#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya...

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya, namun semata hanya untuk anak-anakku. Banyak yang beranggapan anak hanya alasan saja, padahal masih cinta kan?

Sedikit betul banyak salah.

Betul tidak mungkin cinta yang belasantahun langsung musnah hilang, pada kenyataannya masih ada namun tertutup oleh kekecewaan yang mendalam. Tahukah mereka, cinta dan benci itu beda tipis. Itu yang kurasakan.

Aku merasa sangat benci dan merasa sesak di dalam hati, namun aku mencoba tetap disisinya saat jadwal berkunjung ke Pesantren, aku harus berpura-pura tersenyum saat tetangga atau kerabat menanyakan kabar keluarga kecil kita.

Kenapa begitu? Kenapa tidak bersikap apa adanya?

Tidak. Jawabannya tidak. Aku menikah secara baik-baik. Jikalaupun nantinya berpisah harus baik-baik.

Perselingkuhan Mas Indra merupakan AIB bagi keluarga besar dan juga pasti akan mempengaruhi psikis anak-anakku jika mereka mengetahuinya. Bagaimanapun di masyarakat yang akan mendapat hukuman bukan hanya Mas Indra, anak-anak pasti akan sangatlah malu untuk bermasyarakat bukan?

“Anggun tetap tidak akan mencabut laporan pada lelaki itu!” Jawab Anggun keukuh akan perintah Ayahnya.

“Jangan berfikir untuk saat ini saja. Pikirkan nanti dampaknya, Nak. Jika ini kasus Asusila. Kamu kan yang ternoda?”

“Jika terbukti suka sama suka? Tetap kamu juga yang ternoda, malah akan muncul kabar bahwa ‘seorang istri polisi berselingkuh’, ‘Anak pengusaha berselingkuh’, ‘Seorang dosen universitas ternama berselingkuh’. Pikirkan lagi dampaknya.” Terang panjang lebar Pak Suryadi pada putrinya yang masih merasa paling benar.

Aku hanya mendengarkan. Usaha beliau untuk meyakinkan putrinya seolah memberikanku nasehat juga secara tidak langsung.

Namun bedanya, aku hanya mengimbangi saja. Jika aku mau, sejak awal sudah kulaporkan mereka namun aku masih mempertimbangkan banyak hal. Dan akhirnya aku ingin berpisah saja secara baik demi semua setelah aku menunjukkan borok Anggun dan Mas Indra pada keluarga masing-masing, bukan pada masyarakat luas.

“Tolong Nak Mega. Jangan membuat laporan terlebih dahulu.” Pinta Orang tua malang ini.

Aku masih tetap pada pendirianku.

[Assalamu’alaikum, Pak Sugito. Saya sedang berada di Kantor Polisi.]

Satu pesan ku kirim ke Pengacara nomer 1 di Jawa Timur itu. Sengaja tidak menelpon, kesibukan beliau tidak akan memungkinkan menerima telepon dan melayani klien secara mendadak. Cukup beliau tahu posisiku sekarang.

Benar, WhatsApp terakhir aktif tiga jam yang lalu. Pesanku terkirim, centang dua namun masih kondisi abu-abu.

Aku, Mas Ari dan Mbak Laras memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Biar kasus Mas Indra ditangani oleh Pengacara yang Mas Ari sewa.

Biarlah Anggun dan keluarganya memutuskan apa yang mereka inginkan. Aku sangat siap menghadapi mereka.

*****

Tut…

Sebuah panggilan masuk. Nomer yang tidak dikenal.

“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Mama, ini Aryan. Kak Arya tadi diperiksa di Klinik Pesantren. Tapi kata Dokternya di suruh pulang saja, biar dirawat dirumah.”
“Sakit apa Nak? Kok baru kabarin Mama?”
“Tipes Ma. Sudah 5 hari sakit, Ustadz suruh telepon Mama biar dijemput, di izinin pulang. Tapi Kak Arya gak mau, katanya takut Mama dan Papa khawatir.”
“Mama segera kesana.” Aku menutup panggilan telepon Aryan.

Aku secepatnya memakai kerudung dan menyambar kunci mobil diatas nakas. Segera kupacu kuda besi menuju Pesantren.

*****

“Kenapa tidak kabarin Mama?” Tanyaku pada Arya yang duduk bersandar di samping kursi kemudi yang sengaja ku atur lebih rendah kebelakang.
“Papa mana, Ma? kenapa tidak ikut jemput?” Tanyanya tentang Papanya.
“Kerja keluar kota” Jawabku bohong.

Dalam situasi ini, berharap anak-anak tidak tahu keadaan yang sebenarnya.

Allah…

Mohon pertolonganMu.

As-Shomad… Allah, satu-satunya tempat hamba bergantung.

Sungguh, apapun yang terjadi selanjutnya, aku berserah padaNya…

“Mama sehat kan?”
“Tentu. Sangat sehat. Kita ke Rumah Sakit ya Nak?”
“Tidak perlu, Ma. Tadi dikasih obat sama Pak Dokter di Klinik Pesantren. Arya cuma ingin istirahat dirumah.” Tolaknya.
“Ya sudah. Arya tidur. Nanti kalau sudah sampai rumah, Mama bangunkan.”

Aku melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Meski dalam hati gusar, namun aku harus terlihat tegar.

Sesampainya dirumah, kulihat ada tiga mobil terparkir didepan rumah.

Aku tidak berniat membangunkan Arya terlebih dahulu. Aku harus melihat apa yang sedang terjadi.

Dua mobil Alphard Sport dan satu mobil Audi Sport.

Siapakah pemilik mobil-mobil ini?

Pintu rumahku terbuka.

Aku masuk, penasaran siapakah gerangan yang masuk rumahku tanpa permisi.

“Mas Indra?” Aku kaget bukan main. Mas Indra ada dirumah.

Selanjutnya kuedarkan pandanganku pada beberapa orang yang duduk di ruang tamu, ada pengacara Mas Indra, Regha dan Mas Ari Lalu… Anggun? Pak Suryadi?

Ada apa mereka berkumpul disini?

“Assalamu’alaikum…” Aku menoleh ke sumber suara pintu, Arya berdiri disana…


Arya sudah tidur. Aku beringsut pelan dan mengunci kamarnya dari luar. Aku harus waspada. Bagaimanapun anakku tak boleh mengetahui runyamnya masalah Papa dan Mamanya.

“Arya sudah tidur?” Tanya Mas Indra padaku setelah aku duduk bersama mereka semua.
“Jadi langsung keintinya saja Nak Mega.” Pak Suryadi membuka obrolan mengenai niat mereka berkumpul disini.
“Anggun sudah mencabut tuntutan. Namun, kami meminta pada Nak Mega untuk tidak menuntut balik Anggun. Dengan begini semua impas. Tidak akan ada yang dirugikan.”

Hah? Apa? Tidak ada yang dirugikan?

Mudah berkata seperti itu. Coba kalau beliau ada diposisiku. Bisakah berkata semanis itu?

Aku. Hanya aku yang dirugikan disini.

“Yang lalu biarlah berlalu. Sebagai pelajaran untuk kita semua. Dan…”

“Karena Anggun sudah mencabut tuntutannya dan tidak berniat melaporkan untuk dikemudian hari. Kami mohon dengan sangat untuk Nak Mega menghanguskan semua bukti kesalahan mereka.” Lanjutnya.

Wow! Mencoba mengintimidasiku?

Bernyali juga kalian.


Bersambung


Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…