Aku Disini Menunggumu – #Chapter_7/55

Aerin menunggu di kamar dekat ballroom, menunggu Mas Ricky memanggil namanya, Ricky sengaja berhenti bicara sebentar, ia menatap mama yang berdiri di samping papa dengan tangan saling menggenggam. Wajah mama tersenyum..

by InfiZakaria

Dan malam pun tiba. Aerin menunggu di kamar dekat ballroom, menunggu Mas Ricky memanggil namanya. Hm… seperti di drama-drama saja. Dari dalam, Aerin mendengar banyak sekali suara orang-orang yang saling menyapa.

“Assalammualaikum, selamat malam semuanya. Terimakasih sudah berkenan hadir di acara khusus keluarga kami malam ini.”
Terdengar suara Mas Ricky membuka acara.

“Malam ini, kami mengundang saudara dan rekan-rekan sekalian untuk memperkenalkan adik perempuan kami. Adik kandung saya dan Chandra, yang berbeda ibu.” terang Ricky tanpa ada rasa kikuk.

“Mama kedua kami sudah meninggal saat adik perempuan kami berumur 5 tahun, dan itu sudah 24 tahun yang lalu.”

Ricky sengaja berhenti bicara sebentar, ia menatap mama yang berdiri di samping papa dengan tangan saling menggenggam. Wajah mama tersenyum, tak ada lagi luka yang sangat lama dipendamnya bila ada yang menyinggung almarhumah Saras, mami Aerin.

Aerin tak kuasa menahan tangisnya saat Mas Ricky menyebut ‘mama kedua kami.’ Tak ada rasa sungkan apalagi marah. Pada akhirnya, almarhumah maminya juga ikut diterima di dalam keluarga ini.

“Adik kami banyak menghabiskan masanya di Jakarta, SMA di London, kuliah di Massachusetts USA dan sekarang bekerja di Jakarta. Makanya tidak beredar di Surabaya” canda Ricky yang membuat para undangan ikutan tertawa.

“So, please welcome adik kami… Aerin Alessandra Bramantio.”

Sorot lampu beralih ke kamar tempat Aerin menunggu. Aerin menyeka air mata di pipinya dan beranjak keluar. Ia tersenyum menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Aerin sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada para undangan.

Ruangan terasa sangat sepi, semua mata menatap suprised melihat sosok indahnya. Ricky, Chandra, papa dan mama saling menatap, lalu tertawa kecil.

Sudah bisa ditebak akan seperti apa reaksi para undangan. Sosok Aerin yang memakai gaun malam silver off shoulder bak putri raja. Sikapnya terlihat sangat santun dengan body language sewajarnya bikin para undangan terpesona.

“Assalammualaikum, selamat malam” sapa Aerin yang berdiri di samping Ricky.
Nada suaranya agak bergetar, ada rasa nervous melihat banyak sekali mata yang terpana menatapnya.

“Aerin besok ulang tahun, jadi acara ini sekalian buat merayakan ulang tahun Aerin yang ke 29 tahun. Masih single, yang masih lajang… boleh mendekat”
Canda Ricky yang membuat banyak lajang tersenyum bahagia. Itu info yang ditunggu-tunggu dari tadi.

Aerin menutup mata dengan sebelah tangannya. Ampun dah Mas Ricky, kenapa bisa seterus terang itu? Wajah Aerin sedikit merona karena malu.

Mengumumkan status lajang di usia yang ke 29 tahun di depan banyak orang, sungguh terlalu. Ricky mengerdipkan sebelah matanya menatap Aerin. Aerin membalas dengan tatapan protes.

“Okay, silahkan menikmati hidangan. Sekali lagi terimakasih banyak sudah berkenan hadir di kediaman kami.”

Ada banyak menu makanan yang dihidangkan, suasana hening berubah menjadi penuh tawa dan candaan sana-sini.
Acaranya persis seperti acara kawinan dan Aerin adalah pengantinnya. Tak terhitung berapa banyak undangan yang harus ia sapa dan membalas sapaan, belum lagi melayani pembicaraan yang bisa berujung kemana-mana.

Menjadi bagian resmi dari anggota Keluarga Bramantio, menyandang tanggungjawab yang besar. Seperti Mas Chandra, Mas Ricky beserta istri dan anak-anak mereka yang sangat menjaga perilaku di depan publik.

Aerin juga harus lebih siap untuk mulai terekspos ke publik tentang dirinya. Akan banyak acara-acara penting yang mengharuskan ia untuk hadir, yang selama ini sangat ia hindari untuk menghindar gosip tentang mami.

