Eksotisme Batik Tua di Dalem Wuryaningratan

Museum ini memajang berbagai batik adiluhung, seperti batik Belanda, batik Tionghoa, batik Jawa, Hakokai, batik India, hingga batik Keraton yang pada zamannya memang dibuat khusus untuk keluarga keraton.
Kain batik kuno koleksi Museum Danarhadi di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah. JP/Ganug Nuroho Adi

Bangunan kuno bergaya Eropa-Jawa di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Jawa Tengah, itu bukan bangunan biasa. Di dalamnya tersimpan lebih dari 10 ribu lembar kain batik tua dengan masa pembuatan mulai 1840 hingga 1910.

Namanya Dalem Wuryaningratan yang oleh pemiliknya, Santosa Doelah -pendiri usaha batik Danarhadi. Di dalam bangunan yang kemudian dijadikan museum batik itu tersimpan 10 ribu kain batik  yang dikumpulkan selama lebih dari 30 tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 1.500 kain di antaranya diambil langsung oleh Santosa dari seorang kurator di Museum Troupen, Belanda.

Museum ini memajang berbagai batik adiluhung, seperti batik Belanda, batik Tionghoa, batik Jawa, Hakokai, batik India, hingga batik Keraton yang pada zamannya memang dibuat khusus untuk keluarga keraton.

Sebagian besar koleksi museum diperoleh dari empat istana di Surakarta dan Yogyakarta, yaitu Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Keraton Kasultanan Yogyakarta, dan Pura Pakualaman.

Koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta, antara lain kain kemben milik permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, dan kain batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman. Ada juga kain dodot berukuran 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter.

Sedangkan dari Keraton Kasunanan Surakarta dipajang seperangkat kain dodot yang pernah dikenakan Raja Surakarta Paku Buwono (PB) X ketika menikahi Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Emas tahun 1893. Ada juga kain batik yang dibuat oleh  Nyi Ageng Mardusari –salah satu selir Kanjeng Gusti Paneran Arya (KGPAA) Mangkunegara  VII (1916 – 1944).

Kain dodot yang pernah dikenakan dalam Pernikahan Agung Paku Buwono X dengan Ratu Hemas sekitar tahun 1840. JP/Ganug Nugroho Adi
Bati Keraton koleksi Dalem Wuryaningratan di Surakara, Jawa Tengah. Batik keraton adalah batk yang dibuat khusus untuk keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. JP/Ganug Nugroho Adi

Museum batik milik perusahaan batik Danarhadi ini terdiri dari tiga ruang pamer dengan koleksi batik yang berbeda-beda. Ruang pertama berisi koleksi Batik Belanda yang sebagian besar berbentuk sarung dengan dominasi motif bunga, dedaunan, hewan – terutama burung dan kupu-kupu.

Batik Belanda umumnya tampil dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, orangre, dan merah jambu. Dinding ruang pamer ini dihiasi foto-foto orang Belanda yang sedang mengenakan kain batik. Jenis batik ini mulai muncul sekitar tahun 1840 dan  mencapai puncaknya antara tahun 1890 sampai tahun 1910.

“Disebut batik Belanda karena batik ini awalnya memang hanya dibuat untuk orang-orang Belanda dan Indo-Belanda,” kata salah satu kurator museum, Raden Ayu (RAy) Febri Hapsari Dipokusumo.

Koleksi batik keraton berada di ruang tengah, berisi kain batik dari keraton Surakarta dan Yogyakarta. Motif batik dari keempat kraton ini hampir sama, didominasi oleh warna sogan (coklat tanah).

Batik Surakarta berkolaborasi dengan batik pesisiran  (Lasem dan Pekalongan) yang kemudian melahirkan Batik Tiga Negeri dengan penggabungan tiga karakter dan  warna yang berbeda,yaitu  merah, biru, dan coklat.

“Museum ini tidak sekadar memamerkan kain batik, tapi juga menawarkan pengetahuan tentang batik, mulai sejarah, filosofi, dan cara membatik. Setiap kain yang dipamerkan memiliki pesannya sendiri,” tambah Febri.

Tidak hanya kain batik, museum ini juga memajang bahan-bahan dalam proses membuat kain baik, termasuk peralatan untuk membatik, canting tulis dan canting cap. (Ganug Nugroho Adi)

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Gendhis Ayu – #Part_10/18

Bu Harjo menghambur ke pelukan Nawang, didekapnya Nawang dengan erat seolah dirinya telah lama tak bersua dengan gadis cantik ini. Sejenak suasana haru dan bahagia menyelimuti warga yang ada dipendopo itu…

Gendhis Ayu – #Part_09/18

Dari jauh terlihat seorang wanita tua tengah duduk dikursi rotan yang telah menghitam di teras sebuah rumah kecil.. Bibirnya mengepulkan asap, mata sipitnya yang cekung termakan usia memandangi Galih dan Ajeng bergantian..

Memilih Bidadari – #Part_11/11 (TAMAT)

Rumi membantu menyiapkan baju yang akan dibawa Arfan ke luar kota selama seminggu. Sebenarnya sudah biasa ia akan ditinggal selama itu. Namun karena tiga hari ini wajahnya mendung gegara kejadian terima kunci mobil dari Arini kemarin, Rumi agak tak enak melepasnya…