#Feeling – #Part_13/17

Digenggamnya tanganku. Hangat, seolah ia siap menerima konsekuensi atas perbuatannya. Aku tidak pernah bertindak tanpa perencanaan matang...

“Wanita seperti inikah yang ingin Mas lindungi? Melindungi dari siapa? Suaminya yang bucin itu?” Tanyaku pada Mas Indra sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Siapapun dia, dia tak ada artinya untukku. Aku tidak ingin melindungi siapapun, kecuali kamu dan anak-anak, keluarga kecilku.” Jawabnya penuh penekanan.

“Jika kamu tidak berbuat sejauh itu, mungkin aku dengan mudah akan memaafkanmu, Mas. Kamu tahu kan sifatku? Aku tidak pernah bisa marah pada orang yang kusayangi. Namun aku tidak menerima penghianatan apapun dalam hidupku.” Ucapku tanpa menatapnya.

Miris. Aku harus menghadapi wanita selingkuhan suamiku sendiri, dan konyolnya wanita itu melaporkan lelaki yang memberinya ‘surga dunia’ ke Polisi. Lucu bukan?

“Aku akan menghadapinya sendiri. Kamu fokus pada anak-anak saja. jangan sampai mereka mengetahui perbuatan bejad ayahnya. Aku mohon jangan beritahu mereka.”

Digenggamnya tanganku. Hangat, seolah ia siap menerima konsekuensi atas perbuatannya.

“Kupastikan mereka tidak akan pernah tahu. Dan, aku akan tetap disini. Bagaimanapun kalian berdua yang berbuat, tidak adil jika hanya Mas Indra yang dihukum.” Ucapku penuh makna.

“Maksudmu?”

“Ya, betul. Aku akan melaporkan Anggun. Aku masih menyimpan semua bukti rayuan itu.” Aku menyeringai.
“Jangan gegabah, Ma. Mereka bukan orang sembarangan.”
“Mereka? Memang siapa mereka? Aku, MEGA MUTIARA. Harusnya mereka menghawatirkan nama baik mereka sebelum berurusan denganku.” Jawabku tak gentar akan pengaruh keluarga Anggun.

Aku tidak pernah bertindak tanpa perencanaan matang. Jika Anggun dan keluarganya memiliki pengaruh, aku juga memiliki beberapa kenalan Advokat yang tidak bisa di anggap remeh.

Menjaga silaturrahim dengan manusia lain itu suatu keharusan bukan. Inilah saatnya aku meminta bantuan para sahabatku.

*****

“Kau yakin dengan laporanmu terhadap Suamiku?” Tanyaku pada wanita 31 tahun yang kini sesenggukan dihadapan suaminya.

“Tolong jangan mengintervensi Istri saya, Bu Mega! Dia adalah korban dari lelaki hidung belang seperti suami Ibu.” Wicaksono Adi pasang badan untuk melindungi istrinya.

“Benarkah Dia korban?” Aku menunjuk tepat di wajahnya.

“Kenapa tidak Bapak ikutkan casting saja Istri SHOLIHAH ini? Sangat bagus Acting nya. Saya yakin pasti akan dapat penghargaan Aktris terbaik sepanjang sejarah perfilman.” Ucapku sinis.

Tangan Wicaksono Adi mengepal. Sepertinya ia sangat tersinggung dengan ucapanku.

“Korban itu, tidak menikmati saat disentuh. Apalagi minta anak kembar dari pelakunya.” Kali ini lebih lugas ucapku.

Brak!

Lelaki tanpa memakai sragam dinasnya, tak tahan dengan ucapanku. Ia menggebrak meja dengan keras. Membuat puluhan pasang mata menatap kearah kami.

“Jangan memancing kemarahan saya, Bu! Jangan karena Ibu seorang wanita, lalu saya akan mempertimbangkan untuk marah pada semua fitnah keji, Ibu! Saya akan melaporkan ucapan Ibu yang diluar batas!” Ancamnya.

“Anda marah Pak Polisi Wicaksono Adi? Simpanlah dulu amarah anda. Gunakan nanti jika waktunya sudah tepat!” Saranku padanya.

“Oh iya, Lihatlah satu gambar yang masuk ke nomer WhatsApp anda. Sambil anda mencerna barang bukti, saya akan buat laporan perzinahan atas Anggun, istri sholihah anda.”

Aku pergi meninggalkan mereka.

Kulihat Wicaksono Adi segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.

*****

“Barang bukti ini bisa digunakan?” Tanyaku pada Pak Polisi yang bertugas.

“Ya. Lebih dari cukup.” Pak polisi menanggapi setelah melihat video dan bukti screanshoot percakapan via WhatsApp anggun dan Mas Indra.

“Tunggu! Tunggu Pak. Jangan diproses dulu laporan Bu Mega. Kami mau bermusyawarah secara kekeluargaan dulu.”

Aku menoleh pada sumber suara.

Pak Suryadi ??


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…