#Feeling – #Part_10/17

Mas Indra menyodorkan ponsel miliknya. Aku bergeming. Terserah saja. Percuma, kan? Semua sudah hancur. Mas Indra bergeser disampingku. Ia lalu mengklik satu persatu Aplikasi. Telegram, Instagram, Facebook, WahtsApp. Ia memblock semua akses penghubung antara dia dan Anggun, ia mengarahkan ponselnya tepat di depanku.

“Nih! Silahkan periksa semua. Pastikan kalau ucapanku tak hanya omong kosong.”

Mas Indra menyodorkan ponsel miliknya. Aku bergeming.

Terserah saja. Percuma, kan? Semua sudah hancur.

Mas Indra bergeser disampingku. Ia lalu mengklik satu persatu Aplikasi. Telegram, Instagram, Facebook, WahtsApp. Ia memblock semua akses penghubung antara dia dan Anggun, ia mengarahkan ponselnya tepat di depanku.

“Aku hanya tergoda sesaat. Tak ada yang bisa menggantikanmu, Ma.” Ucapnya kemudian dan meraih tanganku.

Diam. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Sengaja aku membiarkan Mas Indra memegang tanganku lalu menciumnya seperti saat-saat manis bersama dulu.

Hambar.

Getaran cinta itu entah kemana. Apakah hilang terkikis kekecewaan yang teramat dalam? Atau cinta itu berubah jadi kebencian? Sepertinya keduanya mendominasi.

Aku menarik tanganku dari genggamannya.

“Terlambat.” Ucapku tanpa menatapnya.
“Aku akan berusaha memperbaiki semuanya, Ma.” Keukehnya.
“Hati dan kepercayaan ibarat kaca. Sekali pecah tak kan bisa menjadi sama meski sudah disatukan kembali serpihannya.”
“Aku akan berusaha. Waktu akan mengobati luka. Tak perduli selama apapun. Setahun, dua tahun bahkan seumur hidup pun, Papa akan tetap berusaha mengais puing-puing sisa cinta itu. Aku yakin masih ada cinta di hati Mama.”

Manis.

Aku bisa saja melunak jika tidak sekecewa ini.

“Berusahalah.” Ucapku lalu meninggalkannya sendiri di kamar kami.

Melupakan kekecewaan yang teramat besar apalagi dengan luka yang ia torehkan, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tidak pernah kita temui sebelumnya. Tak kan bisa.

Pasti membekas disana, yang bernama hati.
*****

Menanggapi ancaman Anggun?

Sama sekali tak menggentarkan jiwaku. Alih-alih takut pada ancaman itu, aku malah terbahak dibuatnya.

[Kamu mau menuntutku? Silahkan!]

Klik.

Ku kiriim satu pesan pada wanita itu.

[Apa Mbak takut? Makanya jangan coba-coba menekanku, Mbak. Suamiku jelas lebih mempercayaiku dibanding orang tidak jelas seperti Mbak.] Balasnya setelah sepuluh menit berlalu.

Ha ha ha… Pecaya diri itu penting, tapi harus menyesuaikan dengan posisi diri.

[Baiklah. Mari berhadapan dipengadilan. Saya bisa bantu Pak Polisi menambah barang bukti.]

Kutambahkan dibawah pesanku satu foto Anggun dan Mas indra di atas ranjang Hotel.

Keduanya centang biru.

Tak ada balasan.

Masihkah ia menunjukkan taringnya? Lihat saja nanti.
*****

Sudah hampir sebulan.Aku belum menerima surat penahanan atau panggilan untuk dimintai keterangan.

Sengaja aku tidak melakukan apapun. Aku hanya menghormati Mbak Laras dan Mas Ari yang datang seminggu lalu, dan memintaku untuk memberikan waktu pada Mas Indra untuk membuktikan perubahannya.

Soal perpisahan. Aku masih berniat tidak meneruskan pernikahan ini.

“Hari ini waktunya berkunjung ke Pesantren, Ma.”

Mas Indra merangkul pundakku. Kutepis tangan kekar itu.

Diusianya yang ke 40, ia masih seperti pemuda usia 30an. Bentuk badan terjaga dengan baik dengan wajah yang rupawan, tidak heran jika wanita seusia Anggun tergoda akan pesonanya. Namun mereka berdua salah menempatkan diri, karena mereka tidak sendiri.

Mas Indra sebenarnya memiliki kebribadian yang hangat. Ia ramah dan baik pada siapapun. Ia tak segan menolong orang yang dalam kesusahan. Itulah kenapa diantara mereka yang menawarkan pernikahan padaku, aku memilih dia sebagai pendampingku.

Semasa muda, aku tidak berkencan selayaknya mereka seusiaku. Aku hanya berteman dengan siapa saja, termasuk senior di kampus tempatku berkuliah, yang kini jadi suamiku.

“Tidak bisakah kita seperi dulu?”

Mungkin ia tersinggung dengan reflekku menghindari pelukannya.

“Bisakah Mas seperti dulu?” Aku balik bertanya.
“Bisa. Karena aku tetap Indra yang dulu. Yang sangat mencintaimu.”Jawabnya.

Aku hanya diam, tak menanggapi ucapannya.

“Apakah satu kesalahanku, menghapus semua kebaikan yang kulakukan?”

Lagi. Dan aku masih bergeming.

“Ayo kita berkunjung ke Pesantren. Arya dan Aryan pasti sudah menunggu kedatangan kita.” Aku mengalihkan arah pembicaraan kami.

Mas Indra menarikku, membawaku dalam pelukannya.

“Mas mohon. Maafkanlah satu kesalahan ini.” Bisiknya.
*****

Mereka tertawa lepas, mengurai rindu yang terbelenggu selama dua minggu terakhir. Setidaknya mereka bertahan dan betah di Pesantren meski selama ini tak pernah seharipun berpisah dariku, kecuali ada kegiatan perkemahan di Sekolahnya dulu. Aku sangat mengapresiasi kegigihan mereka dalam menuntut ilmu.

“Ma, kenapa kami tidak punya adik? Teman-teman kami sering becerita tentang adik mereka. Senang ya kalau punya adik.” Tiba-tiba saja Aryan membicarakan lagi soal itu.

Aku hanya tersenyum.

“Nanti dibelikan, di Koperasi ya.” Seloroh Papanya.

Aryan manyun. Sedangkan Arya, ia sama seperti terakhir saat kami berkunjung. Ia menatapku.

“Mama, sehat?” Tanyanya. Aku tersenyum dan mengangguk.
“Aryan selalu mimpi Mama menangis. Mama tidak apa-apa kan?” Tanyanya lagi.
“Mama sehat sayang. Cuma kangen kalian.” Aku memeluk mereka bergantian.

Ting!

Satu pesan masuk di WhatsApp.

[Mari bertemu, Bu Mega.]

Wicaksono Adi, tertera nama pengirim pesan itu.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…