Aku Disini Menunggumu – #Chapter_42/55

Vita dan Aerin saling menatap. Aerin mengangkat kedua bahunya, bereskpresi tak tahu menahu. Tapi Vita merasa Aerin menyembunyikan sesuatu darinya. Pak Arya sangat baik-baik saja sebelum ketemu Aerin.

by InfiZakaria

Vita yang dari tadi sudah khawatir, langsung menghampiri Aerin yang tampak happy.

“Is everything all right?”

Aerin mengangguk.

“Sure, mbak. Emangnya kenapa? Apa yang salah?”

“Tapi tadi bos suruh batalin semua meeting.”

Vita bingung sendiri. Ia segera menuju ke mejanya dan mengkonfirmasi ke Arya.

“Pak Arya, apa meeting siang ini bisa kita lanjutkan?”

“No. I have no energy. Let’s reschedule”
Jawab Arya dengan nada lemah.

Vita dan Aerin saling menatap. Aerin mengangkat kedua bahunya, bereskpresi tak tahu menahu. Tapi Vita merasa Aerin menyembunyikan sesuatu darinya. Pak Arya sangat baik-baik saja sebelum ketemu Aerin.

“Mau saya order lunch?”
Tawar Vita karena sudah jam makan siang.

“Tidak usah. I will go home, just call kalau ada yang urgent.”

Vita semakin bingung, Aerin juga ikutan bingung.

“Baik, Pak Arya.”

*****

Saat makan siang bersama Andy, baru Vita punya gambaran kenapa si bos moodnya tiba-tiba berubah. Vita protes keras kepada Aerin yang tidak memberitahukan kepadanya kalau ia akan resign. Aerin pun sangat kerepotan membujuk agar Vita tidak marah.

“Mbak Vita, kalau tadi sebelum masuk ke ruangan Pak Arya, aku beritahu Mbak Vita… Mbak Vita pasti akan heboh. Terus sekantor heboh.”

Aerin membela diri.

“Sekarang aja liat, suara kaget Mbak Vita bahkan sudah membuat orang-orang disini tau aku resign.”

Tentu saja Aerin mendengar dengan jelas bisik-bisik staf lain yang mulai membicarakan pengunduran dirinya. Berita cepat tersebar, sebentar lagi ia juga harus menjelaskan banyak hal pada pasukannya.

“Sudahlah Vit, kamu kan tau dari awal tentang kontrak Ririn. Kamu bahkan yang ketik.”

Andy menyenggol kaki Vita yang berwajah sebel.

“Aku marah karena aku taunya belakangan. Kenapa dia kasih tau kamu, aku tidak?”

“Mbak Vita, please. Jangan gitu. I love you both. Gak ada yang berubah.”

Wajah Aerin tampak sedih. Vita mulai trenyuh.

“Aku pernah bilang ke Mbak Vita kalau aku menunggu seseorang, kan? Karena itu aku meninggalkan kerjaanku di Massachusetts dan kembali ke Jakarta. Nah, masa tungguku sudah expired, so tidak ada alasan aku untuk stay disini.”

Vita terdiam, ia menatap Aerin dengan wajah sedih lalu memeluknya erat. Kenapa ia harus marah kepada Aerin? Aerin pasti sangat menderita dengan keputusannya sendiri. Ini adalah saat Aerin memantapkan langkahnya untuk move on dari cinta masa lalunya, kenapa ia sebagai sahabat harus membuatnya merasa bersalah?

“Sorry, maaf.”

Aerin tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia semakin mempererat pelukannya.

*****

Dan berita itupun menyebar dengan cepat. Aerin merasa sangat letih untuk menjelaskan tentang kepergiannya. Melihat emosi dari orang-orang di sekitarnya, membuat bebannya menjadi begitu berat.

“So, kalian pasti sudah dengar kabarkan?”

Wajah-wajah murung pasukannya membuat Aerin merasa bersalah banget.

“Tidak ada yang akan berubah, aku baru akan resmi keluar tahun depan. Sebelum aku pergi, aku pastikan kalian semua akan menjadi IT staff tangguh. Makanya tadi pagi aku bagi assessment list untuk melihat ketertarikan kalian di bagian apa. Aku akan mengirim kalian untuk training sesuai dengan bidang IT yang kalian pilih.”

“Mbak Ririn akan bekerja di tempat lain?”

Aerin menggeleng.

“Dari dulu aku freelancer, Global adalah kantor resmi pertamaku. Setelah aku selesai disini, aku akan kembali menjadi freelancer. So, aku tidak resign untuk pindah ke perusahaan lain. Bahkan kalau Global punya masalah, kalian tetap bisa call aku.”

“Mbak Ririn makasih atas support nya.”

Mario yang semula ikutan kalut dengan kabar kepergian Aerin, kini bisa berbesar hati.

“Kalian smart dan mau belajar, aku yakin kalian akan membawa Global menjadi lebih sukses in the future. Tetap kompak dan saling support, kalian pasti tidak butuh aku lagi.”

Ada wajah-wajah bahagia mendengar pujiannya. Aerin merasa lega sekali. Yang paling penting setelah ia pergi adalah semangat pasukannya tetap terjaga.

*****

🎵I’m a big big girl, in a big…🎵

Aerin melihat ke nama yang muncul di layar HPnya dan menjelaskan tentang pengunduran dirinya belum berakhir. Ada niat untuk mengabaikan saja panggilan itu, tapi ia tak sampai hati.

