#Feeling – #Part_12/17

Memutuskan ikatan yang sudah lama terjalin tak semudah membalik telapak tangan. Segala kenangan tentang dirinyanakan selalu ada disanubari. Dusta, jika aku mengatakan mudah mengambil jalan berpisah. Terlebih lagi ada anak yang harus kita jaga...

Memutuskan ikatan yang sudah lama terjalin tak semudah membalik telapak tangan. Segala kenangan tentang dirinyanakan selalu ada disanubari. Dusta, jika aku mengatakan mudah mengambil jalan berpisah. Terlebih lagi ada anak yang harus kita jaga.

“Dari mana?”

Mas Indra berdiri diambang pintu, aku belum sempat menjawabnya ia segera menarikku dalam pelukannya.

“Jangan melakukan apapun yang bisa memisahkan kita. Mas mohon kali ini.”

Semakin aku memberontak berusaha melepaskan dekapannya, semakin kuat ia merengkuhku.

“Lepas!” Ucapku datar.
“Tidak! Biarkan seperti ini.” Ucapnya lirih.
“Aku rindu..” lanjutnya.

Aku bergeming, bukan berarti aku menikmati pelukannya. Meski tak kupungkiri, harum tubuhnya masih sama, hanya hangatnya berbeda karena luka.

*****

Aku menyiapkan makan malam. Bagaimanapun, aku masih seorang istri. Seperti apapun hubungan kami saat ini, aku tak bisa mengabaikan tugasku.

“Pembangunan perumahan milik Pak Suryadi tetap di batalkan sepihak.” Ia mengawali obrolan memecah kesunyian diruangan ini.
“Namun Mas masih bersyukur, beliau tidak serta merta membebankan segala biaya pembangunan pada perusahaan kita, karena ini masalah personal jadi harus profesional. Pembangunan diteruskan orang lain.” Jelasnya lagi.

Aku masih belum menanggapi.

“Bagaimana pendapatmu, Ma?”
“Terserah saja. Yang penting tidak mempengaruhi pembiayaan Arya dan Aryan di Pesantren.”

Bagiku, anak adalah prioritas.

“Tidak akan. Mas akan selalu berusaha memenuhi kalian, istri dan anak-anakku. Do’akan semoga besok proyek baru berjalan dengan lancar ya Sayang…”
“Ya.” Jawabku sepantasnya, bagaimanapun ia ayah yang bertanggungjawab atas anak-anaknya, aku tidak bisa abai akan hal itu.

Tak ada obrolan lagi. Hanya suara sendok, garpu dan piring yang beradu.

*****

[Kenapa Bu Mega tidak langsung mengatakan kebenarannya pada saya?]

Satu pesan kudapati saat aku selesai makan malam dan memasuki kamar untuk beristirahat.

[Anda sudah cek ponsel istri anda?] Balasku.

[Lelaki itu, Suami anda?] Ia kembali mengirim pesan.

[Bertanyalah pada istri anda. Dan… Anak siapa yang ia kandung.]

Klik. Terkirim. Centang abu-abu satu.

Terserah saja.

Aku bukan tak ingin menunjukkan semua bukti yang kupunya pada Wicaksobo Adi.

Bisa saja aku memberikan sejak awal saat mengetahui akunnya. Aku hanya ingin mengetahui, seberapa besar dan kuatnya kepercayaan lelaki itu pada istrinya yang ia agung-agungkan sebagai istri sholihah.

Jika lelaki itu berfikiran terbuka dan rasional, maka ia akan mencari kebenaran dibalik keberadaanku dalam biduk rumah tangganya. Kecuali bila ia diperbudak oleh cinta, maka ia akan menutup mata dengan segala yang ada.

Cukup menunjukkan jalan, biarlah ia menyusurinya sendiri. Dan caraku berhasil.

*****

“Ada apa ini?” Aku kaget bukan main. Sepagi ini ada beberapa anggota polisi datang.

Mereka membawa surat perintah untuk pemeriksan terhadap Mas Indra.

“Kasusnya apa?” Tanya Mas Indra dengan panik.

“Biarkan kami melaksanakan tugas kami. Bapak tolong ikut ke kantor sekarang, nanti akan kami jelaskan.” Ucap salah satu Polisi berbaju preman pada kami.

Aku meminta Mas Indra untuk tenang dan ikut dengan mereka.

Aku segera menelpon Mas Ari dan menceritakan semua kejadian ini.

Selang satu jam, Mas Ari datang bersama Mbak Laras dan seorang lelaki berpakaian rapi, mungin ia pengacara yang di minta keluarga suamiku untuk menangani kasus ini.

Sesampainya kami di Kantor Polisi. Aku melihat Anggun bersama Wicaksono Adi, ia tidak mengenakan seragam dinasnya.

“Ibu Anggun dan suaminya, melaporkan Pak Indra atas kasus Asusila yang dilakukan Pak indra pada Ibu Anggun.” Jawab seorang Polisi saat Mas Ari bertanya penyebab polisi menangkap adiknya.

“Apa? Asusila?” Aku bertanya seolah tidak percaya.

Aku melihat ke arah wanita itu, ia menunduk dengan berurai air mata seolah menjadi korban.

‘Pintarnya ia bersandiwara.’ Pikirku.

“Buktinya apa jika suami saya berbuat asusila?” Tanyaku tenang.
“Ada bukti cetak poto, dan itu diambil menggunakan kamera ponsel suami anda.” jawab Pak Polisi yang bertugas.

Anggun. Ternyata ia bermain drama seanggun namanya.

Namun ada yang ia lewatkan. Ia lupa, bahwa ia yang mengirim video rayuan dan meminta keturunan dari suamiku.

Keduanya bersalah. Tidak adil rasanya jika hanya salah satu dari mereka yang dipenjara.

Bukan hanya Wicaksono Adi yang jadi korban, aku juga.

Aku bisa melaporkan atas kasus perzinahan bukan?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…