#Feeling – #Part_02/17

Kutinggalkan lelaki yang sudah menikahiku selama 14 tahun ini masih dengan sedu sedannya.
Entah apa yang ia tangisi, kesalahannya atau kecerobohannya hingga kebohongannya terbongkar sudah. Ah, hanya Tuhan dan dia yang tahu apa yang sebenarnya ia tangisi.

Disini aku malam ini, dikamar anak-anakku.
Sore tadi, mereka sudah mulai masuk pesantren. Sudah kebiasaan dari keluargaku, saat anak memasuki jenjang menengah pertama, pasti disekolahkan di pesantren.
Kini aku menyadari bahwasanya sangat bermanfaat pernah tinggal selama 6 tahun di pesantren, salah satunya bisa mengendalikan emosi dan bersabar.

Sebenarnya bisa saja aku marah, berteriak dan memukul untuk meluapkan emosi dan kekecewaanku. Tapi semua itu kupastikan tidak bisa merubah kenyataan kalau Mas Indra sudah menghianatiku. Bagiku, terlalu lemah jika aku harus menangis dan meneriakinya.

Tok tok…

“Ma. Buka pintunya Sayang. Papa minta maaf.”

Aku bergeming. Tidak ingin beranjak dari tempatku duduk disisi ranjang.
Mas Indra masuk. Belum sempat aku menguncinya.

“Mah, Maafin Papa. Sungguh Papa khilaf.”

Mas Indra memposisikan badannya dibawah, dia memegang tanganku sambil berjongkok dihadapanku.

“Kita sudah lama menikah, 14 tahun bukan waktu yang singkat. Kita sudah melalui suka dan duka bersama. Tegakah Mama menghancurkan pernikahan ini?”

Apa?
Aku yang menghancurkan?
Lucu!

“Aku yang menghancurkan? Siapa yang berhianat disini?

14 tahun memang waktu yang sangat lama untuk bertahan dengan suami yang tidak menghargai arti pernikahan.

“Sia-sia sudah.” Jawabku tetap dengan tenang.

Didalam sini sedang bergemuruh, pertahananku mengendalikan amarah hampir tak terbendung.
Oh Tuhan. Jangan sampai aku menangis. Tidak akan kubiarkan ia melihat sisi lemahku dalam menghadapinya.

“Hanya sekali aku berbuat salah. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi Ma. Kumohon jangan minta cerai. Papa tidak bisa hidup tanpa Mama.”

Hah? apa aku tidak salah dengar? Bukankah beberapa menit lalu ia menilis pesan pada kekasihnya, bahwa perempuan itu adalah masa depannya.
Lelaki oh lelaki..
Mulutmu.

“Kalau aku yang tidur dengan lelaki lain. Bisakah Mas Indra menerimaku kembali dan melupakan perbuatanku?” Kucoba memposisikannya di posisiku.
“Kau tidak akan melakukan itu. Aku tahu betapa kuat imanmu.”

Ingin rasanya tertawa. Ia membicarakan soal keimanan?

“Lelaki dan perempuan itu beda Ma. Lelaki itu, ibarat kucing, meski dirumah ada ikan segar, ikan asin diluaran masih ia makan.” Ucapnya lancar sekali.

Aku terkekeh… Menertawakan ucapannya yang entah…
Seingatku. Aku dulu menikah dengan lelaki. Manusia asli, bukan hewan.
Sekarang dengan mudahnya lelaki itu mengibaratkan dirinya seperti kucing. Lucu sekali!

“Mas tahu perbedaan manusia dengan hewan? biar aku tunjukkan perbedaannya” Ucapku.

Pelan aku menunjuk dada dan kepalanya.

“Pikiran dan hati! Tahu fungsinya? Jika belum tahu biar sedikit kujelaskan.
“Manusia diberikan hati dan akal fikiran untuk apa? hanya untuk memperkuat keimanan mereka, menggunakan keduanya untuk tetap dijalan yang benar.
“Tapi apa yang kudengar barusan? Dengan bangganya Mas membandingkan diri dengan Kucing.
“Lucu!!!” Ucapku dengan senyum mengejek.

Aku berdiri.
Dapur menjadi ujuan utamaku, minum air putih berguna untuk meredam emosi.

Tring!
Bunyi pesan masuk sms banking.
Kubuka pesan yang masuk.
7 Milyar uang yang masuk rekeningku.

“Sudah masuk kah Sayang. Aku mentransfer seluruh tabunganku ke rekeningmu. Sebagai bukti bahwa aku menyesal. Aku tidak akan memegang uang sepeserpun tanpa minta darimu.” Ucap Mas Indra seraya memelukku dari belakang.
“Uang ini. Untuk menyogokku agar aku memaafkanmu? Kau ingin membeli maafku, Mas?
“Atau… Kau ingin menghargai dirimu dengan sejumlah uang itu?” Tanyaku seraya membalikkan badan menghadap dirinya.

Kutatap matanya, aku melihat ia menahan amarahnya. Aku menginjak harga dirinya yang hanya sejumlah 7 Milyar.

*****

Pagi ini, aku masih menyiapkan sarapan untuknya.
Bagaimanapun ia masih sah suamiku, sekecewa apapun, aku berdosa jika membiarkannya kelaparan sedangkan ia masih menafkahiku.
Ah, soal nafkah, aku tertawa karena uang 7 milyar.

Apakah itu jumlah yang pantas untuk harga diriku, atau harga dirinya?!
Ia mengatakan mentransfer semua tabungannya. Aku hanya tertawa. Ia lupa kalau aku punya Rico sepupuku yang bekerja di bank dengan jabatan kepala cabang.
Yang ia transfer 7 milyar, yang ku tahu itu hanya sepertiga dari tabungan yang ia simpan.


Sandiwara Mas Indra bagus juga.

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…