Aku Disini Menunggumu – #Chapter_9/55

Ada seperti rasa tak sabar untuk lebih mengenal sang CEO baru yang keramahannya sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor. Belum lagi sosoknya yang sangat menarik perhatian..

by InfiZakaria

Jam 09.30 semua petinggi Global sudah berkumpul di ruang meeting. Ada seperti rasa tak sabar untuk lebih mengenal sang CEO baru yang keramahannya sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor. Belum lagi sosoknya yang sangat menarik perhatian. Sayang sekali staf dengan posisi dibawah manager tidak diundang dalam rapat. Kalau tidak, bisa dibayangkan gimana riuhnya.

“Assalammualaikum, selamat pagi mas-mas, bapak-bapak dan mbak…”
Ucap Arya sambil melihat kearah Vita, wanita satu-satunya di dalam ruangan. Semua tertawa kecil melihat ekspresi Arya.

“Rileks saja ya, ini hanya briefing singkat karena aku tau semuanya pasti punya banyak task yang harus diselesaikan di ruangan masing-masing. Aku hanya pengen tau sekilas tentang keadaan Global sekarang ini dari setiap divisi. Nanti laporan lengkapnya bisa aku baca secara tertulis.”

Arya berhenti sebentar menatap wajah-wajah serius yang sedikit mencair.

“Well, seperti yang kita tau semua, FF Group mempunyai beberapa perusahaan lain. So, aku disini bukan hanya untuk Global tapi juga mengurusi beberapa perusahaan lain, tetapi basenya tetap di Global. Jadi nanti Vita job desknya akan bertambah karena juga mengatur jadwal meeting dengan urusan perusahaan lain. Aku harap tidak merepotkan ya. Kita punya berapa secretary?”

“Lima.”

“Good, sangat cukup. Okay, let’s start.”

Briefing dimulai oleh Direktur Keuangan. Semua serius menatap layar proyektor. Bagian marketing dan beberapa bagian lain menyusul.

Mas Andy sebagai Direktur Bagian Tekhnik dan IT memberikan briefing khusus bagian tekhnik saja, sementara bagian IT disampaikan oleh Bagas.

Tiba giliran Bagas yang tampak agak nervous. Bagas menekan tombol enter dari laptopnya dan muncullah photo Aerin yang berkacamata stylist berwarna ungu dengan senyum menggoda. Semua tertawa.

Arya bengong menatap gambar cewek di layar proyektor. Ia seperti mengenal wajah itu dan ada sesuatu yang dipakai gadis itu yang membuat ia merasa sangat familiar, lebih familiar dari wajah cantiknya.

“Maaf, Pak Arya. Seharusnya Mbak Ririn yang kasih briefing, tapi karena sedang cuti, saya yang gantikan.” Semua bersorak kegirangan.

“Ah, kamu tau aja cara menggoda orang.”

Mas Andy menyikut perut Bagas.  Memang anak buah Aerin kocak-kocak saat memang ingin bercanda, tapi saat bekerja di depan komputer, jangan harap bisa mengajak mereka bercanda.

“Good idea, jadi pada refresh ya”
Ucap Arya yang membuat semua tertawa lagi. Ternyata CEO baru juga suka bercanda seperti Pak Rasyid.

Briefing yang diberikan Bagas berjalan sukses. Sebenarnya Bagas menampilkan photo Aerin untuk menyemangatinya saja. Ia suka nervous saat harus bicara di depan banyak orang.

*****

Hari pertama berada di Global membuat Arya cukup tau gambaran jelas perkembangan Global. Sebelum ini ia hanya mendengar sekilas laporan dari papa, karena di Amerika ia sibuk mengurusi perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang arsitektur. FF Group otomatis dipegang penuh oleh papa dan mama dengan menempatkan CEO terbaik sehingga papa dan mama hanya perlu mensupervisi saja.

“Bos, mau lunch apa?” Suara Vita terdengar dari Pabx.

“It’s okay. Temanku bentar lagi kesini. Namanya Indah.”

“Okay.”

Hm… hari pertama langsung menampakan kepemilikan.

Vita tersenyum sendiri dan benar saja tak beberapa lama terdengar telepon dari Wiwid dari meja resepsionis.

“Mbak Vita, ada Miss Indah yang mau bertemu dengan Pak Arya.”

