Gendhis Ayu – #Part_05/18

Panji segera menyadari perubahan mimik Gendhis begitu dilihatnya muka Nawang menegang di pinggir pendopo. Disikutnya Bagas dan Galih yang saat itu juga bareng dengan mereka. Berdua langsung paham kode Panji.

Panji segera menyadari perubahan mimik Gendhis begitu dilihatnya muka Nawang menegang di pinggir pendopo.

“Waah…. Nawang sudah pulang ya” kata Panji mencoba bersikap biasa.

Disikutnya Bagas dan Galih yang saat itu juga bareng dengan mereka. Berdua langsung paham kode Panji.

“Loh kayaknya sebentar ke kota kok makin cantik ya Nawang ini” puji Galih.

“Waah bener banget Lih,, lebih kelihatan fresh gitu… dan ini aduuuuh giwangnya baru kayaknya ya Nawang” Bagas melancarkan pujiannya.

Muka Nawang yang semula nyaris meledak berlahan melunak ,sudut bibirnya tertarik tipis.

Mendadak lupa akan amarahnya dia segera membalikkan badan lalu berlahan jalan masuk ke pendopo, senyum tipis tersungging dibibirnya.

Bagas dan Galih yang berjalan di belakangnya masih tetap melancarkan segala ilmu kegombalan mereka ke Nawang.

Sedikit lega Gendhis menarik nafas panjang lalu beranjak masuk rumah. Tiba-tiba Panji menarik lembut tangan Gendhis. Menggenggam erat jemarinya dan kemudian tersenyum penuh arti.

Hati Gendhis meleleh diperlakukan demikian, sendinya mendadak lemas dan wajahnya bersemu merah.

Gendhis Segera melepaskan tangannya namun panji menggodanya dengan semakin mempererat gengamannya membuat Gendhis semakin salah tingkah.

Akhirnya dia berhasil masuk rumah, buru-buru menuju kamarnya lalu mendekap erat dadanya. Seolah khawatir hatinya akan meloncat keluar jika tak didekapnya.

Perasaannya hangat, genggaman tangan Panji masih terasa di jemarinya dan senyum manis itu… aah sungguh memabukkan, Gendhis tersenyum.

Gendhis tak sadar mata Nawang sedang memperhatikan tingkahnya. Bongkahan kebencian itu kian membatu di hati Nawang.

***

“Mas Panji mau kemana to?”

Ajeng bertanya keheranan melihat Panji bersiap hendak naik motor Pak Lurah.

Berhenti sejenak Panji menoleh lalu tersenyum.

“Ke kota Jeng, mau ikut? Ayo mbonceng?” kata panji menggoda gadis pemalu itu.
“Ahh.. Ndak mas” jawab Ajeng tersipu seraya beranjak pergi.
“Jeng… Jeng sini dulu to, Panji mau tanya sini!” kata Panji menahan Ajeng
“Nopo mas?”
“Besok kamu sama Gendhis jadi panitia di balai desa to?”
“Aduh mas, ndak tau Ajeng”
“Kok ndak tahu, kemarin semangat katanya mau”
“Iya tapi kalo Gendhis ndak ikut Ajeng malu”
“Kan kalian berdua ikut, sama Nawang sama Lastri juga kan?”
“Gendhis ndak mas Panji”
“Loh, kenapa Gendhis ndak ikut?”
“Gendhis bingung katanya ndak ada baju yang bagus, mau pinjam punya ku kedodoran semua” jelas Ajeng.
“Bajunya abis dibuang mbak Nawang” gumam Ajeng polos.

Merasa keceplosan dia segera menutup mulutnya. Berharap Panji tidak menyimak kata terakhirnya.

Belum sempat Panji menanyakan lebih lanjut, gadis bertubuh subur itu sudah melesat ke arah pendopo.

Dalam hati Panji pun menyadari sesuatu. Awal mula dirinya datang ke desa ini penampilan Gendhis benar- benar memukau.

Baju dan jariknya selalu maching. Walaupun wajahnya nyaris tanpa polesan namun justru itu membuat kecantikannya sangat alami.

Tapi akhir-akhir ini dia lebih sering memakai baju yang lusuh. Jarik juga seadanya. Walaupun itu tak mengurangi pesonanya namun Panji sadar dengan perubahannya.

Bahkan waktu habis mandi di sungai, Panji sampai meminjamkan jaket miliknya karena baju Gendhis sobek kainnya telah rapuh.

Berbagai macam hal berkecamuk di kepala Panji kala motor membawanya jauh meninggalkan desa.

***

“Wang…. Cah Ayu” bu Harjo memanggil Putri sulungnya.
“Nggih bune” jawab Nawang dari dalam kamar.
“Tulung nduk panggil Bapakmu di balai desa sudah mau mahrib lo”
“Hiii… Ndak mau lah bune Nawang takut” Nawang bergidik.

Teringat kembali hal memalukan yang terjadi tempo hari saat disuruh memanggil bapaknya.

“La kenapa to, takut opo?”
“Kae lo Gendhis sama Ajeng, biar mereka aja yang panggil” tunjuk Nawang ke jalan.

Terlihat Gendhis sedang mengelus-elus kucing sambil bercanda dengan ajeng di pinggir pendopo.

Bu Harjo menghampiri mereka. Tak berapa lama Gendhis dan Ajeng berjalan ke arah balai desa.

***

Gendhis tersenyum melihat tingkah sahabatnya. Cara jalan Ajeng terlihat berbeda, lebih hati-hati.

Beberapa kali Ajeng terlihat melirik kakinya sendiri. Rupanya dia memakai selop baru dari Nawang.

“Apik yo Jeng!” goda Gendhis kala melihat Ajeng sedang tersenyum melihat kakinya.
“Iyo.. eh… opo Ndis?” kata Ajeng gelagapan tidak menyangka kelakuannya terlihat oleh Gendhis.

Gendhis tergelak melihat tingkah Ajeng.

“Sendalku apik yo ndis, dikasih sama mbak Nawang lo.”
“Seumur umur baru kali ini aku pakai selop baru,ndak papa agak kekecilan.” katanya riang.

Tak jemu matanya memandang selop itu. Memang baru kali ini juga Gendhis melihat kaki Ajeng berbalut selop yang warna dan bentuknya masih mulus.

“Biasanya aku cuma pakai lungsuran mbak Arum, kalo ndak ya dibeliin mamak di kota tapi ndak baru gini Ndis, jiaaan apik yo selopku”

Gendhis hanya tersenyum melihat sahabatnya. Nawang bahkan tidak pernah membawakan buah tangan untuknya saat ke kota.

Selop warna merah bata itu sebenarnya juga permintaan Gendhis kepada Bapaknya kala mau ke kota kemarin.

Entah bagaimana ceritanya justru Ajeng yang sekarang memakainya.

Gendhis tak berniat menanyakan itu kepada Nawang karena dari pulang sampai sekarang Nawang bahkan tak pernah menegurnya.

Gendhis melirik selopnya yang sudah mulai lusuh nyaris putus. Tapi melihat begitu riangnya Ajeng bisa memakai selop itu membuatnya ikut senang.

Sesampainya di balai desa suasana masih ramai. Besok mau ada pementasan wayang kulit. Pertunjukan serupa memang biasanya dilakukan di desa saat usai musim panen.

Seperti sukuran dan perayaan musim panen bagi warga desa. Acara seperti ini sangat dinanti- nanti karena biasanya akan sangat ramai.

Bukan hanya warga desa setempat namun warga desa lain juga berdatangan untuk meramaikan.

Ini adalah satu- satunya hiburan di desa nan asri dan jauh dari hiruk pikuknya kota itu.

Panji sumringah melihat kehadiran Gendhis, lalu buru- buru ke belakang mengambil sesuatu saat melihat Gendhis hendak pulang setelah menemui pak Lurah.

“Ndis.. diterima yah!” kata Panji sambil tersenyum manis.
“Opo iki mas?”
“Sudah diterima saja, nanti dibuka dirumah” kata panji seraya masuk kembali ke balai desa.
“Opo ya ndis?” kata Ajeng saat arah jalan pulang.
“Ndak tau, ntar aja dirumah kita buka.” kata Gendhis sambil memeluk bungkusan plastik warna biru itu.

Sesampainya dirumah Nawang heran melihat Gendhis membawa bungkusan biru. Dia penasaran namun enggan bertanya karena masih ngambek sama adiknya.

Bungkusan itu di simpan Gendhis di kamarnya, lalu dia ke dapur membantu ibunya memasak.

Agak tergesa Nawang menuju rumah Ajeng yang letaknya tak seberapa jauh dari rumahnya itu.

Terlihat Ajeng sedang mengangkat jemuran agak heran melihat Nawang tergesa gesa ke arahnya.

“Duuh jangan- jangan mbak Nawang mau ambil selopku lagi.” keluhnya risau.
“Jeng sini kamu”
“O…. opo mbak Nawang?”
“Sini to, cepet!”

Ajeng melepas selop barunya lalu berlari keluar pagar menemui Nawang.

“Tadi ke balai desa ketemu siapa aja Jeng?” kata Nawang mengintrogasi.
“Orang banyak no mbak Nawang wong balai desa rame banget tadi” kata Ajeng polos.
“Maksudku yang ngobrol sama kamu siapa aja?”
“Ndak ada, aku diem aja og”
“Haduh gusti… Ngomong sama kamu itu kok emosi loh hawane” kata Nawang gemas.
“Lo… Tenan mbak Nawang, aku cuma nganter Gendhis yang ngomong ya Gendhis aku ndak”
“Ya ampun Ajeng pengen tak untal tenan” Nawang mulai gregetan menghadapi teman adiknya yang gempal ini.
“Yowes,, iku plastik biru yang dibawa Gendhis opo dan dari siapa?”
“Ya jelas dari mas Panji.” jawab Ajeng seraya tersenyum.

Jawaban Ajeng membuat Nawang kesal terlebih Ajeng ngomongnya sambil tersenyum seakan meledek Nawang.

“Opo isine Jeng?” tanya Nawang kesal.
“Ndak tau mbak, ndak di buka neng Gendhis.”
“Yowes,, awas ya kamu kalo ngeselin aku lagi tak minta lagi selopmu.” ancam Nawang sambil berlalu.
“Woooh ojo no mbak Nawang!” muka Ajeng berubah jadi takut.

Sesampainya di rumah,Nawang melihat Gendhis masih sibuk di dapur bersama ibunya.

Diam-diam dia menyelinap ke kamar Gendhis, mencari bungkusan yang tadi dibawa Gendhis. Mengambilnya dan menyimpan dikamarnya sendiri.

***

“Kamu ndak siap-siap cah ayu” Bu Harjo heran melihat Gendhis masih belum rapi.
“Boleh ndak bune kalo Ndis ndak usah ikut ke balai desa?”
“La piye, kamu sakit nduk?”
“Iya bune” jawab Gendhis terpaksa berbohong.

Namun bu Harjo tidak serta merta percaya dengan dengan putrinya itu.

“Oh iyo nduk, coba ke kamar bune, ambilin itu jaket bapak dilemari ya cah ayu” kata bu Harjo

Ketika Gendhis keluar dari kamarnya, bu Harjo dengan gesit memeriksa lemari baju Gendhis.

Dugaannya benar, Gendhis tidak mau ikut bukan karna sakit tapi di lemarinya tak Ada satu pun baju yang “layak” untuk dipakai di acara malam ini.

Dadanya sesak mengetahui hal ini. Nalurinya benar.

Segera di tutupnya lemari baju putrinya itu dan mencoba mengontrol hatinya agar terlihat biasa di depan Gendhis.

Di susulnya Gendhis di kamar depan, dia yakin gadis itu tak mungkin menemukan jaket bapaknya.

Bu harjo cuma mencari alasan, dia tahu pasti jaket itu sudah dipakai suaminya saat berangkat tadi.

Saat keluar dari kamarnya pas sekali Ajeng datang. Gadis bertubuh subur itu tampak cantik dengan kebaya berwarna coklat.

“Waah…. Pangling aku Jeng, eeeh bukan Ajeng koyone iki ayu banget” goda Bu Harjo yang berhasil membuat Ajeng tersipu malu.
“Bu Lurah.. Jangan gitu lah, Ajeng isin hihihihi”

Melihat penampilan Ajeng membuat bu Harjo teringat sesuatu. Segera dia menyuruh Ajeng ke dapur mengambil air jahe anget lalu dibawa masuk ke kamarnya.

Didapatinya Gendhis tengah bingung mencari cari jaket bapaknya. Seluruh kamar di jelajahi tetap tak Ada.

“Bune, jaket bapak ndak ada”
“Wes rapopo, sekarang kamu sini bune dandani”
“Gendhis ndak ikut bune, Gendhis..”
“Wes to, kamu minum ini trus kita siap- siap ya!” bu Harjo memotong kata- kata Gendhis seraya memberikan jahe anget dari Ajeng.

Dengan bingung Gendhis menuruti keinginan ibunya. Lalu dengan pasrah membiarkan rambut panjangnya digelung.

Pipinya dipoles bedak dan di sapunya bibir Gendhis dengan gincu.

Tak lama bu Harjo mengeluarkan sebuah kebaya berwarna merah jambu yang sangat cantik dan terlihat klasik.

“Ini,, dulu baju dikasih mbah putri, bune pakai ini saat acara wayangan gini nduk, dan bapakmu wus… wus.. langsung nglamar bune” mata Bu Harjo berbinar.

Ajeng dan Gendhis takjub dengan keindahan kebaya dan cerita tentang kebaya tersebut.

“Ndak papa to bune kalo Ndis yang pakai ini” tanya Gendhis ragu.
“Ndak lah nduk, malah bune berdoa, semoga kebaya ini bisa membuat kamu ketemu jodohmu cah ayu”

Dipakainya kebaya itu, pas sekali dengan postur tubuh Gendhis, mungkin saat Bu Harjo muda dulu badannya juga sekecil Gendhis.

Saat berbalik badan, Bu Harjo dan Ajeng melongo melihat Gendhis.

“Tadi dirumah aku ngerasa cantik banget lo ndis.”
“Nyampe sini juga masih merasa cantik pas Bu Lurah muji aku.”
“Halah…… Saiki liat kamu og… rasanya jadi dayang kamu aja ga pantes lo.” ujar Ajeng memuji setengah meratapi nasibnya.
“Huss…. Ndak boleh gitu to Jeng” kata Gendhis.
“Tapi tenan lo cah ayu, kamu itu cantik biaaaaaanget lo, kalo bune jadi pria, malam ini juga tak lamar kamu” puji Bu harjo.

Gendhis semakin tersipu.

***

Acara sudah dimulai namun mata Panji masih mencari sosok pemilik hatinya. Dari jauh dilihatnya tiga orang gadis berjalan beriringan.

Salah satu gadis memakai kebaya berwarna maroon yang sangat cantik. Panji tersenyum menyambutnya.

Namun senyumnya seketika hilang berganti bingung saat tahu itu Nawang.
Malam itu Nawang datang bersama Lastri dan Arum kakak Ajeng.

Nawang tampak malu- malu melihat Panji. Dia sangat yakin panji terpesona dengan penampilannya malam itu.

Apalagi hampir semua mata para pemuda desa melirik kepadanya. Semakin yakin dia bahwa panji akan sangat mengagumi penampilannya.

“Nawang, wah cantik banget kamu” kata Panji basa- basi.
“Masa mas panji nembe sadar aku cantik sih” goda Nawang genit.
“Engga laah,, dari pertama kali lihat juga udah tahu kamu cantik Wang”

Aduuuuh di puji begitu membuat Nawang seneng g ketulungan.

“Ngomong-ngomong ndak bareng Gendhis nih?” tanya Panji kemudian yang sukses membuat Nawang yang masih melambung terbanting seketika.
“Ndis bareng bune sama Ajeng mas.” kata Nawang sewot seraya ngeloyor begitu saja dari hadapan Panji.

Panji menunggu beberapa saat,namun Gendhis tak juga terlihat. Akhirnya dia bergabung dengan teman- temannya di belakang panggung.

Saat dia kembali ke kursi pengunjung Panji tertegun dengan sosok yang duduk didepan samping bu Lurah.

Kalau saja yang duduk di sampingnya bukan bu Lurah dan Ajeng pasti dia tidak akan mengira itu Gendhis.

Sempurna. Hanya itu yang bisa menggambarkan sosok Gendhis malam itu.

Walaupun ada sedikit kecewa di hatinya namun Panji tidak bisa memungkiri penampilan Gendhis malam itu begitu jawa dan klasik.

Hatinya berdegup tak beraturan hanya dengan memandang wajah manisnya. Malam itu Nawang boleh mencuri perhatian semua pria namun pesona Gendhis tak ada duanya bagi Panji.

Gendhis yang melihat Panji begitu lekat menatapnya menjadi salah tingkah. Duduknya tidak tenang tak berani menatap balik mata teduh itu.

Panji terlihat berbincang serius dengan Pak Harjo. Mimik mukanya terlihat pakem dan sesekali beliau terlihat manggut manggut.

Tak lama panji mengambil tempat duduk di belakang Gendhis. Melihatnya lebih dekat membuat Panji kian terlena oleh kecantikan gadis manis itu.

Nawang yang berada di tempat yang sama melihat pemandangan itu dengan hati bergemuruh.

Selama apapun dia berdandan dan seindah apapun yang dipakainya akan tetap tak terlihat saat ada gendhis disana.

“Maaf ndis.. Waktumu sudah habis” bisik hati Nawang dingin.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…