Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah... bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.

by InfiZakaria

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.

“Cie… cincin di jari manis” Goda Vita yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Aerin jarang banget memakai cincin, kalaupun dia pakai… itu pasti cincin blue diamond peninggalan maminya. Nah, sekarang ada cincin bermata pink diamond di jari manis Aerin yang pasti ada sesuatu yang istimewa.

“I’m engaged” Ucapnya dengan wajah berseri-seri yang membuat semua memberinya selamat.

Vita memeluknya erat.

“Akhirnya… hi, siapakah pria yang sangat beruntung itu?” Tanya Bagas menggoda.

Aerin tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. Bahkan ia belum tau siapa pria itu. Papa menjanjikan pria itu akan segera menemuinya.

“He is busy, ntar pasti aku kenalin.”

Alasan yang mungkin saja benar.

*****

Weekly meeting dipimpin oleh Pak Zulfan. Aerin baru tau rupanya besok ada acara Anniversary FF Group yang ke 37 tahun. Wow! Ia kembali di saat yang tepat. Ia selalu menyukai event itu, event dimana akan banyak wajah-wajah bahagia yang mendapatkan bonus khusus dan promosi jabatan.

Arya muncul 30 menit kemudian. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan mencari sebuah sosok. Senyumnya terkembang begitu melihat Aerin yang duduk di pojokan paling belakang dengan rambut yang sudah berubah warna. Aerin yang sepertinya sengaja tak melihatnya tampak pure banget dan sangat cantik dengan warna rambut kecoklatan.

“Maaf, telat. Pak Zulfan pasti sudah membahas semuanya. So, pastikan semuanya hadir besok bersama keluarga. Any questions?”

“Nyonya Baru juga akan hadir besok, Pak?”

Pertanyaan Andy membuat semua tertawa kecuali Aerin yang diam membisu. Ia sudah mendengar rumor tentang Nyonya Baru itu, bahkan Arya sudah menyiapkan ruangan kerja khusus di sebelah ruangannya buat Nyonya Baru yang membuat semua orang penasaran. Itu membuat ia merasa agak tidak nyaman, ada bagian dirinya yang masih merasa tak rela.

“Well, ya. Nyonya Baru akan hadir besok” jawab Arya dengan senyum bahagianya.

“Any more questions?”

Semua menggeleng.

“Aerin Alessandra, welcome back!”

Semua melihat ke Aerin yang tak begitu ceria, padahal baru balik dari liburan panjang. Aerin hanya melihat Arya sekilas, lalu mengangguk.

“Meet me after meeting.”

“Yes, big boss!”

Jawab Aerin tanpa melihat ke Arya yang membuat semua menahan senyum.

Aerin menunggu semua keluar, baru ia keluar dan langsung menuju ke lantai 15. Entah apa lagi yang perlu dibahas, bahkan menurut info dari Vita… Arya jarang sekali datang ke Global sejak ia cuti. Itu artinya, urusan IT tidak ada masalah.

“Hai, senyum dikit. Dari tadi manyun terus” goda Vita yang membuat Aerin tersenyum.

Vita sedang menikmati sekotak cokelat oleh-oleh darinya.

“Aku ke dalam dulu mbak.”

Vita mengangguk.

*****

Aerin langsung masuk, ia malas banget buat mengetuk pintu. Pasti juga sudah ditungguin. Sikap Arya yang agak luar biasa dan berbeda 360° dari saat jati dirinya belum terbongkar, membuat Aerin harus mau mengikuti permainan ala Arya. Setidaknya sampai masanya disini selesai.

Tidak ada Arya di mejanya. Aerin melihat ke sekeliling, mungkin dia sedang di toilet. Kamar kerja buat Nyonya Baru, membuat Aerin tak bisa mengontrol rasa penasarannya. Seperti apa sih? Kenapa semua pada heboh membahasnya.

Aerin melangkah ke ruang samping yang terhubung dengan connecting door. Ia terpaku sesaat melihat bagian dalam ruang kerja buat Nyonya Baru. Cantik dan stylist sekali. Semua perabotan dan pernak-perniknya sangat kekinian, minimalis dengan warna-warna ceria.

“Kamu suka?”

Bisik Arya sambil memeluknya dari belakang. Aerin hendak melawan, tapi Arya memeluknya dengan erat. Ia bahkan bisa merasakan debaran kencang dada Arya.

“Pak Arya, what are you doing!”

Protesnya dengan nada tinggi.

“I’m hugging my woman.”

Arya membalikkan tubuh Aerin untuk berhadapan dengannya. Keduanya saling menatap.

“Kamu suka ruangan ini? Aku mendesain khusus buat kamu karena kamu yang akan menempati ruangan ini. You’re my Nyonya.”

“Mas Arya, let me go. I’m done with you!”

“But I’m not done with you yet, and will never be done.”

Aerin tak tau lagi harus bilang apa. Pria di hadapannya ini benar-benar luar biasa tak tau diri. Bagaimana dia mempertanggungjawabkan tindakannya kepada istrinya dengan memeluk gadis lain?

“Huh… 19 tahun ternyata bisa membuat seseorang menjadi super idiot, tidak tau diri, sok dicintai, sok…”

Arya tertawa lebar yang membuat Aerin berhenti mengumpat. Apa yang diucapkan nya sama sekali tidak berpengaruh pada Arya.

“Aku menjadi bego gini karena kamu. Dadaku berdebar kencang terus kalau liat kamu.”

Hadeuh! Aerin speechless.

“Irin, I love you… walaupun aku tak membalas satupun kartu ulang tahun dari kamu. Aku kembali ke Jakarta untuk mencari kamu. Kamu masih ingat saat kita pertama kali berciuman, aku bilang aku sudah punya seseorang yang aku cintai? Itu kamu! Bahkan saat kita terakhir ketemu sebelum kamu liburan, seseorang yang aku ingin kamu bantu lacak… itu juga kamu! Aku sudah sangat putus asa saat itu. Aku belum punya kepercayaan diri untuk langsung datang ke Surabaya menjumpai papa kamu.”

Aerin merasa tak bisa bernapas, ia tak sanggup menerima kenyataan yang sangat menyesakkan dada. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Kesalahpahaman telah membuat mereka ditakdirkan untuk tak bisa bersama. Dan ia adalah pihak yang memulai kesalahpahaman itu dengan menyembunyikan identitasnya.

Aerin tak sanggup berkata apa-apa, ia menyadari kesalahannya. Ia hanya bisa menangis tersedu-sedu di dada bidang Arya. Arya memeluknya dengan erat.

“Irin, maaf sudah membuat kamu menunggu begitu lama. Aku tau, kamu pasti mencari aku. Kamu tidak mungkin diam saja, menunggu. Dua pamanku terbunuh karena dendam masa lalu pada opa kami. Papa kemudian mendapat surat ancaman, karena itu kami pergi buru-buru dari Jakarta. Papa menyewa jasa hacker untuk menyembunyikan identitas kami selama di Amerika.”

Aerin melepaskan pelukan. Ia menyentuh pipi Arya.

“Sejak aku sekolah di London, setiap liburan aku pasti akan ke Amerika. Aku mengunjungi negara bagian yang berbeda, dengan harapan bisa ketemu Mas Arya. Aku bahkan memilih kuliah di Amerika, juga supaya lebih mudah mencari Mas Arya. Mas Arya tau kisah tentang mamiku?”

Arya mengangguk.

“Karena itu… Aku menyerah saat Mas Arya bilang sudah punya seseorang yang Mas Arya cintai. Bahkan aku kemudian memutuskan untuk resign dengan alasan akan menikah yang aku tak tau menikah dengan siapa.”

Aerin menarik napas panjang, ia sudah tidak menangis lagi.

“Papa mengharuskan aku untuk menikah sebelum usiaku menginjak 30 tahun. Itu janji yang aku setujui sebagai syarat aku boleh bekerja di Jakarta.”

Arya tau tentang perjanjian itu. Orangtua Aerin sudah menceritakan kepadanya

“Aku belum bisa menerima pria lain karena itu aku pada akhirnya menyerahkan semuanya ke papa mama. Pria itu datang melamar saat aku baru saja tiba di tempat liburan dan papa menerimanya.”

“Kamu sudah bertemu dia?”

Aerin menggeleng, kini ia sudah bisa tersenyum.

“Bagaimana kalau dia jelek, gendut dan sudah tua?”

Aerin terdiam, ia yakin papa mama pasti tidak akan tega memilihkan sosok yang dilukiskan Arya, untuknya.

“Gendut boleh… jelek dan tua, jangan!”

Arya tertawa.

“Aku tidak pernah membayangkan sosok Mas Arya yang seperti ini. Dalam bayanganku, Mas Arya masih seperti dulu, gendut!”

Arya tertawa lagi.

“Jadi kalau dulu kita ditakdirkan bertemu, aku pasti gak bisa mengenali Mas Arya.”

“Kamu juga berubah terlalu banyak. Tidak ada yang bisa mengenali kamu.”

“Mas Arya, ayo berteman baik mulai dari sekarang.”

“No way! Gak mau! I love you and I want you to be mine. Bagaimana mungkin hanya berteman baik?”

Protes Arya cepat. Suasana damai langsung berubah panas.

“Idiot! Udah panjang lebar, ujung-ujungnya itu lagi, itu lagi. Capek deh…”

Ucap Aerin tak habis pikir. Arya menahan diri untuk tidak tertawa. Ia menatap kepergian Aerin yang berwajah kesal..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.