Aku Disini Menunggumu – #Chapter_4/55

Kediaman Tante Rossa sudah mulai ramai saat Aerin tiba. Setiap tahun setelah ia bekerja di Jakarta, menghadiri pesta ulang tahun Tante Rossa adalah agenda wajib.

by InfiZakaria

Kediaman Tante Rossa sudah mulai ramai saat Aerin tiba. Setiap tahun setelah ia bekerja di Jakarta, menghadiri pesta ulang tahun Tante Rossa adalah agenda wajib.

Tante Rossa sangat populer di kalangan sosialita karena sosoknya yang dermawan dan juga sangat baik. Ia punya banyak yayasan sosial dan aktif mensupport anak-anak kurang mampu untuk mendapat pendidikan terbaik.

Begitu sosok Aerin masuk ke ballroom, semua mata otomatis mengamatinya. Aerin tersenyum ramah sambil say hello ke beberapa sosok yang dikenalnya. Ia memang jarang sekali hadir di acara seperti ini.

Dulu Tante Mirna suka sekali memaksanya untuk hadir di acara-acara seperti ini tapi ia selalu menolak. Tante Mirna ingin ia mengenal banyak orang penting dan tentu saja menemukan jodohnya di kesempatan seperti ini.

“Hai, kamu datang juga.”

Seorang pria ganteng berjas hitam rapi dengan dasi warna maroon, menghampirinya. Aerin tersenyum dengan pikiran jungkir balik, mencoba mengingat siapakah pria ini?

“Hai, apa kabar?”
Sapanya, menyembunyikan kekikukannya karena tak bisa mengingat siapa pria ini.

Pria itu tertawa kecil melihat ekspresi Aerin yang sangat menggemaskan.

“Kamu pasti tidak ingat aku.”

Aerin mendelik, lalu tertawa.

“I’m sorry. Aku memang lemah banget mengingat wajah pria.”

“Renno, anaknya Tante Rossa.”

“Aaaah… sekarang aku ingat, kita pernah jumpa tahun lalu disini juga kan?”

Renno menggeleng.

“Kita pernah jumpa tahun lalu disini, iya. Tapi 1 minggu yang lalu, kita juga jumpa di Gusto Resto dan aku kirimin kamu tiramisu cake.”

Aerin jadi ngerasa bersalah banget.

“You are really something. Gimana kamu bisa lupa wajah seganteng aku?”
Protes Renno agak-agak sebel.

“Sorry. Next time ketemuan, pasti aku yang akan nyapa duluan.”
Aerin tersenyum semanis mungkin.

Renno menatapnya tanpa berkedip. Tahun lalu saat mamanya mengenalkan ia pada Aerin, ia tau kalau ia jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi reaksi Aerin saat itu sangat biasa, tidak menampakkan ketertarikan sedikitpun. Dan itu membuatnya patah hati.

Saat itu ia berpikir pasti Aerin sudah mempunyai pria yang dicintainya. Tidak mungkin wanita secantik dan semenarik Aerin belum punya pasangan.

“Ayo, aku antar ke mama.”

Tanpa basa-basi Renno menarik lembut tangan Aerin dan menuntunnya ke ruangan lain. Aerin tidak protes, mengikuti Renno di tengah hujaman pandangan cemburu dari gadis-gadis yang mereka lewati.

*****

Tante Rossa dan beberapa tante lain yang dikenalnya sedang bernostalgia di ruangan kecil. Begitu melihat sosok yang baru masuk, mereka saling memandang.

“Oh my God. Kamu… oh, give me a big hug.”

Aerin memeluk Tante Rossa dengan erat.

“Happy birthday, tante. Stay healthy, happy and all the best for you and your family.”
Ucap Aerin tulus sambil mengecup lembut pipi wanita sahabat almarhumah maminya. 1

“Waah… acara reuni nih. Aku cabut dulu, see you Aerin.”

Aerin membalas lambaian Renno yang melangkah ke luar ruangan.

“Tante mau dipeluk juga…” protes Tante Anke, sahabat maminya yang lain.

Aerin tersenyum dan memeluk Tante Anke yang tampak semakin tua karena pengobatan kanker payudara yang sedang dijalaninya. Pelukan berlanjut ke Tante Mariska yang awet muda di usianya yang hampir 55 tahun.

“Oh my darling. Sudah punya calon suami?” goda Tante Mariska dengan senyum menggoda.

Aerin tertawa. Tante Mariska selalu akan bertanya itu.
Saat ia masih remaja dulu, pertanyaannya adalah ‘Sudah punya pacar?’ Saat ia menjadi gadis dewasa, pertanyaannya berganti menjadi ‘Sudah punya calon suami?’

“Aerin, kamu sudah jadi wanita dewasa sekarang. Sudah cukup umur untuk memikirkan pernikahan.” Tante Anke menatap Aerin dengan serius.

“Kami semakin menua, kami ingin melihat kamu menemukan pria yang kamu cintai dan melihat kamu menikah” sambung Tante Rossa sambil melingkarkan tangannya memeluk bahu Aerin.

“Sebagai seorang wanita dewasa, kamu sangat cantik dan menarik. Kamu harus sangat bijaksana karena memiliki kelebihan itu. You got what I meant?” Tanya Tante Anke sambil mengenggam tangan Aerin.

“Kami tidak mau kamu berakhir seperti mami kamu. Cukup mami kamu saja.”

