#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku...

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku.

Teruslah…

Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku.

“Ada lagi yang ingin kalian sampaikan padaku?” Tanyaku setelah mereka lama terdiam.

“Anggun mencabut laporan terhadap Mas Indra dan mengurungkan niat melaporkan Mbak Mega. Sudah membuktikan niat baik untuk berdamai. Aku berharap setidaknya Mbak Mega bisa berdamai juga dengan menghilangkan semua bukti. Kan itu juga bisa membantu kita sena untuk melupakan semua masalah ini.” Ucap wanita ini dengan santainya.

Aku hanya tersenyum penuh arti.

“Oke. sekarang giliranku yang berbicara.” ucapku. Aku memperbaiki posisi dudukku agar lebih santai.
“Pertama, aku tidak meminta kamu (jari telunjukku mengarak ke Anggun) untuk mencabut laporan.”
“Yang kedua. Masalah rencana pelaporan yang akan kamu tujukan padaku. Aku sama sekali tidak takut. Merasa gentarpun tidak.”
“Dan yang ketiga. Barang bukti itu milikku. Tak ada satupun orang yang bisa memerintahkan atau mengintimidasiku untuk menghilangkannya.” Ucapku tegas.

Raut wajah Anggun seketika merah padam, sekilas kulirik Pak Suryadi gelisah.

“Aku sependapat dengan Mega. Dia berhak menentukan sikapnya sendiri. Memang siapa kalian bisa mengatur dia?” ucap Mas Ari.

Aku hampir saja su’udzon dengan kakak iparku ini, yang datang bersamaan dengan mereka.

“Kamu harus ambil sikap Mas!” Teriak Anggun pada suamiku.

‘Mas…?’

Cuih! Masih semanja itu suaranya.

“Aku terserah Mega saja. Jika dengan aku dihukum pidana, aku tidak masalah. Bahkan jika Mega-lah yang melaporkan dan bukan kamu, aku tidak apa-apa. Aku akan menanggung akibat dari perbuatanku. Mungkin dengan dihukum di dunia, hukumanku di akhirat kelak bisa berkurang.”Jawab suamiku tak berjeda.

Benarkah yang dia pikirkan?

Benarkan semenyesal itu dia?

“Bukankah Mas Indra mencintaiku? Bukankah kita sudah sepakat untuk meninggalkan pasangan kita masing-masing? Tidak ingatkah janji kita beberapa bulan lalu, Mas?” Tagih Anggun pada suamiku akan janji mereka.

Jleb!
Sakit rasanya mendengar pernyataan wanita ini. semenggila itukah suamiku padanya?

Allah…

Allah… Kuatkan aku Menerima kenyataan ini.

“Bohong! Cukup Anggun! Jangan membuat drama baru! Sekalipun dulu aku berhubungan denganmu. Tak pernah terlintas sedetikpun untuk berpisah dengan istriku. Aku salah! Kamu salah! Semua yang terjadi itu salah!” Elak Mas Indra akan pernyataan Anggun.

Kutatap mata lelaki yang hidup bersamaku selama empat belas tahun itu. Didalamnya ada kemarahan dan kebencian menjadi satu.

“Percayalah padaku Sayang. Kali ini aku tidak berbohong. Aku bersumpah demi Tuhan aku tidak pernah mengatakan hal bodoh itu.” Ucapnya mengiba kepercayan padaku.

Gurat penyesalan tampak diwajahnya. Aku tahu dia tidak berbohong.

Aku istrinya, akulah orang yang paling tahu siapa dia. Kebohongan sekecil apapun aku akan melihat gelagatnya.

Hatiku hampir luluh melihatnya mengiba padaku agar tidak memepercayai ucapan Anggun. Aku segera menguasai diriku lagi.

“Terserah kalian saja. Jika kalian ingin melanjutkan atau berhenti memperkarakan ini. Itu bukan urusanku. Terkecuali jika ada pelaporan terhadapku, maka jangan tanya lagi dengan apa yang akan kulakukan nanti. Aku permisi.”

Aku meninggalkan mereka. Tak lupa aku menganggukkan kepala memberi isyarat pamit beristirahat pada Mas Ari dan Pengacaranya.

*****

“Maaf…” Ucap Mas Indra diujung tempat tidur.

Aku terpaksa tidur kembali di kamar kami, tak ingin membuat Arya curiga pada rumitnya hubungan Papa dan Mamanya.

Mataku terpejam. Sengaja aku tak merespon permintaan maafnya.

“Apakah kamu sudah tidur Sayang?” Tanyanya lagi. Aku tetap bergeming.

“Kamu sudah tidur ya… Padahal Mas ingin meminta maaf. Maaf telah membuatmu masuk dalam sitiasi seperti ini. Maaf telah menyakitimu. Maaf telah banyak merepotkanmu. Maaf… Maaf… Maaf…”

Ucapnya. Kudengar isakan halus dari lelaki ini. Lelaki yang dulu sangat kucintai daj ku banggakan selama menjadi pendamping hidupnya.

“Andai saja kutahu sesakit ini melihatmu terluka karenaku. Aku tak akan melakukannya. Jika nantinya kamu memenjarakanku, aku terima. Jika nantinya kamu membenciku, aku terima. Namun jangan pernah meninggalkanku. Aku tak bisa kehilanganmu.” ucapnya dalam isak tangis yang masih menderu.

Ia menarik selimut menutupi tubuhku. Diciumnya keningku. Lalu diambilnya bantal disampingku kemudian ia beranjak membaringkan tubuhnya di sofa dekat jendela.

Setelah terdengar dengkuran halus. Aku membuka mata.

‘Andai… Andai saja luka yang kau torehkan tak sedelam ini, aku pasti bisa memaafkanmu.

Andai bukan kesalahan yang satu itu, aku akan mudah memaafkanmu.

Mangapa? Mengapa harus tidur dengannya? Mengapa?’ Jerit batinku.

Aku memukul pelan dadaku yang masih terasa sakit jika mengingat gambar memilukan itu.

‘Ya Allah… hilangkanlah sakit ini. Hilangkanlah cinta ini.

Jika hanya dengan menghilangkan seluruh cintaku padanya akan menghilangkan rasa sakitnya. Aku sangat rela.’ Do’aku dalam diam.

*****

Sudah seminggu aku sekamar lagi dengan Mas Indra karena Arya dirumah. Hari ini rencananya Arya akan kembali Ke Pesantren, Alhamdulillah anak sholihku sudah kembali sehat.

“Ini seluruh tabungan Papa. Semua biar Mama yang pegang.”

Aku tidak menerima sodoran beberapa buah buku tabungan.

Mas Indra meletakkanya diatas nakas.

“Aku sudah membuatkan sarapan. Makanlah agar demammu turun. Nanti sepulang mengantarkan Arya ke Pesantren. Kuantarkan ke Rumah Sakit ya?” Tawarnya.

“Tidak usah. Aku hanya butuh istirahat” Jawabku.

Ya. Sepertinya aku terlalu lelah akibat menghadapi permasalah ini. Tidak kupungkiri menghadapi semua ini menguras tenaga dan pikiranku.

Setengah jam berlalu, aku bangun dan melihat buku tabungan Mas Indra.

Ada 6 buku tabungan.

Aku melihat isi ditiap tabungannya. Tiap tabungan hampir menyentuh angka 3 dengan 9 digit di setiap nominalnya.

Ada kartu ATM didalam setiap bukunya.

Seniat inikah ia berubah?

Ting tong…

Suara bel dibunyikan. Tidak mungkin itu Mas Indra, karena dia membawa kunci rumah sendiri. Mungkin ada tamu yang datang.

Aku dengan menahan rasa sakit kepala, berjalan menuju pintu.

Kubuja pintu perlahan.

“Mbak…”

Anggun berdiri di depan pintu.

“Ada urusan apa lagi? Aku sedang malas meladeni jika hanya ingin bersandiwara.” Ucapku tanpa basa basi.

Sungguh aku ingin suasana tenang hari ini.

“Bolehkah aku kedalam? aku tidak akan lama. Aku janji.” Pintanya.

Setelah ia duduk dan kusuguhkan air putih. Sengaja tak ku buatkan teh atau semacamnya, tenaga dan aktivitasku terbatas kali ini.

“Mbak Mega Sakit? Mbak terlihat pucat.” Tanyanya. Entah perduli atau sekedar basa-basi.

“Katakanlah. Aku ada keperluan.” Ucapku.

“Baiklah langsung pada intinya. Bukankah Mbak Mega ingin bercerai dari Mas Indra? Bisakah dilaksanakan secepatnya?” Tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Aku memicingkan mataku. Ada yang tidak beres pastinya.

“Terserah padaku! Apa urusannya denganmu?” Tanyaku memancingnya untuk mengatakan perihal niat sesungguhnya ia kesini.

“Aku hamil. Dan Mas Adi mengembalikanku pada orang tuaku.” Ucapnya sambil terisak.

“Lalu apa urusannya denganku?” Tanyaku.

“Kalau Kalian berpisah. Mas Indra bisa menikah denganku dan bertanggung jawab atas bayinya.” Ucapannya jelas sekali ditelingaku.

Menambah sakit dikepalaku.

“Aku tidak ada urusan dengan kehidupanmu. Silahkan meninggalkan rumah ini. Aku ada urusan.” Usirku secara halus.

“Tolonglah Mbak… Bercerailah dengan Mas Indra. Aku mohon…” Pintanya mengiba di kakiku.

“Kamu tahu pintu keluar dari rumah ini, bukan?” Usirku tanpa harus berteriak namun dengan jelas mengusirnya.

Ia beranjak, meninggalkan rumahku. Ku tutup pintu rumah, selebihnya aku tak ingat karena semua terasa gelap.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…