dan Bagas segera kembali ke desa. Jika mereka belum sampai desa lewat waktu mahrib bisa dipastikan mereka tidak ada berani ke desa.

Selain medannya yang cukup sulit, desa yang ada juga saling berjauhan. Kiri kanan jalan hanya hutan dan kebun-kebun kayu yang rimbun.

Memang tidak ada perampok atau semacamnya karena suasana desa memang sangat ayem tentram, namun daerah situ terkenal dengan aroma mistik dan gaib.

Itu makanya ketika warga bepergian ke luar desa dan pulang terlalu sore, mereka lebih memilih menginap di kecamatan daripada harus melanjutkan pulang ke desa.

Sesampainya di desa, Panji turun di depan rumah Ajeng sedangkan Bagas langsung menuju rumah pak lurah.

Ajeng yang sedang menyapu halaman berhenti, tersenyum melihat Panji datang.

Panji memberi kode agar Ajeng mendekat kepadanya dengan ragu-ragu Ajeng mendekat lalu Panji berbicara pelan.

“Jeng… Panji minta bantuanmu ya” bisiknya lirih.
“Nggeh mas, nopo mas Panji?” balasnya berbisik pula
“Ini bungkusan tolong kamu taruh di kamar Gendhis, tapi narohnya jangan di tempat yang mudah dilihat biar Gendhis ndak tahu” jelas Panji panjang lebar.

Ajeng bukanya mendengarkan instruksi Panji malah asik memandangi wajah Panji yang begitu dekat dengannya saat berbisik tersebut.

Jika Ajeng menoleh sedikit saja pasti bibirnya akan otomatis mencium pipi Panji yang mulus dengan sedikit bulu jambang itu.

Membayangkan itu membuat bulu kuduk Ajeng meremang dan mata Ajeng terpejam menikmati hayalannya.

Merasa pertanyaannya tidak direspon panji mengangkat kepalanya yang semula menunduk mendekati telinga Ajeng.

Terlihat Ajeng sedang senyum tipis malu -malu seraya merem-merem g jelas. Dia tidak sadar panji sedang memandangi kelakuan ajaibnya itu.

“Ehem…. “ Panji berdehem menghentikan kekonyolan Ajeng.

Kaget dan malu membuat muka Ajeng merah padam. Reflek dia hendak berlari ke rumahnya karena saking malunya.

Dengan sigap Panji menarik tangannya, namun karena tubuh Ajeng agak gempal maka keseimbangannya kurang lalu oleng.

Bruuuk!!!!!

Tubuh Ajeng terguling ke samping. Lengkap sudah penderitaan Ajeng, tertangkap basah berkelakuan aneh dan sekarang jatuh terguling di hadapan mahasiswa terganteng.

“Aduh…. Mamak” pekiknya

Panji yang kaget segera membantu Ajeng berdiri walaupun dia juga sedang menahan tawa melihat ulah gadis itu.

“Ada yang sakit, kesleo atau apa ndak Jeng?”

Ajeng hanya meringis, sepertinya sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan malu yang sedang dirasa.

“Gini Jeng, ini plastik kamu taruh di kamar gendhis yah, lemparkan saja ke kolong tempat tidur nya dan jangan sampai Gendhis lihat, mudeng ndak?”

Ajeng mengangguk tanda mengerti. Diterimanya bungkusan berwarna biru persis dengan bungkusan kala itu namun agak lebih besar.

“Dan ini, buat Ajeng yang cantik dan baik” kata Panji sambil menyerahkan sebuah bungkusan kecil kemudian berlalu ke arah rumah Gendhis.

Dipuji cantik membuat Ajeng melongo beberapa saat dan mendadak sangat ingin ke kamarnya melihat pantulan wajahnya dicermin kecil bekas tempat bedak merk fanbo milik Nawang.

***

Senja mulai memamerkan kemolekannya sore itu. Sosok Abimana yang tampan dan mapan terlihat memasuki halaman pendopo.

Pemuda berusia 23 tahun tersebut terlihat luwes menyapa para pemuda KKN. Pembawannya yang ramah membuat Abimana mudah disukai.

Dari balik jendela Nawang memandangi Abimana. Pemuda yang posisinya mulai tersingkir di sukmanya.

Nawang mencoba meraba lagi perasaan itu, benarkah dia sudah melupakan Abimana?

Nawang menghela nafas panjang, seakan ada beban yang menunggangi hatinya. Hatinya melunak melihat senyum Abimana.

Tiba-tiba Panji memasuki pendopo. Tersenyum manis dan menyalami Abimna. Hati Nawang yang semula melunak seketika membatu kembali.

“Biar bagaimanapun Panji harus menjadi milikku” gumamnya lirih seraya meninggalkan kamar itu.

***

“Cah Ayu! ki lo Bima pamitan.” Pak Harjo memanggil Nawang di kamarnya.

Abimana baru 2 hari di desa namun sore ini sudah mau bertolak ke kota lagi.

“Nggeh pak!” Sahut Nawang tak bersemangat.

Semenjak ada pemuda KKN sikap Nawang seperti acuh tak acuh kepada Abimana.

Dia bahkan tidak merengek agar Abimana lebih lama lagi di desa seperti biasanya.

Dipandanginya punggung bidang pemuda tampan itu hingga hilang dari pandangan matanya.

