#Feeling – #Part_04/17

Hingga tengah malam lelaki itu tak bisa tidur. Meski tak menunggu tapi ia gelisah, kenapa Rumi tak masuk-masuk kamar. Apakah dia kaget atau marah dengan tingkahnya tadi. Bukankah harusnya senang. Arfan yakin meski gadis itu tak mengenalnya tapi ia sudah menerima posisinya sebagai suami..

Arfan kembali ke kamar dengan perasaan lega walau tidak seratus persen. Itu bukanlah ekspresi cinta, ungkapnya dalam hati. Bukan. Yang tadi hanyalah….

Hanya ungkapan ‘sambil menyelam minum air’. Semacam pemberitahuan sekaligus permintaan maaf atas apa yang dilakukannya selama ini kepada Rumi.

Sedari awal dia mengakui yang salah adalah dirinya bukan gadis itu. Kenapa ia tak bisa bangkit dari takdir. Dan Rumi adalah … korban. Korban dari kelemahan jiwanya.

Mungkin selama ini ia terlalu sombong. Ya selama ini ia bisa meraih apa saja yang diinginkan laksana jalan tol tanpa hambatan; cita-cita, pendidikan mentereng, pekerjaan mapan tapi ternyata tidak untuk pasangan. Dan fakta itu sungguh menyakitkan. Meski ia percaya takdir tentu saja.

Lalu sekarang ia harus belajar. Belajar menemukan cinta. Cinta untuk Rumi.
Ia sudah terlanjur menikahinya, maka ia mau tak mau harus belajar untuk jatuh cinta kepadanya. Sungguh sengsaranya menjalani pernikahan jika tanpa cinta di dalamnya.

Ia harus memindahkan paket cinta yang salah alamat, dari Arini ke Harumi sesegera mungkin.

Bagi Arfan mencintai istri sebagai pasangan hidup adalah keharusan karena ia tak ingin menggaulinya hanya sekedar memenuhi kewajiban apalagi nafsu. Tidak.
Seandainya mengedepankan nafsu sudah sejak dari awal ia akan menerkamnya.

Hingga tengah malam lelaki itu tak bisa tidur. Meski tak menunggu tapi ia gelisah, kenapa Rumi tak masuk-masuk kamar. Apakah dia kaget atau marah dengan tingkahnya tadi. Bukankah harusnya senang. Arfan yakin meski gadis itu tak mengenalnya tapi ia sudah menerima posisinya sebagai suami. Sejak awal.

Di seberang kamar Rumi yang masih berdebar dengan perlakuan Arfan jadi gagal fokus melanjutkan pekerjaannya. Ia malah menjatuhkan tubuhnya ke ranjang single bed kecil di kamar itu. Pikirannya melayang…terbang terbawa mimpi menjadi bidadari. Hingga pagi.

*****

Arfan baru pulang shalat subuh dari masjid ketika melihat Rumi dan Mak Sani tengah duduk berdzikir sehabis shalat berjamaah.
Ia pun ke atas. Rumi melihat bayangan suaminya berkelebat. Ia mendadak canggung untuk menyusulnya. Tapi ia butuh bicara.

“Mak, minta tolong siapin sarapan untuk Bapak ya.”
“Iya Bu.”

Rumi ke atas. Dilihatnya Arfan tengah mengaji. Suaranya merdu menembus kalbu.
Rumi pun sibuk menyiapkan baju untuk berangkat menuju tempat pekerjaannya jam 9 pagi nanti.

“Kamu mau pergi?” Tiba-tiba suara Arfan sudah di belakangnya.
“Ya Mas, berangkat jam 8 nanti. Ada jadwal training.” Tangannya masih sibuk mencari baju dan kerudung yang sesuai.
“Mau kuantar?” tawarnya. Rumi menatap wajah Arfan sesaat. Sepertinya cuaca benar-benar sedang baik sampai-sampai ia nawarin tumpangan.
“Mas Arfan kan berangkat jam 7, nanti kesiangan sampai kantor.”
“Nggak, kebetulan hari ini aku lagi ada acara di luar kantor jadwalnya jam 10.”

