Aku Disini Menunggumu – #Chapter_48/55

Arya melihat dengan teliti satu per satu monitor sampai ia menemukan monitor cctv ruangan Aerin. Hanya ada Aerin seorang disana dan dia sepertinya sedang tertidur dalam posisi duduk dengan wajah tertelungkup diatas meja kerjanya. Sementara monitor komputer di depannya menyala dengan kode-kode yang bergerak cepat.

by InfiZakaria

Aerin membuka undangan berwarna ungu muda dari Nadine, teman Arya. Nadine akan launching design pakaian terbarunya Sabtu sore dan ia diundang untuk datang. Entahlah, apa ia mau datang?

🎵I’m a big big girl

In a big big world

It’s not a big big thing if you leave me

But I do do feel

That I do do will

Miss you much

Miss you much🎵

Telepon masuk dari nomor tak dikenal. Aerin membiarkan saja sampai nada dering berhenti. Bila perlu, ia pasti akan dihubungi kembali. Aerin menekan beberapa tombol di hpnya, dengan kecanggihan ilmunya… ia bisa melacak nomor tersebut terdaftar atas nama siapa. Eh, rupanya Mbak Nadine.

🎵I’m a big big girl, in a big…🎵

Berdering kembali, Aerin segera menjawab.

“Sore, Mbak Nadine”
Sapanya ramah. Nadine yang di seberang merasa suprised banget.

“Hai, gimana kamu tau ini nomorku?”
Tanyanya dengan keheranan yang tak bisa disembunyikan. Aerin tertawa.

“Aku bahkan bisa tau isi notebook mbak, saldo tabungan dan lain-lain” canda Aerin.

“Ah, stop it! Kamu membuat aku parno.”

Kedua tertawa.

“Hai, sudah terima undanganku?”

“Sudah, mbak. Makasih.”

“Kamu harus datang, oke? Kamu salah satu tamu kehormatan.”

Ada nada harap yang begitu dalam. Aerin jadi tak sampai hati.

“Baik, mbak. Aku akan datang, makasih sudah undang aku.”

“Sampai jumpa Sabtu sore ya. Pukul 16.00 WIB, jangan telat.”

“Sure, mbak. See you.”

Aerin menarik napas panjang. Semakin orang berbuat baik kepadanya, semakin susah ia menolak.

*****

🎵Twinkle twinkle Little star…🎵

Vita yang sudah hampir tertidur, melihat ke layar Hpnya. Oh, no! Baru sehari aja ia berpisah dari Arya, Arya sudah menelponnya lagi di pukul 10 malam. Ia pikir dengan kembalinya ia ke Global Cell, teror telpon dari Arya akan segera berakhir. Ternyata…

“Iya, Pak Arya”

Sapa Vita ramah sambil melirik suaminya yang sudah tidur dan mendengkur dengan keras. Vita terpaksa buru-buru keluar dari kamar.

“Hm… sorry masih gangguin kamu”
Ucap Arya dengan nada sedikit bercanda. Ia tau Vita sangat lelah membantunya dalam 1 bulan ini walaupun tak pernah mengeluh. Membuka perusahaan baru memang sangat melelahkan.

“Ah, it’s okay. Ada apa Pak Arya?”
Walaupun lelah tapi Vita sangat suka bekerja untuk Arya.

“Kontrak dengan PT.  Mahakarya masih kamu reviewkan? Sudah selesai? Draft kontraknya dimana? Aku butuh malam ini.”
Global Architect mengikuti tender design boutique apartment milik PT. Mahakarya. Bila mereka lolos, ini akan menjadi proyek pertama mereka.

“Sudah selesai aku cek, rencananya besok pagi aku antar ke Pak Arya. Sekarang dokumennya ada di kantor.”

“Oh, oke. Aku gak jauh dari Global Cell. Text me dimana posisi dokumennya ya, biar aku ambil.”

“Baik, Pak Arya.”

Vita menutup hp dan mulai menulis chat WA buat Arya. Untung saja punya bos pengertian, kalau tidak ia yang harus datang ke kantor.

*****

Arya membelokkan Hammer putihnya memasuki Global Cell. Sepi sekali, di halaman depan hanya ada Range Rover Aerin yang terparkir dan tak jauh dari situ ada 2 pria yang pernah dilihatnya di Caribou Coffee,  sedang memainkan hp masing-masing. Arya memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Aerin.

Kedua pria itu menatapnya dengan penuh selidik begitu ia turun dari mobil. Arya hanya tersenyum. Tampang keduanya yang cukup sangar membuat ia memilih untuk tak menyapa.

Anton dan Hendra tau siapa Arya. Mereka tau Arya adalah pria yang tengah malam itu mendatangi kediaman Aerin, tinggal disana sampai pagi dan Aerin ambruk tak lama setelah dia pergi.

Sebagai bodyguard tentu saja mereka tidak bisa melarang siapa yang boleh menemui Aerin dan malam itu Arya mempunyai password untuk memasuki rumah Aerin yang artinya pasti sudah mendapat izin dari Aerin.

Mereka juga tau Arya adalah bos Aerin dan juga tetangga sebelah rumah kediaman Pak Bramantio.

*****

Setelah mengambil dokumen dari lemari besi dengan password yang diberikan oleh Vita, Arya segera turun ke lobby. Begitu keluar dari lift, ia diam sejenak sambil kembali melihat ke pintu lift yang hampir tertutup.

 Haruskah ia menyapa Aerin? Bila ia singgah sebentar ke ruangan Aerin, apakah mereka akan terlibat pertengkaran lagi? Arya ingat sesuatu, ia langsung kembali masuk ke lift dan berhenti di lantai 4 tempat Control Room berada.

Petugas yang berjaga di Control Room sangat kaget melihat kedatangan Arya yang tiba-tiba.

“Tidak ada yang darurat, pak. Aku hanya ingin melihat layar monitor sebentar”
Terang Arya karena melihat kepanikan mereka.

“Oh iya, Pak Arya. Silahkan”
Ucap salah satu dari mereka sambil melangkah ke tempat lain biar Arya leluasa melihat layar monitor.

Arya melihat dengan teliti satu per satu monitor sampai ia menemukan monitor cctv ruangan Aerin. Hanya ada Aerin seorang disana dan dia sepertinya sedang tertidur dalam posisi duduk dengan wajah tertelungkup diatas meja kerjanya. Sementara monitor komputer di depannya menyala dengan kode-kode yang bergerak cepat.

Arya segera meninggalkan Control Room dan menuju ke lantai 14. Menemui Aerin saat tertidur mungkin akan lebih baik untuk menghindari pertengkaran yang mungkin terjadi.

Gadis itu tertidur begitu nyenyak, melihatnya dari jarak begitu dekat membuat kerinduan Arya sedikit terobati. Arya membelai lembut rambut Aerin, lalu menyibak sedikit poni yang menutupi keningnya. Luka jahitan itu sudah agak memudar.

Dia pasti begitu lelah hingga tertidur begitu lelap dan ia merasa jahat sekali karena telah memberinya banyak sekali pekerjaan. Posisi tidurnya dalam posisi duduk, besok pasti akan membuat tubuhnya sakit. Akhirnya Arya memutuskan untuk memindahkan Aerin ke kamar istirahatnya agar bisa tidur dengan nyaman.

Arya menggendong tubuh Aerin yang masih tak terjaga. Ia tak lepas menatap wajah Aerin yang begitu dekat dengan wajahnya, seiring langkahnya menuju ke kamar. Ia melepaskan flat shoes yang dipakai Aerin, lalu menyelimutinya.

“Sleep well, I love you”
Bisiknya sambil mencium kening dan rambut Aerin, lalu melangkah pergi.

*****

Suara deringan hp yang berulang-ulang, akhirnya membuat Aerin terjaga. Dan ia sangat kaget mendapati dirinya tertidur di atas tempat tidur di kamar istirahatnya dan dengan selimut menyelimuti tubuhnya. Aerin segera bangkit, melangkah ke meja kerjanya.

“Iya, mas. Sorry aku ketiduran. Aku segera turun ya”
Ucapnya buru-buru menutup hp. Ia memang sudah berpesan kepada bodyguardnya untuk menelponnya bila sampai dengan pukul 1 dini hari, ia belum turun kebawah.

Aerin memeriksa sesaat layar monitor didepannya, lalu mematikan semua komputer sebelum keluar dari ruangannya. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana ia bisa pindah tidur ke kamar.

Itu sebenarnya hal yang sangat dihindarinya selama ini karena bila ia istirahat sebentar diatas tempat tidur, ia pasti akan tertidur sangat lama dan kerjaannya terbengkalai.

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.