Tidak ada kepedihan dimatanya.

Seuntai senyum tanpa makna tertangkap mata Gendhis. Kenapa justru dia yang merasa sakit.

***

“Jeng sini!” bisik Gendhis seraya memberi kode untuk masuk ke kamarnya.
“Bungkusan dari mas Panji ketemu di kolong dipan” bisik Gendhis dengan mata berbinar.

Ajeng jejingkrakan mendengarnya, dalam hatinya bangga bukan main hasil kerjanya berhasil.

“Ya ampun Ajeng, ini bagus banget” pekik Gendhis tertahan.

Di tatapnya sebuah kebaya lengkap dengan jarik dan tusuk konde bermata intan.

Ajeng ikut melongo melihatnya, baru kali ini dia melihat perhiasan intan dari jarak dekat.

“Walah ndis, kalo aku rabi sok bakalan dikasih yang bagus begini ndak ya? Iki apik banget.”

Gendhis tak menjawab, dia masih tidak percaya Panji memberikan benda sebagus ini kepadanya.

Sepanjang malam didekapnya pemberian Panji erat-erat. Seakan takut jika itu tidak nyata dan jika tidak dipegang erat nanti akan menghilang.

Pikirannya melayang saat makan malam tadi, dirinya nyaris tak bisa menelan makanan karena panji terus saja memandangnya.

Pandangan teduh yang sarat akan kasih sayang, padangan yang selalu sukses membuat tubuhnya lunglai serasa tak bersendi.

Dan senyum itu, senyum termanis yang pernah dilihatnya..senyum yang sanggup meluluh lantakkan hatinya.

Ketukan lembut jendela kamar membuat Gendhis terjaga dari dunia hayalnya.

Pelan pelan jendela dibuka dan segera sosok pemilik hatinya tersenyum manis.

Baru membayangkan saja sudah membuatku lemas sekarang dia ada didepanku” bisik hati Gendhis syahdu.

Panji menyandarkan punggungnya yang bidang ke dinding kamar Gendhis lalu menduduknya diri ke lantai.

Gendhis melakukan hal yang sama di dalam kamar. Celah kecil di dinding kayu itu cukup membuatnya mendengar nafas panji.

Bahkan bunyi nafasnya pun mampu membuat jantung Gendhis berdetak tak beraturan.

Segera dia mendekap kuat dadanya kawatir keheningan malam membuat Panji mendengar degupnya yang tak menentu itu.

“Aku ndak bisa tidur ndis, ndak papa kan aku duduk disini”
“Ndak papa mas Panji, Gendhis juga belum ngantuk.”
“Kepalaku penuh sama wajah dan senyum kamu Ndis makanya aku kesini.” bisik Panji lirih.

Jawaban Panji membuat Gendhis tercekat.

Suatu kali pernah didengarnya suatu ungkapan “jika kita merindukan seseorang begitu kuat,sesungguhnya orang tersebut juga sedang mengingat kita”.

Kini Gendhis percaya ungkapan itu benar.Dirinya pun tak bisa memejamkan mata sedari tadi di hantui wajah dan senyum Panji.

“Kamu mau ndak nemenin aku ngobrol gini tiap hari sampai aku tua?”
“Pertama kali melihatmu, aku tahu kamu akan menjadi bagian dari jiwaku, dan perasaanku tak pernah salah, aku jatuh Cinta kepadamu sejak pertama melihat senyummu”

“Aku pengen selalu melihat senyum manis itu, menjaganya agar selalu ada,tak akan kubiarkan siapapun menghentikan senyum itu, siapapun ndis”
“Aku janji saat lulus nanti akan langsung bekerja dan menikahimu, membawa kamu jauh dari orang-orang yang menyakitimu, aku janji Ndis”

Gendhis tak kuasa menjawab mereka sama- sama terdiam di keheningan malam.Salah satu malam terindah yang pernah Gendhis lalui.

Berharap semesta menyatukan hati dan rasa yang mulai mengakar ini.

***

Pagi ini mahasiswa KKN sangat sibuk. Masa KKN mereka di desa ini sebentar lagi usai.

Beberapa program mereka sudah terasa dan mulai bisa dinikmati hasilnya oleh warga desa.

Program terakhir yang akan digarap mereka adalah mempercantik balai desa.

Mereka mulai mengecat seluruh penjuru balai desa dari pagi sampai menjelang magrib.

Warga silih berganti mengantar makanan dan camilan untuk pemuda yang sedang bekerja bakti tersebut.

Setelah selesai sholat magrib tiba-tiba Panji mendadak demam. Badannya sangat panas dan mulai meracau tidak jelas.

Teman-temannya dan warga yang melihat sangat kaget karena tadinya Panji tampak baik-baik saja.

Salah seorang warga mencoba mencari pertolongan ke desa. Pak Lurah segera mengutus beberapa warga menjemput pak mantri di desa tetangga sementara Panji ditandu ke rumah pak lurah.

Semua tampak panik karena Panji mulai tak sadarkan diri. Gendhis sangat kawatir dan rasa takut mulai menjalari hatinya.

Khawatir akan kesehatan dan keselamatan Panji serta ketakutan akan hal yang dulu pernah terjadi padanya terulang lagi.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…