Rumi diam sebentar seolah berpikir.

“Boleh kalau begitu, masa tawaran teman baik musti ditolak?” ujar Rumi tersenyum.
“Teman baik ya?….tapi aku semalam kehilangan teman tidur” ujarnya lalu duduk di tepi ranjang. Tanpa ekspresi.

Rumi terkesiap. Kehilangan?

“Maaf, aku rebahan di kasur sebelah karena capek nggak tahunya kebablasan sampai pagi. Aku … aku mana tahu Mas Arfan.”
“Bukan takut kan?” Kali ini Arfan menyunggingkan senyum meski samar.
“Takut? Takut apaan?” Mata Rumi menyipit.
“Takut aku melakukan lebih dari yang semalam ….” Pipi Rumi terasa menghangat.
“Misalnya?” tantang Rumi.

Glek. Kenapa Arfan selalu merasa terjepit kalau ngobrol sama dia. Mau mengalihkan tema nggak mungkin.

“Misalnya … misalnya apa ya? Mmm … memeluk mungkin” ujar Arfan kehabisan ide.

Rumi tertawa kecil untuk menutupi malu. Untung kulitnya agak coklat, kalau putih bisa ketahuan rona merah di pipinya. Jadi biar kulit coklat tetap saja bermanfaat.

“Memang berani?” lanjut Rumi sekenanya sambil berjalan menjauhi Arfan.

Si Rumi ini selain banyak alasan paling jago mancing-mancing, gumam Arfan. Mungkin itu bakat terpendamnya.

Perempuan itu hendak mengambil tas di atas lemari yang agak tinggi. Tangannya mau menggapai tapi Arfan sudah lebih dulu menjangkaunya karena tubuhnya lebih menjulang.

“Nih.”
“Makasih” tukas Rumi hendak meraih tas slempangnya namun Arfan menahan di dadanya. Rumi melotot.
“Mas!” Rumi mendekat ke arahnya mau menarik tas itu secara paksa. Arfan melempar tas hitam itu begitu saja ke atas kasur dan ia langsung meraih tubuh Rumi dan mendekapnya.

“Kamu terbukti lebih berani ternyata, karena kamu yang mendekat minta dipeluk.” bisik Arfan sambil tertawa kecil.
“Enak saja, kamu yang menjebak.” Rumi hendak meronta tapi Arfan malah mengeratkan pelukannya.
“Mulai sekarang kita tingkatkan status pertemanan kita gimana?” tukas Arfan di telinga Rumi.
“Apa? teman tapi mesra?” ledek Rumi ingat kalimat Arfan dulu.
“Bukan, tapi pacar yang tak tertukar.”

Rumi mendongak dan tersenyum.

“Aku mesti ambil materai dulu untuk melegalkannya.”
“Gak usah, sudah ada stempel pipi semalam. Apa sekarang mau lagi??”

Oh Arfan sudah mulai pintar kamu.

*****

Di depan Rumi sudah duduk kira-kira 20 orang peserta training. Semuanya perempuan. Mereka adalah para downlinenya Bu Tika sang pemilik bisnis center. Bayangkan Bu Tika memiliki ribuan downline se Jakarta raya. Downline-downline itu masih beranak pinak di bawahnya.

Produk fashion muslim sangat terbantu pemasarannya dengan sistem tersebut.

Sepulang dari Semarang, Rumi memang ingin menularkan ilmu bisnis dan marketing yang ia pelajari dari almamaternya. Ia mengajukan lamaran kepada Bu Tika dan diterima sebagai trainer melihat konsep-konsep training dan media yang digunakan sangat cocok dan mengena.