“Okeeh, wid. Silahkan kirim keatas.” Wiwid tersenyum, lalu mengantar sang tamu ke lift vip.

Tak beberapa lama sosok perempuan langsing cantik berambut lurus sebahu, keluar dari lift. Wajahnya sangat familiar. Vita mencoba mengingat dimana ia pernah melihat wajah ayu yang memakai softlense berwarna coklat itu.

“Halo, aku Vita, sekretaris Pak Arya. Mari aku antar ke ruangan Pak Arya” tawar Vita beramah tamah. Sosok yang menenteng paper bag berisi makanan itu, diam sesaat.

“Tidak usah, tunjukin aja yang mana ruangannya.”

“Oh, oke. Ruang yang paling ujung” tunjuk Vita ke arah sebelah kiri.

“Thanks.”

Vita menatap sampai sosok yang berjalan bak di atas catwalk itu memasuki ruangan Arya.
Ah…catwalk, ia ingat sekarang. Itu adalah Indah Clarissa, salah satu model terkenal. Oh my god, Pak Arya!

*****

“Mbak Vita, pick up please.”
Suara si Wiwid lagi. Pasti mau cek dan ricek.

Vita mengangkat telepon.

“Apaah?”

“Yang tadi itu Indah Clarissa, mbak.”

“Iya, aku tau. So, what?” Goda Vita yang tau banget pembicaraan akan mengarah kemana.

“Masalahnya baru aja semua terpesona sama pak bos, eh… pemiliknya langsung datang. Di group chat pada heboooh.”

Wiwid ketawa keras. Vita ikutan ketawa.

“Lunch di cafetaria yuuk.”

“Siiip, aku tunggu ya.”

Vita meletakkan telepon, lalu mengecek group chat di hp nya. Bener saja, heboh!

‘Belum tentu juga, itu… itunya. Fighting, girls!’

Sontak chat dari Vita membuat yang membaca tertawa ngakak. ‘Itu… itunya’ ntah apa maksudnya. Wiwid sampai terpingkal-pingkal. Chat jadi beralih topik membahas maksud ‘itu… itunya’ ala Vita.

Begitulah keseharian di Global. Keakraban yang seperti keluarga sendiri. Makanya susah banget untuk ke lain hati. Bekerja disini seperti berada di rumah sendiri.

*****

Indah menatap Arya yang lahap menghabiskan nasi pecal yang dibawanya. Menu yang sangat sederhana sebenarnya, tapi bagi Arya yang sudah sangat lama bermukim di Amerika, itu adalah menu istimewa yang sangat dirindukannya.

Arya sudah 1 minggu kembali ke Jakarta tapi belum sempat kemana-mana. Padahal ia ingin sekali keliling mencoba makanan kesukaannya. Pecal ini salah satunya, makanan favoritnya saat ia SMP dari kedai kecil di belakang sekolah.

“Makasih”
Ucap Arya setelah menghabiskan 2 bungkus pecal.

“Sorry, ngerepotin.”

“No. Cara kamu makan, bikin aku bernostalgia.”

Arya tertawa.

“Kamu berubah banyak.”

Indah tak kuasa menyembunyikan kekagumannya. Pria ini dulunya pernah menyatakan cinta kepadanya, saat mereka duduk di SMP, tapi ia menolaknya. Mereka saling mengenal sejak kecil karena tinggal dalam komplek perumahan dan bersekolah di tempat yang sama.

“Aku masih Arya yang sama.”

“So, kamu memang akan menetap disini? Tidak ada rencana balik ke Amerika?”

“Ada urusan pribadi yang harus aku urus. Setelah itu selesai, we will see. Tapi aku prefer tinggal disini.”

“Urusan pribadi?” Tanya Indah dengan wajah penasaran.

Arya mengangguk dengan mata menatap jauh ke balkon.
Indah memperhatikan setiap detailnya. Dia bukan Arya yang dulu. Arya yang selalu menatapnya dengan penuh cinta. Arya yang  sekarang dengan fisik berbeda, menatapnya dengan  ekspresi biasa saja. Seperti menatap seorang teman lama.

Keadaan menjadi terbalik, Indah yang dulu sangat terganggu dengan sosok Arya yang selalu mencoba mencari perhatiannya, sekarang ini tak kuasa menolak pesona Arya..

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …