Gendhis Ayu – #Part_02/18

Dilihatnya Gendhis dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Ada pandangan iri di matanya. Nawang akui adiknya ini memang mempunyai pesona yang luar biasa. Dan itu semua membuat Nawang kesal.

Bayangan hitam itu makin mendekat. Nawang semakin gemetaran dan menutup matanya.

Mulutnya komat-kamit entah membaca doa apa. Ekor matanya mengintip ke arah bayangan itu, ada dua yang satu kurus satunya lagi gendut.

Matanya makin merem dan jantungnya seperti hendak meloncat dari dadanya. Entah kenapa kakinya seperti dipaku di jalan setapak itu.

“Aduh, itu wewe sama gendruwo kali ya.” batin Nawang ketakutan. Kakinya mulai lemas.

Nawang semakin gemetaran dan komat-kamitnya semakin keras. Semakin tak jelas pula apa yang diucapkannya.

Tak terasa, kain jariknya basah, Nawang ngompol.

“Nawang!”
Seseorang memanggil namanya.

“Mati aku, wewenya tau namaku” batin Nawang sambil matanya makin merem.

“Mbak Nawang!”
Kembali suara itu memanggil Nawang kali ini ditambah dengan tepukan lembut di bahunya.

Nawang teriak namun seseorang menutup mulutnya. Nawang memberanikan diri membuka matanya dan menemukan muka Gendhis hampir menempel di mukanya.

Hah hah hah..
Bunyi nafas Nawang ngos-ngosan.

“Allhamdulillah Ndhis, kamu ta? … Kirain aku wewe” sembur Nawang lega.

Gendhis manyun dikira wewe sama mbakyunya. Ajeng temannya yang tadi jalan bareng dengannya cuma cekikikan.

“Dan kamu Ajeng, tak kirain gendruwo loh” Nawang berkata masih sambil ngos-ngosan.

Tawa Ajeng lenyap lalu mengikuti gaya cemberut Gendhis.Tubuhnya memang gendut tapi dia manusia.

Namun tak lama kemudian mata kedua gadis itu menangkap ada yang tidak beres dengan Nawang. Jariknya basah.
Seketika Gendhis dan Ajeng tertawa terbahak – bahak demi melihat Nawang ngompol saking ketakutannya.
Nawang yang menyadari jariknya basah karena ompol, merasa wajahnya panas menahan malu.

“Sudah jangan pada ketawa, aku takut banget tadi tak kira kamu itu wewe sama gendruwo,” Nawang berusaha membela diri.
“Mbak Nawang lagi apa ta sandingkolo disini?” tanya Gendhis masih sambil cekikikan.
“Bune nyuruh aku nyamperin bapak di balai desa suruh pulang” kata Nawang merengut.
“Oh itu… Pak Lurah, Pak Bau sama Pak Tamping juga lagi jalan pulang kok mbak, tadi kita lihat.” kata Ajeng.

Ajeng dan Gendhis memang habis mandi di sungai dan balai desa letaknya tidak terlalu jauh dari sungai.
Sayup-sayup terdengar langkah kaki dan suara bapak-bapak sedang ngobrol.

“Ya sudah… ayok kita pulang!” ajak Nawang buru-buru.
“Huh tahu gitu aku ndak usah ke balai desa aja tadi.” Nawang berjalan sambil bersungut- sungut.

Menoleh kembali dan melihat adik serta temannya masih cekikikan di belakang membuat Nawang makin kesal.

“Awas ya, jangan bilang siapa – siapa kalo aku ngompol” teriaknya lantang sambil matanya melotot.

Ajeng dan Gendhis diam seketika seraya menutup mulut mereka masing- masing.

*****

“Kok kamu pakai ta?” tanya Nawang dengan nada tidak suka.

Gendhis yang sedang membetulkan kancing kebayanya menoleh.
Terlihat Nawang sedang bersandar di pintu kamarnya dengan muka tidak bersahabat.

“Bune yang nyuruh pakai mbak,” jawab Gendhis ragu-ragu.

Dilihatnya Gendhis dari ujung kaki sampai ujung rambutnya. Ada pandangan iri di matanya.
Nawang akui adiknya ini memang mempunyai pesona yang luar biasa.
Wajahnya ‘njawani’ rambutnya yang disanggul menambah elok penampilannya.
Dan itu semua membuat Nawang kesal. Dia berbalik masuk kamar seraya mendengus.
Gendhis hanya bisa mematung melihat perangai kakaknya. Serba salah.

“Aduh gusti…Gendhis, ayune cah” teriak Bu Harjo saat masuk ke kamar putrinya itu.
“Ndhak salah ta, bune milih motif ini. Kamu seperti putri keraton lho, ndhuk” puji Bu Harjo lagi.

Gendhis hanya tersipu sambil membetulkan letak bunga melati di sanggulnya.

Braaak !!!!
Terdengar suara keras dari kamar sebelah, kamar Nawang.

Sontak Bu Harjo dan Gendhis kaget dan tergopoh menuju asal bunyi keras itu.
Dilihatnya pintu lemari Nawang lepas dari engselnya. Nawang terlihat sedang susah payah menahan agar pintu itu tidak menindihnya.