Rumi ingat, Mas Dewo lah yang menyarankan ia masuk fakultas ekonomika dan bisnis agar Rumi selalu punya banyak teman sehingga perasaan sepi karena ditinggal pergi orang tua tak selalu menghantui.

Dan Rumi merasakan betul manfaat kuliah di bidang pemasaran. Ia jadi punya banyak kawan, jaringan, selalu tumbuh rasa percaya diri, dan memiliki kemampuan mendekati dan mempengaruhi orang meski tentunya butuh kesabaran.

“Rekan-rekan, dalam marketing yang utama jangan sampai kita membenci calon pembeli meskipun mereka menolak atau mungkin mencibir. Sangat dilarang! Jangan biasakan membenci orang yang menolak produk kita. Cari sebanyak-banyak alasan agar kita mau bersabar untuk mendekatinya. Kita hanya belum tahu cara mensiasati atau menaklukannya.”

“Pembeli adalah raja? Saya pribadi sebenarnya kurang cocok dengan istilah ini. Seakan-akan penjual itu bawahan. Padahal produsen dan konsumen harus dibuat saling membutuhkan. Saya lebih suka menjadikan pembeli atau konsumen adalah mitra.”

Mitra itu teman, sahabat jadi mulai saat ini harus diubah mindset kita yakni pembeli adalah sahabat, baik saat masih jadi calon atau benar-benar sudah membeli produk kita. Sehingga perniagaan kita lebih berkah. Ok?

“Ada beberapa tipe konsumen yang wajib diketahui. Ada konsumen yang cerewet banyak bicara sampai kewalahan meladeni mungkin ada yang sibuk membalas chattingannya tak tahunya gak jadi beli.

“Ada konsumen sombong sok tahu dan tak mau mengalah. Juga konsumen yang penuh perhitungan meski butuh. Jenis keempat konsumen yang suka membanding-bandingakan produk di sini dan di sana. Dan terakhir ada juga konsumen yang tahan rayuan. Gimana rekan-rekan, apa sudah pernah menemui jenis-jenis makhluk konsumen begini?”

Peserta training tertawa heboh. Dasar banyak juga emak-emak yang ikut, mereka malah nyebut-nyebut nama si ini, si itu, si fulan berdasar pengalaman mereka.

Rumi tersenyum geli melihatnya.

Training diakhiri dengan sesi tanya jawab dan praktek memasarkan produk di depan konsumen.

“Kuasai kelebihan produk kita, cari sisi uniknya yang memenuhi kepuasan pembeli. Itu salah satu kunci sukses menjual ya rekan-rekan” lanjut Rumi sebagai close statement.

Ia kemudian merapikan laptop dan infokus yang digunakan.

“Rumi, jangan pulang dulu. Bu Tika mau bicara.” Pak Denis yang bertindak selaku asisten Bu Tika memanggilnya.

Rumi mengangguk. Sebentar kemudian dia sudah berdiri di depan meja Bu Tika.

“Rumi, saya mau mengajak kamu ke Kuala Lumpur hari Senin, karena undangannya dapat dua. Tadinya mau didampingi suami tapi ia mendadak harus ke Yogya. Untung tiketnya belum beli. Jadi Holding Company mengundang para bisnis centre dalam rangka pertemuan tahunan. Dari Indonesia ada 2 center yang diundang. Saya dan salah seorang rekan di Medan. Bagaimana?”

“Wah mendadak sekali!”

Rumi terdiam. Ia ingat Arfan. Hubungan mereka hingga minggu ketiga ini sudah cukup membaik dan mulai ada kemajuan meski Arfan belum ada keinginan mengajaknya berhubungan layaknya suami istri.

Bagi Rumi sendiri itu bukan persoalan besar, ia masih siap bersabar. Ya menikmati kemajuan perlakuan Arfan kepadanya meski pelan-pelan itu sebuah proses yang harus disyukuri.

