Aku Disini Menunggumu – #Chapter_50/55

Sore itu juga, Arya dan orangtuanya terbang ke Surabaya. Ia harus berburu dengan waktu. Dari Tante Mirna yang nomor hpnya ia minta dari Mbak Sri, ia tahu kalau orangtua Irin sudah mulai memilih-milih pria yang akan menjadi kandidat calon suami Irin.

by InfiZakaria

Ambulance tiba di Rumah Sakit Premier menjelang maghrib. Ibu Sakinah langsung dilarikan ke Emergency Room. Mbak Sri mulai kelihatan tenang setelah dokter bilang ibunya hanya menderita shock akibat terjatuh dan akan siuman kembali.

Aerin menempatkan Ibu Sakinah di ruang VIP yang membuat Sri menangis terharu.

“Mbak simpan ini. Mbak bisa pakai berapapun buat biaya rumah sakit dan buat keperluan lainnya selama aku pergi. Passwordnya aku tulis di kertas ini ya.”

Aerin menulis angka 120885 di sticky note kecil dan menempelkannya ke black card.

“Makasih banyak, non.”

Sri memeluk Aerin yang sudah bersiap-siap pulang ke rumah.

“Aku permisi, mbak. Sampai jumpa di Bulan Mei. Salam buat ibu.’

“Iya, non. Hati-hati disana.”

Aerin memeluk Mbak Sri sekali lagi, sebelum pergi.

Penerbangan ke Tokyo dengan Garuda Indonesia pukul 11.40 malam dan bila semuanya berjalan lancar, Aerin akan tiba pukul 08.50 pagi waktu setempat. Aerin merebahkan tubuhnya di kursi empuk pesawat bersiap untuk tidur, ia sangat lelah hari ini.

*****

Keesokan siangnya Arya dan Farah menuju ke RS Premier setelah mendapat kabar dari Sri. Ibu Sakinah sudah sadar tapi masih sangat lemah dan sering tertidur.

Seorang suster masuk ke kamar dan memberitahukan Sri untuk menyelesaikan urusan administrasi. Sri langsung permisi keluar ruangan. Arya yang tau persis berapa biaya yang dikeluarkan buat ruang VIP segera menyusul Sri.

Sri mengeluarkan black card yang tertempel sticky note kecil dari dompetnya. Arya memperhatikan tulisan itu yang sangat familiar dalam ingatannya. 120885? Itu adalah password yang sama yang ia pakai pada black cardnya dan itu adalah singkatan angka kelahirannya.

Secara reflek Arya mengambil black card itu dari tangan Sri yang membuat Sri kaget banget karena tak tau Arya berdiri di belakangnya. Ia tak bisa berkata apa-apa saat Arya melepaskan kertas kecil itu dan membaca nama yang tertulis di kartu.

“AERIN ALESSANDRA BRAMANTIO.”

Arya seakan tak percaya, ia mengulang sekali lagi. Tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

“AERIN ALESSANDRA BRAMANTIO”
Ucapnya dengan nada lemah dan tangan bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap Sri yang merasa sangat bersalah.

“Ini maksudnya apa, mbak?”
Tanya Arya masih tak percaya.

“Itu Irin. Maafkan mbak, Irin meminta mbak untuk merahasiakannya. Maaf, Den Arya. Maaf.”
Sri menangis karena rasa bersalahnya. Reaksi Arya membuat ia menyesal tak berterusterang.

Arya terdiam sesaat, ia mencoba mencerna pelan apa yang baru saja dijelaskan Mbak Sri. Irin yang dicarinya ternyata adalah Aerin yang telah membuat ia mabuk cinta. Secara perlahan, ia mulai mengerti banyak hal.

“Dimana Irin sekarang?”
Tanyanya setelah agak tenang.

“Tadi malam sudah terbang ke Tokyo.”

Arya melihat jam di tangannya. Perbedaan waktu Jakarta Jepang hanya 2 jam, seharusnya Irin sudah mendarat disana pukul 11 tadi. Arya mengambil hpnya mencoba menelpon Irin, tapi Hpnya masih off atau mungkin nomornya dioffkan selama dia di luar negeri.

*****

Sore itu juga, Arya dan orangtuanya terbang ke Surabaya. Ia harus berburu dengan waktu. Dari Tante Mirna yang nomor hpnya ia minta dari Mbak Sri, ia tahu kalau orangtua Irin sudah mulai memilih-milih pria yang akan menjadi kandidat calon suami Irin.

Begitu tiba di Surabaya, mereka langsung menuju ke Kediaman Keluarga Bramantio. Kedatangan mereka yang mendadak sudah diketahui oleh Diana dan Bramantio karena Mirna sudah menelpon.

“Long time no see. Apa kabar?”
Sapa Diana yang langsung memeluk Farah dengan erat. Bramantio juga memeluk Ferdinand.

“Dan ini? Ini si biang kerok?”

Tanya Bramantio sambil menatap Arya dengan wajah sangat serius, tapi kemudian tertawa sendiri yang membuat suasana yang tiba-tiba tegang, menjadi rileks kembali. Arya langsung menjabat tangan orangtua Irin.

“Iya, aku si biang kerok, om”
Ucapnya yang membuat semua tertawa lagi.

“Ayoo masuk, kita makan malam dulu. Pembicaraan yang serius-serius ntar setelah perut kenyang.”

Sepanjang jalan menuju ke ruang makan, ada banyak photo Irin di dinding rumah yang tak berujung. Kediaman Irin luas sekali dan sangat megah.

*****

“Kalian pasti capek. Gimana kalau istirahat dulu? Besok baru kita bicara…”

Tawar Diana begitu makan malam selesai. Ia bisa melihat wajah Farah yang tampak lelah.

“Malam ini saja, tante. Aku khawatir besok sudah terlambat”
Jawab Arya yang membuat Farah dan Ferdinand menahan senyum.

“Hei, memangnya kamu mau bicara apa? Kenapa bisa besok sudah terlambat?”
Canda Diana yang sebenarnya sudah tau maksud kedatangan Arya. Arya tersenyum.

“Aku datang untuk melamar Irin. Aku sebenarnya pulang ke Jakarta memang untuk melamar Irin. Tapi prosesnya jadi lama sekali karena Irin menyembunyikan identitas dirinya.”

Bramantio dan Diana tau Arya sangat bersungguh-sungguh.

“Juga terjadi banyak sekali kesalahpahaman diantara kami. Dalam perjalanan mencari Irin, aku malah jatuh cinta kepada Aerin yang ternyata Irin. Ini benar-benar complicated.”

“Jadi kamu ingin melamar Irin?”

Tanya Bramantio yang akhirnya bisa menarik napas lega. Ia tidak perlu menjodohkan Irin dengan pria yang tidak dicintainya.

“Iya, om. Aku harap om dan Tante belum menjodohkan Irin dengan pria lain.”

“Sebentar…”

Bramantio mengambil hpnya dan menekan nomor hp yang dipakai Irin selama liburan. Ia menghidupkan speaker supaya semua bisa mendengar pembicaraannya dengan Irin.

Hubungan tersambung.

“Hm…papa ada apa? Baru sehari aku pergi, kenapa udah telpon?”

Protes Irin dengan suara malas banget. Bahkan suaranya yang menguap terdengar jelas. Semuanya menahan senyum. Arya seperti dejavu, sikap aslinya Irin ya seperti itu.

“Kamu dimana?”

“Aku di Mandarin Oriental Tokyo, disini 1 malam. Besok baru teman-temanku pada datang. Papa, ada apa? Aku masih ngantuk berat.”

Aerin menguap lagi.

“Tentang perjodohan kamu. Ada yang datang melamar kamu.”

“What! Secepat itukah?”

Aerin terdiam sesaat mengatasi kekagetannya.

“Terserah papa saja. Aku pasrah! Kalau papa nilai itu cocok dan bisa melindungi aku, terima saja. I believe in you and mama.”

“Bagaimana dengan Arya?”

Arya tak mengira Om Bramantio menyebut namanya.

“Papa tau tentang Mas Arya?”

Tanya Aerin yang membuat ia terjaga penuh dari rasa kantuknya.

“Mama sudah cerita.”

“Hm…I love him! I love him so much! Dia tak tergantikan. Tapi papa, dia sudah punya seseorang yang dicintainya dan aku tidak mau mengganggu walaupun mungkin aku bisa. Dan papa juga tidak boleh mengganggu Mas Arya! Do you hear me?”

Tanya Aerin tegas dengan nada seperti menangis. Ia mengenal dengan baik watak papanya. Ia khawatir papanya akan melakukan sesuatu kepada Arya karena telah membuat ia menderita.

Mata Arya berkaca-kaca mendengar nada tegas Irin kepada papanya. Farah mengelus bahu Arya dengan penuh kasih.

“Iya, sayang. Papa janji papa tidak akan ganggu Mas Arya kamu itu”
Canda Bramantio yang membuat Aerin tersenyum.

“So, papa sudah terima lamaran buat kamu. Ingat, jangan macam-macam lagi. Cepat kembali, kamu sudah ada yang menunggu disini. Apa perlu papa kirim photonya?”

Aerin tak langsung menjawab.

“Ah, tidak usah! Nanti aja jumpanya saat aku pulang. Kalau papa kirim photo, trus aku tidak suka.. .itu bisa jadi nightmare dan liburanku bisa gagal.”

Bramantio tertawa sambil melirik lainnya yang menahan senyum.

“Oke, cepat pulang ya. Take care.”

Hubungan terputus.

“So, kamu yakin mau melamar Irin?”

Tiba-tiba suasana berubah sangat serius. Arya mengangguk cepat.

“Sangat yakin, om.”

“Baik, om terima karena memang putri om mencintai kamu. Tapi ingat, kalau kamu menyakiti Irin… om bisa melakukan apa saja pada kamu dan keluarga kamu”
Ucap Bramantio dengan sedikit emosi. Ada rasa sedih menyerahkan putrinya kepada orang lain.

“Ferdinand, Farah… jaga anak kamu jangan sampai menyakiti Irin”
Ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Diana memeluk suaminya yang tampak tak kuasa menahan sedih.

“Tentu, mas. Jangan khawatir. Arya pasti akan menjaga Irin dengan sangat baik. Kami pastikan itu”

Janji Ferdinand sambil melirik Arya yang cukup shock melihat Bramantio menangis.

Dan seminggu kemudian Aerin mendapat kiriman paket dari papanya yang berisi 1 set perhiasan berlian berwarna pink pucat, yang papanya sebut sebagai hadiah lamaran. Entah saudagar kaya mana yang telah melamarnya sampai hadiah lamaran saja bisa semewah ini.

Aerin memasangkan cincin ke jari manisnya. Tentu saja indah sekali, cahaya berlian yang berwarna pink pucat memancarkan cahaya yang begitu lembut dan ukuran cincin itu sangat pas di jarinya. Senyum Aerin terkembang, semoga saja nantinya ia bisa dengan ikhlas menerima pria pemilik set perhiasan ini.

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.