“Selamat sore, Tante Farah”

Sapanya dengan mata tak lepas dari layar notebook.

“Aerin, kamu sehat?”

Pertanyaan Tante Farah membuat ia merasa tak enak hati. Pasti berita pengunduran dirinya sudah sampai ke telinga Tante Farah.

“Sangat baik. Tante apa kabar?”

Ada jeda sesaat.

“Well, not so good. Tante mau invite kamu buat dinner malam ini.”

Hal yang ingin ia lakukan setelah jam kantor berakhir adalah segera pulang, mengoffkan semua perangkat komunikasi dan tidur tanpa gangguan. Sudah cukup dari pagi tadi ia harus menjelaskan kepada banyak orang tentang ada apa dan kenapa.

“Baik, tante. See you soon.”

Namun jawaban yang keluar dari mulutnya sangat bertolak belakang dengan keinginannya. Begitulah, karena rasa hormat yang mengalahkan keletihannya. Arya mendengar percakapan mamanya dan Aerin.

“Kenapa mama harus repot-repot pakai ngundang dinner segala? It’s useless! Dia tidak akan berubah pikiran dan dia tidak akan kasih tau alasannya. Kalau ada cewek yang paling keras kepala, itu dia!”

Protes Arya setengah emosi. Ia tak ingin mamanya memohon kepada Aerin untuk membatalkan niatnya.

Farah terdiam, ia sangat mengenal anaknya dan sekarang ia merasa ada emosi yang lain pada Arya. Apakah Arya dan Aerin terlibat pertengkaran?

“Mama hanya ingin ngobrol dengan dia. Mungkin kamu merespon pengunduran dirinya dengan emosi, jadi dia tidak memberitahukan alasan yang sebenarnya.”

Farah tersenyum lembut, wajah Arya dari pulang kantor tadi sangat tak sedap dipandang. Sepertinya ada emosi dalam yang tidak tersalurkan.

*****

Sepulang dari kantor pukul 7 malam, Aerin langsung singgah ke rumah Arya tanpa berganti pakaian. Tante Farah sudah menunggunya di teras. Aerin berusaha tersenyum seramah mungkin, walaupun ia tau Tante Farah pasti bisa menangkap keletihan dalam senyumnya.

“Dari kantor?” Tanya Farah begitu melihat Aerin mengenakan dress yang begitu resmi.

Aerin mengangguk.

“Iya, tante.”

“Oh, sorry. Tante tau kamu sangat sibuk. Ayo kita masuk.”

Mereka menuju ke ruang makan. Ada banyak menu makanan yang sudah terhidang. Aerin merasa seperti dejavu karena mencium aroma hidangan yang dulu saat kecil selalu membuatnya ingin makan di rumah Tante Farah.

Dan, benar saja. Ada Soup Jagung Kepiting yang masih mengepulkan asap, menu yang pas untuk menghilangkan keletihannya. Udara di luar juga lumayan dingin.

Pak Ferdinand muncul, diikuti Arya yang berjalan di belakangnya.

“Apa kabar?”

“Baik, om”

Jawab Aerin sambil melirik ke Arya yang sepertinya memang tak mau melihat kearahnya. Aerin yang hendak menyapa, mengurungkan niatnya. Arya langsung duduk di kursi di depannya.

Farah dan Ferdinand saling tersenyum melihat sikap Arya. Sudah lama sekali Arya tidak bersikap kekanakan seperti itu.

“Ayo, kita mulai makan”
Ajak Ferdinand, mencairkan suasana kikuk karena sikap Arya.

Aerin tersenyum. Hal pertama yang ia lakukan tentu saja menikmati semangkok Sup Jagung Kepiting. Aerin hendak mengambil sendok sup, tapi kalah cepat dengan Arya yang seperti sengaja mendahuluinya.

Dejavu kembali melanda. Persis seperti dulu, Arya juga melakukan hal yang sama begitu melihat ia antusias ingin mengambil sup. Aerin tertegun sesaat, dulu Arya melakukannya dengan sengaja karena ingin membuatnya menangis, padahal semua orang tau Arya tidak suka sup berkuah kental.

Arya terus menyendok sup sampai mangkok supnya penuh, baru ia berhenti. Aerin menunggu dengan sabar.

Ferdinand sampai harus menyenggol kaki Arya sebagai peringatan untuk bersikap baik kepada tamu, tapi Arya tak perduli.

“Sini, biar tante isi mangkok supnya.”

Farah mengambil mangkok sup dari tangan Aerin dan mengisinya.

“Makasih, tante.”

Aerin yang tak terpengaruh dengan perlakuan Arya, mulai menikmati sup dengan lahapnya. Rasanya masih seperti dulu, bahkan begitu habis… ia menambah lagi, tak punya niatan untuk menikmati menu lain.

Farah tersenyum, cara Aerin menikmati Sup Jagung Kepiting telah mengingatkan ia pada seseorang. Seorang anak kecil yang selalu berbinar-binar saat tau ia memasak Sup Jagung Kepiting kesukaannya. Tidak banyak percakapan yang terjadi di meja makan. Farah dan Ferdinand tidak tega mengganggu Aerin yang tampaknya sangat menikmati makan.

Selain itu, wajah Arya yang datar saja juga membuat mereka mengurungkan niat untuk memulai pembicaraan. Mereka khawatir ucapan Arya akan membuat Aerin sedih karena makan malam ini memang bertujuan untuk sebisanya membatalkan pengunduran diri Aerin..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …