Gendhis Ayu

Gendhis Ayu – #Part_08/18

ampak raut tak percaya di wajah Galih. Dipandanginya wajah bulat Ajeng seakan mencari keseriusan dimatanya. Namun baik muka maupun mata Ajeng tak ditemukannya tanda dia main-main ataupun bercanda dengan kata-katanya. Ajeng mengangguk pasti. Kembali dilihatnya kepala Galih mengeleng cepat…

Gendhis Ayu – #Part_06/18

Pertunjukan wayang kulit makin malam semakin ramai. Namun itu tak membuat hati Nawang terhibur sedikitpun. Hatinya semakin dingin bahkan mulai membeku saat melihat adiknya. Entah setan apa yang merasuki sukma Nawang, saudara yang bahkan mengalirkan darah yang sama ditubuhnya itu menjadi manusia yang paling dibencinya.

Gendhis Ayu – #Part_04/18

Ajeng blingsatan lari di pinggir sungai mengejarnya. Sayang arus sungai lebih gesit membawa kebaya bermotif bunga itu ketengah lalu membawanya lebih jauh lagi. Muka Ajeng terlihat menyesal dan lesu tak dapat meraih baju itu. Masih di tatapnya laju arus yang mengajak serta kain berwarna ungu tersebut.

Gendhis Ayu – #Part_03/18

Hujan deras pagi itu membuat mahasiswa KKN memberikan penyuluhan soal irigasi di pendopo rumah Pak Lurah. Target mereka KKN di desa ini adalah membuat bendungan agar pengairan di desa cukup saat menghadapi musim kemarau yang akan datang. Hampir semua warga antusias mengikuti penyuluhan itu. Para gadis malah terlihat kompak tak berkedip saat tiba waktunya Panji yang memberi materi..

Gendhis Ayu – #Part_01/18

Nawang Sari anak sulungnya adalah gadis berkulit putih dan berambut ikal, tubuhnya tinggi semampai, pandai memasak namun kurang pintar mengontrol emosi. Beda lagi Gendhis Ayu anak bungsunya, gadis pendiam itu berkulit sawo matang, namun wajahnya sangat manis dihiasi rambut lurus membuatnya tampak mempesona.