Aerin menarik napas lega, sekarang bila ada yang bertanya namanya… ia akan sangat bangga untuk menyebut ‘Aerin Alessandra Bramantio’ bukan ‘Aerin Alessandra’ saja seperti yang selalu ia sebutkan. Ia sedapat mungkin menyembunyikan nama Bramantio. Bahkan di data staf Global, ia hanya menulis nama akhir papa dari ‘Subroto’ menjadi ‘Broto’ saja.

Mas Chandra menghampiri Aeirin.

“Irin, ini kenalin… Direktur Perencanaan di BraDia. Aku kesana dulu ya.”

Aerin menatap pria yang berdiri di samping Mas Chandra yang tersenyum kepadanya.

“Aerin.”

“Bian.”

Keduanya saling berjabatan tangan.

“Mas Bian sudah lama di BraDia?”
Tanya Aerin berbasa-basi supaya terlihat sopan. Entah sudah berapa pria yang dikenalkan kepadanya malam ini, ia hampir kehabisan topik pertanyaan.

“Hampir 10 tahun”
Jawab Bian sambil mengambil segelas cocktail dari tangan waiter dan menyodorkan ke Aerin.

“Thanks. Wow… sudah lama sekali.”

“Kamu tidak berencana bergabung di BraDia?”

Aerin tertawa kecil, Bian yang berkacamata minus menatapnya dengan agak malu-malu.

“Mungkin suatu hari nanti. Sekarang aku masih ingin berpetualang.”

“Berpetualang dan ingin menancapkan sayapnya sendiri?” Tanya Bian yang membuat Aerin tertawa.

“Ya…kurang lebih seperti itu. Mas Bian sudah menancapkan sayap?”

Bian tertawa kecil mendengar serangan balik. Ia tau gadis itu sangat pintar.

“Aku rasa, sudah. Aku bergabung dengan BraDia saat aku selesai kuliah dan aku tidak berencana untuk menancapkan sayap di tempat lain.”

Aerin menatap wajah serius itu. Tampak sangat serius bagi yang pertama melihat, tapi sangat asyik buat teman ngobrol setelah beberapa lama kenal. Diantara semua pria yang mengenalkan diri dan diperkenalkan kepadanya, Bian adalah salah satu dari kelompok kecil yang menatapnya sewajarnya. Salah satu hal yang membuat Aerin sangat nyaman di perkenalan pertama dengan seorang pria.

Chandra dan Ricky mengawasi keduanya yang menuju ke meja panjang tempat makanan terhidang.

“Waah, mantap Si Bian… bisa lanjut ke makan bersama.”

Chandra tertawa mendengar nada suprised dari Ricky. Dari tadi mereka berdua tak pernah lepas memperhatikan Aerin dan pria-pria disekelilingnya.

“Calon brother in law yang perfect kan?” Ricky mengangguk.

“Tapi aku yakin Irin sudah punya seseorang di hatinya. Cara dia memandang Bian dan pria lainnya, itu bukan sorot pandang tertarik. Hanya memandang untuk terkesan sopan saja.”

“Ah, kamu… sok teung” ucap Chandra sambil melingkarkan tangannya ke bahu Ricky.

Keduanya memang sangat dekat karena sejak remaja mereka selalu berdua, hidup di Brisbane tanpa kehadiran orang tua.

*****

Hampir jam 12 malam saat tamu pada pulang. Semuanya berkumpul di ruang keluarga. Mbak Wati, salah satu pembantu yang tinggal di rumah, masuk ke ruang keluarga sambil membawa kue ulang tahun berbentuk hati berwarna putih yang diatasnya dihias bunga mawar berwarna ungu.

“Wah..cantik banget!
Seru Clara yang langsung mengambil kesempatan buat selfie dengan kue ulang tahun.

“Ma, aku udah bilang… gak mau pake kue. Aku udah 29 tahun, maluuu” protes Aerin yang membuat semua tertawa.

“Mbak Alissa dan Mbak Vania nih yang maksa harus ada kue ulang tahun. Eh, ini made in mereka loh.”

Alissa dan Vania tersenyum bangga.

“Makasih mbak, aku udah ngerepotin.”
Aerin jadi gak enak hati udah protes.

“Ini welcome gift dari kami, kakak perempuan kamu.”

Mata Aerin berkaca-kaca dan airmata sukses mengalir di pipinya.

“Makasih mbak. I love you both.”
Ketiganya saling memeluk.

“Happy birthday, Tante Aerin” ucap para keponakan serentak.

Dan Aerin pun menerima pelukan dan ciuman dari semua anggota keluarga. Aerin sangat bersyukur di usianya yang ke 29 tahun, akhirnya ia memiliki keluarga yang utuh, keluarga yang sebenarnya.

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.