Aku Disini Menunggumu – #Chapter_52/55

Aerin melihat sekeliling, mencari sosok yang dikenalnya. Ada Mas Anton yang tampak serius banget menatap penumpang yang lalu lalang tapi Mas Anton seperti tak mengenalinya.

by InfiZakaria

Hampir pukul 7 malam saat Aerin bisa keluar dari Terminal Kedatangan Bandar Udara Soekarno Hatta. Penerbangan dari Boston ke Jakarta menghabiskan waktu 26 jam lebih yang membuat tulang-tulangnya terasa mau patah, walaupun sepanjang perjalanan ia lebih banyak tidur. 

Aerin melihat sekeliling, mencari sosok yang dikenalnya. Ada Mas Anton yang tampak serius banget menatap penumpang yang lalu lalang tapi Mas Anton seperti tak mengenalinya.

“Jemput aku, mas?”
Tanyanya setelah beberapa saat berhenti di depan Mas Anton, tapi tetap tak menggubrisnya.

Anton kaget sekali. Ia melihat dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Kalau tak kenal suara Aerin, pasti ia tak percaya bahwa itu adalah Aerin. Tadinya ia pikir itu adalah salah satu turis karena Aerin keluar sekalian dengan rombongan turis.

“Sorry non, pangling saya.”

Aerin tertawa. Apakah penampilannya begitu aneh?

Mereka menuju ke Restoran Padang Garuda, tempat Aerin akan berjumpa dengan kedua orangtuanya sebelum mereka kembali ke Surabaya. Sebenarnya Aerin ingin langsung pulang, berendam air hangat untuk membersihkan tubuhnya yang sangat tak nyaman, lalu tidur nyenyak.

Tapi karena papa mama besok ada meeting penting di Surabaya, jadi setelah dinner bersama koleganya, mereka langsung menuju ke airport tanpa balik ke rumah. Restoran Padang Garuda full pengunjung malam itu. Aroma ayam yang sedang digoreng membuat perut Aerin berteriak kelaparan.

Kemunculan sosok cantik dengan penampilan agak wow, membuat semua mencurahkan perhatian kesana. Aerin menahan senyum. Iya, penampilannya memang terlihat sangat norak disini. Aerin yang menenteng paper bag besar berisi banyak cokelat buat para keponakannya di Surabaya, langsung memasuki ruangan VIP.

“Papa…”
Sapaannya terhenti begitu yang ada di dalam ruangan serentak melihat kearahnya. Oh No! Jangan sekarang! Tampangnya terlalu kucel untuk berjumpa dengan Arya sekarang dan penampilannya juga agak terlalu ngenjreng. Ia sudah siap memberitahukan Arya kalau ia adalah Irin, tapi tidak sekarang!

Suasana hening, Aerin jadi salah tingkah sendiri. Farah dan Ferdinand tersenyum penuh arti menatap Aerin yang tampak sangat wah, penampilannya beda 360° dari Aerin yang sebelumnya mereka kenal. Sementara Arya hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan makan malamnya.

“Ini Irin, sudah pada kenalkan?”
Tanya Diana memecah kesenyapan. Aerin tersenyum malu, pasti sekarang ini pipinya udah kayak kepiting rebus.

“Tante Om, maaf aku tidak berterusterang selama ini.”

Aerin memeluk keduanya.

“Kamu menyembunyikan diri dengan sangat baik”
Ucap Ferdinand yang membuat Aerin tertawa.

“Dan kamu tau tante pasti akan kenal kamu kalau kamu pakai kalung itu, makanya kamu tidak pakai.”

Aerin tertawa lagi. Tentu saja, ia mengatur sedetail mungkin untuk menyembunyikan identitas dirinya.

“Mas Arya, glad to see you again. I’m Irin, your pretty neighbor.”

Semua tertawa mendengar ucapan perkenalan Aerin kepada Arya yang sok cuek.

Mau tak mau, Arya melihat ke sosok yang sangat dirindukannya itu. Aerin tersenyum manis, senyum yang begitu tulus. Rambut baru berwarna rose gold, campuran pink dengan gradasi pirang walaupun sangat norak tapi pas di wajahnya. Rambutnya juga dikepang cornrow, kepang ala gadis Afrika. Irin memakai long coat hitam dengan tshirt agak pendek dan ripped jeans yang menampakkan warna indah pahanya.

Arya menyambut uluran tangan Aerin yang memakai cincin berlian pink di jari manisnya. Ada kebanggaan yang ia rasakan saat melihat cincin itu tersemat manis di jari Aerin.

“My stupid neighbor”
Ucap Arya pelan sambil menambah kekuatan pada genggamannya yang membuat Aerin meringis. Arya pasti marah karena ia telah membohonginya selama ini.

Bramantio dan yang lain menahan senyum melihat tingkah keduanya. Yang satu masih sok jual mahal walaupun rindu berat, sementara yang satunya masih sangat merasa bersalah karena tak berterusterang. Ah, biarkan saja mereka menyelesaikan kesalahpahaman dengan cara mereka sendiri.

Aerin duduk di kursi depan Arya, ia makan dengan sangat pelan.

Kenapa setelah jati dirinya terbongkar, ia menjadi sangat kikuk di depan Arya? Sementara Arya yang sebelumnya menatapnya dengan penuh cinta, sekarang malah cuek. Bukan seperti ini yang ia impikan. Ia ingin dirinya dan Arya menjadi teman masa kecil yang punya hubungan baik dan menjadi  tetangga yang setidaknya saling perduli.

Soal cinta yang tak kesampaian, Aerin sudah pasrah. Ia tak bisa melawan takdir, memilih ikhlas adalah jalan terbaik yang membuatnya sangat merasa damai saat ini. Benih-benih cinta mulai tumbuh buat pemilik cincin yang dipakainya saat ini, walaupun ia tak tau siapa.

“Arya, tolong antar Irin ya. Kami harus pergi sekarang, teman lama sudah menunggu di Hilton”

Ucap Bramantio sambil bangkit. Aerin ikutan bangkit.

“Papa, aku bisa naik taxi. Jangan ngerepotin Mas Arya.”

“No! Kamu diantar Arya. Arya, om titip Irin ya. Tolong jaga dia.”

Arya mengangguk. Aerin melotot kearah papanya yang hanya tersenyum. Apa-apaan ini pakai acara titip-menitip segala!

“Papa…”

Protesnya lagi. Bramantio langsung memeluknya erat.

“Jaga diri baik-baik.”

Aerin mengangguk, lalu memeluk mama, Om Ferdinand dan Tante Farah.
Dan sekarang hanya tinggal mereka berdua di ruangan. Tak ada yang memulai bicara, Arya yang masih bertahan dengan kecuekannya melanjutkan makan.

“Mas Arya masih marah?”
Tanya Aerin sambil menatap Arya yang tak juga menatapnya.

“Mas Arya, I’m sorry… okay?”
Arya menangkap nada sedih dari ucapan itu. Ia akhirnya menatap mata Aerin yang berkaca-kaca. Ah, ia tak sanggup melihat mata sedih itu lagi.

“Dulu Mas Arya sangat membenci aku, makanya aku takut Mas Arya masih benci aku saat kita ketemu lagi. Aku banyak melakukan kesalahan, aku sering mempermalukan Mas Arya dengan kata-kataku dan aku sangat posesif.  Sorry, aku hanya anak kecil yang kurang kasih sayang. Anak kecil  yang tak ingin apa yang dia sayangi, diambil orang lain.”

Aerin tak sanggup menahan airmatanya.
Arya bangkit, ia juga tak sanggup melihat Aerin menangis lagi karenanya. Arya mengambil backpack Aerin.

“Kita pulang”
Ucapnya sambil melangkah ke pintu. Aerin menghapus airmatanya dan mengikuti Arya.

Tiba di tempat parkir, Arya membukakan pintu untuknya. Aerin langsung masuk dan tak juga memasang seat belt. Arya yang hendak menjalankan mobil, berpaling melihat ke samping. Gadis itu menatap kosong kedepan tanpa sadar kalau ia sedang menatapnya.

Arya memasangkan seat belt buat Aerin yang membuat posisi keduanya begitu dekat. Aerin merasakan dadanya berdebar kencang, ah… ia benci sekali bila rasa seperti ini hadir kembali. Rasa seperti ini membuat semua usahanya untuk melupakan Arya, kembali ke titik nol.

“I’m engaged”
Ucap Aerin pelan. Arya menatapnya, lalu tangannya menyeka airmata yang masih ada di pipi Aerin. Dan Aerin melihat cincin yang ada di jari manis Arya.

“Mas Arya, are you married?”
Tanyanya dengan rasa yang sukar dilukiskan. Please God, jangan buat ia ambruk kali ini. Arya mengangguk.

“Aku sudah sampai di akhir tujuan perjalananku, dan kamu… sebentar lagi juga akan sampai kesana” Ucap Arya sambil tersenyum.

Ia menyeka lagi airmata yang mengalir di pipi Aerin yang tampak sangat menyedihkan, menahan agar tangisnya tak bersuara. Ah, dari dulu dia memang suka sekali menangis. Perjalanan 1 jam lebih membuat Aerin tertidur sangat pulas. Arya berhenti sebentar, mengambil selimut dari bagasi mobil dan menyelimutinya.

“You’re mine! Sorry membuat kamu menangis lagi” bisiknya pelan, lalu mencium kening Aerin.

Sampai mereka tiba di tujuan, Aerin masih tertidur. Bahkan sampai Arya menggendongnya memasuki lift ke lantai paling atas, meletakkannya diatas tempat tidur, melepaskan long coat, celana jeansnya yang agak sempit dan sepatu ketsnya… Aerin masih belum terbangun.

Arya menutup tubuh indah Aerin dengan bed cover, mematikan lampu utama, lalu ia keluar dari kamar. Saatnya belum tiba, ia memilih tidur di kamar lain walaupun ia yakin ia tidak akan bisa tertidur.

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …