Gendhis Ayu – #Part_03/18

Hujan deras pagi itu membuat mahasiswa KKN memberikan penyuluhan soal irigasi di pendopo rumah Pak Lurah. Target mereka KKN di desa ini adalah membuat bendungan agar pengairan di desa cukup saat menghadapi musim kemarau yang akan datang. Hampir semua warga antusias mengikuti penyuluhan itu. Para gadis malah terlihat kompak tak berkedip saat tiba waktunya Panji yang memberi materi..

Hujan deras pagi itu membuat mahasiswa KKN memberikan penyuluhan soal irigasi di pendopo rumah Pak Lurah.

Target mereka KKN di desa ini adalah membuat bendungan agar pengairan di desa cukup saat menghadapi musim kemarau yang akan datang.

Hampir semua warga antusias mengikuti penyuluhan itu. Para gadis malah terlihat kompak tak berkedip saat tiba waktunya Panji yang memberi materi.

Sikap para mahasiswa yang senang membantu warga membuat penduduk desa berebut mengundang mereka untuk sekedar singgah ke rumah mereka saat waktu makan tiba.

Bahkan ada yang terang-terangan menjodohkan anak mereka dengan mahasiswa- mahasiswa tersebut.

Semenjak ditolong Panji, Gendhis menjadi sedikit memperhatikan pemuda itu. Pemuda yang kerap kali ketahuan mencuri pandang ke arahnya.

Pemuda yang entah dari kapan masuk menjadi salah satu nama yang diucapkan Nawang saat berdoa.

Gendhis tengah asik melihat cerahnya sore dari balik jendela kamarnya. Semenjak jatuh,Gendhis memang tidak boleh keluar rumah dulu.

Dari jauh dilihatnya Panji sedang berjalan sendirian menyusuri jalan setapak.

Melihat Gendhis ada disamping jendela, Panji melempar senyum kepadanya. Namun cepat-cepat Gendhis menjauhi jendela. Hanya ekor matanya yang masih mengintip keluar.

Ingin rasanya Panji mengajak dara manis ini ngobrol.Tapi entah mengapa gadis itu selalu berusaha menghindarinya.

Dirinya sudah sering mengobrol dengan Nawang namun gaya Nawang yang lebih sering membanggakan dirinya membuat Panji malas jika Nawang mengajaknya ngobrol.

“Liat apa to Ndis… “ celetuk Nawang mengagetkan.

Tahu – tahu gadis itu sudah berdiri dibelakang Gendhis, membuatnya kaget sekaligus salah tingkah.

“Eh anu mb, itu” jawab Gendhis tergagap.

Nawang mencondongkan tubuhnya melihat keluar jendela. Di kejauhan matanya menangkap tubuh Panji dari belakang.

“Oh… Jadi sekarang kerjaanmu ki ngintip Panji Ndis?” tanya Nawang sinis.
“Mentang- mentang lagi sakit, ndak nyuci ndak nyapu ndak bantú bune trus dadi leluasa ngono ngintip Panji” kata Nawang sok tahu.
“Ndak ko mbak, tadi memang Ndis lagi ngeliat keluar jendela, pas banget mas Panji lewat” terang Gendhis.
“Alesanmu iku loo… Jujur wae to, nek koe ki naksir Panji kan?” lagi- lagi Nawang membuat Gendhis serba salah.
“Sak karepmu mbak Nawang” kata Gendhis lesu.

Nawang hanya melirik Gendhis sekilas lalu keluar.

*****

“Ini masakan Nawang mas-mas sekalian, monggo-monggo dinikmati” kata Pak Harjo membuka acara makan malam di pendopo.

Wajah Nawang memerah, dadanya kembang kempis melihat para pemuda memuji masakannya enak.

Bagas salah satu pemuda KKN bahkan menyebutnya calon istri idaman dan diiyakan oleh teman-temannya.

Membuat Nawang semakin terbang ke angkasa.

Sambil tersenyum, Nawang mencuri pandang ke arah Panji. Ingin melihat bagaimana reaksinya mendengar pujian bertubi-tubi kepadanya itu.

Namun Panji terlihat sedang memandang tajam ke arah Gendhis. Nawang rela melakukan apapun demi mendapatkan pandangan penuh makna itu.

Senyum dibibirnya lenyap seketika.

“Yang dipuji kan aku kok yang diliatin Gendhis to?” sungut Nawang dalam hati.

Gendhis yang menyadari perubahan muka Nawang mengikuti arah pandangannya.

Agak kaget dia saat matanya bertemu dengan sorot tajam namun teduh dari Panji.

Darahnya terkesiap diikuti degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Ada perasaan hangat yang menjalari tubuhnya.

Tak mampu berlama-lama gendhis pun menunduk. Makannya menjadi tak tenang,namun diam-diam perasaan bahagia menyelip dihatinya.

Selesai acara makan ternyata pemuda KKN ingin mencoba memainkan seperangkat gamelan yang memang berada di pojok pendopo.

Pak Harjo dengan senang hati menyambut keinginan mereka. Beliau dan beberapa perangkat desa dengan terampil mulai memainkan salah satu lagu krawitan Jawa.

Alunan gamelan yang syahdu ditengah desa nan asri membuai siapapun yang mendengarnya.

Satu persatu warga yang mendengar alunan gamelan di pendopo berdatangan untuk menikmati alunannya lebih dekat.

Ajeng dan Lastri bahkan ikut nyinden. Suara mereka yang lembut kian membuat sempurna suasana.

Gendhis dan Nawang yang baru selesai membantu ibunya beberes pun ikut duduk menikmati alunan syahdu itu.

Tibalah saatnya Gendhis nembang, sebuah lagu krawitan jawa kuno berpadu alunan gamelan antik membuat suara beningnya terasa mengandung sihir.

Waktu bagai terhenti mendengar harmoni itu. Pantulan lampu petromak yang tidak terlalu terang menyorot wajah ayu yang sedang nembang.

Kecantikannya benar- benar paripurna bagai dewi kayangan bukan lagi putri kepala desa.

Sungguh pesona Jawa yang sempurna. Semua hadirin terutama para pemuda KKN terpana melihat Gendhis.

Suara beningnya menetramkan jiwa. Parasnya malam itu sungguh membuat siapa saja terkesima.

Rasanya tak ada yang rela berkedip apalagi beranjak saat Gendhis sedang nembang.

Apalagi sepasang mata teduh pemuda tampan yang hatinya begitu berdesir sedari tadi. Bernafas pun rasanya enggan kala matanya terpaut begitu dalam dalam sosok Gendhis.

Semua terpana dan terkesima?

Oh tentu tidak, ada sepasang mata yang berapi – api menyimpan amarah. Pemilik kalbu yang bahkan tak terusik oleh merdunya suara Gendhis.

Sanubarinya berontak melihat semua sosok tertuju pada adik satu-satunya itu. Berlahan dia mundur dan berlalu menuju rumah utama.

*****

Embun masih menyelimuti kelopak bunga yang dipegang Gendhis. Artinya bunga itu baru saja dipetik seseorang untuknya.

Mata Gendhis terpejam, menghirup dalam- dalam wanginya mawar putih itu. Bukan pertama kali ada setangkai mawar terselip di ujung jendelanya.

Hampir setiap pagi semenjak ada pemuda KKN setangkai mawar pasti selalu ditemuinya.

Gendhis bukan tidak tahu siapa yang orang yang sengaja meletakkan bunga tersebut untuknya. Namun dia terlalu takut jika perasaannya benar.

Akhir- akhir ini perasaannya kembali hangat, kembali berbunga. Perasaan yang bahkan hampir dia lupakan.

Perasaan yang dulu sempat merajai hatinya namun terpaksa dia matikan. Kini tumbuh kembali perasaan yang sama namun sekuat tenaga diabaikannya.

Dia terlalu takut jika benar dan terlalu takut jika Nawang mengetahuinya.

“Biarlah….” bisiknya lemah.

*****

“Walah Ajeng alon-alon to, kaget aku” kata Nawang sewot saat Ajeng hampir saja menabraknya.
“Aduh mbak Nawang ngapunten, ndak sengaja” kata Ajeng meringis.
“Ada apa to, kamu buru-buru banget?” selidik Nawang.
“Itu Mbak Nawang, mas Abimana pulang” katanya riang.
“Naik motor baru apik tenan bunyinya juga ndak berisik” tambahnya.

Diluar terdengar riuh sorak sorai beberapa anak kecil setengah telanjang yang berjalan ke arah pendopo.

Mereka seperti mengarak seorang pemuda yang naik sepeda motor.

Kendaraan bermotor memang menjadi pemandangan langka di desa.

Makanya ketika ada yang masuk kampung dapat dipastikan akan menjadi tontonan dan akan diarak anak kecil.

Seorang pemuda tertawa sambil mengendarai motornya pelan- pelan. Satu tangannya dipegang oleh seorang bocah gundul penuh lumpur kering yang berjalan disampingnya.

Sementara teman-teman kecil lainnya bersorak di belakang mereka.

Sontak saja pemandangan langka tersebut menyita perhatian pemuda KKN yang kala itu sedang duduk leyeh-leyeh di pendopo.

Mereka ikut tertawa melihat pemandangan lugu anak pedesaan yang belum tersentuh kemajuan tersebut.

Tak lama pengendara motor turun, bercanda sekilas dengan anak-anak pengarak tadi lalu memasuki pendopo rumah Pak Lurah.

Dia adalah Abimana, pacar Nawang anak pemilik perkebunan kelapa di desa setempat.

Abimana menyapa ramah para mahasiswa yang sedang bersantai di pendopo. Tak berapa lama mereka sudah terlihat akrab.

Abimana memang pemuda yang ramah dan pandai bergaul. Walaupun anak orang berada Abimana sama sekali tidak sombong.

“Nak Bima!” seru Pak Harjo senang.
“Kapan datang dari kota nak?” lanjutnya sambil menjabat tangan Abimana.
“Kemarin Pak de.” jawab Abimana sambil mencium punggung tangan pak Lurah.

Mereka berbincang sejenak. Tak lama Abimana meminta izin Pak Lurah untuk mengajak Nawang jalan- jalan.

“Kok tumben sih, kamu diem aja aku pulang dek?” tanya Abimana ketika mereka sedang jalan menyusuri desa.
“Ndak papa kok mas” jawab Nawang sekenanya. Biasanya memang Nawang akan sangat senang ketika Abimana datang.

Namun sore itu didominasi oleh sikap diam Nawang. Bahkan biasanya Abimana seperti tidak punya kesempatan ngomong kalau mereka bertemu.

Walaupun rumah Abimana tak jauh dari desa Nawang, namun mereka jarang bertemu.

Abimana bekerja di kota. Pulang juga tidak tentu sebulan sekali.

“Itu di rumahmu banyak mahasiswa ganteng, ndak ada yang kamu taksir kan dek?” tanya Abimana mencoba membuka topik pembicaraan setelah hening beberapa saat.
“Ndak lah, biasa wae” jawab Nawang.

Padahal pikirannya sedang mikirin Panji si ketua KKN.

“Itu tadi ada yang ganteng banget, pinter lagi, jodohin aja sama Gendhis dek?” kata Abimana.
“Yang namanya Panji dek” tambahnya.
“Enak aja mas Panji itu punyaku mas” Nawang keceplosan.

Mukanya memucat menyadari ucapannya.

Abimana yang awalnya niat bercanda terdiam mendengar jawaban Nawang.

Suasana menjadi kaku diantara mereka. Biasanya saat bertemu, tingkah mereka akan membuat siapapun yang melihat tersenyum.

Namun pasangan yang biasanya manja dimabuk asmara ini mendadak kikuk.

“Emang ganteng dan pinter ya keliatannya Panji itu dek” gumam Abimana.

Membuat Nawang semakin tidak nyaman dan merasa bersalah.

Malam itu Nawang menjadi pendiam. Dia bahkan tidak bereaksi saat melihat Panji mengajak Gendhis ngobrol ketika makan malam di pendopo.

Hatinya galau mau milih Abimana apa Panji. Abimana yang tampan idaman semua gadis didesanya berhasil dia taklukan.

Pandangan iri teman-teman gadisnya saat mereka tengah jalan berdua membuatnya bangga bukan kepalang.

Para pemuda yang berusaha mendekatinya pun segan setelah tahu Nawang dekat dengan anak juragan kelapa.

Namun pesona Panji sungguh melelehkah hatinya.

..
Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…