Mata Aerin berkaca-kaca mengingat cerita sedih tentang almarhumah maminya. Aerin mengangguk.

“Jangan khawatir, tante. Aku pastikan dan aku berjanji pada tante semua, aku tidak akan seperti mami. Bagiku juga, cukup mami saja yang punya garis nasib seperti itu. Aku hanya akan menikah dengan pria yang benar-benar aku cintai. Aku tidak tertarik dengan gemerlapnya harta.” janji Aerin dengan sangat yakin.

“Kamu tahu sayang, kami selalu ada buat kamu. Kamu punya banyak mami yang siap mensupport kamu. Jangan merasa sendirian dan jangan menjauh dari kami.” Aerin mengerti banget maksud nasehat Tante Rossa.

Selama ini ia memang tampak ogah-ogahan untuk bertemu sahabat almarhumah maminya. Hubungan mereka seringkali satu arah dan dia menjadi pihak yang pasif dalam menjalin hubungan dengan mereka.

Bukan karena ia tidak menyukai mereka. Sering bertemu dengan mereka hanya akan membuatnya mengingat kisah tragis maminya, dan itu membuatnya sedih.

*****

Pesta masih berlangsung, yang hadir semakin ramai. Tadi Aerin sempat ketemu Tante Mirna, say hello sebentar sebelum sang tante harus mendampingi Om Nando, suaminya untuk menyapa undangan.

Aerin mengambil segelas cocktail dan melangkah ke balkon di bagian belakang ball room, yang seperti tahun-tahun sebelumnya tidak akan ada tamu yang akan melangkah kesana. Aerin suka pemandangan malam dari balkon belakang.

Dari kejauhan tampak cahaya lampu dari hutan buahnya Tante Rossa yang rimbun banget. Kediaman Tante Rossa memang asri banget. Ada rumah mewah di bagian depan dengan halaman belakang yang sangat luas yang ditanami banyak pohon buah-buahan yang sudah besar-besar. Itu seperti hutan buatan. Bahkan Tante Rossa punya villa berkonstruksi kayu di tengah hutan buah-buahan itu.

Pembicaraan bersama ketiga tante tadi masih terngiang-giang di telinga Aerin. Kalau ia mengikuti jejak almarhumah maminya, ia tidak akan melajang sampai umur segini. Kisah cinta maminya dan papa bisa dibilang penuh intrik. Maminya jatuh cinta pada pria kaya yang sudah beristri dan mempunyai anak.

Dari cerita Tante Mirna, Aerin tahu kalau sebenarnya mami tidak mencintai papa. Mami hanya tertarik dengan kekayaan papa tanpa berpikir panjang tentang orang-orang yang tersakiti karena pernikahan mereka.

Tentu saja mami tidak sepenuhnya salah. Pernikahan antara pria dewasa dan wanita dewasa hanya akan terjadi karena kedua belah pihak memang setuju untuk menikah.

Pernikahan yang didasari cinta sebelah pihak itu, hanya bertahan sampai ia berumur 1 tahun. Papa menceraikan mami karena pada akhirnya papa sadar bahwa mami menikahinya hanya karena harta.

Mami kemudian menikah kembali dengan pria yang benar-benar dicintainya, tapi kebahagian mami tidak lama. 3 tahun setelah menikah, tepatnya saat ia berumur 5 tahun, Mami meninggal karena asam lambung akut yang dideritanya sejak lama.

Keluarga papa membawanya secara paksa dari keluarga mami. Sejak saat itu ia tinggal bersama papa, Mama Diana istri papa dan 2 orang anak laki-laki papa, Mas Chandra dan Mas Ricky. Tapi hanya sedikit orang-orang di sekitar keluarga papa yang tau tentang keberadaannya. Mama Diana, istri pertama papa, masih belum menerimanya secara ikhlas, makanya ia seperti anak yang disembunyikan keberadaannya.

Hubungan Aerin dengan papa kandungnya juga tidak dekat. Mereka hanya berbicara seperlunya. Hanya Oma Nana, almarhumah ibu papa yang sempat sangat dekat dengan dirinya. Oma pernah bilang, papa masih merasa sangat marah dengan perlakuan mami kepadanya. Jadi saat papa melihat Aerin, itu akan selalu mengingatkannya akan mami. Begitu juga Mama Diana, saat mama melihat Aerin, itu akan selalu mengingatkannya kepada wanita yang telah merebut suaminya dan hampir membuat keluarganya berantakan.

Aerin memyeka air mata yang mengalir di pipinya.

“Are you okay?” Sebuah suara pria yang ngebass banget, terdengar dari belakangnya.

Aerin sontak berbalik.
Ada seorang pria yang tentu saja ganteng, memakai kemeja berwarna biru muda. Ekspresi pria itu tampak kaget menatapnya.

“I’m okay, thanks.” jawab Aerin sambil tersenyum lebar menampakkan gigi indahnya yang tersusun rapi.

Pria itu tampak bengong dengan tatapan masih tak berkedip.

“Aku ke dalam dulu, bye.” sambung Aerin sambil melangkah melewati pria itu.

“Hai, nama kamu siapa?”

Aerin berhenti, berbalik ke belakang sambil melambaikan tangan dengan senyum terindahnya, lalu berbalik dan melangkah keluar. Pria itu masih terus menatap sosoknya sampai menghilang dari pandangan

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.