Aku Disini Menunggumu – #Chapter_41/55

Aerin ikut bahagia melihat wajah-wajah bahagia yang ditemuinya pagi ini. Sayang sekali, ia tidak bisa sebahagia mereka karena hari ini tepat 5 tahun ia bekerja di Global dan sudah tiba waktunya untuk mensubmit Surat Pengunduran Diri yang mulai efektif berlaku 1 tahun kedepan.

by InfiZakaria

Senin pagi di Global Cell, semuanya berwajah ceria. Sepertinya gala dinner Sabtu malam kemarin telah berhasil meningkatkan gairah kerja semua staf. Jamuan yang sangat waah membuat semuanya tersanjung.

Aerin ikut bahagia melihat wajah-wajah bahagia yang ditemuinya pagi ini. Sayang sekali, ia tidak bisa sebahagia mereka karena hari ini tepat 5 tahun ia bekerja di Global dan sudah tiba waktunya untuk mensubmit Surat Pengunduran Diri yang mulai efektif berlaku 1 tahun kedepan.

“Good morning, Mbak Vita”
Sapa Aerin dari telepon.

“Morning, love. Apa kabar?”

“Good. Mbak, aku mau ketemu Pak Arya hari ini. Jam berapa bisanya ya? Aku hanya butuh 15 menit saja.”

Vita melihat schedule padat Arya. Ada free time pukul 11.30 sampai pukul 12.00.

“I will inform you soon ya.”

“Okeeh, thanks mbak.”

*****

Arya yang hari itu memakai kemeja navy dengan dasi berwana cream garis-garis, muncul di hadapan Vita.

“Aku otw ke Global Property”
Info Arya sambil mengambil berkas meeting yang sudah disiapkan Vita.

“Pak Arya, Aerin mau ketemu sekitar 15 menit hari ini. Pak Arya ada free time di pukul 11.30. Is it okay?”

“Is it urgent? Kalau urgent, sekarang saja. Masih sempat.”

Vita tersenyum.

“Tidak urgent, Pak. Kalau urgent, pasti Aerin akan langsung lari kemari, tidak akan bertanya.”

Keduanya tertawa. Tentu saja, seperti kejadian minggu yang lalu, tanpa pemberitahuan menerobos masuk ke ruang kerjanya.

“Okay, see you.”

Vita menatap si boss dengan masih tersenyum lebar. Aerin sepertinya sudah punya posisi khusus menjadi prioritas si bos.

*****

Andy menatap amplop putih yang diperlihatkan Aerin. Ini adalah hari yang sangat membuatnya nervous. Ia selalu berharap hari ini tidak pernah tiba.

“Ada yang bisa mengubah keputusan kamu?” Tanyanya pasrah.

Aerin tersenyum sambil menggeleng.

“It’s my final decision. And you know me well, kalau aku sudah memutuskan sesuatu… I will not step back.”

Itu dia… Andy sangat tau tentang itu.

“Sebagai supervisor kamu, aku tidak tau harus menawari apa untuk membuat kamu tetap disini. You have everything.”

“So, stop berpikir terlalu banyak. Ini proses biasa di dunia kerja. Ada yang datang dan ada yang pergi.”

“Apa hubungan pertemanan kita… aku, Vita, Wiwid, bisa jadi pertimbangan kamu untuk tetap disini?”

Andy tetap berusaha membuat Aerin membatalkan rencananya untuk resign.

“Mas Andy, hubungan pertemanan masih akan terus berlanjut, nothing will change. Please jangan membuat aku merasa begitu jahat meninggalkan Global” protes Aerin dengan wajah mulai sebel.

Andy tersenyum.

“Baiklah, aku menyerah karena tidak bisa membuat kamu tetap disini. Semoga seseorang diatas sana bisa membuat kamu menyerah.”

Andy menunjuk keatas, Aerin tertawa.

Seandainya Mas Andy tau, ia ada disini bermula karena seseorang yang berada di lantai atas. Dan ia resign juga karena seseorang di lantai atas ternyata tidak memiliki perasaan sama dengan yang dimilikinya.

*****

Mario menatap Aerin yang baru saja masuk ke ruangan IT. Wajah sang bos dari sejak pagi tadi tampak murung dan lebih banyak termenung.

“Mbak Ririn”
Tegurnya yang membuat Aerin tampak kaget.

“Mbak Ririn, sakit?”

Aerin menggeleng sambil tersenyum.

“No, aku baik-baik aja. Oh ya,  semuanya sudah isi list yang aku kasih?”

Semua mengangguk.

“Pilihan kalian sudah fix? Kalau belum masih ada waktu buat berpikir. Sore pukul 4 kasih ke aku. Ingat, harus dipikir matang-matang, karena aku tidak mau mendengar ada yang berubah.”

“Siap, mbak!”

Aerin mengangguk, jam menunjukkan pukul 11 siang, setengah jam lagi ia akan bertemu Arya

Tadi pagi Aerin menyebar assessment list untuk melihat masing-masing staf andalannya tertarik di computer science bagian apa. Data ini ia perlukan untuk menentukan training yang mereka butuhkan. Ia ingin masing-masing mereka menguasai satu bidang secara lengkap. So nantinya begitu ia pergi, Global tetap punya staf yang capable di bidangnya. Dengan begitu, ia bisa pergi dengan tenang.

*****

“Hi!”
Sapa Vita begitu melihat gadis cantik yang memakai dress formal coklat kotak-kotak pendek yang dipermanis dengan ikat pinggang berbentuk pita. Stocking hitam yang menutupi kaki jenjangnya begitu menggoda.

“Hi, mbak. Pak Arya sudah ada di dalam?”

Vita mengangguk.

“Aku masuk sekarang ya.”

“Okee. Lunch bareng ya?”

Aerin tersenyum sambil mengerdipkan sebelah matanya.

Detik-detik menunggu Aerin tiba di ruangannya, Arya merasakan dadanya berdebar-debar. Arya tersenyum geli sendiri. Walaupun Aerin sudah memintanya untuk melupakan apa yang terjadi diantara mereka, tapi ada bagian lain dari jiwanya yang tak rela melupakan kejadian itu begitu saja.

“Siang, Pak Arya.”

Sosok itu muncul dengan segala keindahannya.

“Siang, please sit.”

Aerin langsung duduk di kursi di depan Arya, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam map yang dibawanya.

Arya menatap amplop itu dan memperhatikan ekspresi Aerin yang tampak tak begitu nyaman. Selama ia menjadi CEO, sudah lumayan sering ia ada di adegan seperti ini. Apa Aerin…

“Apa ini?”
Tanyanya penuh kecurigaan, berharap bahwa bukan seperti yang ia pikirkan.

Aerin menatapnya dengan pandangan lembut, diam sesaat tak menjawab.

“My resignation letter.”

“Kenapa?”
Arya bertanya tanpa basa-basi. Ia menatap tajam mata Aerin, mencoba mencari jawaban.

“Tidak ada apa-apa dan bukan karena apa-apa.”

“So, kenapa harus resign? Kamu punya masalah apa? Let’s discuss! Kita bisa bicarakan dengan baik-baik. Atau, kamu mau apa? Global akan penuhi. Whatever you ask as long as you don’t resign.”

Pertanyaan bertubi-tubi dari Arya membuat Aerin speechless.

“Pak Arya sudah membaca biodataku, tapi Pak Arya lupa membaca kontrak kerjaku dengan Global.”

“Ada apa dengan kontrak kerja kamu?”

Aerin menggeser notebook Arya, menekan sejumlah tombol dan dalam sekejap kontrak kerjanya muncul di layar projector. Arya memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.

“Vita, please cancel all meeting” ucapnya di telpon.

Vita menangkap nada putus asa. Apa yang sedang terjadi di dalam? Kenapa Arya sampai harus membatalkan banyak meeting penting siang ini?

'IT Expert terikat kontrak khusus dengan Global Cell, sebagai beikut:
1. Tidak boleh mengajukan pengunduran diri selama 5 tahun bekerja.
2. Pengunduran diri efektif berlaku 1 tahun dari tanggal surat Pengunduran Diri.
3. Dalam masa 1 tahun terakhir, IT Expert diperbolehkan mengambil semua jatah cuti yang belum diambil, yaitu 1 bulan per tahun.
4. Dalam masa 1 tahun terakhir, pihak Global mempunyai hak untuk memanfaatkan keahlian IT Expert untuk kepentingan FF Group.'

Arya menarik napas panjang. Poin-poin yang tercantum di kontrak sudah sangat jelas.

“Yes… kontraknya seperti itu, tetapi kamu tidak harus resign sesuai dengan syarat di kontrak kan?”

Aerin tau ada kepasrahan di nada tanya Arya.

“Tapi aku memang ingin resign!”

“Can you tell me, why? Kalau kamu tidak mau bilang masalah kamu apa, bagaimana Global bisa berusaha untuk membuat kamu tetap ada disini?”

Aerin jadi ikutan stress dengan pertanyaan Arya. Kok jadi berbelit-belit amat?

“Pak Arya, aku mau resign! Ini Surat Pengunduran Diriku! Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahukan kepada siapa pun, apa alasanku. Please respect the contract!”

Aerin meletakkan amplop putih itu tepat di hadapan Arya dengan sedikit kasar.

“Aerin…”

“Sebenarnya aku ingin menyampaikan Surat Pengunduran Diriku dengan damai without disputes. Tapi pertanyaan Pak Arya membuat aku emosi. I’m sorry.”

Wajah Aerin tampak sedih. Arya terdiam, apa sikapnya terlalu berlebihan?

“Saat aku menawarkan diri untuk menjadi IT Expert disini, aku sudah tau aku akan bekerja sampai kapan. Aku sudah punya rencanaku sendiri.  Aku sudah menyusun Plan A dan Plan B sebagai pilihan. So, jangan mempersulit aku. Tanpa aku, Global akan tetap sama. Bahkan nantinya dalam 1 tahun kedepan Global akan punya banyak IT staff tangguh yang bisa di lead oleh Bagas.”

Wajah Aerin terlihat sangat optimis.

“Jangan lagi bertanya apa dan kenapa. Karena itu sangat privasi. Aku harap Pak Arya bisa mengerti. Kita punya alasan masing-masing yang tak semua bisa kita bagi dengan orang lain. So, aku anggap ini akhir dari diskusi kita. Let’s respect each other.”

Arya menatap Aerin yang seperti memohon kepadanya. Rasanya ingin sekali ia bangkit dan dengan segera memeluk erat gadis itu. Kenapa ia merasa ada bagian dari dirinya yang terasa kosong menyadari gadis itu tak lama lagi ada disini.

“I’m sorry”
Ucap Arya tulus.

Aerin akhirnya bisa tersenyum, yang dalam penglihatan Arya sebuah senyum yang sangat lega.

“Thank you Pak Arya. So, let’s continue our discussion.”

Aerin kembali duduk. Mengambil selembar kertas kosong di meja Arya dan dengan semangat mulai mencoret-coret tentang rencananya.

“Aku punya jatah cuti 6 bulan, termasuk cuti tahun depan. So, aku akan stay sampai dengan Bagas kembali dari training which is the end of December. Januari sampai Mei, I will take my leave. Juni sampai Agustus aku kembali bekerja. And in September I will take my last leave. Is it okay?”

Arya terdiam, sepertinya mau tak mau ia harus setuju karena harus menghormati kontrak.

“Okay”

Jawabnya dengan nada sangat berat.
Aerin tersenyum melihat ekspresi Arya yang jelas terpaksa banget.

“Pak Arya gak usah khawatir, selama aku tidak disini i’m available 24 hours. Pak Arya juga boleh kasih aku banyak PR misalnya benerin sistem database perusahaan lain under FF Group.”

“Okay.”

Arya tidak tau harus menjawab apa lagi. Aerin tampak senang banget karena ia bisa berkompromi dengan planningnya.

“Okay, kalau gitu aku permisi. Pak Arya, have a nice day.”

“Hm…”
Respon Arya pelan sambil menatap Aerin yang melangkah keluar..

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.