Aku Disini Menunggumu – #Chapter_53/55

Aerin terbangun dari tidur lelapnya. Ia melihat ke plafon kamar, ia tau itu bukan kamar di kediaman orang-tuanya, bukan kamar di rumah pribadinya dan juga bukan kamar di Mount Elizabeth Hospital. Menyadari ia berada di tempat asing, membuat Aerin segera duduk dan melihat sekeliling ruangan yang walaupun asing tapi design interiornya sangat familiar...

by InfiZakaria

Aerin terbangun dari tidur lelapnya. Ia melihat ke plafon kamar, ia tau itu bukan kamar di kediaman orang-tuanya, bukan kamar di rumah pribadinya dan juga bukan kamar di Mount Elizabeth Hospital. Menyadari ia berada di tempat asing, membuat Aerin segera duduk dan melihat sekeliling ruangan yang walaupun asing tapi design interiornya sangat familiar.

Bagian pahanya yang tersibak, membuat ia sadar kalau ia tidak memakai jeans belelnya. Aerin meraba bagian bawah tubuhnya, benar saja ia hanya memakai celana dalam dan itu seketika membuat ia panik. Ia berbalik dan memeriksa sprei yang ditidurinya, tidak ada sesuatu yang aneh. Sprei berwarna abu-abu muda itu sangat bersih.

Aerin segera bangkit, menutupi bagian bawahnya dengan bed cover. Ia harus ke kamar mandi untuk memeriksa bagian intimnya. Ia buru-buru melangkah ke pintu di bagian kiri ruangan yang ia tebak sebagai kamar mandi. Dan ternyata benar. Kamar mandi yang sangat luas dan mewah, bahkan ia melihat ripped jeans dan long coatnya ada di keranjang laundry. Aerin mengambil celana jeans dan memakainya.

Ia memeriksa sekeliling kamar mandi dan cukup suprised melihat semua pernak pernik wanita yang ada disana, adalah brand dan varian seperti yang ia pakai. Mulai dari body wash, facial wash, sikat gigi, shampoo bahkan set perawatan wajah lengkap. Ada perlengkapan pria juga disana. Diantaranya Calvin Klein Euphoria Men Body Wash. Aerin membuka tutup body wash dan mencium aroma jahe bercampur buah-buahan. Ia tau itu milik siapa.

Aerin segera keluar, ia harus segera mencari seseorang itu untuk meminta penjelasan. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat ruangan di sebelah kamar mandi yang posisinya agak ke dalam. Ada ruang ganti yang tersekat kaca sehingga ia bisa melihat ke dalam. Rasa penasarannya membuat ia memutuskan untuk masuk. Di sebelah kanan ada deretan jas dan kemeja dengan model yang biasa dipakai seseorang itu. Di sebelah kiri ada deretan pakaian wanita yang bahkan price tag nya masih belum dicopot dan lagi-lagi persis seperti selera pakaiannya. Aerin yang semakin penasaran, membuka laci-laci besar dibawah gantungan baju yang biasanya tempat underwear disimpan. Ada banyak set underwear keluaran terbaru dari Calvin Klein, brand underwear yang juga ia pakai. 

Aneh sekali! Apa maksudnya ini? Kalau benar tebakannya bahwa ini adalah rumah atau mungkin apartemen Arya, seharusnya semua perlengkapan wanita yang ada disini adalah milik istri Arya. Tapi kenapa selera istrinya Arya dan ia bisa sama persis? Memang banyak orang yang seleranya sama, tapi sama identik mungkingkah ada?

Aerin menuju ke pintu terbesar yang ada di ruangan itu. Benar saja, itu pintu keluar. Pemandangan atap gedung dari jendela kaca besar yang gordennya terbuka, membuat ia tau kalau ia sekarang setidaknya berada di ketinggian 200m lebih.

Ada 2 kamar lainnya selain ruang tamu, ruang makan dengan dapur minimalis. Semuanya seperti di dalam kamar tadi, didominasi warna putih, hitam dan abu muda plus ada beberapa perabotan dan hiasan berwarna ceria. Desain interior ini hampir mirip dengan design rumah pribadinya tapi yang disini didesain dengan lebih professional.

Kamar kedua yang berukuran agak kecil ternyata kosong, tapi selimut diatas tempat tidur tampak agak berantakan. Seseorang pasti tidur disini tadi malam yang membuat Aerin merasa sedikit lega. Aerin menuju ke kamar paling ujung yang pintunya terbuka dan ia melihat Arya disana yang tampak sangat serius sedang menggambar. Arya berpakaian sangat santai, hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan yang memperlihatkan lengannya yang berotot.

“Hi, you!”

Suara Aerin yang tampak sangat marah dan kesal, memecah keheningan. Arya berbalik, Aerin menatapnya dengan sorot marah.

“What happened last night?”

Arya mengerti kearah mana pertanyaan Aerin. Ia tersenyum dan melangkah mendekati Aerin.

“Stay away from me and don’t touch me!”

Arya menghentikan langkahnya, bahkan ia mundur beberapa langkah dengan wajah masih tersenyum. Aerin kesal banget. Hal yang sangat serius baginya tapi bagi Arya seperti bukan masalah besar .

“Kamu tertidur, trus aku gendong kemari. Aku yang lepasin coat dan sepatu kamu, housekeeper wanita yang lepasin celana jeans kamu.”

