#Feeling – #Part_17/17 (TAMAT)

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku...

Kubuka mata. Aku berada diruangan serba putih berbau karbol khas Rumah Sakit.

Isshh… Kepalaku masih sangat sakit.

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring.

Tangan kiriku terpasang jarum infus. Cairan berwarna merah pekat masuk melalui infus.

“Mas…”

Aku memanggil Mas Indra pelan. Rasanya aku kedinginan diruangan ber-AC ini.

Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku.

“Kamu sudah sadar Sayang? Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya panik.
“Siapa yang bawa aku kesini? Kenapa aku di berikan transfusi darah?”
“Mas yang bawa kamu kesini. Sepulang dari mengantar Arya ke Batu, perasaan Mas gak enak, mas langsung pulang melihat keadaanmu. Ternyata firasat Mas benar, kamu tergolek pingsan di depan pintu.” Terangnya sambil mengusap pipiku.

“Kenapa dilakukan tranfusi?” Tanyaku penasaran.

“Setelah di cek Darah, semua bagus Kecuali kadar hemoglobin yang sangat rendah, 5,2 gram/dl. Seandainya telat dilakukan transfusi akan berakibat fatal. Seandainya tadi pagi Mas tidak pulang, entah apa yang akan terjadi padamu.” terangnya berkaca-kaca.

Separah itukah keadaanku?

“Kamu takut aku pergi?”

“Jangan bicara seperti itu. Mas tidak bisa menjalani hidup sendiri. Bantu Mas untuk menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anak. Mas tidak bisa mendidik mereka sendiri, terutama Mas tidak bisa hidup tanpa kamu.” Ucapnya sambil mencium berkali-kali tangan kananku.

“Mas tidak sendiri. Anggun Hamil. Mas bahagia bukan?” Ucapku datar meski sebenarnya gemuruh didada seakan memporak porandakan hatiku.

“Lalu kenapa jika Anggun hamil? Mas sudah tahu sejak awal.”Jawabnya.

Apa? Jadi selama ini Mas Indra sudah mengetahui kabar kehamilan Anggun?

“Lalu?”
“Anggun hamil, kenapa harus heran. Ada Wicaksono Adi, suaminya juga ayah dari anak yang ia kandung.” Jawab Mas Indra tenang.

“Dia datang tadi pagi. Meminta pertanggungjawabanmu.”
“Apa yang ingin dipertanggungjawabkan? bukankah semua sudah selesai.”
“Anak itu. Dia butuh nama ayahnya.”

“Sudahlah Sayang. Jangan termakan omongan Anggun. Anak itu punya ayah, Wicaksono Adi. Kamu jangan berfikir macam-macam dulu. Keadaanmu masih lemah. Kamu butuh istirahat.” Mas Indra berusaha menenagkanku.

“Mas yakin itu bukan anak Mas? tidak menutup kemungkinan kan jika anak itu darah keluarga Tirta (Nama kakek Mas Indra)?” Tanyaku memastikan.

“Bukan. Anggun sudah hamil saat aku dan dia sudah melakukan hubungan terlarang itu. Aku mengetahuinya saat ia tidak sengaja menjatuhkan tas miliknya, dan alat tes kehamilan beserta beberapa isi tasnya berserakan.”

Jleb!
Kejujuran itu memang menyakitkan.


Setelah seminggu aku dirawat di Rumah Sakit, Dokter memperbolehkanku pulang.

“Ma. Papa ke rumah Pak Sasmito dulu ya. Ada masalah mendadak di Kantor.” Pamit Mas Indra disore hari.

[Assalamu’alaikum Bu Mega. Bagaimana kabarnya?Oh iya, menindaklanjuti permasalahan yang Bu Mega bicarakan pada saya bulan lalu, bagaimana sekiranya kalau kita bertemu?]

Satu pesan diponselku tiga hari yang lalu dari Pak Sugito. Aku baru membukanya karena memang selama aku dirawat, ponselku ada dirumah. Itupun dalam keadaan mati dan baru sempat ku charge sekarang.

[Wa’alaikumsalam Pak. Maaf baru balas. Saya baru keluar dari Rumah Sakit. Bolehkah kita bertemu besok lusa?]

Kukurim balasan ke Pak Sugito. Centang biru. Tumben beliau cepat membaca pesanku. Akhirnya kami membicarakan rencana pertemuan kami via telepon.

Lusa InsyaAllah aku akan ke kantor beliau di Gedangan Sidoarjo.

*****

Mas Indra pulang hampir tengah malam. Wajahnya tampak kusut dan lelah.

“Kamu sudah makan malam?” tanyaku padanya. Ia hanya tersenyum dan menggeleng.

Aku menyiapkan makan malam untuknya, bagaimanapun dia adalah suamiku. Selama aku berada di Rumah Sakit, dia yang selalu menemaniku.

Ia makan tampak tak berselera.

“Kenapa makannya begitu? Gak enak kah?” Tanyaku.
“Enak.”
“Trus?”
“Papa sedang ada masalah diperusahaan.”
“Apa?”
“Modal usaha, gaji karyawan kantor, tukang dan kuli yang papa pekerjakan untuk proyek pembangunan perumahan di Probolinggo, semua uangnya dibawa Pak Sasmito. Sekarang beliau tidak bisa dihubungi.”

“Kok bisa begitu? Kan biasanya gaji karyawan di transfer. Kalau nemang gaji tukang dan kuli pakai cash. kan biasanya dipegang Pak Bagus?Kenapa jadi Pak Sasmito?”

Tanyaku heran. Aku yakin pasti uang itu berjumlah sangat besar. Jika tidak, tidak mungkin Mas Indra sefrustasi ini.

“Pak Bagus pecah kongsi. Beliau membuka CV dibidang ini juga. Jadi aku merekrut Pak Sasmito sebagai penggantinya.” Terangnya lagi.

“Lalu bagaimana?”
“Ehm… Bolehkah Papa pinjam uang Mama yang kuberikan minggu lalu. Satu tabungan saja yang B*I, Insya Allah cukup untuk membayar gaji pekerja dan modal untuk meneruskan pembangunan proyek perumahan. Nanti kalau pemilik perumahan itu membayar kekurangannya, Papa akan kembalikan uang Mama.”

Aku yang berencana bertemu dangan Pak Sugito ingin membahas tentang kepemilikan semua aset dan uang yang kami punya, yang nantinya akan mengatasnamakan seluruhnya pada Arya dan Aryan. Harus memberikan sebagian uang itu kembali pada Mas Indra. Bagaimanapun itu hasil keringatnya.

“Ya. Ambil saja. Yang penting jangan sampai tidak membayar gaji para pekerja. Dosa.” Aku menyetujuinya.

Uang bisa dicari, namun keparcayaan yang hilang tak bisa kembali.

***

“Om Suryadi terkena stroke, Ga.” Ucap Regha saat kami bertemu di Swalayan.
“Lalu?”
“Kena otak kirinya. Jadi memorinya sebagian hilang. Anggota gerak dan tubuh bagian kanan seakan lumpuh total.”
“Kasihan Ga. Mungkin beliau banyak fikiran akibat ulah Anggun. Tak hanya ditinggalkan Suaminya, dia juga dikeluarkan dari Kampus tempatnya mengajar, karena kedapatan masuk hotel dengan mahasiswanya. Pemuda yang baru semester 5 itu juga di Drop Out dari kampus.”

“Mungkin karena ulah Anggun itu yang membuat Om Suryadi tekanan darah tingginya meningkat drastis. Beliau jatuh di kamar mandi dan sekarang lumpuh. Kalau sudah begini, uang sebanyak apapun tak bisa membeli kesehatannya.” Regha bercerita sambil berkaca-kaca.

Kasihan Pak Suryadi. Bukan beliau yang melakukan kesalahan namun beliau yang banyak menanggung akibatnya.

“Lalu bagaimana kabar Anggun?” Tanyaku kemudian.

“Dia tidak keluar rumah. Dia malu jadi bahan gunjingan tetangga. Apa kamu tidak lihat kabar berita Jawa Timur? Kasusnya masuk Koran.”

“Tidak. Aku tidak up to date kabar berita akhir-akhir ini. Perjalanan hidupku saja bagai rol coaster.” Jawabku.

“Maafkan keluarga kami ya, Ga? Maafkan Om Suryadi, dan kalau bisa tolong maafkan Anggun yang sudah menghancurkan keluargamu.”

Aku terdiam. Aku tidak bisa berkata apapun karena sesungguhnya hingga sekarang aku belum bisa memaafkannya. Bahkan suamiku sendiri, aku belum bisa melupakan rasa sakit yang diberikannya berupa penghianatan itu.

Memaafkan mungkin bisa, melupakan itu yang paling sulit. Butuh keikhlasan dan kelapangan hati yang lebih.

TAMAT

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…