#Feeling – #Part_07/17

Menikah. Dulu aku mengira, menikah itu akhir dari cinta yang berhasil dipersatukan dalam ikatan suci. Sah. Setelah ijab qobul, baru kusadari bahwa menikah adalah awal perjalanan 'saling' seumur hidup. Saling menerima kekurangan pasangan, saling memberi yang terbaik yang kita miliki, saling mendukung, saling menyayangi, saling mencintai, saling menghargai dan paling penting saling menjaga amanah.

Menikah. Dulu aku mengira, menikah itu akhir dari cinta yang berhasil dipersatukan dalam ikatan suci. Sah.

Setelah ijab qobul, baru kusadari bahwa menikah adalah awal perjalanan ‘saling’ seumur hidup. Saling menerima kekurangan pasangan, saling memberi yang terbaik yang kita miliki, saling mendukung, saling menyayangi, saling mencintai, saling menghargai dan paling penting saling menjaga amanah.

Amanah. Ah, kesetian termasuk didalamnya bukan?

Aku mengamanahkan cinta dan kesetiaan padanya. Akupun menjaga cinta dan kesetiaan untuknya.

Aku tidak menyesali kesetiaanku hingga detik ini, bukan karena tak pernah tergoda, aku hanya berusaha tidak tergoda dengan kebahagiaan dunia saja, aku takut Tuhanku, sungguh.

Taukah sesakit apa rasanya amanah itu di abaikan? Tak ada perbandingannya.

Bagi wanita, tak ada rasa sakit yang menandingi sakitnya sebuah penghianantan. Pasti. Semua wanita akan mengatakan hal itu.

Jika tak ada iman. Bisa saja aku akan berbuat yang sama. Bukankah wanita adalah makmum? Makmum akan mengikuti imamnya, itu bisa sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan salah itu.

Tapi, Iman lebih utama dibanding imam bukan? iman tak pernah salah namun imam bisa jadi salah karena ia hanya manusia. inilah sebab dulu aku mencari imam yang beriman.

Mas Indra? Dulu aku melihatnya sebagai imam yang beriman. Namun kini, entah kemana keimanannya, terkikis oleh masa atau kesibukan dunia hingga ia bisa tergoda wanita.

“Godaan lelaki itu ada tiga Sayang. Harta, tahta dan wanita. Pertebal iman, selalu ingat Allah, anak dan istri. Agar ketiganya tak menggoyahkan keimanan Mas.”

Sering kali kalimat itu yang ku ucapkan padanya. Aku bukan ragu, tapi iblis sudah berjanji akan menghancurkan anak cucu Nabi Adam sejak awal, jadi apa salahnya saling mengingatkan dalam kebaikan.

“Insya Allah jodoh sampai ke SyurgaNya”

Kubaca caption unggahan foto keluarga ‘Bahagia’ milik akun Wicaksono Adi.

Pak Polisi. Andai kamu tahu apa yang terjadi, masihkah kau sertakan harapan ke Syurga bersama istrimu, yang nyatanya ia selingkuhan suamiku.

“Aamiin” Komen akun Anggun Putri.

Aku like dengan emot tertawa.

“Aamiin Pak Polisi. Jangan ada dusta diantara kita (suami istri). Aaseekkk” Komentarku kemudian.
“Aamiin. Terimakasih Bu Mega. InsyaAllah tak ada dusta, kalau dusta bisa masuk penjara lah, kena pasal penipuan. hehehe.” Balas Wicaksono Adi.
“Kalau pasal perselingkuhan pak? Bisa berapa tahun pidana ya?” Balasku lagi.
“Wah, kalau perselingkuhan? Jangan lah Bu. Jangan sampai lah. Gimana nih Mama Anggun Putri, Papa bakal tidur diluar ya kalau sampai main api dengan cewek? hahaha.” Balas Pak Polisi tak lupa ia tag nama istrinya.

Bukankah ini moment lucu bagiku? Atau malah moment mendebarkan buat Anggun? Whatever lah.

