Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu...

by InfiZakaria

Apa momen indah setelah malam pertama yang begitu menggairahkan? Salah satunya melihat istri kamu tertidur pulas beralaskan lengan kekarmu. Itu yang dirasakan Arya saat ini. Ia tak berhenti menatap wajah Aerin yang masih tertidur.

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu… bahkan saat ia telah memiliki Aerin sekalipun.

“Mas Arya, don’t disturb my sleep. You have made me so tired” protes Aerin tanpa membuka matanya.

“Wake up, udah jam 11 malam.”

“What!”

Aerin langsung membuka mata, bagaimana mungkin ia bisa tertidur selama itu? Cahaya terang dari gorden yang terbuka, membuat ia tau kalau Arya sudah membohonginya.

“Bangun, mandi, trus bikin sarapan buat suami”

Perintah Arya dengan suara dibikin galak. Ia sudah merasa sangat lapar dan ingin Aerin membuatkan sarapan untuknya.

Aerin tertawa… rasanya masih belum percaya dengan kenyataan yang tiba-tiba bisa menyandang status sebagai istri dari pria yang telah membuat ia berperang antara  mempertahankan prinsip atau mengikuti kata hatinya.

Arya bangkit dari posisinya yang rebahan di samping Aerin. Ia langsung menggendong tubuh polos Aerin dan membawanya ke kamar mandi. Yang digendong sama sekali tidak protes, Aerin malah memeluk erat leher Arya dengan wajah menggodanya.

“Mas Arya, you are mine!”

Bisik Aerin yang bikin dada Arya berdebar kencang. Ah, please… padahal ia sudah resmi menikah dan sudah melakukan hubungan yang sangat intim dengan Aerin, tapi kenapa dadanya masih bisa berdebar-debar kencang?

“Kamu mau nggak mandi-mandi sampai besok?”

Aerin menggeleng sambil mencium pipi Arya yang menatapnya dengan penuh hasrat. Ia tau apa maksud Arya.

“I love you! Rasanya semalam itu belum cukup untuk menunjukkan seberapa besar aku mencintai Mas Arya.”

Arya menghentikan langkahnya. Kata-kata Aerin telah membuat ia bergelora kembali. Aerin mencium bibirnya dengan hasrat membara yang membuat ia berbalik dan membawa Aerin kembali ke tempat tidur. Rasa lapar yang tadi melanda, hilang dalam sekejap.

*****

Resepsi pernikahan dilangsungkan satu minggu kemudian setelah Aerin dan Arya pulang dari Surabaya untuk berziarah ke kuburan almarhumah mami Aerin. Diana bahkan juga mengundang semua keluarga almarhumah Saraswati dan sahabat-sahabatnya. Aerin tak bisa melukiskan bagaimana bangganya ia bisa mempunyai mama kedua seperti Diana, ia menangis haru saat melihat keluarga dan sahabat maminya turut hadir dan mendoakan kebahagiaan.

Setelah beristirahat hampir 3 minggu dan menikmati bulan madu di apartemen saja karena Aerin yang baru pulang dari liburan panjang ogah kembali bepergian, akhirnya pasangan pengantin baru itu kembali ke Global Cell.

“Hai… welcome Nyonya Baru”

Goda Wiwid begitu melihat sosok keduanya muncul di lobby dengan wajah bahagia yang bikin ia pengin cepat-cepat nikah juga. Aerin dan Arya tertawa.

“Makasih. How are you?”

“Baik, Mbak. Oh ya, ini barusan ada yang kirim buket…”

Aerin secara reflek melihat ke Arya yang tiba-tiba senyum di wajahnya menghilang. Sementara Wiwid yang nggak sadar kalau telah membuat Arya cemburu, malah sibuk mengambil tiga buket dan memperlihatkan ke Aerin.

“Mulai hari ini, jangan terima apapun hadiah buat aku. I’m married.”

Wiwid seolah tersadar, ia langsung melirik Arya yang segera melangkah menuju lift. Oh my God! Ia telah membuat masalah.

“Maaf Mbak Ririn, aku nggak bermaksud…”

Wiwid sangat merasa bersalah.

“No, it’s okay. Jangan merasa bersalah. Ingat pesanku ya, tidak boleh lagi terima hadiah yang ditujukan untukku” ucap Aerin dengan lembut dan wajah tersenyum.

Ia tidak mau Wiwid yang sangat care kepadanya, merasa bersalah.

“Baik, Mbak.”

“Okay, see you ya.”

Aerin segera menuju ke lift, Arya yang walaupun tanpa senyum tapi tetap menunggunya disana. Keduanya masuk ke lift dalam diam. Begitu pintu lift tertutup, Aerin segera melingkarkan tangannya ke leher Arya yang tak menolak.

“Are you jealous?”

Arya mengangguk. Aerin meraba bibir Arya, sebelum mengecupnya.

“Apa 19 tahun menunggu, tak terhitung airmata yang tumpah… tak cukup untuk tidak cemburu?” Tanyanya yang membuat Arya segera memeluknya.

“Mas Arya, seberapapun banyak pria yang menyukaiku, itu sia-sia saja. Aku tidak mungkin bisa mengingat mereka karena di hatiku hanya ada Mas Arya. Dari aku kecil seperti itu dan akan tetap seperti itu sampai masaku habis.”

Arya yang merasa sangat bersalah, semakin erat memeluk istrinya.

“I’m sorry.”

Aerin tersenyum.

