#Feeling – #Part_05/17

Disinilah kami, di Pendopo Pesantren tempat para wali santri menunggu untuk menemui buah hati mereka. Aku memeluk keduanya secara bergantian. Tak lupa mereka memeluk Papanya juga. Mereka tidak menjawab, kutatap mata mereka yang berkaca-kaca.

Hari Jum’at, hari ini waktu berkunjung ke pesantren. Sebenarnya enggan mengajak Mas Indra, namun demi anak-anak aku harus mengesampingkan perasaanku.

Disinilah kami, di Pendopo Pesantren tempat para wali santri menunggu untuk menemui buah hati mereka.

“Kangen Mama.” Itubkata pertama yang mereka ucapkan.

Aku memeluk keduanya secara bergantian. Tak lupa mereka memeluk Papanya juga.

“Betah kan di pesantren?” Tanyaku kemudian.

Mereka tidak menjawab, kutatap mata mereka yang berkaca-kaca.

“Kami rindu Mama. Entah mengapa, padahal awal masuk pesantren ini, kami antusias sekali. Kami tidak mengalami kendala beradaptasi.” Jawab Arya yang kami anggap sebagai sulung dari kembarannya.

“Kami mengkhawatirkan Mama. Mama sehat kan?” Sahut Aryan kemudian.

Ah, anak-anakku. Tak bisakah sedikit Mama berahasia dengan perasaan kalian?

Meskipun mereka lelaki, namun entah mengapa mereka selalu peka terhadapku.

“Mama sehat sayang. Buktinya sekarang disini. Mama rindu berat deh.”Jawabku menggodanya.
“Berarti betul dong kata Dilan. Rindu itu berat. Jangan rindu, kalian gak akan kuat, biar Mama dan Papa saja.” Ucap Mas Indra menggoda mereka.

Kami tertawa bersama.

Jika melihat kebahagiaan mereka. Sanggupkah aku mengatakan rencana perpisahan ini pada anak-anak?

Setelah satu jam, kami harus pamit pulang. Sore hari mereka harus mengikuti kerja bakti untuk membersihkan seluruh area pesantren yang memang aturan itu diberlakukan pada seluruh santri agar disiplin menjaga kebersihan.

“Sebenarnya ada yang ingin Mama dan Papa sampaikan.” Ucapku sebelum berpamitan.

Mas Indra memegang tanganku, seolah mencegahku agar tak mengatakan sesuatu.

“Mama dan Papa ingin kalian jangan sampai lupa belajar yang rajin ya. Hafalan Qur’an nya juga. Kalau kalian jadi hafidz qur’an, Papa dan Mama pasti sangat bahagia dan bangga.” Potong Mas Indra mengalihkan ranah pembicaraan yang akan ku sampaikan.

Baiklah, mungkin belum tepat waktunya untuk mengatakan pada mereka.

*****

“Bertanyalah segalanya, pasti akan kujawab dengan jujur. Segalanya, semua yang ingin Mama tahu.” Ucap Mas Indra sesampainya kami dirumah.
“Tidak perlu. Semua sudah jelas.” Jawabku tanpa menoleh.
“ini.” Mas indra menyodorkan ponselnya, tak ada kode membuka kunci layar atau semacamnya.

Aku masih enggan mengambil ponsel dari tangannya.

“Tak akan ada lagi rahasia. Aku berjanji. Tapi tolong jangan pernah berfikir meninggalkanku, karena aku tak bisa tanpamu.” Ucapnya seraya menaruh ponselnya ke tanganku.

******
Aku mengotak atik seluruh aplikasi. Kubaca semua pesan, mulai dari Massanger, WhatApp, Telegram, Instagram. Aku menemukan sebuah kenyataan pahit, mereka berhubungan disetiap akun itu. Saling memberi semangat dan berkirim pesan rindu.

Dada ini… Rasanya sakit tak terkira. Air mata yang selama ini ku tahan, luruh tak terbendung.

Segera kuhapus air mataku.

Tidak. Aku harus kuat. Selama ini aku bisa menahannya, aku akan bertahan hingga akhir.

Mulai ku buka galeri poto, aku menemukan banyak gambar perempuan itu tersimpan di satu file khusus.

Seolah ada yang menusuk di ulu hati, sakit tak tertahan melihat gambar-gambar istri seorang abdhi negara itu.

Kubuka file video, ada beberapa video yang isinya ucapan selamat bekerja. Jangan lupa makan sayang, entar sakit. Dan…

Dan video ia membuka 2 kancing baju teratasnya hingga bajunya sedikit terbuka, memperlihatkan belahan dd nya yang tak terbalut bra, ia sengaja tidak memakainya demi membuat video ini, mungkin.

Bukan hanya adegan itu yang ia rekam, ia mengerlingkan mata dengan nakal. lalu menggigit bibir bawahnya.

Astaghfirullah… Niat sekali perempuan ini.

Tidakkah ia mengingat suaminya? tidakkah ia mengingat putrinya? tidakkah ia malu dengan statusnya sebagai pengajar di salah satu universitas ternama?


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…