Ting!
Ting!
Ada dua pesan masuk di WhatsApp ku.

[Tolong jangan ganggu kami, Mbak.]
[Cukup Ayah dan Ibu yang Mbak teror. Jangan Suamiku.]

Aku tertawa membaca pesan perempuan sok polos ini.

Didepan suami dan orang tuanya, ia berlagak menyesuaikan dengan namanya, Anggun.

Kenyatannya, ia meminta keturunan dari lelaki lain. Munafik!

Aku mengirim semua percakapannya dengan suamiku yang sempat ku foto menggunakan ponselku.

[Inikah topeng perempuan baik itu?

Aku masih menyimpan nomer Pak Wicaksono Adi.]

Ku kirim balasan itu.

Centang biru. Namun tak ada balasan darinya. Mungkin ia takut atau ia merencanakan sesuatu, entahlah.
*****

Jam 5 sore Mas Indra pulang. Tumben ia pulang jam segini.

“Apa ini, Ma?” Tanyanya sambil memperlihatkan gambar yang ku kirim pada Anggun.

Oh, jadi ia mengadu.

Mereka masih berhubungan.

“Perempuan ‘Suci’ itu minta perlindunganmu, dariku?” Ucapku sinis.
“Papa sudah meminta pada Mama. Tolong hentikan aksi balas dendam Mama. Sudahlah. Papa akan melakukan apapun. Segalanya asal Mama mengakhiri perang ini.” Ucap Mas Indra menaikkan suara, mungkin ia mulai lelah bersandiwara memelas padaku beberapa hari ini.

“Haruskah aku melupakan perselingkuhanmu? Haruskah aku menerima semua penghianatanmu? Haruskah aku membiarkan perempuan mura**n itu bahagia diatas deritaku? Haruskah…”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat dipipiku.

Sakit. Tapi tak lebih sakit dari bathin dan harga diriku.

“Maafkan aku, Ma. Papa tidak sengaja.” Ucapnya mencoba menyentuhku. Aku menolak.
“Indra!”

Kami menoleh ke sumber suara.

Mas Ari berdiri tepat di tengah pintu rumah kami.

Ia tergesa mendekat, dan..

Bugh!

Bugh!

“Mas…!” Mbak Laras berlari melerai suaminya yang memukuli adik kandungnya itu.

Aku hanya diam melihat Kakak yang memukuli adik kesayangannya.

“Ada apa ini, Mas? Kenapa Mas memukuli Indra?” Mbak Laras bertanya lantang.

“Lelaki breng**k! Bikin malu keluarga! Bisa-bisanya kamu menampar istrimu demi membela selingkuhanmu!” Mas Ari menarik kerah kemeja Mas Indra. Mas Ari siap melayangkan tinjunya untuk yang ketiga kalinya namun Mbak Laras menahannya.

Mbak Laras menatapku. Mbak Ipar satu-satunya yang kumiliki itu melihat wajahku. Mungkin memerah bekas gambar tangan suamiku.

“Sejak kapan?” Tanya Mbak Laras kemudian.

Aku diam. Aku belum berniat memberitahukan masalah ini ke keluarga, namun mereka keburu mengetahuinya hari ini.

“Masalah sebesar ini. Kamu tidak bercerita, Ga? Kami keluargamu. Kamu adikku.” Ucap wanita yang usianya 3 tahun lebih tua dariku. Ia membingkai wajahku.

Tesss.

Sekian lama aku tak menangis, kini air mataku jatuh seketika. Aku menangis memeluknya.

Ternyata aku tak sekuat itu.

Karena desakan mereka, akhirnya aku menceritakan semua yang kualami selama enam bulan terakhir ini pada mereka. Kebohongan dan semua bukti perselingkuhan Mas indra, semuanya.

“Jika kau hanya menyakiti istrimu. Kembalikan ia pada keluarganya.” Titah Mas Ari kemudian.
“Tidak. Tidak akan pernah aku melepaskan Mega. Aku mencintainya.” Jawab Mas Indra.

Aku membenci cinta yang diucapkannya.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…