Gendhis Ayu – #Part_04/18

Ajeng blingsatan lari di pinggir sungai mengejarnya. Sayang arus sungai lebih gesit membawa kebaya bermotif bunga itu ketengah lalu membawanya lebih jauh lagi. Muka Ajeng terlihat menyesal dan lesu tak dapat meraih baju itu. Masih di tatapnya laju arus yang mengajak serta kain berwarna ungu tersebut.

“Eeeh…. Itu itu mbak Nawang.”

Ajeng jejeritan dari seberang sungai. Dia melihat sebuah baju hanyut.

“Yah… Piye iku” seru Nawang panik. Sambil tangannya berusaha meraih namun sudah tak terjangkau lagi.

Ajeng blingsatan lari di pinggir sungai mengejarnya. Sayang arus sungai lebih gesit membawa kebaya bermotif bunga itu ketengah lalu membawanya lebih jauh lagi.

Muka Ajeng terlihat menyesal dan lesu tak dapat meraih baju itu. Masih di tatapnya laju arus yang mengajak serta kain berwarna ungu tersebut.

Menghela nafas panjang dan sekali lagi memandang lesu baju kebaya favorit sahabatnya digerus arus sungai.

Sebuah senyum kecil luput dari pandangan Ajeng.

***

Pagi ini Pak Harjo dan Nawang akan pergi ke kota. Ada sodara di kota sana yang hajat.

Niatnya mereka akan berada di kota selama 4 hari. Bu Harjo tidak ikut karena tidak ada yang mengatur makanan pemuda KKN.

Makanya Nawang yang menemani Pak Harjo ke kota. Sebenarnya dia agak keberatan menemani bapaknya kali ini tapi dia tidak punya pilihan lain.

Gendhis masih belum pulih benar kakinya.Tidak mungkin pula membiarkan bapaknya pergi sendiri ke kota.

Sepanjang perjalanan pikiran Nawang gelisah. Pergi begitu lama meninggalkan desa, bagaimana kalo nanti Panji dan Gendhis semakin dekat.

“Aduh judeg aku kalo gini” keluh Nawang lirih.

Pak Harjo yang mendengar gumam Nawang melirik sekilas ke arahnya lalu kembali menyetir mobil tuanya.

Pak Harjo sedikit heran dengan sikap Nawang akhir- akhir ini. Dimulai dengan sikap acuh tak acuhnya ketika ada Abimana sampai reaksinya pagi ini saat tahu akan diajak ke kota.

Biasanya Nawang bahkan selalu merengek ingin ikut saat dirinya maupun istrinya ke kota.

Nawang akan membeli segala sesuatu yang menarik dan cantik untuk dirinya.

Namun kali ini bahkan ada keengganan yang menggelayuti matanya saat mobil mulai berjalan menjauhi desa.

Terdengar beberapa kali dia mengeluh dan tampak mencemaskan sesuatu.

“Ada apa to cah Ayu?”
“Hah… nopo pak” jawab Nawang kaget.
“Tak sawang- sawang kok raimu ora legowo nderek bapak nyang kota cah ayu?”
“Mboten og pak, Nawang mung… “ Nawang terhenti.
“Mung opo cah Ayu?” tanya pak Harjo lembut.
“Mboten nopo- nopo pak hehehehe” Nawang mencoba mengalihkan.
“Oh iyo, kemarin nak Bima tanya sama bapak, boleh ndak kalau keluarga nak Bima sowan kerumah” tutur pak Harjo lembut.
“Ngerti kan maksud Bapak”
“Enggih pak” jawab Nawang lirih.
“Kok ngono sih cah Ayu, seneng po piye ki artinya?” tanya pak Harjo lagi
“Pripun bapak mawon, Nawang manut” jawab Nawang lesu.

Pak Harjo bingung dengan reaksi putrinya. Tiga bulan yang lalu Nawang setengah merengek meminta bapaknya bertanya keseriusan Abimana dengan dirinya.

Pak Harjo yang mengetahui hubungan mereka baru berjalan beberapa lama meminta Nawang untuk bersabar dahulu.

Namun sikap Nawang yang keras kepala tak mau berkompromi. Dia seperti ketakutan akan kehilangan Abimana.

Abimana yang baru merintis usahanya meminta waktu membicarakannya dahulu dengan keluarganya.

Dia pun cukup kaget dengan pertanyaan Pak Harjo yang menurutnya sangat buru-buru. Namun karena dirinya pun suka dengan Nawang dia berusaha mengerti dan menuruti.

Namun sekarang Nawang seperti tidak peduli lagi dengan Abimana.

Abimana juga sempat menceritakan sikap Nawang kepada pak Harjo waktu jalan sore tempo hari.

Tak banyak yang tahu jika kepulangannya kali ini sebenarnya ingin melamar Nawang.

Ingin segera meminangnya,membawa Nawang ke kota dan memulai kehidupan disana.

Sebuah cincin emas bahkan telah jauh hari di persiapkannya. Terukir nama Nawang disana.

Tapi apadaya ternyata Abimana harus menelan kecewa. Hati yang begitu dipujanya seperti air diatas daun talas.

“Jangan dianggap serius sikap Nawang cah bagus.”
“Baginya para pemuda KKN itu cuma selingan saja.”

Begitu pesan yang disampaikan Pak Lurah saat Abimana berpamitan.

Abimana hanya bisa tersenyum Getir.

***

Selama Nawang di kota, pak lurah meminta Ajeng dan Lastri menginap dirumahnya.

“Buat nemenin Gendhis dan bantuin ibu masak” kata beliau.

Tentu saja Ajeng dan Lastri begitu bungah mendengarnya. Seharian bisa melihat pemuda KKN yang diidolakannya itu.

Apalagi hampir setiap hari turun hujan membuat kegiatan pemuda KKN kebanyakan dilakukan di pendopo rumah pak Lurah.

Hampir semua kegiatan menyertakan Gendhis, Ajeng dan Lastri. Membuat mereka kian akrab dengan pemuda KKN.

Beberapa malah ikut membantu turun ke dapur saat memasak. Sepanjang hari pendopo dan rumah pak lurah di penuhi canda tawa.

Kekakuan Gendhis dan Panji juga mulai mencair. Mereka bisa tertawa lepas bersama, bercanda sambil memasak bahkan mencuci piring bersama.

Mereka tampak akrab dan serasi. Melihat mereka begitu dekat membuat teman-teman sejawatnya mulai menjodoh jodohnya mereka berdua.

Gendhis hanya bisa tersipu mendengarnya, sejenak dia melupakan rasa takutnya kepada Nawang.

Tak ada sorot mata curiga yang mengintai, tak ada nada sinis yang mengintrogasi dan tak ada rasa bersalah yang mendera.

Hidupnya terasa lebih ringan tanpa Nawang.

Gendhis sama seperti bayangan Panji, pribadi yang ceria dan cerdas serta sangat manis tentunya.

Perasaan yang timbul saat pertama kali melihat gendhis seperti berkembang pesat memenuhi dadanya.

Perasaan Gendhis tak jauh berbeda dengan Panji, jiwanya seperti hidup kembali. Semua tampak indah dan berwarna sekarang.

Pagi menjadi saat yang paling dinanti bagi keduanya.

Karena Panji akan menunggunya di samping jendela kamar. Memberikan seuntai bunga dan saling mengucapkan selamat pagi saat Gendhis membuka jendela.

Sederhana namun sangat dalam dirasa.

***

Bu Harjo memandang lekat-lekat wajah putrinya yang tengah asik menyiangi sayuran.

Wajahnya yang manis tetap mempesona dilihat. Anak rambut yang memenuhi pinggir keningnya membuat wajahnya tampak Ayu dan teduh.

Yang agak janggal diperhatikannya akhir – akhir ini dia selalu memakai pakaian lama yang mulai lusuh dan pudar warnanya.

Memang itu tidak mempengaruhi pesonanya, jika diperhatikan kecantikannya malah semakin terlihat klasik.

Namun rasanya tidak pantas saja Putri kepala desa penampilannya terlalu seadanya begitu. Apalagi sekarang mereka kan sedang ada tamu Pemuda KKN.

“Bune ndak inget kamu punya baju itu cah Ayu?”

Gendhis memandangi baju yang memang sudah mulai pudar warnanya itu.

“Baju lama bune, walaupun warnanya agak pudar tapi nyaman dipakai” jawab Gendhis sambil tersenyum.

Dalam hatinya sebenarnya bingung, tiba-tiba isi lemarinya cuma tersisa beberapa baju lamanya saja.

Pernah sekali Ajeng cerita katanya waktu sedang mencuci baju di sungai bersama Nawang, salah satu baju Gendhis hanyut.

Hilang satu tapi kok lemari bajunya kosong sekarang. Lebih anehnya lagi yang hilang hampir semua baju – baju Gendhis yang masih baru.

“Ndak Bagus ya bune” tanya Gendhis kala melihat ketidakpuasan di mata ibunya.
“Ndak.. ndak.. tetap Ayu kamu nduk, cuma alangkah lebih baik kalo sekarang ini pakai baju yang agak apik cah Ayu”.
“Sekarang ini kan kita sedang kedatangan tamu, menjamu tamu ya kalau bisa penampilan kita juga yang bagus cah ayu” jelas bu Harjo.
“Nggeh bune” jawab Gendhis sambil tersenyum.
***

Sore itu mendung, sepertinya hujan besar tengah bersiap mengguyur semesta.

Mobil tua pak Lurah pelan-pelan memasuki halaman luas berpendopo itu.

Tampak beberapa mahasiswa KKN menyongsong kedatangan Pak lurah. Membantu membawa barang bawaan dari kota yang lumayan banyak.

“Wah pak lurah malam ini kita makan besar ya” goda Danu salah satu mahasiswa kepada pak Harjo.

Pak lurah terkekeh mendengar Danu berkata demikian. Apalagi Danu tampak sempoyongan membawa salah satu karung bawaannya.

“Boleh nak Danu, bapak memang sengaja beli ini semua buat kalian” kata pak lurah sambil tersenyum.

Begitu sampai rumah, mata Nawang langsung mencari Gendhis, di kamar, di dapur sampai ke gudang belakang.

Bu Harjo keheranan melihat tingkah putri sulungnya itu.

“Cari apa to cah Ayu, belum salim sama bune udah sibuk aja.”
“Gendhis mana bune, Nawang mau ngasih oleh-oleh” katanya sambil memperlihatkan selop baru.

Tumben ini anak inget adiknya, batin Bu harjo lirih.

“Tadi pamitan mau mandi di sungai sama Ajeng” kata bu Harjo.

Baru saja Nawang hendak melangkah keluar menyusul Gendhis ke sungai, hujan turun dengan derasnya.

“Aduh kok hujan to” keluh Nawang lesu.

Nawang bukan rindu dengan Gendhis sampai mau menyusulnya ke sungai.

Bukan juga ingin buru-buru menyerahkan selop warna merah bata ditangannya.

Namun sosok Panji yang tak juga ditemuinya dirumah membuat pikirannya mengarah kalau Gendhis pasti sedang bersama panji.

Dari kejauhan terlihat Ajeng berlari menghindari hujan. Sendirian.

“Jeng… Ajeng sini” teriaknya mencoba mengalahkan bunyi hujan.

Dengan tergopoh Ajeng menghampiri Nawang.

“Opo mbak Nawang” kata Ajeng dengan nafas tersengal.

“Kok sendiri, Gendhis mana?”
“Gendhis dibelakang sama mas Panji mbak”

Srrr…. Darah Nawang langsung naik le ubun-ubun.

“Berdua doank apa ada yang lain?” tanya Nawang cemas.
“Hmmmmm sopo ae yo” Ajeng mencoba mengingat.
“Sopo wae to?!” desak Nawang tak sabar.
“Banyakan og mbak.. tadi rame”
“Yowes… ini buat kamu” kata Nawang sambil menyerahkan selop ditangannya.

Ajeng kegirangan menerima hadiah dari Nawang, dia langsung berlari ke arah rumahnya lupa kalau hujan.

Di kejauhan terlihat rombongan sedang berlari ke arah pendopo. Terlihat Gendhis dan Panji paling belakang.

Mereka kehujanan, basah namun sedang tertawa bahagia. Gendhis bahkan terlihat memakai jaket yang sama dengan para mahasiswa.

Melihat pemandangan tersebut membuat dada Nawang bergemuruh menahan amarah.

Apalagi saat Nawang tahu jaket yang dipakai Gendhis mempunyai bordir bertuliskan “Panji Bramantyo.

Dada Gendhis juga berdesir keget melihat Nawang sedang berdiri di pinggir pendopo

Nawang seperti sengaja menunggu kedatangannya. Menunggu dengan muka tak bersahabat.

Mata Nawang bahkan ber api – api dan dadanya mulai tersengal menahan amarah. Sungguh mengerikan.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…