Rupanya Nawang sebal mendengar ibunya memuji muji Gendhis sehingga menutup pintu lemarinya dengan keras.
Bukanya nutup malah jebol. Membuat ibu dan adiknya keheranan sekaligus menahan tawa melihat tampang meringis Nawang menahan pintu lemari.

“Apa ta ndhuk ayu, bukane siap-siap kok malah ngamuk ta?” tanya Bu Harjo bingung.

Nawang hanya mecucu. Kalo sudah begini ibunya paham dan menyuruh Gendhis menunggu di depan bersama Bapaknya.

“Bune lho…Nawang kan mau pake kebaya itu, tapi kok Gendhis duluan yang make” gerutunya masih dengan bibir monyong-monyong.
“Bune kan sengaja bikin baju sama nduk, buat dipake di acara penyambutan KKN ini” kata bu Harjo lembut.
“Kalo kalian serasi, kompak kan enak dilihatnya ta?” lanjutnya lagi.
“Ndhak.. Nawang ndhak suka sama- samaan segala, Nawang mau pakai baju lain aja, udah sana bune ke depan aja” kata Nawang dengan ketusnya.

Bu Harjo hanya mampu geleng-geleng kepala melihat perangai putrinya ini.

“Atos tenan watakmu ndhuk” gumam Bu Harjo sambil mengelus dada.

Tak seberapa lama rombongan yang di nanti pun datang.
Para mahasiswa berjumlah 14 orang diantar menggunakan mobil truk sampai di depan rumah pak lurah.
Di pendapa terlihat pak lurah dan perangkat desanya menyambut dengan penuh senyum.

Tiba-tiba Nawang muncul dengan kebaya sama dengan yang di pakai Gendhis. Tatanan rambutnya pun serupa.
Bu Harjo dan Gendhis hanya bisa mesem melihat ulahnya. Nawang masih bertahan dengan muka angkuhnya.

Rombongan KKN satu persatu turun dan menyalami hadirin di pendapa itu. Semuanya laki-laki.
Para mahasiswa itu terlihat gagah dan rapi. Terlihat sekali aura kota dari penampilan mereka. Masing-masing menggunakan jaket warna biru tua dan memakai sepatu.

Berbeda dengan penampilan penduduk desa yang rata-rata memakai kain lurik hitam putih dan celana hitam ngatung tanpa alas kaki.
Diantara mahasiswa itu ada salah satu yang cukup mencolok dan menyita perhatian. Terutama perhatian para ibu-ibu dan para gadis tentunya.

Seseorang yang sepertinya didaulat sebagai ketua KKN mempunyai paras yang sangat tampan dan berbadan tegap, pembawaannya ramah dan terlihat pintar.
Panji Bramantyo namanya.

Walaupun hampir semua mahasiswa itu terlihat “wah” bagi penduduk desa, namun sosok Panji tetap mencuri perhatian.
Para gadis tersipu malu saat Panji melempar senyum ke pada mereka. Tak luput Nawang dan Gendhis.

Dari awal mata nawang tak pernah lepas dari sosok Panji. Hatinya bergetar melihat senyumnya.
Pun ketika Panji mengajak dirinya bersalaman, Nawang tak rela berkedip rasanya berada sedekat itu dengan Panji.

Kehadiran Gendhis dan Nawang dengan kebaya serupa dan gaya rambut serupa juga menyita perhatian para mahasiswa KKN.
Mereka saling berbisik bahwa anak gadis pak Lurah cantik-cantik. Kebanyakan mereka memuji kecantikan Nawang dengan kulit putihnya.

Namun ekor mata Panji lebih tertarik mencuri pandang ke arah gadis yang berdiri di samping Nawang.
Gadis yang dari awal dilihatnya hanya tertunduk kalem, namun mempunyai senyuman manis.
Gadis yang segera menunduk kembali saat matanya beradu pandang dengannya. Gadis manis yang namanya serupa dengan parasnya.

*****

Pagi ini senampan besar pisang rebus yang masih mengepulkan asapnya tersaji di pendapa. Lengkap dengan teh pahit yang juga masih panas.
Terlihat beberapa dari mahasiswa sedang olah raga kecil di halaman rumah pak Harjo.
Sisanya sedang asik bercengkrama di lantai pendapa sambil ngobrol dengan pak Harjo.

Kata Pak Lurah mereka berasal dari Universitas besar di kota sana. Dan akan membaur bersama penduduk selama kurang lebih 3 bulan.
Tujuan mereka KKN di sini untuk memberikan penyuluhan dan membantu pembangunan di desa yang jauh dari peradaban ini.
Desa ini memang susah dijangkau, bahkan kendaraan yang bisa masuk juga hanya truk yang telah di modifikasi sedemikian rupa.

Warga desa ini mengandalkan jalan kaki saat hendak ke kota. Melewati hampir 5 desa dulu baru menemukan desa yang ada angkutan umumnya.
Itu juga cuma ada 1 saat pagi. Di desa juga cuma Pak Lurah yang mempunyai sepeda motor. Itu juga sepeda motor merk CB yang brisiknya minta ampun.