“Tapi aku happy banget Mas Arya cemburuin aku, rasanya itu seperti… bisa makan pasta terenak setelah sekian lama makan Indonesian Food terus. Can we eat pasta tonight? Please…”

Wajah memelas Aerin membuat Arya tak tega.
Mungkin ia terlalu memaksakan kehendaknya. Dalam tiga minggu kebersamaan mereka, banyak waktu yang ia gunakan untuk mengajari Aerin memasak Indonesian Food. Ia tau Aerin tidak begitu tertarik walaupun tidak pernah protes. Ia juga tau Aerin tidak begitu selera makan walaupun tetap berusaha menghabiskan makanan yang mereka masak bersama.

Malam itu mereka menikmati dinner di Pizza Marzano. Aerin langsung saja memesan banyak sekali makanan, mulai dari Smoked Duck Chicken Pizza, Spaghetti Cacio E Pepe, Cannelloni Spinach Ricotta, Penne with N’Duja Suasage, Farfalle Salmone, Nastar Cheesecake beserta Mango Peach. Wajah bahagianya membuat Arya merasa sangat bersalah. Dan Arya ingin menebus kesalahannya dengan membiarkan Aerin pesan apapun yang dia mau.

“Mas Arya, makasih.”

Arya yang dari tadi sangat takjub menonton Aerin yang menghabiskan semua makanan, menahan senyumnya.

“Yakin sudah cukup? Mau order buat dibawa pulang?”

Godanya yang membuat Aerin menggeleng cepat.

“I’m full, perutku rasanya hampir meletus. Mas Arya, apa seperti ini juga yang dirasain ibu hamil?”

“Auk ah, aku belum pernah hamil.”

Keduanya tertawa ngakak sambil keluar dari restoran. Aerin bisa jadi sangat kekanakan bila bersama Arya. Ia masih ingin melampiaskan rasa manjanya yang saat kecil tak mendapat perhatian yang semestinya dari Arya.

*****

Empat tahun telah berlalu. Arya dan Aerin sudah mempunyai dua orang anak. Denian, putra pertama mereka sudah berumur tiga tahun. Sementara Aurellia, putri mereka baru berumur satu tahun lebih. Aerin merencanakan dengan sangat teliti kehamilannya, bahkan menginjak tahun kelima perkawinannya, ia ingin hamil kembali.

Mereka berencana untuk punya setidaknya lima orang anak dalam sepuluh tahun pertama perkawinan mereka dan berhenti saat usia Aerin memasuki empat puluh tahun. Arya yang anak tunggal sangat merindukan suasana ramai di rumah. Begitu juga Aerin yang tak pernah merasakan punya saudara kandung saat ia kecil.

“Mommy…”

Denian yang bersepeda tampak kelelahan. Ia mengikuti papanya yang sedang jogging. Aerin segera menggendong Denian dengan penuh cinta, sementara Aurel yang duduk di dalam stroller  sibuk dengan mainan.

“Capek? Mau minum?”

Denian mengangguk. Farah, sang oma mendatangi mereka. Sejak punya anak, Arya memutuskan untuk tinggal di kediaman keluarganya. Ia tak tega membiarkan orangtuanya tinggal berdua saja. Terbukti kehadiran cucu yang tinggal bersama mereka, membuat keduanya sangat bahagia. Apalagi Aerin juga memutuskan untuk tidak bekerja sejak kehamilan anak pertama agar ia punya waktu lebih banyak buat anak-anak dan suami.

“Mas Arya, joggingnya udahan. Ntar bahaya loh!”

Belakangan ini Arya sering olahraga berlebihan. Kenaikan berat badan yang lumayan, membuat Arya sangat terganggu. Bahkan dia sampai harus menyewa trainer khusus. Arya memperlambat gerakannya sebelum akhirnya berhenti. Aerin menyodorkan minuman.

“Menyiksa diri begini, maksudnya buat apa?”

Farah menahan senyum. Biasanya Arya tak bisa berkutik bila wajah Aerin sudah sangat serius. Arya mengelap keringat di keningnya.

“Ya…biar bodynya balik seperti dulu lagi. So saat kita jalan berdua, kita gak terlihat seperti angka sepuluh.”

Ketiganya tertawa.

“But, I don’t care! Mau kayak angka sepuluh, seratus bahkan seribu sekalipun… I don’t care! So, stop it, okay?”

Padahal berat Arya hanya bertambah lima kilo saja, dan menurutnya itu sangat wajar buat pria yang hampir berumur empat puluh tahun. Aerin tak mengerti masalahnya dimana.

“Aku ingin tetap terlihat sempurna di mata kamu.”

“Mas Arya lupa kalau aku mulai menyukai Mas Arya justru saat Mas Arya lagi gendut-gendutnya.”

Arya tersenyum penuh arti. Betapa ia sangat mencintai istrinya ini, yang telah melayaninya dan anak-anak mereka dengan sangat sempurna.

“Kamu sih, ini semua karena masakan kamu yang enaknya terlalu…”

Kemahiran Aerin dalam memasak tak diragukan lagi. Arya bahkan tak pernah bisa melewatkan satu kalipun waktu makan tanpa masakan istrinya.

“Bukannya kamu yang dulu paksa Irin buat kursus masak?”

Goda Farah sambil menggendong Aurel dan mengajak Denian masuk ke dalam. Hari sudah mulai panas dan ia juga ingin memberikan waktu buat keduanya untuk berbicara lebih leluasa.

Arya yang melihat mamanya sudah agak jauh, langsung memeluk kemudian menggendong Aerin yang tubuhnya semakin sexy setelah melahirkan anak pertama mereka. Keduanya saling menatap dengan penuh cinta dan hasrat yang tak pernah padam.

“So Mrs. Arya Ferdinand, are you ready for the third?” Goda Arya yang membuat Aerin tertawa.

“Let’s make it happen, my love!” bisik Aerin dengan mengerdipkan sebelah matanya yang masih saja bisa membuat dada Arya berdebar-debar.

***TAMAT***

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …