Chaerul Saleh, Pemuda Berkepala Panas

“Kami tidak mau dibawa-bawa segala badan-badan yang berbau Jepang seperti Badan Persiapan, dan kami tidak suka jika jika orang-orang yang tak ada usahanya dalam hal ini ikut campur, sebab nanti mungkin Proklamasi ini mundur-mundur lagi,” kata Chairul Saleh.

Titik balik perjalanan politik Chaerul Saleh terjadi ketika ia memutuskan bergabung dalam Barisan Banteng yang sangat anti Jepang. Dia juga menjadi anggota Putera pimpinan Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan Kyai Haji Mas Mansyur. Sebelumnya, putra Minangkabau ini anggota panitia Seinendan.

Namanya ditabalkan dalam sejaran perintisan kemerdekaan karena bersama Sukarni, Wikana, dan pemuda lainnya dari Menteng 31, menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Mereka menuntut agar kedua tokoh ini segera membacakan Proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Chaerul Saleh dikenal sebagai pemuda emosional. Bung Karno menjulukinya pemuda berkepala panas. Watak kerasnya itulah yang juga membuatnya bersikap agar setelah teks Proklamasi jadi, tak perlu dibacakan di depan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bentukan Jepang.

“Kami tidak mau dibawa-bawa segala badan-badan yang berbau Jepang seperti Badan Persiapan, dan kami tidak suka jika jika orang-orang yang tak ada usahanya dalam hal ini ikut campur, sebab nanti mungkin Proklamasi ini mundur-mundur lagi,” kata Chairul Saleh.

Chaerul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada 13 September 1916. Sejak kecil ia menggemari seni pencak silat. Pada masa Hindia Belanda, Chaerul menjabat sebagai Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (1940-1942). Perjuangannya ia lanjutkan ketika kekuasaan penjajahan beralih ke Jepang. Dan ia ikut menghantarkan negeri ini ke gerbang kemerdekaan.

Namun, pada 1946 ia memilih jadi opoisisi dan berganung dengan Tan Malaka di Persatuan Perjuangan. Kelompok ini menuntut kemerdekaan 100%. Pada 1950, Chaerul memimpin Laskar Rakyat di Jawa Bafrat menentang hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Ia ditangkap dan dibuang ke Jerman.

Sepulang dari Jerman karis politiknya justru melejit. Ia masuk pemerintahan dan beberapa kali menjadi menteri sebelum ditunjuk sebagai Wakil Perdana Menteri III mengurus perekonomian. Ia juga menjadi penyeimbang kekuatan PKI di kabinet.

Salah satu jasanya di era ini adalah, dialah yang mencetyuskan konsep negara kepaulauan dengan batas teritorial 12 mil laut. Konsep ini di­sahkan pada 13 Desember 1957.

Berbagai intrik politik membuatnya harus berhadapan dengan Soebandrio dan DN Aidit. Namanya bahkan sempat masuk dalam daftar yang akan diculik oleh Gerakan 30 September. Namun belakangan dicoret Aidit.

Era berganti, lalu Soeharto naik ke tampuk kekuasaan. Entah kenapa pemguasa baru itu menahan Chaerul Saleh tanpa proses peradilan. Ia dianggap sebagai menteri era Soekarno yang pro-komunis. Chaerul Saleh meninggal pada tanggal 8 Februari 1967 dengan status tahanan politik. #PercikSejarah

Story by Muchlis Wijanarko

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

#Feeling – #Part_17/17

Kuedarkan pandangan. Ada Mas Indra tertidur di sofa tidak jauh dari bangsal tempatku berbaring. Mas Indra seketika terbangun dan mendekat padaku…

#Feeling – #Part_16/17

Aku dengarkan saja ucapan demi ucapan. Pak Suryadi yang memintaku menghanguskan semua barang bukti, hingga Anggun yang mengatakan penyesalan dan merasa bersalah padaku. Teruskanlah usaha kalian untuk mengintimidasiku…

#Feeling – #Part_15/17

Rasa cinta. Semua itu seolah sudah sirna karena penghianatannya. Aku masih berdiri menjadi istrinya bukan karena cintaku yang besar kepadanya…