Aku Disini Menunggumu – #Chapter_8/55

Aerin dan mama terbang ke Singapore untuk melakukan check up kanker ususnya. Mama sudah menjalani kemoterapi.

by InfiZakaria

Pagi senin, Aerin dan mama terbang ke Singapore untuk menemani mama melakukan check up kanker ususnya. 3 bulan yang lalu mama sudah menjalani kemoterapi. Hasil pemeriksaan sampai dengan check up terakhir bulan lalu, kanker mama sudah sembuh tapi mama tetap harus melakukan check up ulang setiap bulannya. Biasanya mama ditemani Mbak Alissa atau Mbak Vania. Kali ini, Aerin mendapat kehormatan untuk menemani mama.

Sementara itu di FF Global Cell, suasana tegang dimulai sejak pagi hari. Sang CEO baru dikabarkan akan datang hari ini. Pagi-pagi kantor sudah ramai. Para direktur dan manager harap-harap cemas dengan perubahan yang akan terjadi.

Tidak ada yang pernah bertemu dengan Arya Ferdinand, apalagi mengenal wajahnya. Mereka hanya tau wajah Pak Ferdinand dan Ibu Farah dari photo yang tergantung di bekas ruang kerja Pak Rasyid, itupun photo yang diambil sekitar 22 tahun yang lalu, saat Global Cell didirikan.

🎵Twinkle twinkle Little star…🎵

Vita melihat ke hp nya. Suara merdu Aska, putra kecilnya… memecah ketegangan di lobby Global. Telepon masuk dari nomor tak dikenal.

“Selamat pagi. Vita, Global Cell”
Sapa Vita dengan mata menatap beberapa kurir yang masuk ke lobby sambil membawa buket bunga dan kado.

Vita mencoba mengingat sesuatu… tanggal berapa ini? Kenapa ada banyak buket bunga dan kado yang datang? Apakah untuk menyambut CEO baru? Tapi sepertinya tidak mungkin, dari jauh terlihat buket bunga yang kebanyakan mawar pink.

“Hai, aku Arya Ferdinand. I am on my way to Global. Are you in the office?”

Suara ngebass dari seberang, terdengar sexy banget. Bisa menggetarkan hati yang mendengar. Vita melongo, sambil memberi kode kepada direktur dan manager yang juga semuanya sedang berada di lobby, stand by.

“Hai, Pak Arya. Kami semua sudah ada di Global. Kami tunggu di lobby, Pak.”

“Alright, see you there.”

Hubungan terputus. Semua menarik napas panjang.
Ada keramaian di meja resepsionis. Kurir yang datang semakin bertambah. Vita menuju kesana, mengecek apa yang terjadi.

“Banyak banget ini udah, mbak. Aku bagikan ke semua ruangan aja?” Tanya Wiwid sambil menandatangani tanda terima barang.

Vita melihat ke nama di buket, lalu tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

“Iya, atur aja deh. Aku mau buket yang tercantik buat dibawa pulang ya. Dan jangan lupa, coklatnya aku mau juga… yang paling mahal. Okay?”

Wiwid ikutan tertawa. Ah, Mbak Vita selalu begitu.

“Rebes, mbak. Makanan yang lain aku bagi-bagikan juga?”

“Yup… pesta besar kita hari ini?”
Goda Vita sambil melangkah kembali ke deretan petinggi Global yang duduk menunggu di sofa tunggu lobby.

*****

Tak beberapa lama, sebuah mobil Hammer putih memasuki halaman depan Global. Mereka saling menatap.

“Sepertinya ini…”

Semua melihat ke Pak Sandy, Direktur Keuangan.

Mobil Hammer berhenti tak jauh dari pintu masuk lobby. Dan keluarlah sesosok cowok berbadan atletis berkulit coklat dengan rambut agak gondrong yang dibiarkan tergerai bebas tapi rapi. Memakai kemeja berwarna navy dengan lengan digulung, dipadu dengan celana jins biru dan sepatu kulit hitam. Wajahnya yang sempurna dengan tatapan tajam, menatap sebentar ke  gedung Global sebelum menuju pintu lobby.

Semua menahan napas, menanti pintu didorong dari luar. Suasana hening begitu sosok itu masuk ke dalam lobby dengan sorot mata tajam melihat ke sekeliling.