Tentu saja Arya berbohong. Kalau ia mengatakan yang sebenarnya, perang besar diantara mereka akan terjadi lagi. Dan ia sudah capek bertengkar terus. Penjelasan Arya membuat ekspresi Aerin berubah.

“Really? Awas kalau bohong!”

Arya tertawa.

“I swear by the moon and the stars in the sky”

Goda Arya dengan bersenandung. Suaranya yang ngebass terdengar merdu sekali. Aerin menahan senyum.

“Kita ada dimana?”

Wajah Arya berbinar-binar mendengar kata ‘kita’ diucapkan oleh Aerin. Ia tersenyum menggoda yang membuat Aerin sadar kesalahan dalam pertanyaannya.

“Kita ada di rumah.”

Aerin mendelik, lalu tertawa miris. Menertawakan takdir yang kurang bersahabat dengannya.

“So, this is our home?”

Ledeknya sambil menatap Arya penuh arti. Arya mengangguk.

“Mas Arya, bercanda itu… boleh. Tapi jangan kelewatan. Disini masih perih, tau!”
Arya langsung memeluk erat Aerin yang tak menolak. Baginya pelukan itu lebih seperti pelukan seorang teman dekat.

“I’m sorry”
Ucap Arya pelan sambil mengusap-usap punggung Aerin.

“Aku lapar.”

Arya melepaskan pelukannya.

“Kamu bisa masak apa?”

Aerin tertawa.

“Spaghetti, telur mata sapi…”

“Oh, no! Kamu harus mulai belajar masak Indonesian Food. I love Indonesian Food”
Ucap Arya pasrah. Ia ingat di dapur Aerin memang hanya ada stok spaghetti. Nantinya, sepertinya ia yang harus sering memasak.

“Ask your wife, aneh banget!”
Arya tertawa. Beginilah kalau yang mengerti hanya satu pihak, kagak nyambung.

Akhirnya Arya memilih untuk memasak makan siang buat mereka. Aerin hanya duduk manis di meja makan sambil memperhatikan Arya yang tampak sangat serius. What an ideal husband! Pikirannya yang ngawur kemana-mana membuat Aerin tersadar dan langsung menyentuh cincin di jari manisnya. Ia harus segera meminta papa untuk segera mengirim pria itu untuk menemuinya, sebelum hatinya menyerah kalah lagi kepada Arya.

Arya menghidangkan Sup Kepiting Jagung untuknya beserta salad sayur dan nasi. Aerin sangat menikmati saat-saat Arya mengambilkan sup untuknya.

“For my loved Irin, wishing you a wonderful life. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi airmata yang tumpah karena cinta. I feel so bad, you cry too much because of me. I’m sorry”

Ucap Arya tulus yang membuat airmata Aerin kembali mengalir. Arya mengusap pipi Aerin dengan tangannya.

“No more tears, okay? Ayo makan! Setelah ini kita pulang.”

Aerin mengangguk, ia pun menghabiskan makanannya dalam diam.

*****

Dua jam kemudian, mereka sampai di kompleks rumah. Arya melewatkan rumahnya dan mengantar Aerin terlebih dulu. Pak Rahmat yang membuka pagar otomatis, tersenyum bahagia menyambut kedatangan keduanya.

“Mas Arya, makasih.”

Arya membukakan pintu buat Aerin. Arya mengangguk.

“Kamu ke kantor besok?”

“Ya.”

Arya diam sesaat, ada yang mengganggunya sebenarnya dari saat kemarin ia bertemu Aerin. Ia ingin mengatakannya tapi khawatir Aerin akan tersinggung.

“Irin, model dan warna rambut seperti ini… kurang cocok disini”

Ucap Arya sangat hati-hati. Aerin tau, Arya mengatakan dengan tulus. Memang benar, walaupun warna dan model rambut seperti ini cocok buat wajahnya, tetap saja banyak orang yang melihatnya dengan aneh.

“But I love it!”

Arya menarik napas panjang. Sikap keras kepala Aerin muncul lagi.

“You look like a seductive woman.”

“What! Itu jahat banget! How can you say that to me?”

Aerin yang kesal sampai memukul-mukul dada bidang Arya. Posisi keduanya yang begitu dekat, membuat Arya tak tahan untuk tidak memeluknya. Keduanya saling menatap.

“Kamu aslinya udah cakep banget, udah sangat sempurna. So, jangan aneh-aneh. I don’t like it, okay?”

Aerin segera melepaskan pelukan Arya, keanehan apa lagi ini?

“Aku rasa, ada yang salah dengan isi otak Mas Arya”

Ejek Aerin lalu tertawa lebar. Arya mau tak mau ikutan tertawa. Dulu, ia yang sering sekali mengatakan itu kepada Aerin. Terutama saat-saat ia tak tau lagi harus marah seperti apa.

“Hei, aku serius!”

“It’s too late to worry about me. Mas Arya, jangan perlakukan aku seperti ini lagi. I’m engaged and you are married. Status kita sudah sangat jelas dan masing-masing kita harus menjaga perasaan pasangan kita. Kalau Mas Arya benar sayang aku, you have to help me to move on from you. Perlakukan aku sewajarnya saja, bisa?”

Arya langsung menggeleng dengan wajah menahan senyum. Aerin melotot dengan sebel. Sudah panjang lebar ia bicara dan dengan penuh perasaan, reaksi Arya membuatnya marah.

“I hate you, I really hate you!”
Ucapnya sambil melangkah pergi, tanpa melihat lagi ke Arya yang tertawa sendiri.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.