#Feeling – #Part_11/17

Wanita yang telah melahirkanku, telah mengetahui segalanya tanpa sepatah katapun dariku. Mas Indra. Suamiku itu nekat mengakui segalanya pada ibu...

“Bagaimana pendapatmu, Nak?”

Wanita yang telah melahirkanku, telah mengetahui segalanya tanpa sepatah katapun dariku.

Mas Indra. Suamiku itu nekat mengakui segalanya pada ibu.

Pagi ini harusnya aku bertemu dengan Wicaksono Adi, namun mendadak kutunda dahulu.

Aku masih belum mengatakan apa-apa. Aku hanya mendengarkan segala pengakuan Mas Indra. Permintaan maafnya pada Ibuku, orang tua satu-satunya yang kupunya setelah sepeninggalan ayah semenjak aku berusia 3 tahun.

Beliau membesarkanku dengan tangan hangatnya, menjadi Ibu sekaligus Ayah bagiku.

Wanita yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang, berusaha tegar mengetahui putrinya disakiti.

“Indra menyesal, Bu. Demi Tuhan, tidak ada secuil inginku berpisah dari Mega.”

Kalimat itu, entah sudah beratus kali Mas Indra suarakan, namun tak ada getar didadaku untuk mempercayainya. Aku sakit.

“Tidak ada pernikahan yang sempurna, Nak. Segalanya akan diuji. Itulah hidup. Jika tidak diuji dengan ekonomi, bisa jadi anak sebagai ujian. Jika bukan, bisa juga orang tua dan sanak keluarga. Jika semua semua baik-baik saja, bisa juga diuji dengan kesetiaan. Disisi inilah kalian berdiri sekarang.” Ucap Ibu dengan sabar.

Ia memegang tanganku, memberiku kekuatan untuk menerima energi kesabaran darinya.

“Ibu tidak membenarkan perbuatan Indra. Itu salah di mata manusia, terutama dihadapan Allah. Namun, adakalanya memaafkan lebih baik dari pada mendendam. Sakit memang. Sangat sakit rasa dihianati. Namun, cobalah berdamai sekali ini saja. Sekali saja beri kesempatan untuk Suamimu memperbaiki semuanya. Jika bukan untukmu, untuk kebahagiaan anak-anak.”

Allah…

Aku ingin memaafkan. Namun sakitnya masih menghantui. Aku takut memilih memaafkan namun tak bisa melupakan.

Teringat segala kesakitan akan menghapus usaha memaafkannya, timbul benci juga sakit lagi dan lagi.

“Indra dan keluarga sudah datang jauh-jauh kerumah kita. Meminta maaf atas segala yang terjadi padamu. Lihatlah suamimu. Ia mau mengakui segala aibnya dihadapan keluarganya dan Ibu. Tidak bisakah sedikit kamu bukakan pintu maaf untuknya? Lihatlah sesungguhannya. Ingatlah segala kebaikannya. Selama ini, dia adalah lelaki terbaik dan sangat bertanggungjawab. Sampai saat inipun, ia masih bertanggungjawab, bukan?”

Mas Indra. Bersungguh-sunggukah ia? Bahkan sekarang ia mengajak ibuku kerumah ini. Semarang-Malang, ia menempuhnya semalaman bersama keluarganya menjemput Ibuku.

Namun luka ini yang masih menganga utuh. Bisakah aku memaafkannya??

Aku sangsi.

*****

“Bagaimana kabar, Bu Mega? Maaf mendadak ngajak ketemuannya.”

Lelaki berambut rapi dan klimis, tepat berada didepanku. Kulit sawo matang dengan lesung pipi disebelah kiri. Tampan menurutku dengan wajah teduh yang dimilikinya.

Dialah lelaki kasar itu? Wicaksono Adi.

“Iya, tidak apa-apa.” Jawabku seperlunya.
“Saya tidak bisa berbasa-basi, Bu. Langsung ke niat awal saja menjagak Ibu bertemu.” Ucapnya dengan serius. Aku masih menunggu apa yang ingin ia katakan.
“Sebenarnya, ada masalah apakah Ibu Mega? Kita tidak kenal sebelumnya. Hanya kenal melalui dunia maya…” Ia menarik nafas. Mungkin menata aksara untuk merangkai kata selanjutnya.

“Istri saya, Anggun. Darimana Bu Mega dapat nomernya? Apa Ibu ada dendam pribadi dengannya?”

What??

Dendam??

Of course!

Adakah seorang istri yang tidak dendam dengan wanita perusak rumah tangganya?

Aku bukan malaikat. Hanya manusia biasa yang menginginkan keadilan.

“Menurut Pak Adi? Apa mungkin saya tiba-tiba tahu nomer pribadi istri Bapak?” Tanyaku selanjutnya. Ia menautkan kedua alisnya, sepertinya ia sangat serius ingin mengetahui alasanku.

“Istri Pak Adi, bukan wanita suci.” Ucapku pelan dengan menekan setiap kata yang ku ucap.

Nafas memburu, tangan mengepal. Selanjutnya ia memejamkan kedua matanya.

Berhasil. Ia berhasil mengendalikan emosinya.

Jika ia lelaki kasar dan tempramen. Ia pasti akan melakukan kegaduhan. Namun Ia kembali menguasai dirinya.

“Tolong jangan memfitnah Istri saya, Bu. Ibu juga seorang perempuan. Saya menghargai perempuan,Bu. Maka dari itu, tolong berhenti menganggu rumah tangga kami.”

Sangat masuk akal. Sesuai kodrat, suami melindungi istrinya.

“Istri saya sedang hamil, Bu. Jadi tolong jangan mempengaruhi psikisnya.” lanjutnya kemudian.

Hamil?

Anggun hamil?

Kulihat binar kebahagiaan dimata lelaki malang ini. Dia berbahagia dengan kehamilan istrinya.

“Sudah berapa bulan?” Tanyaku selanjutnya meski sangat penasaran, anak siapakah itu?
“2 bulan. Usia awal kehamilan rentan tejadi keguguran. Tolong jangan membuatnya merasa tidak nyaman.” Pintanya serius.
“Saya kesini ingin memeperingatkan saja.” Tambahnya lagi.

Kasihan. Ia mengancam orang yang tidak takut apapun.

“Anda mengancam saya? saya hanya takut Tuhan. Jika orang takut akan Tuhannya, maka ia akan menghindari perbuatan yang dibenci Tuhan.”

Santai saja. Tidak perlu kutanggapi dengan amarah.

“Maksud Bu Mega Apa berkata seperti itu?”

Aku mempersiapkan ucapan terbaik untuk lelaki ini.

“Yakinkah dengan kehamilannya?” tanyaku sesantai mungkin.
“Jangan menguji kesabaran saya, Bu. Saya mengajak Ibu bertemu dengan baik. Jangan memancing emosi saya.”

*****

Tegakah aku mengungkap kebenaran Anggun pada suaminya? kulihat banyak cinta dimatanya untuk istrinya.

“Jika Allah tidak membuka aib manusia, manusia lain jangan mencoba membukanya. Biar Allah memberi jalannya sendiri.” Pesan ibu sebelum kembali ke Semarang kemarin.

“Maaf pak Adi. Pikirkan segala yang terjadi. Sebab-akibat segala perbuatan Istri, Bapak.”

Aku, Mega Mutiara. Tak sebaik malaikat.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…