Sebenarnya benaknya selalu bertanya ada apa dengan suaminya? Kalau berdasarkan buku-buku yang ia baca, lelaki seperti itu biasanya karena belum move on dari mantannya.

Tapi ia tak yakin apa Arfan punya mantan? Siapa? Rumi merasa tak perlu mencari tahu toh masa lalu Arfan tak penting untuk dipikirkannya. Tugasnya sekarang menjaga dan mendampinginya. Menjaga pernikahan ini. Bisa jadi hanya soal waktu.

Ya layaknya materi yang ia sampaikan tadi. Perlu cara jitu untuk menaklukan konsumen yang agak alot.

“Saya ijin suami dulu Bu Tika. Nanti malam saya kabari.”
“Oh iya pasti itu, soalnya kita 5 hari di sana. Senin sampai jumat. Ini kesempatan berharga Rumi.”
“Ya Bu, tentu. Sudah lama saya pengen ke Kuala Lumpur. Selama ini kan cuma baru bisa makan kue lumpur” canda Rumi sambil melirik kue lumpur di depan Bu Tika. Perutnya keroncongan setelah 2 jam off air.

“Eh iya…sampai lupa nawarin ayo ambil, makan Rum.” kata Bu Tika.
“Makasih Bu.”
“Rumi, kamu terlihat lebih cakep sekarang. Pasti bahagia ya jadi pengantin baru. Agak lebih glowing, bersinar gitu. Perawatan di mana? Pasti disuruh suaminya ya?””
“Masak sih Bu…jadi malu saya.” lanjutnya. Setelah minum ia kemudian permisi keluar.

Wah kalau Bu Tika bilang begitu berarti sudah ada efeknya pakai skincare dokter kecantikan dan body treatmentnya. Apa Arfan juga sudah mengakuinya?.

*****

“Ke Kuala Lumpur?” tanya Arfan kaget. Meski agak berat tapi ia sudah pernah mengatakan bahwa ia tak akan mengganggu aktivitas Rumi, dia bebas kemana ia suka.
“Gimana. Boleh?” Rumi menatapnya penuh harap.

Arfan mengangguk meski gamang.

“Boleh lah. Ya hati-hati saja kamu di sana.”

Padahal ia tengah belajar untuk dekat dengan Rumi. Mengenalnya sedikit demi sedikit. Istrinya kian hari kian menjaga penampilan. Wajahnya terlihat lebih fresh dari biasanya.

Kini ia tak melulu memakai gamis di dalam rumah tapi sudah mulai bergaya terbuka. Tentu saja mata Arfan semakin tergoda untuk menatapnya.
Beberapa hari ini hubungan mereka sudah semakin baik, sudah semakin banyak ngobrol dengan leluasa dan dekat.

Sepanjang perjalanan menuju GOR untuk bermain bulutangkis karena sudah janjian dengan teman-temannya Arfan memikirkan rencana Rumi ke Kuala Lumpur besok. Belum apa-apa ia sudah merasa ada sesuatu yang hilang.

Ah harusnya hari ini ia menemaninya bukan malah meninggalkannya. Besok Rumi mau berangkat. Paling tidak bantu-bantu dia berkemas. Tiba-tiba di kepala Arfan berkelebat rencana yang menari-nari. Menggodanya kian kemari.

“Bro, aku nggak jadi latihannya. Next week saja. Ada keperluan mendadak.” Arfan menghubungi temannya. Ia pun langsung putar balik.

Namun saat mobil hendak memasuki komplek tiba-tiba saja mogok. Untung tak jauh dari posisi bengkel. Ia pun meminta pihak bengkel mengurusnya lalu pulang naik ojek.

Di rumah itu setelah beberes di dapur karena Mak Sani ijin pulang nengok keluarganya Rumi berkemas untuk menyiapkan segala sesuatu buat keberangkatan ke Kuala Lumpur besok.

Mumpung tak ada Arfan karena dia tengah main bulutangkis bersama temannya di GOR Rumi hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan yang cukup ketat membungkus tubuh.

Ia menatap cermin sekilas. Sepertinya sekarang kulitnya memang lebih cerah ketimbang sebelum treatment.

Dengan kostum seperti itu mendadak ia berpikir seperti perempuan penggoda. Tapi bukankah katanya laki-laki makhluk visual?
Jika istrinya tak menggoda, bisa-bisa orang lain lah yang menggoda.

Sudahlah Rum goda saja si Arfan, lagian mana ada polisi yang nangkap seorang istri yang menggoda suaminya?. Kurang kerjaan apa. Tak ada pula undang-undang yang melarangnya!

Goda saja Arfan suamimu yang sok pura-pura itu. Kapan lagi kalau nggak hari ini. Besok kamu mau pergi 5 hari bukan?

Rumi mentertawakan diri. Dasar khayalan!.
Ia pun kembali sibuk memasukkan baju-bajunya ke koper.

“Jam berapa pesawatnya besok Rumi?”

Deg! Rumi terkaget-kaget. Arfan sudah nongol di muara tangga dan tengah mendekatinya. Lho katanya pulang zuhur?

Bajunya? Rumi tersadar ia masih mengenakan kostum yang menurut ukurannya sangat minim. Ia segera menutupi dadanya yang jelas tercetak.

“Ehm… jam 8. Tapi Bu Tika akan jemput habis subuh.”
“Apa. Jam berapa?” Arfan tak fokus karena matanya bertabrakan dengan pemandangan yang menurutnya lebih menakjubkan.

Rumi segera sadar.

“Maaf… tadi kupikir kamu pulangnya masih lama. Kalau kamu terganggu aku … aku … mau segera ganti.”

Rumi segera bangkit dan tentu saja tingkahnya itu makin menggoda Arfan gegara celana super pendek yang dikenakannya.

“Siapa yang terganggu? Nggak usah. Aku …. aku suka kok. Kamu lebih menggemaskan” bisik Arfan menarik tangan Rumi dan membawanya dekat.
“Aku sengaja pulang, nggak jadi main bulutangkis. Sepertinya lebih enak main sama kamu di rumah. Berdua pula karena Mak Sani nggak ada” papar Arfan seraya menyentuh pipi Rumi.

Ternyata istrinya sangat menawan. Dadanya mulai berdebar.

“Terus ….?” ujar Rumi.
“Kita ubah status pacaran jadi suami istri beneran.” Rumi tertawa seolah nyindir.
“Emang selama ini main-main?” serunya.
“Iya aku yang salah. Kan sudah minta maaf.”
“Lalu kalau sudah jadi suami istri?”
“Bulan madu.”
“Oya? kapan? … besok aku kan harus terbang ke KL.”
“Sekarang.”
“Sekarang? Pergi ke mana?”
“Di sini lah, di ranjang pengantin kita.”

Oh Rumi terkaget. Ternyata tak perlu sampai harus menggoda, Arfan sudah tergoda. Ya Allah akankah hari ini ia benar-benar menggenapkan separo agamanya?. Menjadi istri seutuhnya?

“Memang Mas Arfan sudah nggak alergi sama aku?” ledek Rumi. Arfan malu mendapat sindiran demikian.
“Nggak alergi sayang, aku justru menghormatimu.”
“Maksudnya?”
“Aku hanya ingin menyentuhmu karena cinta, bukan terpaksa.” Kata-katanya membius bak pujangga. Rumi serasa melambung mendengarnya.
“Serius Mas Arfan mulai cinta?. Sejak kapan …? mulai kapan …” serbu Rumi antusias. Ia memandang lekat seolah meminta jawaban.

Arfan gemas. Ia memeluk Rumi dan mencium wajahnya.

“Kalau ngobrol terus kapan mulainya?” bisiknya ke telinga.

Aish … tetap saja Arfan laki-laki biasa. What ever lah yang penting Rumi bahagia.

..
Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…