Aku Disini Menunggumu – #Chapter_39/55

Aerin berbalik menghadap makam, mengusap-usap kedua pusara itu sebentar, sebelum melangkah pergi. Ia tau wanita itu masih terus menatapnya. Ia telah mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada wanita itu...

by InfiZakaria

Dan disitulah nama Aerin terbawa. Atas permintaan pihak keluarga, polisi bahkan harus menginterogasinya. Aerin sangat terpukul karena ia merasa tidak mengenal kedua kakak kelasnya yang meninggal itu.

Butuh beberapa bulan sampai kasus itu selesai, beberapa psikolog dihadirkan untuk memeriksa langsung keterlibatan Aerin dalam memicu balapan tersebut. Sampai akhirnya positif diputuskan bahwa Aerin sama sekali tidak mengenal keduanya mengingat ia punya kekurangan dalam mengingat wajah pria.

Walaupun keputusan akhir sudah dikeluarkan, pihak keluarga Rama dan Emir masih tidak bisa terima. Papa akhirnya mengeluarkan Aerin dari SMA dan mengirimnya ke London, untuk melupakan kejadian tragis itu.

“Kamu datang.”

Suara tak ramah, yang setiap tahunnya pasti ada saat Aerin berkunjung. Aerin bangkit dari posisinya yang berjongkok. Ibu Rama tampak lebih tua dan wajahnya terlihat sangat lelah.

“Iya, tante”
Jawabnya seramah mungkin.

Ia ingin sekali memeluk wanita itu, tapi wanita itu selalu bersikap tidak ramah dan masih sangat membencinya.

“Berapa kali aku bilang, jangan lagi datang kemari! Apa kamu tuli? Melihat kamu hidup dengan nyaman sementara anakku sudah tidak ada, kamu tau bagaimana rasanya? Pergi!”

Posisi keduanya begitu dekat, Anton yang khawatir wanita itu akan menyakiti Aerin segera mendekat. Aerin segera memberi kode untuk tidak mendekat.

“Maaf, tante. Aku datang sebagai rasa simpati kepada keduanya walaupun aku tidak kenal mereka. Aku datang bukan lagi karena aku merasa bersalah terhadap hal yang diluar kendaliku.”

Aerin menyentuh lembut bahu wanita itu tapi wanita itu segera menepis tangannya.

“Sama seperti tante yang sangat kehilangan, aku juga mengalami masa-masa sangat sulit untuk bisa berkompromi dengan kejadian ini. Bahkan dulu saat di London, aku sempat terpikir untuk operasi membuat wajahku menjadi jelek agar tidak ada lagi pria yang celaka karena aku.”

Mata Aerin berkaca-kaca mengingat masa-masa awalnya tinggal di London. Papa bahkan sampai menyewa khusus seorang psikolog untuk mengobati jiwanya.

“Tante, 14 tahun sudah berlalu. Rama pasti tidak ingin melihat tante selalu meratapi kepergiannya. Usiaku hanya 16 tahun saat itu dan aku mengalami gonjangan jiwa yang sangat berat karena kejadian ini. Tapi aku harus bisa keluar dari situ, kalau tidak seumur hidupku aku akan terus merasa bersalah terhadap hal yang aku tidak lakukan. Bagaimana mungkin aku bisa tau kalau keduanya sangat menyukaiku? Bahkan wajah keduanya saja, aku tidak ingat?”

Wajah wanita itu tampak mengeras. Kenyataan bahwa gadis itu tidak mengingat wajah anak dan keponakannya memang sesuatu kenyataan yang sangat tragis dari kecelakaan itu.

“Aku selalu berdoa supaya tante dan keluarga tante bisa segera berdamai dengan luka ini. Kita sama-sama terluka, tapi dalam konteks yang berbeda. Aku permisi, tante.”

Aerin berbalik menghadap makam, mengusap-usap kedua pusara itu sebentar, sebelum melangkah pergi. Ia tau wanita itu masih terus menatapnya. Kunjungan kali ini membuat Aerin merasa sangat lepas, ia telah mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada wanita itu. Tahun-tahun yang lalu, ia tak punya kesempatan untuk berbicara karena wanita itu langsung mengusirnya dengan paksa.

Semoga di kunjungan tahun depan, wanita itu sudah bisa melupakan lukanya dan bisa diajak bicara. Ini adalah kali kelima ia berkunjung ke makam keduanya, setelah kembali dari Amerika dan menetap di Jakarta. Wanita itu dulunya sangat marah karena ia tak pernah muncul setelah kematian anak dan keponakannya.

*****

Setibanya di rumah, Aerin disambut dengan kehadiran Mbak Alissa istrinya Mas Chandra dan Mbak Vania istrinya Mas Ricky. Keduanya datang ke Jakarta untuk mewakili papa mama menghadiri pernikahan salah satu putera sahabat lama mereka.

Ketiganya langsung berpelukan erat.

“Kangen, tau…”

Vania mengacak-acak rambut ikal Aerin.

“Kamu kok bisa semakin wow…”
Puji Alissa sambil memperhatikan sosok Aerin secara seksama.

Padahal baru bulan yang lalu mereka bertemu dan menjadi akrab, tapi wajah Aerin yang ada di dalam benaknya berbeda jauh lebih cantik dari yang diingatnya. Aerin tertawa lebar.

“Masa sih, mbak? Aku ini sudah tua, wajahku gak mungkin berubah banyak. Mungkin auranya yang berubah, sekarang aku lebih nyaman dengan diriku sendiri.”

“You’re right.”

Alissa memeluk Aerin.

“Kamu ikut kita ke pesta kan?”

Aerin menggeleng.

“Sorry, mbak. Aku lelah sekali dan malam ini aku punya pekerjaan kantor yang harus aku submit besok pagi. I’m sorry.”

Keduanya mengangguk.

“Mama juga bilang, sebaiknya kamu tidak ikut. Kalau kamu ikut, ada kemungkinan kamu bertemu dengan tetangga sebelah, disana.”

Ketiganya tertawa. Vania dan Alissa sudah mendapat wejangan dari mertua mereka untuk menyembunyikan identitas Aerin karena Aerin belum siap untuk membuka jati dirinya.

“Do your best, mbak.”

“So, ceritain tentang Arya.”

Aerin tertawa.

“Dia mencintai seseorang, so the story ends.”

“Berakhir begitu saja? Tidak ada niatan untuk berjuang merebut cintanya?”

Aerin menggeleng.

“Oh, my sister. You’re the best. I love you.”

Alissa memeluk Aerin lagi.

“Dijodohkan itu, juga gak jelek-jelek banget. Bukti nyata, aku! Aku punya pacar yang udah dua tahun jalan saat papa memintaku untuk menikah dengan Mas Ricky. Semuanya baik-baik saja bahkan sekarang aku tergila-gila sama Mas Ricky” terang Vania dengan senyum bahagianya.

Ketiganya tertawa.

“Kalau aku, awalnya sempat stress berat. Abah tidak kasih tau kalau alasan aku disuruh pulang ke Jogja karena mau dilamar. Sorenya sampai di Jogja, malamnya langsung dilamar. Aku terpaksa terima karena tidak mau membuat abah malu. Padahal saat itu, karirku di Singapore lagi bagus-bagusnya. Tapi kalau dikilas balik, menerima pinangan Mas Chandra adalah keputusan terbaik.”

Aerin menarik napas panjang, jelas sekali kedua kakak iparnya itu sangat berbahagia dengan pilihan mereka. Mungkinkah ia nantinya akan juga sebahagia itu?

“Yang pasti my sister, papa mama tidak akan sembarang memilih pria untuk menjadi suami kamu. So, relax! Kamu pasti akan mendapat yang terbaik.”

Aerin mengangguk. Kehadiran keduanya telah membuat keraguan yang masih ada di hatinya perlahan memudar, walaupun tetap ada bekas..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.