Ada rombongan staf berpakaian jas lengkap yang sedang menatap kearahnya dengan ekspresi penuh selidik.  Sementara di meja resepsionis ada kesibukan yang lain. Banyak buket bunga mawar yang ditumpuk dan kotak-kotak berbungkus kertas warna warni seperti kado.

Vita menuju ke sosok pria muda berumur sekitar 30-an itu, yang masih asyik memperhatikan sekeliling terutama ke kesibukan di meja resepsionis.

“Maaf, Pak Arya ya?” Tanyanya.

Arya tersenyum sambil mengangguk. Ekspresinya yang jadi melembut, membuat Vita merasa nyaman.

“Vita?” Suaranya beneran ngebass banget.

“How do you do?”

Arya mengulurkan tangannya, menjabat tangan wanita yang sepertinya lebih tua darinya.

“Pleased to meet you Pak Arya. Welcome” ucap Vita sambil menjabat tangan Arya.

“Mari saya kenalkan dengan direktur dan manager disini.”

Keduanya menuju ke tempat yang lain menunggu. Arya menjabat tangan satu persatu para petinggi Global sambil mendengarkan nama dan jabatan yang disebutkan Vita.

“Aku butuh sekitar 1 jam untuk briefing dengan Vita dan Pak Zulfan. Kita bertemu lagi di meeting room pukul 09.30. Is it okay?” Semuanya mengangguk.

“Okay, makasih”
Ucap Arya tulus yang memberikan kesan mendalam di pertemuan pertama.

****

Vita, Pak Zulfan wakil CEO dan Arya menuju ke lift khusus lantai 15, tempat kantor CEO dan bagian sekretariat berada.

“Ada acara apa? Kenapa banyak yang kirim buket bunga?”

Tanya Arya yang agak penasaran. Bahkan saat mereka masuk ke lift, kurir masih terus berdatangan. Vita dan Pak Zulfan saling tersenyum.

“Hari ini, hari ulang tahun IT Expert. Tiap tahunnya selalu begini, ramai banget yang kirimi buket bunga dan hadiah” info Pak Zulfan.

“Female?” Tanya Arya.

Rombongan yang menunggunya hanya Vita seorang yang wanita. Kalau IT Expert adalah wanita juga, ia seharusnya ada di dalam rombongan tadi.

“Iya. Sorry, bos. IT Expert on leave karena ada yang urgent urusan keluarga. Senin depan sudah masuk, ntar di briefing ada asistennya yang mewakili.”

“Hm… okay.”

Arya mengikuti Vita masuk ke ruang kerja CEO. Ruangannya luas banget dengan dekorasi minimalis.

“Semoga Pak Bos suka. Kami melakukan sedikit perombakan karena Pak Rasyid bilang Pak Bos masih sangat muda jadi tidak cocok dengan dekor ruangan lama yang taste orang tua” terang Vita yang membuat ketiganya tertawa.

“Well, I like it. Thanks.”

Ada kamar buat istirahat, ruang dapur lengkap dan meja makan mini, ruangan rapat kecil buat 2-4 orang, 1 set sofa putih buat menerima tamu dan yang paling Arya suka ruangan balkon yang dipenuhi tanaman hijau dengan pemandangan Kota Jakarta dari lantai 15. A perfect place untuk istirahat dari segala kepenatan.

“Pak Zulfan sudah lama bekerja di Global?”

Pak Zulfan yang berumur 50 an mengangguk.

“Sudah hampir 7 tahun, saya ikut bersama Pak Rasyid.”

“Vita?”

“Hampir 15 tahun.”

“Wow…”

Arya suprised banget. Vita tertawa.

“Aku bergabung disini begitu tamat kuliah, menikah dan punya anak.” Ketiganya tertawa.

“Kebanyakan staf disini sudah bekerja 5 tahun lebih. Jarang sekali ada yang mengajukan resign. Penambahan staf baru biasanya karena memang butuh tambahan, bukan menggantikan yang resign” info Pak Zulfan dengan nada bangga.

“Bagian IT, Tekhnik, Operator, Resepsionis, Customer Service itu bagian yang paling banyak fresh graduate.”

“Good. Jadi tingkat loyalitas sangat tinggi. Sorry, baru sekarang aku bisa kembali ke Global. Staf disini sangat luar biasa. Thank you for your hardwork.”

Vita dan Pak Zulfan semakin bahagia.

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …