#Feeling – #Part_14/17

Kuteguk kopi yang hampir dingin di depanku. Lidahku hampir lupa akan rasa manisnya gula di dalam seduhan kopi hitam ini yang terasa hanya pahit dan hitamnya, karena pengaruh suasana hatiku...

Kuteguk kopi yang hampir dingin di depanku. Lidahku hampir lupa akan rasa manisnya gula di dalam seduhan kopi hitam ini, yang terasa hanya pahit dan hitamnya, karena pengaruh suasana hatiku.

“Maafkan saya Nak. Om Suryadi benar-benar malu dengan perbuatan anak, Om.”

Disinilah aku bersama Pak Suryadi, ayah dari wanita perusak rumah tanggaku. Tidak, bukan Anggun saja yang salah, Suamiku juga bersalah. Berselingkuh bukan karena satu orang yang berniat, keduanya punya andil yang sama.

Aku belum menindaklanjuti soal tuntutanku pada Anggun bukan karena takut. Aku hanya menghargai Pak Suryadi yang datang meminta waktuku sebentar sebelum aku melanjutkan semua keinginanku. Bagaimanapun beliau adalah orang tua yang dulu pernah saya hargai sekali.

“Lalu, bagaimana Om tahu kalau kami berada di Kantor Polisi? Apakah sebelumnya Anggun sudah mengabari tindakan pelaporannya?” Tanyaku tanpa basa-basi.

“Tidak. Mana mungkin Om akan izinkan Anggun melakukan hal konyol ini. Dia melakukan hal memalukan atas kesalahannya sendiri, tak seharusnya ia mencari pembelaan dan pembenaran seperti ini. Dengan Anggun melaporkan suamimu. Sama halnya ia menggali kuburannya sendiri. Bukan hanya kuburnya, kuburan kami juga sebagai orang tuanya.”

Beliau menjeda kalimat, menarik nafas dengan berat. Kulihat kedua mata beliau memerah menahan tangis… atau marah. Entah.

“Adi yang menelpon kami barusan. Kami yang kebetulan berkunjung ke saudara di dekat sini, langsung saja datang ke Kantor Polisi.”

“Sungguh memalukan! Kami merasa gagal menjadi orang tua.”

Ting!

Satu pesan masuk dari Mas Ari, kubuka ternyata video yang Mas Ari kirim.

Klik. Kubuka.

Betapa terkejutnya aku. Adegan yang tidak ku duga terjadi di parkiran Kantor Polisi.

Wicaksono Adi menampar Anggun hingga terjatuh. Wanita itu ditolong oleh lelaki.

Regha??

Sahabatku masa kuliah dulu, yang tak lain adalah keponakan Pak Suryadi.

Regha mencengkram kerah Wicaksono Adi. Sepertinya mereka siap beradu jotos di depan Kantor Polisi.

Video 15 detik itu berakhir.

“Regha, ikut kesini, Om?” Tanyaku langsung.

“Iya, dia mengantar Om. Tadinya kami bawa sopir namun karena ini masalah keluarga, kami tidak ingin ada orang lain yang tahu.” Jawab beliau.

“Bagaimana kamu tahu kalau Regha disini?” Tanya Pak Suryadi selanjutnya.

“Dia sedang diluar Kantor Polisi. Bersama Anggun dan suaminya. Sepertinya mereka bersitegang.” Jawabku.

Aku dan Pak Suryadi segera meninggalkan Kafe yang jaraknya hanya 200 meter dari Kantor Polisi.

Sesampainya di parkiran, aku melihat Regha dan Wicaksono Adi masih adu kekuatan. Keduanya sama berdarahnya.

“Hentikan!” Gelegar suara Pak Suryadi berhasil membuat perkelahian mereka berakhir.

“Kalian tidak lihat ini dimana?” Tambah lelaki yng berusia sekitar 60 tahunan ini.

Sekilas kulihat wajah Anggun. Sudut bibir sebelah kirinya berdarah. mungkin bekas tamparan suaminya barusan.

“Terserah Bu Mega mau menuntut balik kamu atau tidak. Mulai sekarang aku tidak mau lagi menutupi aibmu!” Lelaki 33 tahun itu menunjukkan jarinya tepat diwajah Anggun.

“Semua terjadi karena kamu, Mas! Kalau kamu tidak sibuk menggoda wanita lain. Mana mungkin aku tergoda dengan suami orang.”

Damn!

Apa-apaan ini? Jadi, ahli selingkuh diselingkuhin??

“Aku kerja! Itu profesiku yang juga memiliki teman sejawad polwan. Kamu mau membenarkan kelakuanmu akibat dari sikapku? Begitu?” Elak Wicaksono Adi terhadap tuduhan Anggun.

“Selesaikan saja masalahmu! Aku bahkan bisa berbalik menuntut kamu dan lelaki selingkuhanmu!”

Ucap Wicaksono Adi dan berlalu pergi. Ia bahkan tidak berpamitan pada Ayah mertuanya. Mungkin ia tersulut emosi setelah membaca pesan dariku, hasil screanshoot pesan yang dikirim istrinya untuk lelaki lain dan dengan manja meminta keturunan kembar.

Ah, wanita mura**n. Akhirnya suamimu tersadar juga.

*****

“Bagaimana kabarmu, Ga?”

Lelaki yang dulu pernah sangat dekat denganku, yang ku anggap sebagai saudaraku sendiri, kini terlihat canggung berhadapan denganku.

“Baik. Kamu akan menagani kasus sepupumu?” Tanyaku langsung ke intinya.

“Tergantung.” Jawabnya. Regha, seorang advokat. Lama kami tidak bersua.

Dulu sekali, aku mengenalnya sebagai mahasiswa yang berprestasi, dia pernah menjadi Asdos saat masih semester 7. Disitulah kami mulai akrab, itupun gegara teman se-kostan ku yang mengidolakannya.

Jika ia berkarir di bidang hukum, kuyakin pasti semaksimal mungkin ia akan menangani kasus.

“Bagaimana perasaanmu?” Tanyanya kemudian.
“Umumnya istri lain.”Jawabku jujur.
“Tidak semua istri setangguh dirimu. Kamu masih sama, sulit di kalahkan jika dalam posisi benar. Tapi… Berhati-hatilah terhadap lawanmu.” Pesannya.

Aku mengangkat sebelah alisku? Ucapannya penuh makna.

Apakah Pak Suryadi atau Anggun, atau bahkan keduanya yang dimaksudkan Regha?

*****

“Bisakah kita berdamai?” Tanya Pak Suryadi tanpa basa basi lagi.
“Yang melapor terlebih dahulu, siapa? Bukankah Dia?” Aku mengisyaratkan mataku kearah Anggun yang menunduk, sesekali mengusap air matanya.

Kulihat sebagia gambar jari membekas di pipinya. Bekas tamparan suaminya beberapa saat yang lalu.

“Om sungguh menyesal atas sikap anak om.” Ucap Pak Suryadi merasa bersalah.

“Tidak Pa. Anggun tetap akan menuntut Suaminya, bahkan Anggun akan menuntut Dia! karena sudah berani memporak porandakan keluargaku.”

“Anggun! Cukup! Jangan mempermalukan keluarga kita lagi!” Bentak Pak Suryadi menanggapi ancaman Anggun padaku.

Nyali Anggun sama besarnya dengan ketidak maluan yang ia miliki.

“Harus semalu apa lagi keluarga ini oleh ulahmu?” Kali ini Regha menimpali.

“Kalau Kakak gak mau mau nolongin aku. Biar aku minta pengacara Papa buat menangani ‘Hama’ macam dia!” Ia menunjukku.

“Baiklah. Mari bertemu di pengadilan! oh iya, sekedar kamu tahu… Pengacara yang membantuku menghadapi kasus ini tidak lain adalah Pak Sugito. Dengar baik-baik, PAK SUGITO!” Aku menekankan nama Pak Sugito. Regha pasti tahu siapa beliau.

“Siapapun Pengacara itu, aku tidak gentar. Aku pastikan kalau kamu akan mendekam di balik jeruji bersama suamimu yang mesum itu!” Ancamnya.

Regha yang mengenal baik sosok pengacara yang kusebutkan, terbelalak seakan tidak percaya.

“Kamu tahu siapa Pak Sugito, Anggun?”

Anggun hanya mengedikkan kedua bahunya dengan ekspresi mengejek.

“Pak Sugito, Ketua Persatuan Advokad se-Jawa Timur. Itu artinya Pak Ilman pengacara keluarga kita ada dalam naungan beliau, tepatnya anak buah beliau.” Terang Regha.

Kulihat wajah Anggun memucat. Pak Suryadi memegang kepalanya, mungkin beliau pusing melihat perilaku anak semata wayangnya itu.

Menjaga silaturrahim itu kunci utama hidup berdampingan dengan masyarakat. Manusia makhluk sosial, adakalanya membutuhkan dan dibutuhkan.

Pak Sugito adalah pengacara handal, aku mengenal beliau karena pernah konsultasi tentang sengketa tanah.

Dengan mudah beliau memenangkan dan mengembalikan hak anak yatim di daerah Sidoarjo tempat Sepupuku tinggal.

Dan juga, sebelum kejadian ini, aku sudah berkonsultasi pada beliau, saat pertama kali aku menemukan bukti perselingkuhan Mas Indra dengan Anggun, aku ingin sekali melaporkan mereka pada pihak berwajib namun beruntungnya aku menemukan akun Wicaksono Adi, jadi aku bisa melangkah sejauh ini.


Bersambung


Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…