Aku Disini Menunggumu – #Chapter_45/55

Aerin sadar sepenuhnya menjelang Rabu pagi. Saat ia membuka matanya, ia bisa langsung menebak bahwa ia berada di kamar yang sama dengan minggu lalu, di Mount Elizabeth Hospital.

by InfiZakaria

Aerin sadar sepenuhnya menjelang Rabu pagi. Saat ia membuka matanya, ia bisa langsung menebak bahwa ia berada di kamar yang sama dengan minggu lalu, di Mount Elizabeth Hospital.

Papa yang tertidur dengan posisi duduk di samping tempat tidurnya, tampak sangat letih. Sementara mama tertidur di sofa panjang tak jauh dari tempat tidurnya. Ah, ia telah merepotkan keduanya lagi.

Aerin merasakan denyutan yang sangat nyeri di keningnya. Ia merabanya dan merasakan seperti ada luka yang lumayan panjang. Apa yang telah terjadi?

Aerin hanya ingat, ia tak kuasa menahan tangis begitu masuk ke mobil. Perjalanan yang hanya berjarak 300 meter dari rumah Arya ke rumahnya, malam itu terasa jauh banget. Ia menangis dengan suara keras dan menyayat hati, seperti saat ia kecil. Tubuhnya sampai terguncang, dressnya bahkan basah dengan airmata.

Ia tak sanggup membuka jendela mobil, seperti yang biasanya ia lakukan begitu pintu gerbang rumahnya terbuka, untuk sekedar menyapa Pak Rahmat. Saat itu ia sadar ia tidak punya lagi tenaga.

Ia sempat berniat menghubungi Mas Anton dan Mas Hendra, bodyguardnya yang malam itu ia bebas tugaskan karena ia hanya menghadiri dinner di rumah sebelah. Ia tau mungkin kejadian yang sama seperti minggu lalu akan menimpanya, tapi ia sudah tak sanggup menggerakkan tangannya  untuk sekedar mengeluarkan hp dari dompetnya.

Di ujung kesadarannya, ia ingat ia berjuang keras untuk membuka pintu mobil. Sepertinya saat itu ia berhasil membuka pintu mobil, ia masih sempat mendengar bunyi klik tanda pintu terbuka tapi setelah itu ia tidak pasti.

Apakah ia sempat keluar dari mobil? Lantas bagaimana luka panjang di keningnya bisa terjadi? Sementara ia tidak merasakan sakit di bagian lain tubuhnya. Apa ia terjatuh dan kepalanya membentur benda keras? Berpikir terlalu banyak saat ia baru aja siuman, membuat kepalanya langsung pusing.

Aerin menutup matanya untuk mengosongkan pikiran, tapi ia malah terbayang saat Arya memeluknya, mencium rambutnya dan berbisik bahwa dia telah jatuh cinta kepadanya. Entah berapa lama ia harus bergulat berusaha keras mengosongkan pikirannya, sampai ia kembali bisa tertidur lelap.

*****

Bramantio menatap Aerin yang sedang makan siang dengan lahap. Dokter sudah mencopot infusnya, dia dinyatakan sangat sehat. Bahkan mereka diperbolehkan pulang hari itu juga. Aerin hanya perlu menunggu luka jahitan di keningnya mengering, dan itu tidak perlu stay di rumah sakit.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada putrinya, tapi istrinya sudah wanti-wanti untuk tidak langsung menanyakan Aerin tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Jadi kita balik hari ini, pa?”
Tanya Aerin setelah menyelesaikan makan siangnya. Mereka duduk santai di sofa.

“Besok saja. Sebentar lagi kita check out dan nginap di hotel. Mumpung kita bertiga ada disini, ayo hangout.”

Mama yang menjawab sambil melirik papa yang seperti mau protes. Aerin tertawa senang. Ini akan menjadi liburan pertama mereka bertiga.

“Allright, let’s hangout”
Sambut Aerin dengan nada dan wajah riang.

Bramantio mau tak mau, harus mengangguk. Ia merasa bahagia sekali melihat senyum di wajah Aerin. Apalah arti menambah satu hari lagi masa liburnya bila itu bisa membuat putrinya bahagia.

*****

Hari Rabu Aerin juga tidak muncul ke kantor, Vita dan Andy mulai pasrah. Mereka tidak tau harus mencari kemana lagi. Yang aneh dari Aerin sejak mereka mengenal Aerin adalah selain Aerin jarang sekali bercerita tentang keluarganya, Aerin juga tidak punya akun media sosial seperti kebanyakan gadis lajang pada umumnya. Jadi mereka tidak bisa mengakses teman-teman Aerin untuk sekedar mencari tau keberadaannya.

Sementara di Singapore, Aerin sangat menikmati liburan bertiga bersama papa mama. Bahkan Mirna dan suaminya yang transit di Singapore sepulangnya dari perjalanan honeymoon, bergabung bersama mereka.

Mirna bahagia banget melihat kedekatan Aerin dengan orangtuanya. Ia sampai tak bisa menahan airmatanya. Diana memeluk Mirna.

“Makasih sudah menjaga Irin selama ini.”

Mirna mengangguk.

“Aku yang seharusnya berterimakasih. Makasih sudah menerima Irin, mbak. Maafkan Mbak Sarasku juga.”

Diana tersenyum sambil menyeka airmata Mirna.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Memang sudah begini jalannya, semua sudah diatur. Liat, sekarang aku bisa punya putri cantik dan pintar… yang jadi impian banyak ibu.”

Aerin tersenyum nyengir mendengar pujian mama.

“Udahan sedih-sedihnya, ayo kita jalan-jalan, shopping-shopping. Mumpung ada saudagar kaya disini.  Karena tante dan om sudah sangat baik menjaga aku, tante dan om boleh beli apa aja, papaku yang bayar.”

Semua tertawa lepas. Bramantio langsung menggandeng tangan Aerin memimpin hangout mereka.

*****

Pukul delapan malam mereka tiba di Jakarta. Bramantio dan Diana mengantar Irin, Mirna dan Nando sampai di tangga pesawat pribadi mereka.

“Ingat pesan papa, kamu tidak boleh terlalu capek. Kalau sekali lagi kejadian yang sama terjadi, papa akan angkut kamu secara paksa ke Surabaya.”

“Baik, pa. Itu tidak akan terjadi lagi. I promise you.”

Setelah saling berpelukan, merekapun berpisah.
Mirna mengantar Aerin ke rumahnya. Rasanya seperti dejavu bisa berada di rumah ini lagi setelah belasan tahun berlalu. Ia ingat dulu, kehadirannya selalu disambut dengan wajah dingin disini.

*****

Aerin menatap wajahnya di cermin. Bekas jahitan yang cukup panjang di keningnya masih belum kering bener, tapi ia ogah untuk menutupnya dengan perban. Wajahnya tampak berbeda banget dengan lukisan baru itu di keningnya.

Ada cerita lucu tentang itu. Mama pikir ia akan syok melihat wajahnya dengan kening tak sempurna lagi. Tapi reaksinya sangat biasa saja, bahkan ia menolak tawaran mama untuk  ke Korea setelah bekas jahitannya mengering. Mama menyarankan ia untuk melakukan bedah plastik disana, membuat semua bekas jahitan itu menghilang sempurna.

Aerin yang sudah berpakaian kantor, mengikat rambut barunya yang sekarang berponi ala artis Korea. Saat hangout kemarin, ia dan Tante Mirna sempat singgah di salon, dan model berponi sangat cocok untuk sedikit menutupi bekas jahitan di keningnya.

*****

Kehadiran Aerin di kantor dengan wajah ceria dan rambut model baru, menjawab semua kekhawatiran orang-orang yang biasa bersamanya.

“Mbak Ririn, kemana aja? Mbak Ririn sehat?”
Tanya Wiwid begitu sosok Aerin muncul dari basement.

Aerin tersenyum manis sambil memutar tubuhnya, ia ingin tau apa Wiwid bisa melihat luka dikeningnya yang tertutupi poni.

“I’m fine, see…?”

Wiwid tertawa. Tentu sangat baik, bahkan sempat berganti model rambut segala.
Aerin tersenyum puas melihat reaksi Wiwid, berarti poni barunya berhasil menutupi luka di keningnya. Ia ingat sesuatu dan mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil dari saku blazer Guccinya.

“Buat kamu, semoga suka.”

Wiwid melihat ke kotak kecil bertuliskan ‘Sensai Rouge Intense Lasting Colour’ dari Kanebo. Matanya berbinar indah.

“Mbak Ririn, ini…”

Wiwid sangat terharu, ia tau berapa harga lipstik ini. Aerin mendelik.

“Kamu suka?”

Wiwid langsung mengangguk. Aerin sangat sering memberinya hadiah.

“Makasih, Mbak Ririn.”

“You’re welcome dear. Aku naik dulu ya, see you.”

Aerin melangkah menuju lift VIP.

*****

Berita kedatangannya rupanya cepat sekali menyebar. Baru saja ia keluar dari lift di lantai 14, langsung masuk telpon dari Mbak Vita. Aerin tertawa kecil.

“Iya, mbak say.”

“Are you okay?”

“Sure, you will see my new look soon.”

Vita tertawa.

“Come here right now. Someone is really missing you.”

Aerin tau siapa yang dimaksud.

“Aku baru aja keluar dari lift, belum masuk ke ruanganku. Can he wait for 15 minutes?”

“No! Come here right now”

Jawab Vita tegas dengan suara dibuat segalak mungkin. Aerin tertawa, ia sangat kenal Vita.

“Baiklah, on my way to meet my lovely CEO.”

Terdengar suara tawa geli Vita.
Aerin kembali masuk ke lift. Tentu saja Arya akan menanyai tentang tak hadirnya ia ke kantor selama tiga hari tanpa kabar berita. Sampai dengan saat ini, paginya sangat indah. Berjumpa dengan Arya, hampir selalu berujung pada pertengkaran yang bikin moodnya sangat jelek.

*****

“Halo, Mbak Vita.”

Naah kan, sosok cantik yang sedang menuju kearah meja kerjanya itu tampak sangat sehat dengan wajah berbinar-binar. Lalu kenapa dia tidak muncul di kantor selama tiga hari kemarin?

“Hi, are you okay?”

Aerin mengangguk.

“Hm… kamu harus merubah ekspresi wajah kamu. Bikin agak lemah, letih, lesu, lunglai… biar si bos liat kamu sakit.”

Aerin tertawa ngakak. Mbak Vita ada-ada saja. Moodnya lagi sangat bagus, bagaimana mungkin ia mau merusak moodnya.

“It’s okay, mbak.”

Aerin mengeluarkan kotak hitam mungil yang sama seperti yang ia hadiahkan buat Wiwid.

“For you, warna merah menyala… your favourite colour”
Ledek Aerin yang sebenarnya paling sebel liat orang pakai lipstik merah menyala, tapi Vita sangat suka.

Vita yang melihat tulisan di kotak hitam itu langsung joget-joget.

“I love you so much, darling”
Teriaknya mengiringi langkah Aerin menuju ke ruang kerja Arya..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …