Gendhis Ayu – #Part_01/18

Nawang Sari anak sulungnya adalah gadis berkulit putih dan berambut ikal, tubuhnya tinggi semampai, pandai memasak namun kurang pintar mengontrol emosi. Beda lagi Gendhis Ayu anak bungsunya, gadis pendiam itu berkulit sawo matang, namun wajahnya sangat manis dihiasi rambut lurus membuatnya tampak mempesona.

“Tuh, kan ibu jahitin aku baju sama lagi sama Gendhis” teriak Nawang tidak suka.

Gendhis hanya bisa menunduk demi mendengar protes Nawang, kakak perempuannya. Kebaya motif kembang- kembang kecil pemberian ibunya dipegang setengah diremasnya.

“Sekalian ta ndhuk ibu beli kainnya juga ukurannya sama biar mbah Gino gampang jaitnya, badan kamu sama adhimu kan sama” kilah Bu Harjo menjelaskan.
“Tapi Nawang ndhak suka di sama- samain sama Gendhis bune, iki kok tiap jait baju sama loh” seru Nawang seraya masuk kamar.

Gendhis makin menunduk, matanya panas mendengar celoteh mbakyunya itu. Susah payah menahan agar bulir hangat itu tak menetes. Tak habis pikir dirinya, Nawang seperti kucing melihat tikus kepadanya, padahal mereka kakak beradik.

“Sudah ndhuk, jangan dengerin mbakyumu, kalo ndhak ngomel bukan Nawang namanya” hibur Bu Harjo lembut seraya mengelus rambut Gendhis.

Bukan sekali dua kali Nawang tidak suka jika dibelikan barang yang sama dengannya. Apalagi jika barang itu dipakai barengan, dan Gendhis yang lebih “luwes” mengenakannya pasti langsung mencak- mencak ngamuk.

“Tuh kan, bune emang sengaja kan pengen bikin Nawang terlihat jelek ketimbang Gendhis” kata Nawang ber api- api.
“Sudah kamu ndhak usah dipakai itu baju kembangnya ya Ndhis” ancam Nawang bengis.

Bu Harjo cuma bisa geleng-geleng kepala kalau Nawang sudah ngambek. Tapi dia akan langsung melihat ekspresi wajah Gendhis anak bungsunya. Gadis bungsunya pendiam, sangat pendiam malah, seringnya hanya pasrah dan nurut sama apa yang di suruh kakaknya. Jangankan baju yang motifnya sama, jika model dan motif berbeda pun selalu Nawang tidak suka kalau mereka sama- sama dibelikan.

Entahlah… mau dipakaikan motif apapun Gendhis memang selalu terlihat lebih manglingi. Tak heran Nawang hampir selalu minta tukar apapun punya Gendhis namun akan terlihat biasa ketika di kenakan olehnya. Itu sungguh membuat Nawang kesal dan makin tidak suka dengan adik cantiknya itu.

Pak Harjo adalah kepala desa di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Selain dipercaya sebagai kepala desa beliau juga seorang juragan tanah. Namun walaupun cukup berada, pak harjo tidaklah sombong justru beliau orang yang sangat bijaksana lagi dermawan. Pak Harjo dan istrinya mempunyai 2 putri yang masing – masing berumur 18 dan 16 tahun.

Nawang Sari anak sulungnya adalah gadis berkulit putih dan berambut ikal, tubuhnya tinggi semampai, pandai memasak namun kurang pintar mengontrol emosi. Beda lagi Gendhis Ayu anak bungsunya, gadis pendiam itu berkulit sawo matang, namun wajahnya sangat manis dihiasi rambut lurus membuatnya tampak mempesona.

Tutur katanya lembut dan menyenangkan apalagi dia juga sangat cerdas, maka tak heran temannya banyak. Beda dengan Nawang yang nada bicaranya cenderung ketus dan mau menang sendiri. Selisih umur mereka yang hanya berjarak dua tahun membuat mereka seperti seumuran.

Namun semenjak banyak orang yang sering berkomentar jika Gendhis selalu “lebih” entah itu dari wajah, kecerdasan maupun perilaku membuat Nawang seperti menganggap adiknya musuh.

“Ndhuk ayu, tolong panggil bapakmu di balai desa, sudah mau maghrib kok belum pulang” kata bu Harjo kepada Nawang yang sedang asik nyulam.

Setengah hati Nawang bangkit dan menuruti perintah ibunya. Sudah seminggu ini Pak Harjo dan perangkat desa lainnya bekerja bakti di balai desa. Minggu depan akan ada rombongan KKN dari universitas kota yang akan datang ke desa mereka. Bahkan rencananya rombongan KKN itu akan menginap di rumah Pak Harjo selaku kepala desa.

Apalagi di desa tersebut hanya rumah Pak Harjo lah satu-satunya rumah yang berukuran luas dan memiliki pendapa. Suasana jalan yang sepi dan berkabut membuat Nawang agak sedikit gentar. Apalagi saat itu sandingkala atau hampir memasuki waktu maghrib.

Orang tua bilang kalau sandingkala tidak boleh keluyuran di luar rumah karena banyak dhemit yang keluar. Jalan menuju balai desa memang selalu sepi kalau sudah sore, paling hanya satu dua petani yang pulang dari kebun yang lewat. Tapi tumben sore itu sepi sekali, hanya suara jangkrik yang mulai terdengar. Suara mereka malah membuat suasana kian mencekam.

Nawang mulai galau antara ingin berbalik pulang atau berlari menuju balai desa. Jantungnya deg-degan dan perasaannya mulai tidak enak. Kalau dia pulang tanpa ketemu bapaknya dulu pasti ibunya bakalan marah. Tapi kalau diteruskan jalan ke balai desa, gimana kalau ditengah jalan disamber wewe. Nawang bergidik sendiri membayangkannya.

Dari jauh terlihat ada bayangan hitam yang berjalan menembus kabut. Arahnya menuju ke arah Nawang, dadanya mulai bergemuruh tak menentu kakinya pun gemetaran namun tak bisa berlari.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…