Aku Disini Menunggumu – #Chapter_44/55

Dan malam itu suasana panik terjadi di kediaman Aerin. Tubuh Aerin ambruk begitu turun dari mobil dan membentur lantai. Pak Rahmat yang melihat dari jauh, segera berlari. Kening Aerin mengeluarkan banyak darah, terlihat ada sobekan yang lumayan lebar. Wajah Aerin tampak sembab dan basah dengan air mata yang masih mengalir.

by InfiZakaria

Dan malam itu suasana panik terjadi di kediaman Aerin. Tubuh Aerin ambruk begitu turun dari mobil dan membentur lantai. Pak Rahmat yang melihat dari jauh, segera berlari. Kening Aerin mengeluarkan banyak darah, terlihat ada sobekan yang lumayan lebar. Wajah Aerin tampak sembab dan basah dengan air mata yang masih mengalir.

Sri yang panik langsung melarikan Aerin ke Rumah Sakit Premier. Tiga jam kemudian, Bramantio dan Diana tiba di rumah sakit. Kondisi Aerin yang belum sadarkan diri membuat mereka memutuskan untuk membawa Aerin ke Singapore, seperti minggu yang lalu.

Diana tak kuasa menahan tangisnya. Luka sobekan di kening  Aerin dan harus diperban, membuat ia sangat khawatir. Kondisi Aerin lebih parah dari minggu lalu saat ia menerbangkan Aerin ke Singapore.

Minggu lalu walaupun Aerin juga tak sadarkan diri, tapi dia tampak seperti tertidur saja. Kali ini, selain kening yang harus diperban, wajah Aerin juga tampak sangat pucat dengan mata sembab. Ekspresi mukanya juga terlihat begitu sedih. Mungkinkah sesuatu yang buruk menimpanya sehingga membuat dia ambruk?

Pukul 2 pagi saat mereka akhirnya tiba di Mount Elizabeth Hospital. General Check Up segera dilakukan. Urusan administrasi menjadi mudah banget karena rekam medis Aerin memang sudah ada disana.

*****

Pagi selasa di Global, kejadian yang sama seperti minggu lalu berulang. Sudah jam 10 pagi tapi Aerin tidak muncul di kantor dan hpnya off. Staff Meeting pagi terlewatkan dan itu membuat Arya, Andy dan Vita sangat khawatir. Mereka membayangkan hal buruk mungkin saja terjadi lagi.

Vita kembali mencoba menghubungi nomor HP tante Aerin, off juga. Sepertinya si tante masih honeymoon. Ah, seharusnya ia meminta nomor lain kepada Aerin.

Andy mendatangi kediaman Aerin, dari satpam perumahan akhirnya ia tau kalau Aerin sudah dari minggu kemarin tidak lagi tinggal disini. Apa Aerin punya rumah baru?

Arya tak bisa konsentrasi bekerja pagi itu. Bayangan-bayangan buruk terus saja mengganggunya. Minggu lalu, Aerin collapsed hanya beberapa saat setelah ia tinggalkan. Setelah sebelumnya mereka terlibat pertengkaran karena insiden ciuman.

Lantas senin malam kemarin, mereka juga terlibat pertengkaran sebelum akhirnya berakhir dengan damai. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Aerin terlihat sangat baik-baik saja saat dia masuk ke mobil bahkan tidak ada yang aneh dengan cara dia mengendarai mobilnya, setidaknya sejauh ia bisa melihat.

Dan sekarang ia mendapat info dari Andy kalau Aerin tidak lagi tinggal di rumahnya. Lantas dalam seminggu kemarin, dia tinggal dimana? Andy juga bilang kalau Aerin pindah ke rumah baru, Aerin pasti akan mengundang teman-teman dekat dan pasukannya untuk sekedar berkumpul bersama.

Arya akhirnya keluar ke balkon, mencari udara segar sambil menyalakan rokoknya. Sampai saat pagi tadi ia tiba di kantor, ia tidak begitu lagi mengingat Aerin karena mereka sudah bicara dari hati ke hati tentang rasa mereka. Bahkan ia telah siap menjadikan Aerin salah satu sahabatnya karena Aerin telah membantunya memantapkan langkah untuk tetap pada tujuan utamanya.

Tapi liat, apa yang terjadi saat ini. Ketidakmunculan Aerin tanpa kabar, membuat semua rasanya kembali lagi. Bahkan rasa itu bertambah terlalu banyak, membuat ia mabuk. Ia menjadi sangat khawatir, wajah Aerin tak berhenti terus membayanginya. Ia sangat takut sesuatu yang buruk telah menimpa Aerin dan ia tidak ada disana untuk menolongnya atau sekedar memberikan dukungan. Pertolongan atau dukungan kepada gadis yang dicintainya.

****

Bramantio menatap Aerin yang masih belum sepenuhnya sadarkan diri. Siang tadi sudah ada indikasi Aerin mulai sadar dengan adanya pergerakan jari tangan dan bola mata. Ia merasa hatinya hancur melihat keadaan Aerin.

Walaupun masih tak sadarkan diri, tapi sesekali air mata Aerin masih mengalir membasahi bantal. Itu membuat ia harus beberapa kali berlari keluar. Ia tak ingin menangis di samping Aerin.

“Pa, makan gih! Papa tidak sarapan pagi, juga tidak makan siang.”

Diana membawa sup daging yang telah ia panaskan. Suaminya hanya menatap sekilas, sama sekali tidak ada niatan buat makan.

“Iya, taruh aja dulu disitu.”

“Pa, kalau papa sakit juga… kita harus kirim Candra atau Ricky kemari.”

Diana mengambil sesendok kuah sup lalu menyodorkan ke suaminya. Bramantio akhirnya mengangguk sambil membuka mulutnya. Diana tersenyum, ia tau suaminya makan dengan terpaksa.

“Menurut kamu, Irin kenapa?”

Ini kali pertama mereka mendiskusikan tentang Aerin setelah mengatasi rasa syok melihat kondisi Aerin. Dari Surabaya ke Jakarta, selama perjalanan Jakarta ke Singapore dan sampai dengan Aerin selesai melakukan proses general check up, keduanya tenggelam dalam kesedihan masing-masing. Mereka tak sanggup membicarakan apa yang menimpa Aerin.

Menurut hasil pemeriksaan dokter, semuanya masih dalam kondisi baik-baik saja. Aerin hanya mengalami cedera ringan karena kepalanya membentur lantai. Dokter juga memprediksi kemungkinan ambruknya Aerin lebih karena masalah psikis karena tidak ada yang salah dengan kondisi kesehatannya.

“Mungkin dia terlalu capek” Jawab Diana berbohong.

Minggu lalu saat Aerin sadar, ia tau Aerin ambruk karena ada hubungannya dengan Arya. Sekarang ini ia yakin juga karena orang yang sama. Kalau ada hal yang sangat membuat Aerin sedih sekarang ini, pasti berhubungan dengan Arya. 

Aerin sudah berulang kali  mengatakan kepadanya bahwa dia siap untuk blind dates dan menerima jodoh dari mereka. Tapi ia tau dibalik kepasrahan Aerin itu, ada kesedihan mendalam yang belum sepenuhnya bisa dia terima.

Berterusterang kepada suaminya tentang Arya, sama saja dengan mencari masalah baru. Suaminya tipe pria yang sangat protektif terhadap anaknya. Jika suaminya tau derita yang dialami Aerin karena mencintai Arya, ia sangat yakin suaminya akan langsung terbang ke Jakarta atau menyuruh anak buahnya untuk menyeret Arya kemari.

“Kalau begitu, setelah ini Irin tidak boleh kembali ke Jakarta. Dia harus ikut kita ke Surabaya. Dia tidak boleh bekerja. Dia cukup duduk manis di rumah, menikmati hidup sebagai putri Keluarga Bramantio.”

Diana tersenyum menenangkan suaminya yang tampak emosi berat.  Ia mempercepat menyendok nasi dan menyuapkan ke suaminya. Ia harus membuat suaminya sibuk menguyah makanan, supaya suaminya tidak banyak bicara. Kalau suaminya sampai emosi berat, bisa-bisa darah tingginya kumat.

“Iya, pa. Ntar gitu Irin sadar, kita bicarakan dengan Irin ya. Papa mau nambah sopnya lagi?”

Bramantio mengangguk. Emosi yang tiba-tiba muncul, membuat ia jadi merasa sangat lapar. Diana menyembunyikan senyumnya.

*****

Farah menatap sosok Arya yang baru saja tiba di rumah. Ia menuangkan segelas air hangat dan Arya meminumnya sampai habis. Wajah Arya terlihat sangat khawatir. Arya juga pulang terlalu cepat hari ini.

“Aerin tidak ke kantor hari ini, hpnya off. Kami sudah ngecek ke rumahnya, ternyata dia sudah dari minggu kemarin tidak tinggal disana. Nomor hp keluarganya juga off. Aku sangat khawatir, ma. Aku takut kejadian seperti minggu lalu menimpanya lagi.”

Farah tertegun. Apa yang terjadi? Kenapa Aerin tidak hadir di kantor sehari saja bisa membuat putranya down seperti ini. Bahkan, mata Arya tampak berkaca-kaca. Sebuah kemungkinan terlintas di benaknya. Memang susah menolak pesona Aerin yang begitu dahsyat.

“Mungkin dia ada urusan mendadak. Mama yakin dia baik-baik saja. Don’t worry too much.”

“I love her, ma. I’m sorry. Aku tidak bisa menjaga rasa cintaku kepada Irin. I love her so much.”

Farah terdiam. Wajah putus asa putranya membuat ia tak tau harus merespon apa. Ada airmata yang keluar sebagai tanda kesungguhan Arya akan perasaannya. Arya jarang sekali mengeluarkan air mata. Bahkan saat dia kecil, dia termasuk anak yang jarang menangis.

Farah ingat terakhir kali Arya mengeluarkan air mata adalah saat dia baru menginjak usia remaja. Itupun karena kesal sekali dengan kelakuan Irin yang selalu mengekorinya.

“Arya, mama bisa mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi kamu harus ingat tujuan kamu kembali ke Jakarta. Mama tidak punya hak melarang kamu mencintai siapa, tapi setidaknya kamu harus sampai dulu pada tujuan kamu. Ingat! Irin sudah lebih dulu menunggu kamu, setidaknya kamu harus bertemu dia dulu.” Arya hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Ini sangat tidak adil buat Irin. Mama juga menyukai Aerin, dia gadis baik. Tapi Irin, dia mencintai kamu tanpa syarat. Dia bahkan tidak tau kamu seperti apa tapi dia tetap menunggu. Itu cinta yang tak bisa digantikan oleh gadis manapun, secantik dan sepintar  apapun.”

Arya bangkit mendekati mamanya dan memeluknya.

“Ma, sorry tentang yang tadi. Aku mungkin terlalu emosional. Aku mungkin merasa putus asa karena belum juga menemukan Irin. Mama benar, aku seharusnya menjadi pria yang lebih tangguh dalam menghadapi godaan. Aku lemah, belum apa-apa aku sudah membiarkan diriku jatuh cinta kepada gadis lain.”

Farah tersenyum sambil mengelus rambut Arya.

“Begitu seharusnya menjadi seorang laki-laki tangguh. Harus kuat menahan godaan, tidak mudah menyerah dan tau siapa yang lebih tulus mencintainya.”

“Seperti papa ya, ma?”

Sambung Ferdinand dengan wajah nyengir. Farah mencibirkan bibir tipisnya yang masih terlihat seksi.

“Yaaah, kurang lebih seperti papa kamulah.”

Ketiganya tertawa.

Arya merasa bisa menguasai perasaannya kembali. Rasa cinta yang meluap-luap tadi seperti hilang separuhnya. Ah, mengapa hatinya bisa sangat plin-plan?

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.