Aku Disini Menunggumu – #Chapter_40/55

Dari sosok Arya yang dideskripsikan Aerin, Vania dan Alissa tau bahwa cinta Aerin kepada Arya sangatlah murni. Cinta sejati yang tak memandang fisik. Cinta yang dipupuk begitu lama walaupun tanpa kepastian..

by InfiZakaria

Farah yang ditemani Arya, memasuki ruangan ballroom pernikahan putera Bapak dan Ibu Sulaiman, kenalan lama mereka. Ini kali pertama ia menghadiri acara resepsi pernikahan setelah kembali ke Jakarta. Sebenarnya ia bukan tipe yang suka keramaian. Tapi ada tujuan lain dari sekedar menghadiri resepsi.

Sosok yang dari tadi dicarinya tak tampak. Seharusnya Diana datang ke acara resepsi ini, mengingat hubungan baik antara Keluarga Bramantio dan Keluarga Sulaiman. Senyumnya terkembang, begitu melihat sebuah sosok yang menuju kearahnya.

“Oh, Farah. Welcome”

Sambut Emma, istri Pak Sulaiman. Keduanya berpelukan.

“Apa kabar?”

“Baik. Oh ini, Arya kah?”

Arya mengangguk sambil tersenyum.
Tante Emma seseorang yang sangat ekspresif. Ia mengingatnya sebagai sosok yang sangat ramah dan sangat cepat akrab dengan siapapun yang baru dikenalnya.

“Apa kabar, tante?”

“Sangat baik. Wow…you’re so perfect! Udah menikah?”

Arya tertawa sambil menggeleng. Wajah didepannya sangat suprised dengan senyum penuh arti.

“Good. Nanti tante kenalin sama anak bungsu tante. Farah, kita akan menjadi besan.”

Farah dan Arya tertawa lebar.

“Iya… iya, kita akan menjadi besan. Aku mau tanya sesuatu.”

Farah menarik tangan Emma ke sudut ruangan.
Perbincangan mereka tadi sudah menarik perhatian banyak undangan. Dan ia tak ingin ada gosip tentang Arya dan gadis bungsu Emma. Gosip cepat sekali menyebar di lingkungan ini.

“Kamu liat Mbak Diana?”

“Diana Bramantio?”

Farah mengangguk.
Farah dan Emma dulunya pernah satu sekolah di SMA dan hubungan keduanya cukup akrab. Terlepas dari sikap formal di tengah keramaian untuk menjaga citra masing-masing, keduanya terbiasa ngobrol lepas, tanpa batas.

“Mbak Diana tidak datang, tapi dia kirim menantunya kesini.”

“Menantu dari anak yang mana?”

Mendengar kata ‘menantu’ membuat Farah was-was.

“Istri Chandra dan istri Ricky.”

Farah menarik napas lega.

“Aku pengen say hello, yang mana orangnya?”

“Oke… mari Jeng Farah”

Canda Emma sambil menggandeng tangan Farah, membelah keramaian. Farah memberi kode Arya untuk mengikutinya.

Mereka tiba di bagian kiri ballroom yang lebih privasi. Farah hampir mengenali semua yang ada di ruangan. Setelah say hello sana-sini dan memperkenalkan Arya kepada teman dan kolega lamanya, akhirnya mereka berhenti di dekat piano. Dua wanita cantik berpenampilan sederhana namun waah… ada disana. Keduanya menebarkan aura keramahan.

“Dear, mari tante kenalin dengan sahabat tante, yang juga tetangga rumah sebelah kalian.”

Vania dan Alissa langsung mengerti siapa yang dimaksud. Keduanya serentak melihat ke pria yang berdiri di belakang Tante Emma dan Tante Farah.

“Tante Farah, senang banget bisa jumpa tante disini. Aku Alissa, istri Chandra. Dan ini Vania, istri Ricky.”

Mereka berjabatan tangan. Farah mengacung jempol untuk keramahan keduanya. Diana telah mendidik menantunya dengan sangat baik.

“Ini Arya, anak tante.”

Ketiganya berjabatan tangan. Vania dan Alissa tak bisa menyembunyikan pesona Arya yang sangat kuat. Ah, Aerin seharusnya tidak boleh menyerah. Sosok pria seperti Arya, seharusnya harus direbut kembali, apapun alasannya.

“Mama dan Papa, sehat?”

“Papa sehat, mama baru beberapa bulan yang lalu operasi kanker usus dan sekarang lagi treatment. Makanya mama udah jarang pergi-pergi”
Terang Alissa sambil menarik kursi buat Tante Farah untuk duduk.

“Makasih. Semoga Mbak Diana segera pulih ya. Sudah 19 tahun lebih kami tidak bertemu. Mana dulu kami pindah ke Amerika, juga tanpa pemberitahuan.”

“Iya, tante. Mama kemarin juga pesan untuk singgah ke rumah tante. Mbak Sri sudah kasih tau mama kalau keluarga tante sudah kembali. Maaf, kami tadi tiba sudah hampir jam 6 sore, jadi belum sempat ke rumah tante.”

“It’s okay. Oh ya, ada yang mau tante tanya. Irin apa kabar? Kalian kenal Irin kan?”

Pertanyaan yang sangat tidak sopan, sebenarnya. Tentu saja mereka mengenal Aerin. Pasti hubungan jelek antara Aerin dan papa mama sebelumnya, yang membuat Tante Farah bertanya seperti itu.

“Tentu, tante. Irin baik-baik saja. Kami jarang bertemu, Irin lebih memilih hidup sendiri.”

Kebohongan yang harus diucapkan. Keduanya melihat rona kesedihan di wajah Tante Farah dan Arya.

“Irin ada dimana sekarang, mbak?”

“Dia tinggal di Jakarta, tapi maaf kami tidak tau dia dimana. Irin sudah lama memisahkan diri dari keluarga.”

Seperti yang Farah khawatirkan sebelumnya. Irin dewasa pasti pada akhirnya akan memilih pergi. Arya menatap mamanya yang tampak berkaca-kaca. Ia mengelus lembut bahu mamanya. Tentu saja mamanya sangat bersedih karena mengerti betul apa yang dirasakan Irin kecil terhadap keluarga papanya.

“Makasih infonya, mbak. Maaf, mamaku agak melankolis. Dulu Irin sangat sering bersama kami.”

Vania dan Alissa merasa bersalah banget melihat kesedihan Tante Farah. Wajah Arya juga tampak sedih, tapi dia bisa menguasai dirinya dengan baik.

“Nanti kalau kami bertemu Irin, pasti akan kami kasih tau untuk mengunjungi tante.”

“Tante tidak usah khawatir. Walaupun Irin memisahkan diri dari keluarga, tapi dia baik-baik saja. Dia hidup dengan sangat berkecukupan. Papa mama tidak menelantarkan dia.”

Farah dan Arya merasa sangat lega mendengar penjelasan Vania. Setidaknya Irin hidup dengan layak. Tidak seperti bayangan buruk yang sering kali melintas di pikiran mereka.

*****

Aerin mendengarkan cerita kedua kakak iparnya dengan senyum tanpa henti.

“Good job”
Pujinya tanpa beban merasa bersalah.

“Kasihan banget si tante, dia benar-benar gak bisa sembunyiin kesedihannya.”

Aerin menarik napas panjang.

“Nanti, suatu hari… aku akan minta maaf yang sebesar-besarnya karena telah membuat dia mengkhawatirkan aku.”

“Tapi Arya juga sangat khawatir”

Sambung Vania yang membuat Aerin tertegun.

“Rasa khawatir pada teman lama, mbak. Bukan khawatir karena ada rasa cinta. Kalau ada rasa cinta, pasti dia akan berusaha keras mencariku”

Ucap Aerin sambil membuka gorden dan melihat ke balkon kamar Arya yang gelap, tapi ia bisa melihat ada cahaya titik api disana. Sepertinya Arya sedang merokok.

“Dia… dia sangat menarik.”

Alissa tertawa setelah mengungkapkan kekagumannya terhadap Arya, yang membuat Vania dan Aerin terkekeh.

“Aku juga kaget, mbak. Waktu pertama ketemu dia. Arya dalam bayanganku tidak sesempurna itu. Aku ngebayangi pria klimis dengan tubuh overweight karena dia dulu seperti itu. Sosok yang sangat rapi, rambut anti badai dan gendut.”

Ketiganya tertawa.
Dari sosok Arya yang dideskripsikan Aerin, Vania dan Alissa tau bahwa cinta Aerin kepada Arya sangatlah murni. Cinta sejati yang tak memandang fisik. Cinta yang dipupuk begitu lama walaupun tanpa kepastian..

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …