#Feeling – #Part_01/17

Cukup sudah aku bersabar, Enam bulan sudah aku setiap hari mengingatkannya jangan bermain api, namun ucapanku hanya dianggapnya angin lalu. Feeling seorang istri itu sangatlah kuat. Karena Allah memberikan wanita kepekaan yang lebih, maka kugunakan semua itu sebaik mungkin tanpa amarah yang berlebihan..

“Mas…” kupanggil Mas Indra agak keras.

Tok tok tok…
Kuketuk lagi pintu ruang kerjanya yang terkunci rapat.
Sudah kesekian kalinya Mas Indra seperti ini. Sejak enam bulan lalu, sikapnya berubah lebih tertutup. Seolah merahasiakan sesuatu yang penting dariku.

“Siapa wanita itu?” Tanyaku setelah menemukan chat aneh di ponsel miliknya.
“Teman.” jawabnya singkat.

Aku tidak ingin bertanya lebih detail lagi, aku sudah melihat gelagat kebohongan diwajahnya.
Aku tahu suamiku. Akulah orang yang paling memahami bagaimana dirinya.
Setelah lama ku ketuk, barulah Mas Indra keluar dari ruang kerjanya.

“Ada apa?” tanyanya masih dengan mata tidakterbuka sempurna, ia masih mengantuk.
“Sudah jam 2 pagi. Mas sejak selesai sholat maghrib diruangan ini. Mas belum sholat isya’ kan? Sholatlah terlebih dahulu.”
“Iya.”
“Kenapa selalu dikunci ruang kerjanya?”
“Kan aku lagi kerja. Biar anak-anak tidak gangguin”

Aku kembali ke kamar.
Beda. Suamiku berbeda, dia banyak berubah.
Selama Empat belas tahun bersama, baru akhir-akhir ini ia merasa terganggu dengan anak-anaknya.
Bukankah Aryan dan Arya sudah tidak pernah lagi menganggunya. Sikembar sudah kelas 1 SMP, mereka tidak bermanja pada ayahnya sejak 2 tahun lalu. Malu kata mereka.

******

Seharian ini ponsel suamiku tidak aktif. Dia membawa mobil yang biasa kupakai untuk menjemput anak-anak. Tumben sekali dia memakai mobilku.

“Terlalu bagus pakai Pakjiro kalau hanya untuk kerja lapangan Ma”

Selalu itu jawaban yang ia katakan jika kutawari memakai mobil putih itu. Ia lebih memilih memakai mobil Avana hitamnya, dengan alasan itu mobil bersejarah yang mengantarkannya hingga sesukses ini. Setelah kucoba menelponnya hingga menjelang maghrib, Barulah tersambung.

“Video Call yuk Sayang.” Ajakku untuk beralih ke VC via aplikasi berwarna hijau.
“Nanti saja lah Ma, Papa dijalan nih.” Lagi-lagi Mas Indra menolaknya yang kesekian kali dalam 6 bulan terakhir ini.
“Bentar aja Sayang.” Desakku.

Akhirnya Mas Indra mau bertatap muka melalui VC.

“Sendirian aja kah?”
“Iya”
“Kok mobilnya gak jalan, katanya tadi di jalan”
“Kan berhenti karena Mama ajak Video Call” Jawabnya.

Aneh.
Harusnya ada jeda untuk memberhentikan kendaraan itu. Ini tidak ada jeda apapun.

“Lihat sekeliling donk Pa, Da nyampek mana ni. Masih di sekitaran daerah mana.” Pancingku untuk melihat di sekeliling mobil.
“Gak usah lah Ma, aneh-aneh aja. Mama emang mau minta belikan apa? biar nanti Papa carikan sambil jalan pulang.” Elaknya.

Lebih aneh lagi. Biasanya Mas Indra langsung mengedarkan kamera ke sekitarnya saat Video Call-an, baik denganku maupun anak-anak.
Oke. Fix. Ada yang tidak beres.

*****

Jam 10 malam suara deru mobil berhenti. Suamiku baru pulang.
Ia bergegas ke kamar mandi membersihkan diri. biasanya akulah orang pertama yang menyuruhnya mandi sepulang kerja, tapi Mas Indra selalu menunda hingga seinginnya mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Malam-malam begini, dia keramas. Keanehan yang kesekian kalinya karena ia tidak pernah mau keramas malam, takut reumatik katanya.

Setelah itu ia bermain dengan ponselnya, sesekali tersenyum. Ia tidak sadar ada aku istrinya yang sejak tadi memperhatikannya.
Sekitar Sepuluh menit, kudengar dengkuran halus. Mas Indra sudah tertidur dengan ponsel masih menyala. Tanda belum terkunci otomatis.

Pelan-pelan kuambil ponselnya. Ternyata sejak tadi dia berbalas pesan dengan seseorang.

[ Terimakasih atas semuanya, Mas. Bagiku, permainan Mas sangat memuaskan.]

Aku terbelalak membaca pesannya.
Ku scroll banyak pesan sebelumnya.
Astaghfirullah…
Kakiku lemas seketika.

Gambar mereka diatas tempat tidur dengan berbalut selimut sedada, dengan caption [Pertama kali menggapai surga bersamamu, Masa depanku]
Dan itu dikirim dari ponsel Suamiku dan ia yang menerima gambar menjijikkan itu menjawab [Aamiin… Imam ku]
Dengan dada bergemuruh, aku berusaha kuat untuk mengabadikan semua percakapan mereka di ponselku, ku foto semua bukti percakapan mereka.
Setelah selesai semuanya. Dengan menahan amarah, kubangunkan Ayah dari anak kembarku.

“Mari kita bercerai.” Ucapan pertama kali setelah Enam bulan aku menahan diri untuk tidak mengucapkannya.
“Kamu ngomong apa? Malam-malam ngomong yang bukan-bukan.” Jawabnya masih dengan mata terpejam.
“Ini ponsel milik Mas.” Kusodorkan ponsel miliknya.

Seketika ia terbelalak.
Cukup sudah aku bersabar, Enam bulan sudah aku setiap hari mengingatkannya jangan bermain api, namun ucapanku hanya dianggapnya angin lalu.
Feeling seorang istri itu sangatlah kuat. Karena Allah memberikan wanita kepekaan yang lebih, maka kugunakan semua itu sebaik mungkin tanpa amarah yang berlebihan.
Tangis permintaan maafnya tak kuhiraukan. Remuk redam sudah perasaanku, berganti dengan kekecewaan yang teramat dalam.

“Maaf, mungkin jodoh kita selesai sampai disini, karena mas sudah memilih wanita lain untuk merengkuh surga duniawi, dan aku tidak bisa menerimab bekas wanita lain.” Ucapku meninggalkannya dengan tangisan buaya daratnya.


Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…