#Feeling – #Part_09/17

Masalah bukan untuk memperendah derajat manusia, ia ada guna menempa manusia untuk lebih memperbaiki diri lagi. Pilihan manusia hanya bertahan menghadapinya sebaik mungkin, atau lari sejauh mungkin.

Masalah.
Masalah bukan untuk memperendah derajat manusia, ia ada guna menempa manusia untuk lebih memperbaiki diri lagi. Pilihan manusia hanya bertahan menghadapinya sebaik mungkin, atau lari sejauh mungkin.

Keduanya memiliki andil dimasa depan anda. Memilih menghadapi dan bertahan maka anda akan lebih kuat dan bijak menghadapi badai yang akan datang esok hari. Sebaliknya, lari dari masalah akan menunjukkan seberapa pecundangnya diri namun tak menyelesaikan apapun.

Apapun yang terjadi hari ini, bertahanlah dalam do’a dan upaya yang baik. Sesakit apapun rasa dihati, do’a akan melunakkan rasa sakitnya hati.

Percayalah, tak ada masalah yang tak memiliki jalan penyelesaian. Bersabarlah.
*****

Video yang kukirimkan ke Pak Polisi masih belum ada tanggapan.

Apakah ia kesal, marah atau tak perduli dengan ulah istrinya, aku tak tahu.

Biarlah untuk kali ini. Cukup satu bukti saja yang ku kirim padanya.

Sejujurnya aku tidak ingin menjadi penyebab hancurnya sebuah ikatan yang suci. Hanya saja, karena mengikuti hati yang kecewa tak bertepi, sakitku mengalahkan logika. Apa yang kulakukan ini sudah tepat? Entahlah.

Sebuah panggilan dari nomer yang tak dikenal masuk.

“Assalamu’alaikum.” Kuawali pembicaraan kmi dengan mengucap salam sebelum mengatahui siapa penelpon diseberang sana.
“Wa’alaikumsalam. Bu Mega. Ini saya Wicaksono Adi.” Jawab lelaki yang menelponku.
“Ya, Pak. Maaf sebelumnya saya mengirim video itu ke bapak.”
“Apa ada motif lain Bu? Saya bisa menuntut Bu Mega karena menyalahgunkan IT.” To the point, tanpa basa basi lelaki itu.

Wajar, dia seorang suami yang harus melindungi istrinya bukan? Apalagi dia seorang Polisi, mudah baginya untuk mengajukan tuntutan hukum.

“Sebelum berniat menuntut saya. Coba gunakan wewenang Bapak untuk melacak video itu. Kapan istri bapak membuatnya. Dan… Dikirim pada siapakah video itu pertama kali, sehingga saya bisa mengirimnya kembali ke Bapak. Oh iya. Kalau saya mau, saya bisa mengunggahnya ke Media Sosial agar istri anda terkenal. Tapi tidak saya lakukan, karena saya masih punya hati nurani.” Terangku panjang lebar.

“Jangan memancing emosi saya, Bu!” Ucapnya terdengar menahan emosi. Mungkin ia geram dengan ucapanku barusan.
“Bapak ingin mengetahui fakta atau memilih menutup mata. Terserah Bapak saja. Anda berhak menentukan. Tapi ingatlah. Kadang mengetahui kebenaran itu sangat menyakitkan, namun itu lebih baik daripada selamanya hidup bersama dalam kebohongan.” Ucapku.

Tit. Dimatikan.
Pak Wicaksono Adi memutus pembicaraan kami.

*****

Gerimis yang turun semalaman tadi, tidak deras namun mampu membasahi seluruh bumi yang ia jatuhi. Pelan tapi pasti.

Seolah menyiratkan langkah yang ku ambil untuk menghadapi semua masalah ini.

Tak harus meluapkan seluruh emosi. Tak harus mengedepankah pembalasan dendam akan sakit hati.

Karena…
Ada hati mereka yang harus dilindungi agar tak tersakiti. Arya, Aryan, keluarga besar kami, tak harus merasakan gundahnya hati ini.

“Apa harus sejauh ini?”Tanya Mas Indra.
“Apanya?” Tanyaku kembali.
“Kenapa kamu melibatkan seluruh keluarga Anggun? Yang salah bukan mereka. Aku dan Anggun yang bersalah. Dan kami siap meminta maaf padamu.”
“Kami?” aku tersenyum sinis.
“Bukan Indra dan Anggun, tapi berubah jadi KAMI? Haruskah diperjelas lagi hubungan kalian agar seluruh dunia tahu itu?”
“Kenapa selalu memancing emosi? tidak bisakah kita bicara secara baik, Ma?”

Mas Indra menggeser kursinya tepat di depanku. Posisi kami berhadapan.

“Kalian masih intens berbagi kabar, berkirim pesan. Haruskah aku bahagia dan menari mengetahui perselingkuhan suamiku?” Datar pertanyaan yang ku ucapkan.
“Dia menghubungiku karena suaminya marah semalaman karena video yang Mama kirim. Tolong jangan mencari masalah, Ma.” Terangnya.

Aku yang mencari masalah katanya?

Jika mereka tak bermain api, tak mungkin aku sejauh ini.

“Pak Suryadi membatalkan kerjasama dengan Perusahaan. Semua salah Mama!”
“Bukan hanya itu. Mereka akan menuntut Mama karena membuat resah keluarga mereka dengan mengirim video Anggun. Karena menyalahgunakan IT dengan tidak bijak.” Tambahnya.

Aku tersenyum. Malah ingin tertawa tepatnya.

Manuntutku ??

Oke. Lihat saja, apa mereka akan bisa berkutik jika aku mengirimkan pesan Anggun saat meminta keturunan dari lelaki lain?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…