*****

Nawang terlihat semangat menyapu halaman rumahnya yang cukup luas. Pagi ini niat sekali dia berdandan, menyapukan bedak tipis-tipis tak lupa gincu merahnya.
Tugas menyapu yang biasanya paling malas dilakukannya pun pagi ini dilakukannya dengan suka rela.
Bu Harjo pun maklum dengan ulah putrinya yang mulai berusaha menarik perhatian kaum adam ini.

Gendhis yang kalem tetap pada tugasnya mencuci piring dan membantu ibunya memasak.
Pagi ini dia bersiap ke sungai untuk mencuci baju.
Tak tampak adanya perubahan dari segi penampilan,rambutnya bahkan dibiarkan terurai. Namun tetap terlihat anggun dan luwes.

Ajeng tampak malu-malu saat menunggu Gendhis di pagar luar. Setiap pagi mereka memang ke sungai untuk mencuci baju.
Dalam perjalanan ke sungai tak hentinya Ajeng membahas mahasiswa KKN itu. Seperti ada idola baru bagi para gadis desa.
Gendhis hanya menyahut seperlunya bahkan lebih sering mendengarkan celoteh Ajeng sahabatnya.

Di sungai keadaan tak jauh berbeda, para ibu dan gadis juga membicarakan pemuda KKN.
Macam- macam bahasannya, ada yang berharap menjadi istrinya, ada yang ingin ngambil jadi mantunya. Ramai sekali.
Saat selesai mencuci dan dalam perjalanan pulang tidak sengaja berpapasan dengan beberapa pemuda KKN yang hendak mandi di sungai. Panji salah satunya.

Entah Ajeng yang kelewat senang atau apa sampai dia jingkrak- jingkrak di tanjakan yang cukup licin hingga menyenggol Gendhis yang saat itu membawa bakul cucian oleng lalu terguling. Jeritan mereka terdengar oleh para ibu dan gadis yang masih berada di sungai.

Termasuk Panji dan teman -temannya yang dengan cepat mencari sumber suara.
Terlihat Gendhis nyaris masuk ke jurang yang menganga disamping jalan.
Secepat kilat Panji dan beberapa temannya menolong Gendhis. Lalu membopong Gendhis ke balai desa karena lokasinya dekat.

Pak Lurah yang kebetulan baru datang kaget melihat putrinya dibopong Panji. Nawang yang hendak ke sungai pun melihat adegan itu.
Bukannya kawatir kenapa adiknya di bopong Panji malah amarah yang meletup di dadanya.
Dengan tergesa-gesa dia lari menuju balai desa.

Ajeng tak henti-hentinya meminta maaf dan menangis. Gendhis yang terluka hanya meringis menahan sakit. Rupanya kaki Gendhis terkilir dan memar.
Berita jatuhnya Putri pak Lurah segera menyebar ke penduduk. Mereka berdatangan ke pendapa rumah pak Lurah untuk melihat keadaannya.
Jadwal KKN yang semula akan memberikan penyuluhan di balai desa juga ditunda karena warga lebih memilih ke pendapa daripada ke balai desa.

“Picik sekali caramu ini, Ndhis” desis Nawang saat dirinya disuruh menjaga Gendhis di kamar.
“Maksud mbak Nawang apa ta?” kata Gendhis polos.
“Ndhak usah pura-pura ta, Ndhis. Kamu cuma mau menarik perhatian para pemuda itu kan” katanya sinis.
“Kamu pengen digendong mas Panji ta?” cecar Nawang tajam.
“Ndhis ga sengaja ketabrak Ajeng mbak” jawab Gendhis lirih.
“Halah alesan, kenapa jatohnya pas Panji lewat. Biar digendong ta?” katanya menuduh.
“Panji itu yang mana ta mbak? Dari tadi bahas Panji wae? “ desah Gendhis lesu.
“Yang gendong kamu lah Ndhis, yang paling tampan dari semuanya, dia itu udah ngasih tanda kalo suka sama aku looh” jawab Nawang pede.
“Ya sudah ta, toh mas Panji cuma gendong Ndhis kok.” Gendhis bergumam nyaris tak terdengar.
“Jangan sembarangan panggil mas Panji mas Panji kamu Ndhis” kilahnya ga suka.
“Lho…lho….ada apa ta? Ditinggal sebentar kok udah brantem ta? ” Bu Harjo tiba-tiba masuk.
“Nawang sudah, jangan dulu kamu bikin adikmu sedih, lagi sakit gini lho masih aja ngajak brantem” Kata bu Harjo mengingatkan.
“Walah…. Wong Gendhis yang bikin perkara kok bune, ndhak trima Nawang” jawab Nawang.
“Perkara apa maneh Gustiii… Wis ndang kamu keluar aja ndhuk” katanya sambil menghalau anak pertamanya itu keluar dari kamar Gendhis.

Ekor matanya kembali menangkap luka di mata Gendhis.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…